
Ayu yang terus duduk menangis, merintih memanggil mbok, hampir 35 menit ayu seperti itu, tidak banyak yang di lakukan San, dia hanya menemani duduk sang isteri dan bercerita tentang dirinya.
"Aku tidak bisa mengabaikan mu lama-lama, aku begitu ingin memeluk mu saat itu, mengelus dan mengecup kening mu dek, aku begitu egois tidak memikirkan perasaan mu saat itu, entah apa yang merasuki ku, rasa cintu ku yang tulus kamu bohongi dengan tingkah adik ku yang kurang ajar"
cerita San ang mengupas memori yang juga menyakitkan untuk dirinya.
"Mas tidak berhenti memikirkan mu, tapi semua telah terlambat, mas akan terima apapun kondisi mu saat itu, tapi kenapa dek, kamu memberikan hukuman yang sangat membuat ku sesak? seakan-akan aku tidak bia bernafas lagi, bahkan untuk melihat mentari pun aku tidak sanggup, saat paling berat adalah menemukan mu pergi untuk selamanya tanpa aku sempat mengucapkan maaf"
ujar San terus merenungi kesalahan di masa lalu mereka.
Perlahan Ayu menoleh kearah San, pipinya basah karena terus menangis, dia melihat San yang selama ini berjuang sampai disini, menunggu dan menemukannya, bahkan mereka terlihat bahagia, bersama Ben, merka bisa menjadi impian semua orang memiliki keluarga yang bahagia.
Ayu langsng memeluk sang suami dengan erat, Ayu bahkan menangis ejadinya melihat San, yang selalu sedih di tepi danau, melihat prose San bertapa, beratus tahun hanya ntuk dirinya, menerima segala resiko agar dia bisa bertemu dengan cintanya.
"Kita bisa lewati ini semua dek, ada aku ada Ben, kita udah satu, tolong lupakanlah masa lalu yang pahit itu"
ujar ssan ang mengusap air mata di pipi Ayu.
"Maaf dek, aku bukan suami yang baik, bukan pria yang baik untuk mu"
tambah San.
Ayu hanya menggelengkan kealanya, mengisyaratkan bahwa itu tidak benar, semua yang San lakukan hanya untuk Kemuning, bahkan sampai di titik ini semua karena San yang gigih.
"Mas...suami yang baik, aku yang tidak berpikir jauh"
ucap Ayu.
"Maafkan mas dek..."
ucapnya sambil mengecup kening sang isteri.
Ayu sudah sedikit lebih tenang, namun badannya masih gemetaran, San tidak mempermasalahkannya, setidaknya Ayu sudah mau dekat dengannya lagi.
Tidak berapa lama mbok datang barengan dengan Kum dan Ben,
di sambut oleh ibunda San, mbok langsung di antar ke kamar Ayu dan San, melihat kondisi puterinya begitu menyakitkan untuk dirinya, dia benar Kemuning, anak perempuan yang di lahirkannya.
"Cah ayu...ini mbok nak"
mbok yang masuk mendekati Ayu yang duduk di sebelah San.
Matanya yang berat melirik kearah mbok, dia pun langsung memeluk dan menagis, meminta maaf dan ampun dengan perbuataannya yang meninggalkan sang ibu seorang diri.
"Ning....mbok disini nak, mbok sudah maafkan semuana Ning, mbok ingin kamu bahagia"
Ujar mbok mengelus pundak Ayu yang memeluknya.
San keluar kamar memberi waktu untuk keduanya berbicara,didepan pintu kama,ibundadanya dan Ben menunggunya, Benpasti bingung dengan apayang terjadi kepada sang bunda.
"Bunda sudah sehat yah?"
tanya Bendengan polosnya.
"Bunda sehat kok, besok aja ya, Ben ketemu sama Bunda"
ujar San yang menggendong Ben kecil, dia membawanya bermain sebentar agar Ben tidak khawatir dengan bundanya.
"Tapi Ben sayang bunda, yah"
"Iya bunda juga sayang Ben, kamu mau makan apa?nanti ayah masakin"
tanya San mengalihkan perhatian Ben.
__ADS_1
"Gak mau makan!!! mau ketemu bunda"
rengek si Ben.
Di ikuti sang ibunda San merasa jauh lebih semangat, dia tidak ingin anaknya sedih melihat dia dan Ayu seperti ini. Malam kini berlalu Ben yang bermain bersama kakek dan neneknya terlihat lebih ceria.
San yang pergi sebentar ke sebuah tempat di istana yang jarang di ketahui orang, balkon atap yang luas, kini disana tempat dia menyendiri.
Ayu yang baru saja di mandikan oleh mbok kini tertidur, mungkin sementara mbok akan tinggal disana bersama San dan lainnya, sampai Ayi benar-benar bisa di tinggal sendiri.
"Mbok...bagaimana Ning?"
tanya ibunda San yang menghampiri mbok keluar dari kamar San.
"Ning sudah tenang, dia sedang tidur ndoro"
jelas mbok.
"Mbok disini saja ya, biar sama-sama kumpul"
ucap ibunda ratu yang memegang tangan mbok.
"Baik ndoro...terimakasih sudah menerima saya"
ujar mbok yang terlihat bahagia, San dan keluarganya sangat baik kepada dirinya dan Kemuning.
Selesai menyendiri San menghampiri Ayu di kamarnya, melihat sang isteri terlelap tidur membuat hatinya tentram, San merebahkan badannya di samping Ayu, menatap wajah sang isteri.
"Mas sayang kamu dek"
ujarnya sambil mengecup kening.
.
.
.
Ayu merasa sangat menyesal, seandainya dan seandainya waktu bisa berputar ulang, mungkin Kemuning tidak ada disini, dia masih bisa bersama dengan San di masa lalu dan menjadi sebuah kisah yang abadi.
***Cup...
Ayu mengecup lembut bibir mas San.
Matanya terbuka melihat sang isteri telah baikan, Ayu yang wajahnya menjadi cubby dan pipi yang bengkak akibat menangis, menbuat San tersenyum.
Entah dia Kemuning atau Ayu, rasanya tetaplah sama. San tanpa berkata membalas kecupan Ayu. Terasa hangat, nafas keduanya saling menyapa diantara pipi keduanya.
"Apa kabar mas ku?"
ujar Ayu yang kedua tangannya memegang pipi sang suami.
"Baik dek"
ujar San yang melanjutkan mengecup bibir sang isteri.
Sudah sedari jam 05.00 pagi Ben bangun dia tidak sabar untuk bertemu dengan ayah dan bundanya.
Tok...tok...
"Ayah...Bunda..."
ujar Ben mengetok pintu kamar orang tuanya.
Mereka dengan terpaksa menyudahi kecupan hangat di pagi hari.
__ADS_1
"Bukain mas..."
kata Ayu sambil tersenyum.
"Iya..."
San yang masih sempat saja mengecup kembali bibir Ayu.
Ayu hanya tertawa menikmati aksi sang suami, San kemudian berjalan menuju pintu dan membuka kan pintu untuk Ben kecil.
"Anak ayah sudah ganteng"
ujar San membuka kan pintu kamarnya.
"Bunda...."
Ben malah berlari menghampiri sang bunda tanpa memperdulilan ayahnya.
"Ben sayang..."
ujar Ayu yang mngulurkan kedua tangannya untuk segera memeluk Ben.
"Bunda kemarin kenapa? Ben nakal ya bunda?"
tanya nya dengan polos sambil memeluk Ayu.
"Enggak kok,Ben kan anak pintar, bunda kemarin sakit perut"
ujar Ayu sedikit berbohong.
"Pagi ini ayah enggak di cium?"
ujar San yang menghampiri Ayu dan Ben berada di ranjang mereka.
"Iya lupa..."
ujar Ben yang kemudian mencium pipi San dan Ayu.
"Perut bunda sakit kenapa? ada dede bayi yah?"
tanya Ben dengan polosnya.
Ayu dan San hanya saling menatap, heran kenapa Ben bisa berkata begitu.
"Ben kata siapa, di perut bunda ada dede bayi?"
tanya Ayu.
"Ben lihat di tivi, Ben juga pengen ounya adek"
ujarnya dengan polosnya.
Ayu bingung harus menjawab apa, San hanya tersenyum, seakan dia senang, karena otomatis mereka akan berusaha lebih giat membuatkan adik untuk Ben.
.
.
.
(Bersambung)
Mampir-mampir yuk di cerpen ku si Bujang komen juga ya.
__ADS_1