
Arya memberikan jalan agar dia bisa menolong Ayu di sana, sedangkan Arya berusaha mengalahkan Daryadana yang asli, Arya dengan sigap berlari, menyerang Daryadana, ada rasa ragu di hatinya untuk bertarung dengan Arya.
Tapi dia tidak bisa begitu saja pergi, darah San yang akan membuat kekuatannya pulih entah di jatuhkan Ayu kemana, mau tidak mau Daryadana harus menghadapi Arya.
zhringgg...zrannkkkk....
suara gesekan benda tajam antara pedang naga merah dengan pedang Daryadana.
Daryadana ingat dia tidak akan mengeluarkan ajian saktinya untuk Arya, dia berusaha hanya menyerang fisiknya karena Arya hanyalah seoarang manusia.
.
.
.
Sedangkan San yang masuk ke dunia yang di buat Daryadana, San yang masih memegang sebuah pedang dan anak panah, dirinya bukan lah San yang hadir di masa moderen, penampilannya seperti dia dahulu yang berambut panjang dan lurus.
Dia seperti tidak asing dengan tempat itu, tempat dia pertama kali bertemu dengan Kemuning, Daryadana sengaja membuat dunia tiruan agar Ayu bisa mencintainya seperti dia mencintai San.
Ayu termenung sama halnya yang di lakukan oleh Kemuning, sendiri dan menyendiri, suara favoritnya adalah suara gemericik air yang mengalir di sela-sela bebatuan.
San yang melihat langsung tahu bahwa dia adalah Kemuningnya, Kemuning yang di cintainya, San yang tiba-tiba jatuh dari atas langit di depan Ayu, sedikit membuatnya bingung.
Swwriiiinggg !!!! Bruuukkk !!!!
suara hempasan kaki San yang jatuh ke Bumi.
Ayu yang melihat itu langsung kaget dan hendak berlari, namun San dengan kekuatannya dia berteleportasi dengan cepat di depan Ayu.
"Hah...!!!"
seru Ayu kaget.
"Dek...ini aku mas San, pangeran Sanjaya"
ujar San meyakinkan Ayu.
Ayu di sana sengaja di hapus ingatan nya tentang San, walau begitu hatinya tetap merasakan ada sesuatu diantara mereka, Ayu sedikit teringat akan kata yang di ucapkan San "Dek" panggilan yang tidak asing di kupingnya.
Walau Daryadana juga memanggil panggilan yang sama, tetap saja ada bedanya, ada sesuatu yang mengelitik hatinya, siapa dia? kenapa dia membuat Ayu seperti mengingat kenangan yang hilang itu.
Ayu berlari pergi, di ikuti dengan San yang terus mengejarnya, sampai San di hadang oleh seorang kakek yang tiba-tiba datang di depannya, dia tidak dapat mengejar Ayu, sang kakek adalah mbah Ndimun dukun sakti yang bersekutu dengan Daryadana.
__ADS_1
Tidak ingin di ganggu karena Ayu adalah kekasihnya, San menghumuskan pedangnya kepada sang kakek, San terus bergulat dengan pria yang telah berusia 80 tahun itu.
Berbagai serangan San dapat dengan mudah di tangkisnya, San tidak ingin kehabisan tenaganya, dia harus bisa mencari sesuatu yang dapat mengalahkan si kakek, San dan kakek yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi terus bertarung sampai San tahu di mana letak kelemahan sang kakek.
Sebuah benda yang menjadi pengikat si kakek dengan Daryadana, yaitu sebuah benda yang di kalungkan sang kakek, kalung yang terbuat dari kain hitam itu berisikan 7 kuku orang mati yang di hari jumat kliwon, sebagai tanda ikatan dia dengan Darydana.
Kali ini sang kakek mencoba mengeluarkan tenaga dalamnya, dengan duduk bersemedi, dia mengerakan tanganya ke atas dan mulai mengumpulkan tenaga dalam dirinya, kekuatan yang sama di lakukan oleh Daryadana, mau tidak mau San harus mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya juga, semakin banyak tenaga dalamyang digunakannya akan sangat berpengaruh dengan kondisi badannya.
Kali ini dia tidak ingin kalah, sang kakek yang mengeluarkan kekuatannya terlebih dahulu hendak melukai San, namun semua terhalang oleh sebuah cahaya hijau dari diri San, dia mengeluarkan semua kekuatannya, hingga matanya berubah menjadi seperti mata ular.
Dia bahkan bisa merubah dirinya menjadi dua, satu memasang tameng agar inti sukmanya tidak terluka dan satunya bersiap merebut kalung yang menjadi ikatan dia dengan Daryadana.
Terlalu sibuk akan dirinya dengan kekuatan yang di berikan Daryadana, hingga lupa diri San yang lain tengah bersiap menendang si kakek dari belakang.
Gguuubbbraakkk !!!
sang kakek jatuh tersungkur, tidak lupa dia menghumuskan pedangnya ke leher sang kakek guna melepaskan kalung tersebut.
Seperti raga manusia yang kehilangan ruh, si kakek menjadi manusia biasa yang tubuhnya tiba-tiba menciut kaku, untuk berdiri saja dia tidak mampu.
.
.
.
Dimana Arya bersiap untuk menusuk jantung Daryadana, dengan pedang naga merah, mnbgetahui rencana Arya, Daryadana bersiap menangkis dengan menghalaunya dengan pedang yang dimilikinya.
"Hhha....."
teriak Arya yamg berlari hendak menghujam jantung Daryadana dengan pedangnya.
Ccckkkraanngggg !!!!
Tajamnya pedang Arya bahkan mampu membuat Pedang Daryadana parah ketika menghalau pedang Arya, mata pedang itu telah sampai di ujung dada Daryadana.
"Huuuaaaaaaaaaa"
teriak Daryadana merasakan kesakitan.
Mata pedang itu sampai di ujung jantung Daryadana, tapi tidak membuatnya mati atau berhenti berdetak.
Daryadana masih beruntung Arya tidak membunuhnya, pedang naga merah juga menyerap semua kekuatan Daryadana, mungkin dengan begitu dia tidak akan pernah melakukan kejahatan kembali.
.
__ADS_1
.
.
Sekarang tinggal San meyakinkan Ayu di sana untuk di ajak kembali kedunia yang sebenarnya, San masih mencari Ayu, entah dimana Ayu berada, tempat itu hanya membuat San berputar, mungkin dengan salah satu cara dia bisa tahu dimana istana Daryadana berada, San kemudian membakar kalung tersebut hingga dunia itu tiba-tiba gelap, langit berubah menjadi malam, semua pemandangan yang di lihatnya seperti terbakar bagai kepingan kertas.
Dan tampak jelas istana yang di ciptakan Daryadana, Ayu seperti kembali mengulang kehidupan Kemuning, dia selalu sendirian, termenung menunggu suaminya kembali dari berburu, selalu merasa kesepian tapi dia masih setia dengan sabar menunggu suaminya.
San teringat akan semua hal yang mereka lakukan, semua hal yang dulu dan sekarang, dia masih sama-sama mencintai Kemuning atau pun Ayu seperti dahulu, San hanya melihat Ayu dari luar jendela besar, Ayu yang terdiam termenung kemudia matanya di alihkan oleh seorang lelaki yang memegang pedang di tangan kanan nya, hanya menatap dirinya.
Ayu bingung kenapa pria itu melihatnya diam, tanpa berkata atau menghampirinya, San merasa sangat lelah dengan semua hal, dia hanya ingin bahagia bersama Ayu, dia tidak tahu harus bagaimana meyakinkan Ayu kalau dia adalah suami dan kekasihnya.
Ayu terus menatap tajam ke pada San, dia kemudian perlahan berjalan keluar istana, seakan terpanggil Ayu terus berusaha menghampiri si pria yang berdiri tegak itu. San yang terdiam menatap Ayu berlari di kiranya Ayu berlari lagi dari dirinya, tapi ternyata dia salah.
Ayu berlari kearahnya, dengan nafas terengah-engah, Ayu bertanya kepada San.
"Kamu pangeran Sanjaya?"
tanya Ayu yang memasang senyum kecil di wajahnya.
San tidak menjawab tapi langsung memeluk Ayu yang kemudian meneteskan air matanya, dia berharap Ayu benar-benar ingat kepadanya.
"Kenapa pangeran menangis?"
tanya Ayu yang masih berada di pelukan San.
Tidak menjawab San kemudian menatap wajah Ayu, perlahan San mulai mengecup bibir sang isteri, bibir tipis yang dimiliki Ayu. Ayu yang mulai memejamkan matanya ketika San mendaratkan ciuman hangat di bibirnya.
Seakan dunia berputar semua ingatan yang dahulu dan sekarang kembali, Ayu telah kembali, kali ini Ayu membalas kecupan San dengan mesra.
"Maafin aku mas..."
ucap Ayu yang memegang wajah San dengan kedua tangannya.
"Ayo kita pulang dek..."
ujar San, dia pun membawa Ayu kembali ke dunia nyata dimana raganya Ayu terbaring pingsan.
Mereka melewati pintu itu kembali dan memancarkan sinar cahaya yang terang.
.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)