
Ben sangat bersemangat bermain di rumah seluas lapangan bola, sebentar berenang, sebentar main kuda, San juga mengajaknya untuk berkuda bersama di halaman belakang, di temani Ayu yang bersantai melihat sang anak bersama ayahnya.
Setelah malam itu, Ben tidak pernah minta yang aneh-aneh, seperti menyusu, dia tumbuh kembang seperti anak lainnya, ibunda mas San dan semua orang menyayanginya.
Malam ini akan ada acara di rumah Bella, perjamuan sebagai tanda syukur Arya mau mengemban tugas ayah mertuanya, yang otomatis dia berhenti bekerja sebagai DJ, lebih fokus ke anak perusahaan JBO.
Karena ayah mas San sedang tidak berada di tempat, Ayu dan San yang menggantikannya, tidak lupa dia juga mengajak Ben untuk memperkebnalkan Ben kepada Arya dan Bella,
Lengkap mengenakan tuxedo hitam, senada dengan ayahnya Ben kecil terlihat gagah dan tampan, entah bagaimana wajahkeduanya tampak sangat mirip. Sedangkan Ayu mengenakan dress biru malam panjang di bawah lutut.
"Wahhh,,,bunda cantik"
ujar Ben yang memuji Ayu yang baru keluar dari ruang ganti.
"Yang bener nak? makasoh sayang"
Ayu yang senabmng di puji oleh anaknya mendaratkan kecuoan di pipinya Ben.
San hanya melirik memberi senyum kepada sang isteri, mereka pun menuju mobil yang di supiri oleh Kum, bersiapberangkat kerumah Bella.
DI rumah Bella, semua hidangan telah disiapkan oleh para pelayan dan mbok sendiri, acara yang hanya di hadiri oleh pemilik JBO saja terasa ramai, tidak menyangka anggota Amartha masih bia bertahan seperti Jayanaga.
Bella tahu betul bahwa Arya enggan meneruskan, tapi dia juga tidak bisa membuat orang kecewa akan dirinya, sebisa mungkin dia akan berusaha, agar kedua orang tua Bella bisa bangga akan dirinya.
"Mas...ayuk keluar tamuna udah datang"
ajak Bella yang tampil cantik malam itu.
Arya mengangguk mengiyakan, mereka bergandengan berjalan keluar kamar, sedangkan Nadia anaknya di asuh sementara oleh beberapa pelayan, perkembangan Nadia berbeda dengan anak pada umumnya, dia yang baru berumur 5 hari kalau itu bayi pada umunya, tpi sekarang Nadia telah menginjak usia 2tahun.
.
.
.
Ayu dan San tiba, untung saja Ben tidak tertidur selama perjalanan, Ayu yang datang langsung cipika cipiki dengan Bella.
"Bell,,,kenal kan ini putera ku dengan mas San, Ben beri salam sama tante Bella"
ujar Ayu memperkenalkan Ben kepada Bella.
Terlihat kaget di wajahnya namun dia tidak banyak bertanya, dengan senum hangat Bella berkenalan dengan Ben.
"Hai,,,ganteng banget sih, namanya siapa?"
ujar Bella yang memperkenalkan diri, Ben masih tampak malu-malu hanya berembunyi di balik badan sang bunda.
"Enggak apa-aa sayang, dia teman bunda dan ayah, tante Bella juga anak,tapi masih kecil"
jelas ayu.
"Dede?"
ucap Ben mengemaskan.
Ben melihat pelayan yang menggendong Nadia keluar kamar, dengan segera Ben langsung mengahmpiri dfan bermain dengan anaknya Arya dan Bella.
Di susul dengan mbok yang datang dari belakang, menyambut kedatangan puterinya, entah kapan dia bisa memboyong mbok untuk ikut tinggal dengannya.
"Anak e sopo ning?"
__ADS_1
tanya si mbok.
"Aku sama mas San mengadopsinya mbok"
cerita Ayu kepada mbok dan Bella.
Sementara ayu mengobrol dengan mbok dan Bella, San berbincang-bincang dengan ayah Bella dan Arya tidak lupa ibunda Bella juga berperan besar dalam usaha mereka.
"Bagaimana dengan ayah mu Sanjaya?"
tanya ayah Bella.
"Beliau dan paman sedang memantau proyek yang ada di luar pulau, doakan saja paman berjalan lancar"
ujar San.
Mereka masih berbincang sambil menyantap hidangan, Ayu beserta Bella dan mbok tengah asik mengobrol di temani anak-anak mereka, Ben juga cepat akrab dengan Nadia.
Ayu bercerita asal muasal Ben, dia telah terlanjur sayang dengan Ben, ingin selalu menjaganya, seperti naluri ke ibuannya ada.
"Mbok Ning dulu sempat punya anak tidak dengan mas San?"
tanya Ayu tiba-tiba.
Selama ingatannya Ayu kembali, dia tidak pernah ingat dia hamil atau pun mempunyai anak, mungkin dengan bertanya kepada mbok atau pun Bella bisa menjawabnya.
Tapi mereka terdiam, entah bagaimana mengatakannya, tapi raut wajah mereka telah terbaca oleh Ayu, karena dia tipe orang yang berpikir berlebihan, dia memendamnya sampai dia tahu jawabanya sendiri.
"Pernah cah ayu, Tapi kenyataannya kalau kamu keguguran"
ujar mbok yang perlahan mengatakannya.
Walau ada perasaan tidak enak, mbok tetap harus mengetahuinya, Ayu sempat berpikir kala dia di perkosa Daryadana lah penyebab kegugurannya saat itu.
"Iya mbok, semua hanya masa lalu, Ayu sekarang lebih bahagia"
.
.
.
Acara makan malam selesai, mereka bergegas pulang, selama perjalanan, Ayu hanya dia berusaha mengingat momen ketika dirinya tengah hamil, tapi Ayu tidak bisa ingat.
Ben tertidur pulas di pangkuan sang ayah, Ayu perlahan mulai melirik San, dia tidak pernah cerita tentang apapun tentang masa lalu pernikahan mereka.
"Mas, aku boleh tanya tidak?"
"Hmm"
yang berarti iya.
"Mas dulu nikah sama Kemuning, dia pernah hamil?"
"Mas lupa, memangnya kenapa?"
tanya balik San.
"Kata mbok aku pernah keguguran?"
"Oh...waktu kamu ikut mas berburu"
ujar San yang mulai ingat.
__ADS_1
Ada perasaan sedih yang datang tiba-tiba, keguguran!!! Ternyata Kemuning dulu mengalami hal yang buruk juga, pikir batin Ayu.
"Itu masa lalu, sekarang kamu dan aku bisa bahagia kembali"
ujar San mengegnggam tangan Ayu dan megecupnya.
Benar Kami bisa bahagia kembali, apalagi setelah adanya Ben, aku akan berusaha segera pulih dari trauma ku.
batin Ayu yang kembali bersemangat.
Setibanya di istana, ibunda mas San telah menunggu sang cucuk, San yang menggendongnya masuk, di cegat oleh ibunya.
"Eeh...Ben tidur sama bunda ya"
pinta sang nenek.
"Iya bunda..."
sahut San yang kemudian membawa Ben ke kamar sang ibu.
"Bagaimana Ning, acaranya?"
"Biasa bun, kayak acara formal lainnya, bunda boleh Ning minta sesuatu?"
Ayu yang berjalan beriringan dengan mertuanya.
"Apa itu Ning?"
"Boleh nanti Ning ajak mbok tinggal di sini?"
"Tentu saja boleh, dia kan juga besan bunda, udah bunda anggap keluarga sendiri Ning"
jelas ibunda San.
"Makasih ya bunda"
ujar Ayu memeluk sang mertua.
Malam ini tampak sepi kamar mereka, Ben tidur dengan sang nenek yang kamarnya berjauhan dengan kamar Ayu dan San.
"Malam ini bisa enggak?"
tanya San yang meletakan dagunya yang terbelah di pundak Ayu.
"Bisa apa?"
sahut ketus sang isteri.
"Mumpung Ben sama neneknya"
ujar San yang memeluk Ayu dari belakang.
"Iya boleh"
ujar Ayu.
Dengan semangat San bersiap dengan melepaskan celananya, baru juga turun dari ranjangnya, belum ada lima menit, Ayu telah tertidur pulas, San yang menoleh hanyanbisa gigit jari, dengan tampak kesal dia hanya tidur di samping isterinya.
.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)