Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Kenagan Yang Terkubur !!!


__ADS_3


...🌸🌸🌸...


Ayu kembali bermimpi, kini dirinya tengah berada disebuah tepi danau, sepi dan tenang, dirinya seperti berlari menghampiri seseorang seperti pria yang selalu ada di mimpinya, mengenakan pakaian jaman Kerajaan, jubah sutera berwarna hijau.


Ayu tersenyum lebar bahkan dia melihat dirinya memeluk mesra pria tersebut, duduk di tepi danau, menyenderkan kepalanya di bahu pria tinggi itu. Sanjaya mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu dan perlahan hendak mencium bibir pink Ayu.


Seketika Ayu terbangun dengan mengeluarkan suara teriakan.


"Aaaarrrkkkk !!!!"


Ayu yang kaget dan bangun dari tidurnya.


Ayu bertambah kaget ketika dia bangun, dirinya masih berada di rumah pimpinan Jaya. Ayu melihat sekeliling, hanya ada dirinya seorang. Ayu kemudian bangun dan mencari tasnya, entah ini jam berapa, dia takut Deska akan mencarinya.


Krieeeettt !!


"Dek...kamu sudah bangun?"


Sanjaya yang baru berganti baju masuk ke dalam kamar.


Ayu hanya merasa heran dengan pria yang memanggilnya dengan sebutan "Dek" walau rasanya sering bertemu, tetap saja Ayu tidak ingat siapa pria ini.


"Tas gue mana?"


tanya Ayu waspada.


"Ada di sana"


ucap San menunjuk sebuah laci.


Segera Ayu mengambil tas dan di lihatnya notifikasi di handphonenya. 30 panggilan tidak terjawab dari Arya dan Deska.


"Mampus deh gue...!!!"


gumamnya.


"Ada apa dek?"


tanya San melirik Ayu.


"Dek..??? nama gue Ayu bukan Dek !"


jelas Ayu kesal.


Jam di handphone nya juga masih menunjukan pukul 4 pagi, pasti akan susah mencari angkutan untuk pulang jam segini, tapi Ayu bukan lah Kemuning, dirinya sangat lebih menjaga image di depan cowok.


"Ayu....kamu tidak ingat aku?"


tanya San penasaran.


"Gue enggak ngerti maksud lu apa, tapi bisa enggak cariin gue taksi"


sahut Ayu ketus.


"Taksi....?"


tanya San yang masih belum mengerti banyak kata-kata baru yang di dengarnya.


Karena tidak mengerti maksud Ayu, dia pun mencoba menelpon Deska atau Arya, untuk dirinya bisa kembali pulang.


"Aduh...angkat dong"


gumam Ayu lagi.


Tiba-tiba San mengambil handphone Ayu, melihat apa yang terjadi pada papan tipis itu.


"Apa-apaan sih..."


Ayu yang mulai tampak kesal, ketika dirinya hendak meraih handphone tersebut San memegangnya dan menaikan handphone ke atas.


"Balikin sini..."


Ayu terus berusaha mengambil namun karena dirinya lebih pendek apalah daya, dirinya tidak berhasil meraihnya.


"Iiihhh..."


Ayu tampak mulai kesal.


Namun San memeluk Ayu, dia yang kaget hanya terdiam, jantungnya kembali berdegub kencang.


"Cowok ini siapa sih? kok jantung aku deg deg an?"


ucap lirih batin Ayu.


"Aku kangen kamu dek...!!!"


bisik San yang masih memeluknya.


Tersadar Ayu pun mendorong pria yang baru di kenalnya itu.


"Maaf...anda salah orang"


ucap Ayu kemudia dapat meraih ponselnya.


"Apa kamu tidak ingat siapa aku?"


tanya Sanjaya terdengar sedih.


"Maaf ya mas, tapi gue bukan "Dek" yang mas maksud"


tambah Ayu.


Melihat wajah sedih Sanjaya, hati Ayu terasa sakit, entah ada apa dengannya, dia tidak seperti ini sebelumnya apalagi terhadap Arya, Ayu tidak merasakan hal ini.


"Kamu panggil aku mas...?"


"Mas sebutan untuk kakak laki-laki jawa, sopan aja gitu kesannya"


jelas Ayu.


"Aku mau pulang..."


"Pulang....?"


tanya San menatap Ayu.


"Kamu bisa tinggal di sini, kenapa harus pulang?"


San yang masih belum bisa menerima Ayu adalah Kemuning.


"Jangan gila deh lu..."


ucap Ayu mulai kesal.


Tidak lama seorang pelayan masuk membawakan baju ganti dan keperluan wanita lainnya.


Tok...tok...


"Maaf tuan saya hanya mengantar ini"


"Taruh lah di situ"


San yang menunjuk atas kasurnya.


"Baik tuan...."


Ayu bingung harus berbuat apa, akhirnya memutuskan sampai hari terang baru dirinya akan pulang, Sementara San membuka kotak berisi pakaian yang sudah di belikan oleh paman Wirakha.


Dress musim panas berwarna hitam terlihat sangat pas dengan tubuh Ayu.


"Mandi dan pakailah ini..."

__ADS_1


Sanjaya yang memberikan dress itu kepada Ayu.


Ayu hanya terdiam dan memegang dress tersebut, kaget nya Ayu ketika melihat lebel harga masih terpampang.


"Gila nih baju biaya hidup gue selama 5bulan"


gumam Ayu dalam hati.


"Maaf...baju ini sudah enggk nyaman, ada kaos aja enggak sih?"


tanya Ayu kepada San.


Mendengar perkataan Ayu, Sanjaya langsung meminta tolong kepada paman Wirakha, Sanjaya tidak mengerti apa yang di maksud oleh Ayu.


......🌸🌸🌸......


Tidak lama paman Wirakha mengantar Sanjaya dan Ayu ke sebuah ruangan tidak jauh, berisi beberapa pakaian untuk Sanjaya, mungkin saja, ada yang pas untuk di kenakan oleh Ayu.


"Silahkan..."


paman Wirakha membuka kan pintu masuk ke ruangan tersebut.


"Terimakasih paman..."


kata San yang kemudian masuk dan disusul oleh Ayu.


"Wahhh !!!"


Ayu yang takjub akan isi ruangan penuh dengan barang bermerk.


"Kamu boleh pilih, yang kamu suka"


"Eh...om nanti saya mau pulang gimana ya?"


Ayu yang teringat kalau dirinya harus segera pulang.


"Aku sudah bilang tidak usah pulang !!"


sahut Sanjaya.


"Maaf tuan, nanti saya akan jelaskan, nona Ayu, nanti biar kami yang mengantar anda pulang"


kata paman Wirakha tersenyum.


"Makasih ya om"


"Sama-sama nona saya tinggal dulu"


ucap paman yang kemudian keluar ruangan tersebut.


"Apa itu Om?"


tanya Sanjaya penasaran.


"Nih orang enggak tahu, apa pura-pura enggak tahu si?"


ucap batin Ayu.


"Kamu suka sama paman?"


tanya Ayu kaget.


"Apa?? suka?? gile ya lu, enggak ada tampang gue suka sama om-om"


sahut Ayu ketus sambil memilih pakaian.


"Lalu?"


"Om itu paman...paman \= om, u know"


Ayu yang mulai kesal akan sikap Sanjaya.


"Oh...kamu tidak penasaran dengan aku?"


"Penasaran sih, nama lu siapa, kok bisa bilang gue "Dek" ?"


"Nama Aku San..."


sahut Sanjaya yang berhenti kan langkahnya.


"Mas San....!!!"


ucap Ayu spontan.


"Kamu inget?"


Sanjaya yang masih penasaran.


"Enggak? tapi kayak sering denger dimana gitu?"


balas Ayu.


Akhirnya dia menemukan pakaian yang pas, sebuah hoddie berukuran XL berwarna putih, setidaknya ini bisa di jadikan mini dress untuknya, kesannya santai, bahkan bisa di bawa langsung ke kantor dia kerja.


"Aku pilih ini yah !!"


ucap Ayu tidak sadar.


"Tunggu, kok konotasinya berubah sih, kok bisa aku bukan gue"


gumam Ayu dalam hati.


"Iya sudah kalau kamu suka"


sahut Sanjaya.


Ayu pun bergegas mandi dan mengganti pakaiannya, sementara Sanjaya bertemu dengan paman di ruang kerja. Disana paman menjelaskan bahwa Ayu benar reinkarnasi Kemuning, namun kenangan Kemuning mungkin sudah tidak ada, yang ada hanya dirinya sebagai Ayu, yang belum menikah, tidak terikat siapa-siapa, dia juga harus bekerja karena kebutuhan hidup.


"Ini adalah tantangan untuk mu pangeran, seperti halnya pertama kali anda bertemu Kemuning, mungkin akan butuh waktu"


kata paman Wirakha.


Setelah mendengar perkataan paman, Sanjaya mulai memahami, bahkan paman siap mengajari segala ilmu yang belum di ketahui oleh San dan banyak lainnya.


......🌸🌸🌸......


Setelah selesai mandi, beberapa pelayan menyiapkan beberapa menu sarapan, sudah menjadi tradisi, bila makan mereka semua harus berkumpul, sarapan bersama.


"Silahkan nona..."


kata seorang pelayan yang mengantar Ayu menuju meja makan, tempat Sanjaya dan orangtua nya berkumpul untuk sarapan.


"Makasih..."


Merasa canggung, Ayu tidak pernah membayangkan ini sebelumnya.


Makan bersama seorang pimpinan besar beserta keluarganya, seakan Ayu sedang berada di rumah mertuanya.


"Ayu lu mikirin apa sih bego !!"


ucapnya dalam hati.


"Silahkan nak Ayu..."


kata ibunda Sanjaya.


Masih terlihat muda, beliau seperti seorang ratu penuh dengan aura bijak, bahkan terlihat sekali kalau beliau adalah keturunan darah biru.


"Terimakasih bu..."


ucap Ayu.


Mereka pun sarapan dengan hikmat, berbagai macam menu juga di sediakan, Ayu yang biasanya hanya sarapan roti atau beli sego pincuk kini bisa memilih menu apa yang mau dia makan.

__ADS_1


"Nak Ayu kerja di mana?"


tanya ibu Ratna.


"Saya kerja sebagai DJ radio bu"


"Mulai sekarang tidak usah kerja, mas yang akan nanggung kebutuhan kamu"


celetuk Sanjaya membuat Ayu kaget sampai Ayu tersedak.


"Uhukkk...Uhhuukkk..."


"Minum dulu nak Ayu..."


kata ayah San memberikan segelas air putih.


Paman Wirakha hanya terdiam menahan senyumnya, padahal sudah di jelaskan kalau Ayu bukan lah Kemuning yang dahulu.


"Gila yah nih orang, bikin copot jantung gue"


ucap Ayu dalam hati.


Selesai sarapan paman wirakha telah mempersiapkan mobil dan siap mengantar Ayu ke tempat dia bekerja, tidak ketinggalan pula Sanjaya yang selalu ikut.


Ayu semakin geram ketika San memilih duduk di belakang bersama dengan dirinya, sedangkan paman Wirakha menyetir mobil sedan hitam.


Selama perjalanan mereka hanya terdiam, Sanjaya lebih melihat pemandangan selama di jalan, tangannya yang dingin menggenggam tangan Ayu, entah mengapa Ayu hanya membiarkan hal tersebut.


Banyak yang berubah, tempat ini dulunya tidak se asri di zaman dia dahulu.


"Paman...danau itu di mana kah letaknya?"


tanya sanjaya.


Mendengar perkataan San tentang danau, Ayu teringat akan mimpinya tadi malam, Ayu melirik kearah San, wajahnya penuh dengan pertanyaan.


"Danau...kenapa cowok ini bertanya tentang danau, danau yang mana?"


Ayu yang semakin bingung, siapa sebenarnya San?


"Nanti saya akan mengantar anda tuan..."


sahut paman Wirakha.



Lahan di area danau itu sering di jadikan tempat camping, berkemah bersama dengan keluarga, tempatnya masih asri seperti dahulu, tempat menjadi tempat favorit Sanjaya menyendiri.


Ayu masih melirik San, masih bertanya dalam hatinya tentang siapakah San? kenapa tiba-tiba dia panggil Ayu dengan sebutan "Dek" .


Ada rasa di hati Ayu, yang tidak bisa menolak pria yang berpostur tinggi 184cm. Bahkan ada rasa sedih ketika melihat wajah San murung. Jantung nya bisa berdegub kencang ketika berada di samping San, walau Ayu sendiri merasa tertarik kepada Arya.


......🌸🌸🌸......


Sampai lah mereka di kantor Ayu bekerja, Ayu turun dari mobil dan menjadi pusat perhatian orang di kantornya, di susul oleh paman Wirakha yang mengeluarkan beberapa tas berisi makanan dan baju yang di kenakan nya malam tadi.


"Ini nona..."


ucap paman Wirakha.


"Om...panggil mbak Ayu aja"


sahut Ayu merasa tidak enak.


"Baik mbak..."


"Lu ngapain turun?"


tanya Ayu melihat San turun dari mobil.


"Aku?? mau lihat kamu kerja"


celetuk San membuat Ayu kaget.


"Enggak bisa masuk....cuma karyawan yang bisa"


sahut Ayu ketus.


"Paman...suruh ayah beli tempat ini"


Kaget mendengar hal itu Ayu langsung mendorong San masuk ke dalam mobil kemudia berkata.


"Sudah om gas aja"


Ayu yang menyuruh paman Wirakha melajukan mobilnya.


Akhirnya mobil yang membawa San pun berlalu, Ayu sampai tidak mengetahui bahwa Deska berada di belakangnya, dari jauh pun Arya juga melihat dari posisi parkiran.


"Ehemmm ! siapa tu?"


tanya Deska yang menunggu Ayu di kantor.


"Eh lu Ka...kaget gue, itu anaknya pimpinan JBO"


jelas Ayu sambil masuk ke ruangannya.


"Hah? serius tuh? kok bisa lu di antar dia?"


tanya lagi Deska penasaran.


"Iya nih, pake acara ngineb segala, kok kamu bisa dianter dia sih?


celetuk Arya dari belakang.


"Mas Arya..."


sahut Ayu kaget.


"Jadi kemaren tuh gue sempat pingsan, kayaknya vertigo deh"


jelas Ayu menaruh beberapa paperbag di atas meja kerjanya.


"Vertigo, aku kan sering suruh kamu periksa ke klinik"


sahut Arya.


"Enggak enak aja mas, datang ke sana terus bilang teman mas"


ucap Ayu.


"Wah enak nih, gue makan ya?"


seru Deska.


"Iya Ka, emang sengaja bungkusin buat lu"


"Ya sudah nanti pulang kerja, sama aku ke sana"


ucap Arya.


"Tapi mas..."


"Enggak ada tapi-tapian"


sahut Arya yang kemudian masuk ke ruang audio.


Arya sendiri padahal seorang dokter, karena satu dan lain hal dia memilih untuk berhenti, kemudia bekerja sebagai teknik IT yang merangkap menjadi DJ di perusahaan radio dimana dia pertama bertemu Ayu dan berteman akrab.


Ayu juga sering di ajak mengobrol bareng Bella, tunangan Arya yang sedang belajar di luar negeri, Bella wanita cantik dan cerdas, juga sangat baik kepada Ayu, oleh karena itu tidak mungkin Ayu mengutarakan isi hatinya kepada Arya, membiarkan rasa itu terpendam dalam jauh dalam hatinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_1


__ADS_2