
Di perjalanan pulang Ayu terus mengingat kakek tua yang menatapnya tajam, tidak ingin membuatnya stress, diabaikannya soal si kakek. Kembali ke acara yang telah di persiapkan ibu mertuanya cukup meriah, rasanya baru kemarin dia menikah, sekarang udah hamil aja, banyak dayang yang membuat hiasan janur, kesukaan keluarga San ialah musik tradisional jawa, lengkap dengan tariannya.
Tidak lupa Arya dan Bella juga di undang, pangeran Kesuma juga, karena begitu meriah, mereka juga mempersilahkan untuk warga sekitar untuk menghadiri acara tersebut.
Ayu di kamar telah di persiapkan menggunakan jarik batik yang di beli mertuanya di buatkan kemben yang di kenakannya untuk acara nanti, rangkaian melati juga di sematkan di pundah Ayu.
Acara pembuka di sambut oleh tarian tradisonal jawa, mennadakan ac arasegera dimulai, tamu-tamu mulaimasuk berdatanagan.
San mengenakan celana kain berwarna hijau gelap, di balut jarik batik yang di kenakan dipinggang nya, beberapa sambutan di berikan oleh ayah, bunda dan mertua San, semua tamu begitu antusias melihat Ayu dan San yang di rangkul dengan jarik batik yang panjang menuju tempat pemandian, dimandikan dengan mata air 7 sumur, mengartikan 7 unsur kehidupan di dunia.
Dari sekian banyak tamu, mata Ayu tertuju kepada seorang kakek yang berdiri tegak, mengenakan pakaian putih bersih, Ayu ingat wajah itu, kakek yang di jumpai di pasar tadi.
Ayu merasa khawatir, sterss kembali melanda, badannya kembali bergetar, San yang memegang tangan sang isteri melirik dan menoleh kemana Ayu melihat, dia melihat kakek yang sama dengan Ayu lihat, San mengenalnya dia dalah seoarang empu atau orang yang dihormati dalam memimpin sebuah acara keagamaan pada masa kerajaan dulu.
"Ada apa dek?"
tanya San
Ayu pun hanya menggelengkan kepalanya, kemudian acara pun di mulai dari ayah, bunda dan mbok ikut menyiramkan air bunga tujuh rupa ke badan keduanya, San juga di minta untuk membelah kelapa muda yang di bungkus kain batik.
Seleai di mandikan, Ayu berganti pakaian dan memilih istirahat, hanya San yang menyambut tamu bersama orang tuanya, mbok memilih menemani sang puteri, Ayu heran kenapa sang kakek melihatnya merasa aneh.
San menghampiri empu yang di kenal dengan Empu Gatma, sudah lama mereka tidak berua,empu yang dikenal karena beliau memiliki isteri yang banyak salah satunya dari bangsa manusia.
"Apa kabar empu?"
"Baik pangeran,saya tidak sengaja bertemu puteri di pasar dengan baginda ratu"
ujar empu yang ternyata bisa berjalan dengan normal dan tidak bungkuk.
"Iya empu,apa ada yang mau di sampaikan?"
tanya San penasaran.
"Tidak, semoga kalian bahagia selalu, menikah dengan manusia kamu harus siap dengan sebuah perpisahan,karena mereka bukan makhluk abadi"
pesan sang empu yang kemudian berlalu.
San tahu betul itu, tapi setidaknya dia bisa bahagia walau berdampingan dengan kematian yang bisa saja terjadi kapan saja, selesai acara San kembaliberistirahat, Ben kembali tidur dengan nenek dan kakeknya.
Ayu tertidur pulas setiap waktuyang dihabiskan mereka sangat berharga bagi San, apalagi sekarang Ayu tengah hamil anak mereka. San merasa kelelahan dia pun segera memejamkan matanya.
.
.
.
Matahari naik perlahan membiaskan cahaya yang masuk ke dalam rumah besar itu, di pagi yang cerah itu isterinya berjalan santai sambil mengelus perut besarnya, baru juga 15 menit berjalan, ayu tiba-tiba merasakan mulas di perutnya.
San sangat mencintai mereka, bahkan disaat mereka mungkin akan dipisahkan takdir kembali, San maih bisa melanjutkan dan menunggu Ayu dikehidupan selanjutnya lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba sang isteri merasakan mulas yang terus menerus, bahkan ada air berwarna kuning pekat seperti minyak goreng mengalir di kakinya.
"Aaaahh...mas sakit"
teriak Ayu yang membuat San khawatir.
San pun berlari menghampiri, dia juga bingung, karena baru pertama kali dia menyaksikan isterinya hendak melahirkan, segera menggendong Ayu menuju kamar mereka, Ayu terus menahan rasa sakit persalinan, mengambil nafas dan mengeluarkan dengan pelan, San memanggil mbok dan meminta Kum menjemput mbah Jipo, mbok dan dayang mempersiapkan alat yang di perlukan untuk persalianan Ayu.
Mulai dari bak berisi air hangat dan beberapa macam kain, Ayu sebelumnya tidak memperiapkan apa-aopa, dia bahkan belum membeli perlengkapan bayi, sang mertua telah mempersiapkan pakaian zaman mas San bayi yang masih di simpannya.
Mbok kemudian melepaskan dalaman yang di kenakan Ayu, menekuk kaki Ayu dan melihat, tangan mbok juga masuk ke dalam dan memerika, Ayu baru pembukaan tiga.
"Baru pembukaan tiga, cah ayu"
ucap mbok.
Rasa sakit yang tiba-tiba datang karena sang bayi maih mencari jalan untuk keluar, sambil menunggu Ayu sempat berjalan-jalan pelandi kamarnya, San agak panik, tapi sebisa mungkin jadi suami yang siaga,Ayu sedikit tidak percaya, kehamilannya baru memasuki hari ke tujuh.
Tapi sakit dan ciri yang dikeluarkan sepertinya memang benar, San juga mngelus pinggang Ayu dengan pelan dan perutnya Ayu an berkata.
"Sayang...anak ayah, keluarnya yang cepet ya nak, kasihan bunda"
kata San membuat Ayu kesal.
"Cepet apanya, emang prosesnya begini"
sahut ketus isterinya.
"Udah elus aja."
sahut Ayu, San hanya terdiam dan kembali mengelus.
Kemudian San pun mengelus lembut pinggang Ayu, sampai beberapa jam Ayu hanya menahan sakit, pembukan juga telah bertambah, namun memang bawaan bayi, Ayu hanya menahan dan menangis sambil meringgis sakit.
"Jangan nangis dek, aku bingung"
ujarnya.
Ayu hanya diam sambil meneteskan air mata, dia terus merasakan kesakitan yang sangat sakit, sampai dia tidak sanggup berjalan, dia pun berbaring, polah sana kemari sambil memegangi perut besarnya.
Mbah Jipo kebetulan juga sedang membantu orang melahirkan,beliau tidak ada dirumah, sehingga persalinan Ayu hanya di temani mbokdan suami.
"Belum ya pangeran?"
tanya ibunda.
"Pembukaan lima bunda"
jawab San.
Ben yang melihat sang bunda kesakitan tidak tega, dia menghampiri dan berbicara kepada calon adiknya.
"Dede, jangan bikin bunda sakit ya, kasihan bunda, nanti dede main sama kakak ya"
__ADS_1
ujar Ben membuat Ayu terharu.
"Sini nak,,,"
Ayu yang memanggilnya dan kemudian mengecup pipi Ben.
"Makasih ya sayang..."
"Sama-sama bunda, Ben sayang"
ujar anak sulungnya.
"Ben ayo, Ben tidur dulu, besok pagi biar ketemu dede lagi"
kata sang nenek.
"Dah Bunda..."
ucap Ben melambaikan tangannya.
Perlahan Ayu mulai kelelahan,sudah tidak kuat menahan rasa sakit, pandagannya ,mulai terlihat kabur, berkali-kali dia memanggil San namun suaranya tidak terdengar.
Dikira tidur, Ayu memejamkan matanya, badannya lemah lunglai, mbok yang baru datang habis dari dapur, melihat Ayu tertidur merasa curiga.
"Cah ayu, nduk..."
mbok yang mulai membangunkan,tapi tidak ada repon dari Ayu.
"Dek..."
San juga mulai membangun Ayu, mulai mengecek nadinya sangat lemah, bingung, dia mencoba terus menerus membangunkan sampai mbok akhirnya berbicara meminta tolong kepada Bramasena.
Tidak banyak bicara San langsung pergi meminta Kum menjemput Arya, tubuh ayu teraa sangat dingin,mbok mulai mengompres badan Ayu dengan handuk hangat.
Sanjuga menggos tangan Ayu agar tetap hangat, dia tidak ingin kehilangan keduanya, sebisa mungkin San menghangatkan Ayu, dia juga memberikan sedikit energi untuk Ayu, melalui sebuah ciuman San mengantarkan kekuatan yang ada di dirinya untuk Ayu.
Namun percuma, kondisi Ayu sangat lemah, San tidak tahu membawa Ayu kemana, dokter biasa tidak akan mampu mengetahui apa yang terjadi dengan Ayu.
.
.
.
Dapatkah Ayu bertahan? nantikan terus ya ceritanya.
(Bersambung)
Mampir yuk ke cerpen aku 😘
__ADS_1