
(Cerita sebelumnya)
"Pedang itu, pedang itu tidak ada di tubuh ku? di mana dia berasal?"
tanya Arya dalam dirinya.
"Pedang itu ada bersama seseorang di dunia ini, kau bisa mencari reinkarnasi bernama Rendra"
ujat naga bulan berkomunikasi dengan batin Arya.
"Rendra?"
.
.
.
Pagi ini Arya kembali berlatih tanpa di temani San dan paman, dia hanya terus memikirkan tentang si Rendra, bagaimana bisa pedangnya bersama dengan Rendra. Bella yang perutnya kian membesar mungkin telah berumur 6bulan, dia membawakan beberapa roti dengan isian daging dan susu.
"Mas...Bella bawain sarapan"
ucap Bella yang masuk keruang latihan Arya.
"Makaih ya dek, mas boleh tanya sesuatu?"
sahut Arya.
"Boleh saja, memang nya mas mau bertanya apa?"
"Bagaimana kalau Rendra kembali?"
Sontak Bella terdiam, walau Rendra adalah suaminya terdahulu, dia tidak pernah mencintai Rendra, berusaha untuk memulai pun Bella malah mendapatkan balasan yang menyakitkan.
"Mas ingin tahu kenapa Bella hanya mencintai mas?"
ucap Bella yang kemudian memberikan memori di kala dia bersama dengan Rendra, dia tengah hamil anak Rendra, Rendra memaksa KIrana atau Bella untuk berhubungan, namun setelah hamil, Rendra seperti acuh dan tidak peduli kepada nya,memperlakukan dia kasar dan terakhir dia berkhianat.
Ingatan Bella tentang Rendra sangat menyakitkan hingga dia memutuskan tidak akan pernah mau bertemu atau mengenal kembali pria bernama Rendra, dia bahkan hanya menunggu cinta pertamanya, yaitu Bramasena yang kemudian bereikarnasi menjadi Arya.
Arya merasakan apa yang Bella rasakan, dia marah dan benci, tapi semua adalah masa lalu, Bella kini bersamanya, dia bertekat tidak akan melakukan hal yang sama kepada Bella, seperti apa yang di lakukan Rendra kepada Bella dahulu.
"Maaf dek, sekarang sudah ada mas, mas akan menjaga kamu dan anak kita"
ucap Arya yang kemudian mengelus perut Bella.
.
.
.
Di sebuah kost cowok, Mahendra yang baru bangun dengan kondisi kamar yang cuku berantakan, dia mencuci muka, di kamar yang hanya berukuran 4x5 itu, Mahendra memasang beberapa foto dari pemilik perusahaan JBO beserta San.
Mungklin sudah saatnya dirinya untuk menemui kedua orang tuanya yang dahulu, mungkin ada baiknya dia bertemu juga dengan kakak nya Sanjaya.
Dengan wajah yang penuh diam, Mahendra hanya menatap dirinya di sebuah cermin kamar mandi entah apa yang di rencanakan, tapi dia akan menemui orang yang pernah ada di masa lalunya.
Di istana Ayu yang ikut sarapan bersama dengan keluarganya san, tengah membahas masalah pernikahan San dengan Ayu, walau kesannya mewah, tapi Ayu dan San hanya di perkenan kan memakai pakaian adat yang sudah menjadi turun temurun tradisi keluarga mereka.
"Ning...buka lah"
__ADS_1
ujar ibunda San yang memberikan sekotak kado dengan balutan kain bludru berwarna biru.
"Apa ini ibu?"
"Bukalah, anggap sebagai hadiah pernikahan kalian"
kata ibunda mas San tersenyum.
Ayu pun membuka kotak tersebut, isinya sebuah kalung, perhiasan yang sangat indah dan cantik, Ayu bahkan sangat terkejut, perhiasan yang di tengahnya terdapat permata hijau zambrut.
"Wah,,,,mahal banget ini"
celetuk batinnya.
"Apa ini tidak berlebihan ya bu?"
tanya Ayu ang menutup kembali kotak hadiah tersebut.
"Tidak untuk menantu ku, ibunda memberikan nya sebagai tanda sayang ibunda kepada mu"
mendengar ucapan calon mertuanya, Ayu merasa bahagia dan bangundari duduknya dan memeluk ibunda mas San.
"Terimakasih ya ibunda"
ucap San yang juga merasa bahagia.
Acara pernikahan mereka tiggal seminggu lagi, rasanya waktu cepat berlalu, Ayu sedikit gugup, dia terus berusaha tenang walau banyak pertanyaan yang ada di benaknya.
Dengan ibunda mas San, Ayu belajar banyak, dia juga banyak bertanya kepada sang ibunda di tenagh kesibukan sang ibunda, tentang ma San, apa yang di suka, masakan apa yang menjadi favoritnya, semua hal tentang San.
Sang ibunda juga masih menyiman pakain San di kala masih anak-anak, tampak sangat rapi dan bersih, Ayu dapat melihat bahwa sang ibunda sangat menyayangi mas San, Ayu juga melihat bagaimana mereka merindukan kehadiran anak kecil di rumah besar mereka.
"Ini juga ya ibu,,,"
"Ini punya adik Sanjaya, Narendra"
sahut sang ibunda yang seketika raut wajahnya berubah.
Selama ini mas San tidak pernha cerita bahwa dirinya memiliki seorang adik, dia bahkan sangat tertutup, sama halnya dengan ibunda nya, mereka seolah tidak ingin membahas Narendra .
Ayu sangat menghargai privasi sang ibunda yang tidak ingin membahas Narendra, Ayu hanya terdiam dan melihat kembali beberapa mainan yang terbiuat dari kayu sedari San kecil.
San beserta ayahnya hari ini pegi menemjui beberapa rekan kerja yang mengajak mereka bermain golf, tinggal lah Ayu bersama dengan ibunda San, selain itu Ayu juga melihat-lihat gaun rancangan ibunda San, sebagai hobi ibunda San sangat mentelateni.
Tok..tok..
seseorang mengetuk pintu ruangan kerja ibunda San.
"Iya masuk..."
"Maaf ndoro, di luar ada seorang pria muda ingin bertemu dengan ndoro ratu"
ucap si pelayan.
"Pria muda? ajak dia masuk aku akan menemuinya"
kata ibunda San.
"Baik Ndro..."
Pria itu adalah Mahendra, dia juga tidak mengatakan bahwa dia adalah pangeran kepada sang pelayan, ibunda San yang sangat penasaran, siapa pria muda yang ingibertemu dengannya.
__ADS_1
"Ning, ibunda turun sebentar ya..."
"Iya ibunda..."
Ibunda ratu Ratih pun turun ke lantai satu untuk menemui pria muda yang dimaksud, pria itu juga membawakan rangkaian bunga yang sangat cantik.
"Maaf, ada perlu apa ya bertemu dengan sa,,,ya"
ibunda ratu kaget ternyata itu adalah Rendra puteranya.
"Rendra anak ku....hiksss hikss.."
ucap sang ibunda yang kemudian memeluk dan menangis.
Mendengar suara tangisan ibunda Ayu pun keluar dan segera menyusul sang ibunda, terjawab udah teka teki yang selalu menjadi misteri di kehidupan Mahendra.
Mahendra hanya terdiam kaku, dia merasa apa semua ini nyata, tapi seakan menolak, dia yang sekarang bukanlah anak dari ibu ini. Dia terlahir dari keluarga yang sederhana yang jauh dari kota ini, dia merantau sampai dia bertemu denga ibunda San di sebuah event yang diadakan perusahaan beliau yang bekerja sama dengan perusahaan Mahendra bekerja.
Belum juga membalas perkataan Ibundanya, Mahendra mendorong badan ibunda San dan memilih pergi tanpa mengatakan apapu. sang ibnda yanga hanya menangis tidak bisa menahan kepergian Mahendra.
"Ibunda ada apa?"
tanya Ayu yang mengahmpiri ibunda.
"Ning...Rendra Ning"
isak sang ibunda ratu yang kemudian memeluk Ayu.
Ayu hanya sepintas melihat seorang pria yang mengenakan pakaian serba jeans biru dengan topi hitam, berpostur tinggi namun Ayu belum sempat melihat wajah ria tersebut.
Ayu kemudian memapah snag ibund auntuk masuk ke kamar beliau dan meminta pelaan membuatkan tes lotus favorit ibunda mas San.
"Bagaimana ibu, sekarang sudah baikan?"
tanya Ayu yang mengambil secangkir teh.
Ssruuuppp...
ibunda yang meminum teh lotus mulai merasa tenang, dia tahu persis apa yang terjadi, pria itu benar adalah Rendra puteranya ang kini telah bereinkarnasi.
"Makasih ya Ning, ibunda sudah mulai tenang."
"Sama-sama ibunda."
"Mungkin ibunda salah lihat, mengira kalau pengantar bunga itu adalah Narendra putera ibu"
ujar sang ibunda.
"Bisa saja kan ibunda, kalau dia lari mungkin dia juga merasakan hal sama dengan ibunda"
sahut Ayu.
Mungkin benar yang di katakan Ayu, pria yang dikira Rendra juga mengalami hak yang sama dengan Kemuning atau Ayu, Reinkarnasi.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1