Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Ayo menikah 2


__ADS_3


...🌸🌸🌸...


Hari mulai terang, San yang berjaga tidak berhenti menatap wajah Ayu, mantap untuk hatinya segera menikahi gadis ini, tidak lama ponsel canggih San berdering, tidak ada nada dering karena San tidak suka berisik.


paman :"Pangeran.... apa semalam pangeran baik-baik saja?'


tanya paman Wirakha sedikit khawatir terhadap San.


San :"Aku baik-baik saja paman, bisa antarkan beberapa pakaian ku?"


pinta San kepada sang paman.


Paman :"Aaahhh...baiklah pangeran"


Mentari pagi menyinari masuk dibalik tirai jendela kamar Ayu, setiap pagi pula cinta San terus tumbuh, baik itu Kemuning ataupun Ayu. Bagi San mereka berdua adalah orang yang sama, tidak ada bedanya.


Kesempatan untuk melihat senyum indah Ayu di pagi hari, tidak akan terlewatkan oleh San, pagi yang sempurna untuk mengawali hari yang cerah, hari ini mungkin hari tersibuk San, beberapa janji yang sudah terjadwal kan tidak dapat berubah.


Ayu yang sebenarnya telah bangun, tidak berani beranjak karena dirinya merasa malu atas yang terjadi malam tadi, benar-benar vulgar, pertama kalinya Ayu mencium seorang pria, di tambah pria itu tidak ada ikatan apa-apa dengannya.


Ayu yang masih menutup kepalanya di dalam selimut hanya mengingat kecupan mesra San, jarinya perlahan mengelus bibirnya


perlahan, seakan Ayu menginginkan kecupan itu lagi. Dadanya terasa sesak, jantungnya seakan meledak sepintas Ayu merasa pusing dan teringat akan hal di mimpinya, dirinya yang duduk di tepi danau bersama pria yang sangat mirip dengan San.


Kali ini Ayu nampak jelas wajah pria tersebut, wajah San dengan rambut panjang bak di film kolosal China.


"Mas..."


sahut gadis yang sangat cantik mengenakan pakaian berbentuk kain berwarna putih dengan hiasan payet berwarna gold.


San hanya tersenyum, perlahan San yang menghampiri mencium mesra bibir gadis yang sangat mirip dengannya, Ayu di zaman kerajaan itu sangat cantik, lemah lembut, murah senyum berbanding berbalik dengan Ayu di zaman moderen, tomboi tapi cantik, kadang feminim, sedikit pendendam lebih suka marah-marah.


Setiap Ayu mengingat atau melihat kejadian lampau Ayu kembali merasa akan serangan vertigo. Tidak ingin hal sepele menghambat aktivitasnya, Ayu bangun dan segera mencari obat yang di berikan ayah Arya kepadanya.


"Dek...kamu sudah bangun"


melihat Ayu beranjak dari tempat tidurnya.


"I....iya"


Ayu yang merasa canggung, mengambil sesuatu dalam lacinya dan meminumnya dengan air mineral botolan yang selalu dia sediakan dalam kamarnya.


"Mas mau mandi dulu???"


tanya Ayu kembali


"Boleh....mandi berdua kamu???"


"Iya"


sahut Ayu yang tidak sadar San sedang menggodanya.


"A...APA!!"


"Becanda..."


Seru San yang beranjak mauk kedalam kamar mandi.


Wajah Ayu langsung memerah, di tambah lagi dirinya yang teringat akan ciuman jantungnya langsung berdebar kencang.


"lu mikirin apaan sih Yu? lu baru kenal dia, bukannya perasaan lu buat mas Arya?"


batin Ayu yang bingung akan hatinya, bisa-bisanya dia merasa nyaman bersama San.


Selagi San mandi Ayu keluar untuk pergi ke kamar Deska yang tepat berada di depan kamar Ayu.


"Des....Des"


tok...tok...


AYu mengetuk pintu kamar Deska tapi tidak ada jawaban.


Tidak di respon, Ayu menuju dapur membuatkan secangkir kopi untuk San, dapur yang berada di lantai bawah, Ayu menuruni anak tangga dan berpikir terus-menerus kenapa hatinya bisa senyaman itu bersama dengan San?.


Ayu membuatkan secangkir kopi dan membuatkan roti isi ham, dia juga membuatkan untuk dirinya, roti yang di bakar agak gosong menjadi favorit Ayu, di tambah potongan bombay dau selada, lengkap dengan saus sambal dan mayones, daging ham yang di masak dengan butter setengah matang memang menggugah selera.


Setelah siap Ayu membawa naik ke dalam kamarnya, San ternyata masih belum keluar dari kamar mandi, merasa aneh, Ayu mengetuk pintu kamar mandinya.


Tok...tok..


"Mas..."


"Aku lupa, aku tidak bawa baju..."


sahut San yang hanya menunggu di dalam kamar mandi.


"Ya sudah keluar aja dulu..nanti malah masuk angin, aku lagi yang repot"


seru Ayu.


San pun keluar kamar hanya mengenakan handuk kimono berwarna coklat milik Ayu. sentak Ayu tersenyum menahan tawanya, dia lupa untuk memberikan handuk kepada San.


"Ini kopi sama roti isinya, aku pinjam baju Adam dulu"


kata Ayu yang keluar untuk pergi ke kamar Deska.


"Makasih ya dek..."


Ayu keluar sambil tertawa lepas, melihat San membuatnya sangat lucu, entah apa yang membuatnya lucu, ya mungkin itu handuk yang bisanya digunakan oleh Ayu, sangat aneh saja jika San menggunakannya.


Tok...tok...


"Des....Deska..."


teriak Ayu.


"iya...iya...bawel banget sih pagi-pagi"


Deska pun membuka kan pintu kamarnya.


"Apaan sih lu"


"Gue pinjam baju Adam dong"


"Ambil sendiri tuh"

__ADS_1


Deska yang menunjuk kearah lemari.


Deska kembali melanjutkan tidurnya, Ayu melihat beberapa baju Adam yang tersimpan rapi di lemari.


Hoddie ukuran XXL berwana biru laut dan celana chittos pendek berwarna Abu lengkap dengan CD yang baru di beli Deska untuk Adam masih tersimpan dalam keemasan.


"Gue pinjam dulu ya Des.."


"iya buk..tutup pintunya"


seru Deska yang masih berbaring di atas kasurnya.


"Mas...coba pake ini?"


Ayu menyerahkan baju Adam untuk di pakai San sementara.


"Iya dek..."


San pun memakainya di depan Ayu, mula-mula San mulai memakai CD yang ternyata 1 ukuran pas untuk dirinya, Ayu yang melihat langsung membalik kan badannya ke arah pintu.


"Mas kan bisa pake di kamar mandi!"


"Memangnya kenapa dek?dulu kamu biasa ngeliatnya"


"Aduh ngomong apaan sih?"


"Udah..."


sahut San.


Yap sesuai ekspetasi Ayu, memang San pantai pakai style ala-ala outfit korea gitu, Ayu terdiam menatap dari bawah hingga atas, ada rasa dihatinya membuatnya San adalah orang itu, pria yang selalu datang di mimpi nya.


"Dek..."


San yang membuyarkan lamunan Ayu.


"Aahhh...kopinya sudah di minum?"


"Belum...nungguin kamu"


"Iya udah minum gih keburu dingin..."


Ayu pun menyalakan layar TV, agar suasana tidak canggung, sambil menghabiskan sarapannya.


"Kita menikah saja dek..."


tiba-tiba San mengatakan hal mengejutkan membuat Ayu tersedak roti isi.


"Uhhuukkk...hukkk.."


"Minum dulu dek..."


San memberikan gelas berisi teh yang di buat Ayu.


"Lu bisa enggak sih enggak ngagetin orang"


"Maaf ya dek...tapi aku tidak mau pisah, aku mau kita begini"


San yang memegang tangan Ayu.


"Menikah itu bukan perkara gampang, menikah menyatukan dua hati, dua keluarga berlandaskan cinta, enggak semudah yang lu katakan"


entah apa yang membuat Ayu begitu kesal kepada San, dia tidak mau nantinya pernikahan dia berakhir seperti pernikahan orang tua mereka.


"Aku memilih orang yang tepat, yaitu KAMU!!!"


ucap San yang menatap dalam kepada Ayu.


Tok...tok...


Suara ketukan pintu kamar Ayu.


Tidak membalas perkataan San, Ayu pergi untuk membuka kan pintu kamarnya, ternyata paman Wirakha datang membawakan beberapa pakaian untuk San.


"Pagi mbak Ayu, saya kesini mau mengantarkan pakaian tuan muda San"


"Masuk om..."


"Terimakasih mbak...pangeran, bergegaslah ayah handa sedang menunggu mu"


ucap paman wirakha keceplosan.


"Pangeran ????"


gumam batin Ayu.


San memberikan kode kepada paman Wirakha dengan mengerutkan bibirnya, paman Wirakha pun tersadar bahwa dirinya salah menyebutkan panggilan San.


"Tunggu di bawah ya paman"


"Baik pangeran..."


Sementara San mengganti pakaiannya di kamar mandi, batin Ayu terus bertanya-tanya, dirinya sungguh tidak asing dengan kata "PANGERAN".


"Pangeran San!!!"


gumamnya terus merasa bingung.


Dia kembali mengingat pertemuan pertama dengan San, pertama kali Ayu bertemu kepala terasa pusing yang sangat menekan, dadanya sakit seperti tertusuk sesuatu membuatnya tidak bisa bernafas sehingga pingsan.


Dan setelah sadar pun San memanggilnya dengan panggilan "DEK" panggilan akrab atau panggilan sayang terhadap seseorang. Sebelum bertemu dengan San, Ayu selalu samar melihat wajah pria yang datang di mimpi nya, sampai San hadir, pria di mimpi itu memang mirip dengan San.


"Tidak mungkin kan mereka orang yang sama?"


gumamnya kembali.


"Siapa orang yang sama dek?"


tanya San yang keluar dengan menggunakan style kemeja biru dengan jas hitam.


"Sebenarnya aku mau ngomong, tapi mungkin waktunya belum tepat"


seru Ayu.


"Sepulang kerja aku akan menjemput mu, mungkin di tempat itu pertanyaan mu akan terjawab"


ucap San membuat Ayu semakin penasaran.

__ADS_1


"Mas berangkat dulu ya..."


kata San yang kemudian mengecup kening Ayu.


Ayu hanya terdiam bahkan dia tidak terlihat marah, dengan Apa yang barusan San lakukan kepadanya, tidak lama San keluar kamar ponselnya berdering, di lihatnya panggilan telepon dari Arya.


Ayu yang mengangkat telepon sambil menatap keluar jendela, memperhatikan San yang berlalu menaiki mobilnya.


Ayu : "Hallo mas !!!"


Arya : "Gimana cowok kamu? udah baikan?"


Ayu : "Udah baikan mas, makasih ya"


Arya : "Sama-sama Yu, maaf mas pulang enggak pamitan"


Ayu : "Iya mas, enggak aoa-apa, lagian aku juga tidur"


Arya : "Ya sudah mas berangkat kerja dulu ya"


Ayu : "Hati-hati ya mas"


Ayu kemudia menutup telelpon.


......🌸🌸🌸......


Beberapa pelajaran terbaik yang pernah kita pelajari, dipelajari dari kesalahan masa lalu. Ayu yang berpikir bahwa keluarga mereka sempurna, ternyata menyimpan duri untuk ibu dan bapak nya.


Ayu juga masih berjuang untuk memaafkan masa lalunya, hidup sebatang kara membuat hatinya teguh untuk tidak memaafkan mereka yang menyakitinya. Dendam itu telah berakar, sedangkan sang ibu yang tidak pernah mencari tahu akan keberadaan dirinya ternyata menikah lagi. Ayu mengetahuinya ketika dirinya pergi berkunjung kerja sebagai sales agen sebuah prodak kesehatan di timur indonesia.


(Flashback 3 tahun lalu)


Kala itu Ayu yang baru bekerja di sebuah perusahaan sales produk kesehatan, di pindah tugaskan selama 3bulan, banyak prestasi yang di peroleh Ayu.


Tepatnya di kota K, Ayu yang sebelumnya blum pernah berpergian ke luar kota merasa senang, begitu semangat akan prospek yang akan di lakukan di kota ini.


Sampai Ayu prospek di sebuah rumah sakit, ya, tujuan utama prospek Ayu adalah rumah sakit swasta dan dinas kesehatan, di salah satu instansi terkait Ayu berhubungan langung dengan beberapa kepala bagian, yang ternyata salah satu dari mereka adalah suami dari ibunya.


Pertemuan yang di adakan bertempat di aula kantor dinas kesehatan setempat, bapak Yulius Yamore salah satu kepala bagian yang di temui Ayu. Beliau sangat baik, bahkan sering kali Ay mendapatkan undangan makan malam di rumahnya, bapak Yulius sangat kagum akan kegigihan Ayu yang masih muda.


Sampai akhirnya dinas setempat membeli beberapa produk dari perusahaan Ayu, baru Ayu bersedia memenuhi undagan makan malam bapak Yulius dan keluarga.


Malam itu Ayu begitu semangat, dia bersama dengan seorang teman berkunjung ke rumah Bapak Yulius, rumahnya lumayan lah untuk kalangan pejabat instansi daerah.


"Sa dengar isteri baru pak Yulius itu pelakor..."


bisik temannya yang asli dari Flores.


"Husstt...enggak enak nanti di dengar beliau..."


Ayu yang masih berdiri di depan pintu rumah pak Yulius.


"Nak Ayu...Bettri ayo masuk..."


Pak Yuli yang sumringah membuka kan pintu rumahnya.


Hal yang menarik ketika masuk ke rumah pak Yulius adalah lukisan Yesus Kristus yang sangat besar, Ayu yang melihat sangat menghormati bapak Yulius, beliau sangat baik untuk ukuran Au sebagi pendatang di kotanya.


"Duduk lah dulu, ibuk masih siapkan makan malam"


ucap pak Yulius.


"Maaf ya pak jadi ngerepotin"


"Tidak ada yang di repotin nak Ayu, duduk lah dulu"


Ayu pun duduk di sofa ruang tamu rumah pak Yulius, matanya kemudian tertuju pada sebuah foto pernikahan pak Yulius dengan seorang wanita yang tampak tidak asing baginya.


Ayu berjalan mendekat foto berukuran besar yang terpampang di sudut ruang tamu dekat dengan ruang keluarga, Ayu dengan seksama menatap memastikan bahwa di foto tersebut bukan lah orang yang di kenalnya.


"Ibu.....!!!"


Ayu memandang foto tersebut dan memanggilnya dengan kata IBU.


Bbprraaannnkkkk !!!!


tidak sengaja istri pak Yulius menjatuhkan mangkuk berisi sayur asem.


Isteri pak Yulius ternyata adalah ibunda Ayu, yang kabur dan menghilang dari beberapa tahun, sang ibu juga kaget, masih jelas ingatannya tentang Ayu, gadis kecil yang di tinggalkannya kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar.


"Ada apa buk?"


tanya pak Yulius yang sangat perhatian kepada isterinya.


"Tidak apa-apa pah, sa rasa mangkok nya licin"


Ayu hanya diam tidak berkata, acara makan malam juga berlangsung damai, Ayu juga membantu mencuci piring.


"Kamu apa kabar Yu?"


kata Ibunya dengan memelankan suaranya, Ayu yang telah selesai mencuci piring tidak menghiraukan apa yang ibunya katakan.


"Ayu' ibu mau ngomong, dengerin ibu..."


ibu Ayu yang menarik tangan Ayu.


"Lepas..."


sentak Ayu.


"Ayu dengerin penjelasan ibu Yu"


"Penjelasan??? sekarang udah enggak penting"


"Ayu maafin ibu...."


"Maaf?? minta maaf ke kubur nenek..."


sahut Ayu kesal menatap kecewa mendalam terhadap ibunya, bukan keyakinan baru yang di anut sang ibu, yang membuat dirinya kecewa ketika ibunya menyerah akan kehidupan keluarga mereka dulu.


Menatap kalung salib yang di pakai sang ibu, Ayu terus menahan air matanya, pak Yulius yang datang di barengi Bettri kaget ternyata Ayu adalah putri dari istri pak Yulius.


Sejak hari itu, Ayu memutuskan mundur bekerja sebagai sales agen, dia berniat menjual rumah warisan sang nenek untuknya, kenangan hanya akan di kenang, kenangan tidak membuat isi perut mu lebih kenyang.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_1


__ADS_2