
...🌸🌸🌸...
(Cerita sebelumnya)
"Mas...boleh Ayu berpikir dulu, sampai siap Ayu akan beritahu mas"
tambah Ayu menatap ke arah San.
.
.
.
Pernikahan merupakan salah satu momen sakral yang paling membahagiakan dan selalu ditunggu oleh setiap manusia. Tidak jarang ketika seseorang melangsungkan pernikahan selalu dirayakan dengan cara yang istimewa. Hal ini sebagai wujud rasa syukur seseorang atas kebahagiaan yang telah diraihnya.
Akan tetapi, pernikahan bukan hanya sekedar perayaan pesta yang mewah. Namun, pernikahan sebagai pengikat janji suci dua orang untuk bersama-sama membangun rumah tangga yang harmonis. Menyatukan dua keluarga, memahami mereka yang lebih dulu membina hubungan yang di sebut keluarga.
Cinta yang tidak pernah sengaja datang ke dalam hati dan hari Ayu, tapi mereka sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk saling duduk berdampingan atau saling memberi pelajaran. Namun cinta tidak akan pernah salah, menghampiri dua insan yang telah terikat oleh takdir.
San yang terdiam berdiri di depan jendela besar yang berada di ruang baca, dia masih berpikir, apa karena dirinya bukan seorang manusia sehingga Ayu menolak lamarannya. Ayu hanya melihat dari balik pintu, ada rasa di hatinya yang tidak ingin San murung, mungkin ada baiknya dia menerima lamaran San.
Ayu masih berpikir karena satu sisi yang membuat Ayu belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan, dia memikirkan sebuah syarat, gila memang tapi sebagai simulasi dari rasa trauma yang di alami Ayu di masa lalu, dia juga memikirkan San yang selama beratus tahun lamanya menunggu dirinya di masa lalu untuk bereinkarnasi, akan tidak adil untuk San bila Ayu hanya memikirkan dirinya.
"Mbak Ayu, bisa kita bicara?"
paman Wirakha yang menghampiri Ayu.
Au mengangguk dan mengikuti langkah paman Wirakha kesebuah balkon yang berada di lantai 2 istana San, paman yang masih gagah ini, terlihat sedikit gelisah, mungkin yang akan menjadi topik pembahasan adalah pernikahan San dengan dirinya.
"Ada apa paman?"
tanya Ayu.
"Apa yang membuat mbak berpikir untuk menikah dengan San?'"
"Ayu hanya takut akan berakhir seperti ibu dan bapak Ayu, mas San pantas mendapatkan yang lebih baik."
"Tapi hana mbak Ayu yang mengisi hatinya"
jelas paman.
"Pikirkan lah mbak, apa yang pangeran lalui sekarang untuk mbak Ayu, hamba hanya ingin kalian bahagia"
tambah paman yang kemudian berlalu meninggalkan Ayu seorang diri.
Ayu semakin merasa bersalah, dirinya ternyata begitu egois, hanya memikirkan hatinya dan rasa trauma yang membuat nya keras kepala, tidak ada kata "BAHAGIA" dalam hidupnya, tapi bahagia itu tidak akan pernah datang bila kita tidak pernah berusaha mencari dan mendapatkan nya.
.
.
.
Beralih ke Karla yang akan bersiap meninggalkan kantor JBO, namun na'asnya dirinya telah tertangkap saat keluar dari lift.
"Mbak Karla, mari ikut kami"
kata salah satu pengawal yang berdiri di dean pintu lift.
Tidak menjawab, Karla malah akan lari dengan memencet tombol di lift, sayangnya kaki pengawal berhasil menahan pintu lift.
"Lepas...lepas..."
teriak Karla yang mengundang perhatian banyak karyawan yang berlalu lalang di lobi kantor yang bertingkat 16 lantai itu.
Sang ayah hanya bersembunyi, takut semua gagal karena misi anaknya yang gagal.
Bingung bagaimana menyelamatkan sang puteri, pak Wicaksana kembali ke ruangan kerjanya, seolah tidak tahu apa yang terjadi kepada Karla. Banyak karyawan heran dan bertanya-tanya masalah apa sehingga, Karla harus di seret seperti itu.
Paman Wirakha membawa Karla bertemu engan Rico, ke sebuah tempat yang memang di peruntukan untuk tahanan atau pengkhianat Jayanaga. Rico yang sudah berhari-hari hanya di beri minuman dan makanan seadanya.
Selama perjalanan kepala Karla di berikan penutup, agar tetap menjaga kerahasiaan tempat tersebut.
"Air,,,air,,,"
lirih Rico, wajahnya terlihat seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari.
Seorang penjaga pun memberikan air yang di tempatkan di lempung bambu, walau hanya beberapa teguk, rasa dahaga di tenggorokannya berkurang.
"Kapan aku di bebaskan?"
tanyanya kepada seorang pengawal.
Tapi pengawal tersebut enggan menjawab pertanyaan Rico, dia memilih melanjutkan berjaga di luar pintu goa.
Tiba lah paman Wirakha, dia langsung membawa Karla msuk dan melihat kondisi Rico, betapa terkejutnya Karla, Rico yang berdiri dengan posisi tangan Rico terikat di sisi dinding, sungguh mengenaskan kondisinya, kaki dan badannya di penuhi benjolan merah yang sewaktu-waktu akan meletuskan cairan nanah.
Posisi rico hanya mengenakan boxer, bahkan sebagai pelajaran karena dirinya hendak memperkosa Ayu, Burung kebanggaan Rico bengkak, pipis pun teramat sangat susah.
Karla yang melihat terduduk lemas di hadapan Rico. Sebanarnya apa yang terjadi dengan Rico kenapa dirinya bisa seperti ini? batin Karla yang menangis melihat Rico.
Minuman yang diberikan telah dicampur ramuan yang memang senagaja di buat, ramuan tersebut membuat tubuh Rico di penuhi benjolan seperti penyakit kulit limopa.
__ADS_1
"Aku mohon, jangan lakukan itu kepada ku"
rengek Karla yang membangunkan Rico.
"Karla...dia, dia otak semua penculikan ini?"
sahut Rico yang yang merasa dirinya mulai lemah.
"Tidak, dia bohong..."
Teriak Karla ketakutan.
Paman hanya diam tidak menghiraukan percakapan keduanya, hanya dengan melirik pengawal yang berjaga, paman memerintahkan agar Karla juga di beri hukuman yang sama, hanya saja berbeda dengan Rico, air yang di minum berfungi membuat Karla menjadi orang yang berhalusinasi, kemudian orang-orang akan menganggapnya gila.
Sampai disini paman Wirakha belum memerintah kan pengawal untuk menangkap Wicaksono, dia hanya meminta beberapa pengawal untuk mengawasi gerak-gerik Wicaksono.
.
.
.
Esok harinya Ayu kembali beraktivitas, walau dirinya belum boleh bekerja, dia kembali ke kost dengan di temani Kum, pengawal San, Arya juga di sempatin mampir untuk mengetahui keadaan temannya itu,
Arya juga membawakan sedikit bingkisan untuk Ayu, walau pertemuan dirinya dengan Ayu merasa tidak nyaman, dengan adanya pengawalan yang di lakukan oleh San.
"Bagaimana keadaan mu?"
tanya Arya yang duduk di ruangan kost Ayu, suasana masih sama seperti saat Arya pertama kali masuk ke kamar Ayu.
"Baikan mas, makasih a bingkisannya"
ucap Ayu yang melirik bingkisan bunga yang Arya bawa.
"Mas, salah enggak sih, kalau Ayu belum siap menerima lamaran San?'
tanya Ayu tiba-tiba.
Wajah Arya berubah ketika mendengar Ayu di lamar oleh San, entah apa yang mengganggunya, rasa apa yang ada di hatinya, kenapa dirinya tidak senang bila Ayu di lamar oleh orang yang sangat mungkin bisa membuat Ayu bahagia.
"Mas....mas Arya dengar enggak sih?'
sahut Ayu sedikit cemberut.
"Denger kok, kenapa kamu enggak terima ?"
tanya Arya penasaran.
"Ayu masih belum siap mas"
Arya teringat akan dirinya yang dulu pernah memiliki rasa terhadap Ayu, Ayu di masa itu tidak ada bedanya dengan yang sekarang, hanya sedikit bawel dan konyol, selebihnya dia bisa membuat Arya nyaman berada disisi Ayu, seperti Ayu lebih mengerti dan memahami kondisi dirinya yang sering di tinggal oleh Bella.
Matanya hanya tertuju ke wajah Ayu yang terus menceritakan tentang San, salah kah Arya yang juga memiliki hati untuk Ayu? terbesit pikirannya untuk mengecup bibir Ayu yang terus saja mengoceh.
Seakan tidak ingin dia menceritakan sosok pria lain, tapi itu hanya keinginan yang tidak akan mungkin, dia terlalu pengecut untuk menyakiti kdua hati wanita yang kini benar-benar ada di hatinya.
Merasa bersalah dengan Bella, dia hanya takut kana kehilangan sosok sahabat yang mendengar keluh kesahnya, menyemangati dirinya bila terjatuh.
Mungkin dia akan mengubur rasa di hatinya untuk Ayu, kenapa semua terasa berarti saat dia menjauh atau memiliki orang lebih baik dari diri kita, apa ini yang di sebut Karma?.
"Memangnya persyaratan apa yang kamu berikan?"
tanya Arya.
"Rahasia dong..."
celetuk Ayu yang tersenyum, Ayu akhirnya selesai berkemas, segera kembali ke rumah San, tidak ingin San khawatir dia menuruti permintaan San agar dirinya menginap.
"Iya deh, mas harap kamu bahagia sama dia"
Arya yang tiba-tiba mendaratkan kecupan di kening Ayu.
Ayu terdiam kaget, kenapa tiba-tiba Arya melakukan hal tersebut, sebelum Ayu berpikir yang aneh-aneh Arya berdalih untuk kecupannya tadi.
"Itu ciuman sayang kakak ke adek nya"
ucap Arya yang kembali mengelus kepala Ayu.
Merasa lega, Ayu takutnya Arya memiliki rasa yang Ayu rasa dahulu, takut untuk mengkhianati pasangan masing-masing. Ayu pun berlalu masuk kedalam mobil, sedang kan seorang pria yang tengah mengawasi Ayu dari jauh, menarik perhatian Arya.
Pura-pura tidak melihat Arya berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak jauh, pria itu adalah Mahendra, merasa Arya akan menghampirinya, dia pun keluar untuk menyapa Arya.
"Hendra?"
ucap Arya.
Mahendra yang mengenakan topi hitam keluar dari mobil, dengan senyum tipisnya Mahendra menyapa Arya.
"Arya...sepertinya kita kebetulan bertemu?"
kata Mahendra.
Mereka pun beralih tempat untuk mengobrol, di sebuah coffe shope, yang tidak jauh dari kostan Ayu, Arya sedikit curiga karena Mahendra sebelumnya tidak pernah terlihat berteman dengan Ayu.
"Kamu mengawasi Ayu?"
__ADS_1
tanya Arya terus terang.
"Tidak juga, aku merasa dia dan aku ada ikatan di masa lalu?"
jawab Mahendra.
Ikatan di masa lalu, kemudian Arya teringat akan seorang pria yang membangunkan dirinya saat bertapa, dia juga yang berusaha membunuhnya, tapi niat itu tidak jadi karena hanya Bramasena yang mampu memenangkan perperangan.
"Kamu ingat siapa aku?"
tanya Arya.
"Bramasena, kekasih Kirana?"
jawab Mahendra dengan lantang.
"Kalau selama ini kau mengetahui siapa diri mu, kenapa tidak pernah mencari Kirana?"
tanya Arya, mungkin dengan adanya Mahendra mungkin ingin kembali bersama dengan Kirana atau Bella.
"Kenapa?kata mu? kamu tahu bukan aku yang dia tunggu?"
ucap Mahendra sedikit kesal.
"Kamu tahu persis dia hanya menunggu mu, mencintai mu?"
tambah Mahendra.
Arya merasa bersalah, dirinya lah penyebab Kirana dan Rendra sering bertengkar, bahkan sampai sekarang Kirana atau Bella hanya ingin hidup bersama dengan Arya bukan Rendra.
"Lalu apa hubungannya dengan Ayu?"
tanya Arya.
Namun Mahendra enggan menjawab, dia lebih merahasiakan niat dan tujuannya, dia tidak ingin hal ini gagal, berambisi ingin Ayu dekat dengannya.
"Kebetulan saja kost ku dekat dengan kost Ayu"
jawab Mahendra.
Percakapan yang panjang, akhirnya mereka kembali ke aktivitas semula, Mahendra yang bekerja di sebuah agen, kembali ke kantornya, sedangkan Arya juga kembali ke rutinitasnya.
Malam ini pun dirinya akan bertemu dengan Bella, yang bersiap memasakan makan malam di rumah Arya, banyak pertanyaan di hatinya untuk Bella, walau pun Bella ingin nantinya bersama dengan Mahendra dirinya akan dengan lapang dada mengikhlaskan.
.
.
.
Seperti biasanya penampilan Bella selalu mengesankan, dia selalu terlihat cantik, parasnya yang begitu menawan membuat siapa saja berusaha memilikinya, melihat Bella yang sedang masak berbalut celemek membuat Arya sangat ingin memeluknya.
"Ada apa.mas?"
tanya Bella.
"Aku bertemu dengan reinkarnasi Rendra"
ucap Arya membuat Bella terkejut.
Pria yang tidak ingin berada diantara keduanya kini benar-benar hadir, Bella terdiam kaku, dia bingung bagaimana menjelaskan tentang anak-anak mereka yang telah tiada kepada Rendra.
"Tidak mengapa bila kalian bersama dek"
tambah Arya.
"Mas...Bella hanya ingin mas, mas yang Bella cinta"
sentak Bella yang membalikan badannya.
"Tapi mas juga mengkhianati kamu de"
ungkap Arya.
"Maksudnya mas?"
Arya terdiam tidak ingin mengungkap kan isi hatinya kepada Bella terlalu takut bila dia menyakiti hati sang kekasih. Belum juga menjawab pertanyaan Bella, dia langsung mendaratkan ciuman ke bibir Arya, tersadar Bella yang paling pintar mengambil hatinya, terus membalas ******* bibir Bella, ciuman mereka terus berlanjut, kedua tangan Bella mengkalungkan ke leher Arya.
Sedangkan Arya menggendong Bella menuju kamarnya, merebahkan badan langsing Bella, keduanya saling memuaskan hasrat bercintanya, sampai dimana Arya tidak dapat menahan semuanya, perlahan dia membuka baju Bella, menelusuri gunung indah Bella dengan bibirnya, selesainya mereka saling bertatapan, Bella mengangguk memerintahkan Arya agar memasukan sang adik kedalam rumahnya.
Berselimutkan kain, badan Arya telah berada di atas Bella, keduanya melepaskan rasa yang selama ini mereka tahan, buyar sudah keinginan Arya, dia juga bingung akan hatinya, yang sebentar menginginkan Ayu, yang sebentar inginkan Bella.
.
.
.
(Bersambung)
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1