
Suasana yang tenang di malam hari membuat Ayu terlelap cukup lama, Pangeran Sanjaya juga masih sibuk mempersiapkan acara pengangkatan putera mahkota, sesekali dia datang menghampiri Ayu yang tidur di kamar, Ayu terbangun karena kecupan mas San yang membuatnya terbangun.
Mengelus lembut rambut pendek Sanjaya.
“Kamu sudah bangun dek?”
tanya San yang mengelus lembut rambut Ayu.
“Sudah, mas gangguin tidurnya”
sahut Ayu masih mengelus rambut dan wajah San.
“Tidur lagi yuk dek”
ajak San kemudian memeluk isterinya.
Entah ada sesuatu yang di rasakan Ayu begitu mengganggu pikirannya, seperti dirinya merasakan ingin menyatu dengan San, suaminya terus memeluk Ayu, mencium bau wangi dari tubuh Ayu, mencium leher Ayu yang terlihat gemas.
“Mas...mas...”
Ayu yang tidak terbiasa merasa bingung dengan perlakuan suaminya.
“Mas pengen bersatu sama kamu dek”
ucapnya tersenyum, San yang terus mencium leher Ayu, bahkan saking gemasnya San menggigit bagian leher Ayu, sampai Ayu berteriak kesakitan.
“Aaaarrrkkkk..”
Ayu yang mendorong badan San.
"Mas kenapa gigit?"
"Enggak gigit, tanda cium aja"
sahut San yang tersenyum.
San terus memeluk Ayu, tangannya mulai menaiki bagian dada, tangannya yang lihai perlahan melepaskan pakaian isterinya, membalikan badan isterinya, mendekap hangat dalam pelukan dada Ayu.
"Mas...."
Ayu yang masih saja merasa gugup.
Belum lagi Ayu berkata, tangan San di taruh di wajah Ayu dan menarik mendekat ke wajah San, keduanya beradu cium, Ayu hanya terdiam dan memejamkan matanya, meresapi kecupan lembut suaminya.
San kemudian mengangkat badan Ayu, menempatkan posisi di atas dirinya, Ayu tetap malu, kala.suaminya menatap dari posisi seperti ini, namun San terus mengencupkan kecupan hangat dari tangan, dada hingga leher isterinya.
Ayu yang masih berada di atas san, perlahan Ayu belajar memulai sebuah permainan, Ayu terus berusaha membuat nyaman San, menggerak kan pinggulnya seraya mengecup bibi suaminya.
San kemudian mengangkat badan Ayu, merubah posisi nya, San terus mendorong masuk, membuat Ayu mengerang kenikmatan, permaianan berkahir tak kala San dan Ayu sama-sama klimaks.
San tersandar di dada Ayu, melelahkan tapi salah satu alasan banyak orang menikah. Keduanya pun melanjutkan tidur karena besok hari penting untuk putera mereka.
.
.
.
Ayu yang terbangun dan langsung menuju dapur, membuatkan beberapa menu sarapan untuk suami dan keluarganya.
“Ayu...gimana udah baikan?”
tanya Tantri yang menatap aneh kepada Ayu.
“Udah baikan kok, takut banget sih, Tan aku mau bicara sebentar”
kata Ayu yang menarik tangan Tantri membawanya kedalam kamar Tantri dan berbicara kepada Tantri.
“Ada apa Yu?”
“Aku tadi di gigit mas San”
Ayu yang menunjukan lehernya yang bekas digigit San.
“Kok bisa Yu?”
“Aku juga enggak ngerti, mas San juga aneh Tan, dia terus cium aku, memberi rasa aneh kepada ku Tan”
jelas Ayu lagi.
“Kenapa gak tanya langsung, apa biar aku tanya San dulu”
__ADS_1
seru Tantri.
"Enggak usah juga kali"
Ayu menarik tangan Tantri.
Tidak lama San yang baru selesai mandi menuju dapur dan meminta buatkan kopi oleh Ayu, Tantri hanya diam melirik San, dia heran kenapa Tantri melihatnya begitu.
"Ada apa Tan?"
tanya mas San.
" Kenapa berbuat seperi itu kepada Ayu?"
"Hah?"
San yang masih tidak paham.
“Pangeran kamu kenapa? Memangnya ada apa sampai menggigit Ayu?”
tanya Tantri.
“Ouh...Aku gemas sama Ayu, tiba-tiba aku memiliki nafsu sama seperti kalian manusia biasa, aku ingin memilikinya seutuhnya, menjadikan dirinya satu dengan aku”
jelas pangeran Sanjaya.
“Hah, aku kira kalian bertengkar, aku sampai khawatir”
ucap Tantri yang menghela nafas.
Mungkin setelah malam tadi, ada rasa Ayu sedikit takut, dia juga tidak tahu bahwa hal itu menjadikan Ayu takut kepada dirinya.
“Mas minta maaf ya dek, maaf kalau kamu jadi takut sama mas”
ucap San berdiri di depan Ayu.
“Jangan di ulangi ya, Ayu takut mas begitu”
pinta Ayu kepada suaminya.
“Iya dek....”
"Mas masih pengen sih!"
"Apa sih mas"
sahut Ayu yang memerah wajahnya.
“Udah aah, bahas gini ada gue, jangan gila-gila deh lu pada”
seru Tantri yang kemudian pergi ke teras dan membawa minuman.
Tantri pun di buat heran oleh Ayu dan San, bukannya lanjut ronde di kamar malah mengikuti Tantri ke teras.
“Ngapain lu?”
tanya Tantri.
“Ngikutin lu”
sahut Ayu.
“Elah, lu enggak jawab pertanyaan San?”
“Enggak lah tadi malam kan udah”
jawab Ayu.
“Enggak siap punya anak lagi lu”
sahut Tantri sambil tertawa.
“Jangan ngaco lu”
sahut Ayu yang merasa kesal kepada Tantri.
Pangeran Sanjaya hanya bisa menahan rasa malunya, wajahnya yang memerah juga tidak dapat disembunyikannya.
“Bukannya lu udah dikasih KB ya sama San?”
tanya Tantri yang mengingatkan kembali tentang ramuan yang diminum Ayu sebelum menikah dengan Sanjaya.
“Iya Yu, kan lu masih bisa nambah ronde”
__ADS_1
tambah Tantri yang membuat Ayu tambah malu dan salting didepan San.
“Udah gak usaha bahas”
ujar Ayu yang duduk di kursi.
“cie cie....salting nih”
kata Tantri.
Malamnya Ayu tengah di dandani dayang-dayang, yang berada di kamar mereka, Tantri juga tampil cantik, beberapa tamu undagan juga datang, dari kerajaan lainnya, beberapa tarian juga di persembahkan untuk menyambut putera mahkota baru kerajaan Jayanaga, banyak tugas yang di emban oleh Ben kelak, gelar sebagai putera mahkota tidak lah mudah, tapi Ayu yakin Ben bisa menjadi putera yang bisa di banggakan.
Bulan malam itu begitu terang, semua bersorak untuk Ben yang tekah resmi menjadi putera mahkota, semua orang bersorak, raja dan ratu Jayanaga juga bahagia melihat cucu mereka bisa menjadi penerus Jayanaga.
Mulai besok Ben akan belajar secara privat, kepada paman senopati, panglima dan guru lainnya, mulai memanah, kuda, pedang dan ilmu kanuragan.
Kini mereka bersiap istirahat, Ayu kembali lebih dulu bersama Arjuna, si bungsu tampak tengah mengantuk, acara memang belum selesai namun, Ayu berpamitan untuk tidur lebih dahulu, sedangkan Tantri masih tampak senang melihat beberapa orang menari bersama.
"Boleh kah saya mengajak adinda cantik ini menari?"
tanya sang panglima yang mengulurkan tangan kepada Tantri.
"Saya?"
tanya nya tidak percaya.
Lelaki bertubuh kekar itu kemudian mengangguk, tanpa ragu Tantri pun menyambut dan mereka menari, ya bisa di bilang dia panglima termuda dan terbaik di Jayanaga, Panglima Tubagus Resma.
Memang belakangan ini Tubagus Resma sering melihat Tantri jalan-jalan bersama anak-anak pangeran Sanjaya, mengulik hatinya untuk berkenalan tapi masih ragu.
Malam ini adalah kesempatan Tubagus Resma mengaja Tantri berkenalan dan menari.
Gadis berkulit eksotik ini menarik perhatian Tubagus Resma, senyumnya yang paling di ingat, dia juga penyayang, tapi dia tahu bawha Tantri sama dengan puteri Kemuning, bukanlah berasal dari bangsa mereka.
"Namanya siapa adinda?"
tanya Tubagus Resma.
"Tantri, Tantri Rismawati"
"Nama mu sama dengan ku, Tubagus Resma"
berawal dari sana mereka pun dekat.
.
.
.
San kembali ke kamarnya, menggendong Arjuna kembali ke kamarnya sendiri, padahal sebuah alasan agar San dapat bermersaan dengan isterinya.
"Dek..."
bisik San.
"Iya mas"
sahutnya yang memejamkan mata.
"Mas bolehkan tambah?"
"Iya...."
sahutnya lagi tanpa tahu apa yang di maksud suaminya.
Tampak wajah San polos sekali, membahas hal tersebut, dirinya merasa malu, wajahnya juga memerah.
Tangan San memegang wajah Ayu, wajah San mulai memerah, di tatapnya Ayu, benar yakin sekali dia mencintai Ayu, dia juga berharap bisa menyatu bersama di sini selamanya.
Ayu yang masih memejamkan matanya, kemudian mengecup lembut bibir San, matanya San juga terpejam, San juga mulai mencium bibir Ayu, perlahan San juga mulai mencium leher hingga dada Ayu, melepaskan pakaian Ayu dengan perlahan, tampak jelas wajah San, Ayu teramat mencintai San, Ayu memeluk suaminya dengan penuh kehangatan. Akhirnya mereka bisa bersatu, melewati batasan yang ada diantara mereka, semesta yang mempersatukan kedua insan ini.
Cahayanya masuk kedalam kamar San yang gelap, San tampak lelah, walau bukan kali untuk mereka, setidaknya awal untuk bisa bersatu di dunia ini. Ayu yang menatap keluar jendela melihat jelas rembulan malam itu.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1