
Sepulangnya dari pedepokan Dio, Ayu sempatcerita dengan Tantri dan Aisyah apa yang terjadi kepada dirinya dan Kemuning.
"Kenapa kamu tidak memutuskan memiliki anak, siapa tahu dengan hamil Kemuning atau pun kamu, kondisinya bisamembaik"
Tantri yang memberikan saran kepada Ayu.
Kalau di pikir-pikir, benar juga, selama ini Kemuning tidak mempunyai anak dari San, hamil dan selalu gagal, mungkin sudah saatnya Ayu memberanikan dirinya,menghadapi trauma di dirinya.
Ayu sempat berpikir, kenapa Kemuning selalu gagal dalam mengandung, apakah selemah itu dirinya dahulu, Ayu sangat yakin dia bisa hamil dan memberi San keturunan.
"Kamu kok belum tidur dek?"
tanya San yang keluar dari kamar mandi.
"Masih baca mas..."
Ayu membaca heatline tentang cara agar hamil yang aman, hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak.
"Baca apa?"
San yang menengok layarhandphone Ayu.
"Serius kamu mau hamilk?"
tanya San.
Ayu mengangguk mengiyakan, dirinya benar-benar mantap untuk memiliki anak dari San. Suaminya mengecupkening sang isteri, dia tiddak ingin Ayu terbebani akan hal tersebut.
"Tidur dek...aku enggak mau kamu capek"
San yang mengambil handphone nya Ayu.
"Mas, enggak mau kita punya anak?"
ujar Ayu memandang dengan mata dan bibirnya di bikin imut.
Tidak tahan dengan wajah Ayu yang imut, San dengan ganas melum*at bibir isterinya, sudah semenjak 3 hari lalu San tidak mendapatkan jatah.
Ayu hanya diam memandang wajah suaminya yang sangat dekat dengan dirinya, dapat di lihat jelas dagu yang terbelah membuat kesan tampan, ada sesuatu yang Ayu rasakan, dia sangat mencintai suaminya, hingga Ayu atau pun Kemuning saat itu merasakan hal yang sama.
"Kok malah diem sih?"
ujar San berhentimeciumAyu.
"Habisnya mas ganas...emang udah berapa lama sih, gak dikasih."
"terakhir kemaren kamu PHP aja"
ujar San yang malah mererebah kan badannya.
"Iya maaf namanya ngantuk, mas...aku bisa hamil enggak yah?"
"Ngomong-ngomong soal hamil, kemarin kan mas kasih kamu ramuan buat enggak punya anak, kalau kita mau punya anak, kamu minum ramuan penawarnya"
ucap San yang mengingatkan kembali.
"Ya sudah mana penawarnya?"
"Bentar...aku ke kamar bunda dulu"
ujar San yang bersemangat sekali.
Ayu melanjutkan membaca sambil menunggu San datang, sang bunda yang sangat senang menimang Ben tidur bersamanya, Ben seperti obat rindu beliau akan cucunya (anak Kirana). Lebih sering bermain dengan Ben dan menghabiskan waktu dengan Ben, menjadi rutinitas baru, pekerjaan telah di atur oleh asissten pribadinya.
__ADS_1
Tok...tok...
"Bunda udah tidur"
ujar San mengetuk pintu kamar ibunya.
"Belum...masuklah pangeran"
ujar bundanya yang menepuk pelan pantat Ben, agar lelap tidurnya.
"Ibunda, San mau minta penawar ramuan untuk Ning?"
"Dia sudah siap punya anak?"
tanya sang ibunda.
"Iya katanya dia mau, ya sudah"
"Sebentar, bunda ambilkan dulu"
Sang bunda berjalan menuju ruang rahasia yang berada di balik pintu lainnya yang ada di kamarnya. Sambil menunggu San menyempatkan mengecup pipi Ben yang menggemaskan.
"Ini..."
"Makasih bunda"
ujar San segera bergegas kembali ke kamarnya.
"Di tunggu kabar baiknya"
seru sang bunda.
Ada perasaan semangat namun ada rasa ragu di hatinya, namun dia hanya menepisnya, dia tidak ingin keinginan Ayu yang ingin punya anak jadi beban untuk dirinya dan Ayu, San harus menyemangati sang isteri.
"Dek..."
"Kirain tidur..."
ucap San tersenyum.
San pun memberikan ramuan penawarnya, segara Ayu meminum, ada rasa getir ketika Ayu meminumnya, seperti ramuan jamu kunir asem yang tidak dikasih gula jahe.
"Pahit ya?"
tanya San.
"rasain sendiri"
ujar Ayu menjulurkan lidahnya.
San tanpa berkata langsung mengec*up lidah sang isteri, sentak Ayu kaget, dia menarik kembali lidahnya, apa yang di lakukan San jauh dari pikiran Ayu.
"Enak kok"
ujar San yang memegang sisi wajah Ayu, matanya terus tertuju pada bibir Ayu yang berwarna merah muda itu.
"Apaan sih"
Ayu yang mendorong badan San.
"Reaksinya berapa lama sih?"
"15 Menit mungkin"
sahut San.
__ADS_1
"Cukuplah"
tambahnya lagi.
"Cukup apa?"
tanya Ayu.
San langsung menindih badan Ayu, satu tanganya memegangi kedua tangan Ayu dan nenaruhnya di atas kepala Ayu, hingga dia tidak dapat leluasa bergerak, San kini tepat berada di atasnya, mata mereka saling menatap, San melanjukan mencium bibir sang isteri, kali ini San mencoba menelusur masuk melalui lidahnya, menge*cup dan menji*lat bibir Ayu.
Sang isteri hanya diam memejamkan matanya, selesai dengan bibir, San kembali menjelajah tubuh indah Ayu, mereka berdua saling memberi kenikmatan, sampai di rasa cukup untuk sang raja kecil menelusur masuk memberikan kehidupan baru di rahim Ayu.
San yang mulai memasukan raja kecil, menekan dengan pelan, Ayu menahan rasa tanpa bersuara, tanganya di rangkulkan nya di leher San, bibir yang saling beradu, gerakan San yang perlahan namun pasti, memberi kenikmatan untuk keduanya, tangan San satunya memeras gunung cap sakura yang sangat kenyal.
Sampai keduanya merasa klimaks, San merebahkan kepalanya diantara gunung kembar cap sakura, entah lebay atau apapun itu, Ayu meneteskan air mata, dia akhirnya benar-benar berusaha agar dia hamil, ada perasaan haru dalam dirinya, tapi ini yang dia rasakan.
Keduanya tertidur dengan lampu yang padam, saling memeluk dengan berselimutkan kehangatan cinta mereka, proses pembentukan kehidupan di rahim Ayu mulai berproses, lebih cepat dari siklus manusia, namun bila Ayu menstruasi calon bayi itu akan gugur, semua harus di perhitungkan dengan tepat.
Setelah sang isteri tertidur, San yang kehabisan tenaga, pergi keluar untuk mencari udara segar pagi itu, di tempat baru dia menyendiri, ada perasaan khawatir yang di rasakannya, entah kenapa dia yang merasakan ragu, dia tidak berpikir panjang, bagaimana kalau trauma itu kembali, bagaimana dia bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak dan isterinya.
Ayu terbangun karena merasa San tidak ada di sampingnya, segera dia mencari sang suami, Ayu pergi keluar kamar dan mencarinya, dia tidak menemukan sang suami, sampai dia menutup matanya dan memfokuskan dirinya akan San.
Akhirnya dia melihat San yang menyendiri di rooftop, entah apa yang di pikirkan, Ayu merasa ada yang aneh, ada yang tidak beres dengan San.
"Mas San..."
ujar Ayu yang baru tiba di atas bangunan berlantai 3 itu.
"Dek...kamu sudah bangun?"
"Mas mikirin apa? mas ragu sama aku?"
"Enggak dek..."
"Terus kenapa? mas takut aku kek orang gila, kayak kemarin?"
"Tenang dulu dek?"
"Mas kamu itu suami yang super baik untuk aku, kamu juga ayah baik buat anak kita, Ben"
"Iya dek, aku tahu"
"Terus mas sedih kenapa? mas takut kan?"
Bukan dek, maaf maafkan mas yang tidak bisa menenangkan kamu waktu itu"
peluk San tidak ingin Ayu kecewa akan dirinya.
"Aku udah bilang mas, aku yakin sama mas, mas tidak perlu melakukan apa-apa, aku hanya butuh waktu ku sendiri, cukup mas menunggu ku, aku tidak akan kemana-mana, kita bisa berkumpul kembali sama-sama"
ujar Ayu meyakinkan suaminya.
"Maaf ya dek, aku sayang kamu"
San yang memeluk Ayu.
Akhirnya mereka berdua menikmati matahari terbit dari atas sana, Ayu hanya ingin semua berjalan normal, dia tidak ingin ada rasa sedih menghampiri Ayu ataupun San.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1