
Nabila mengerutkan kening nya saat tahu kalo Marvin membohongi nya, bukan mau mengajak nya jalan jalan tapi pergi ke KUA untuk melakukan pendaftaran pernikahan mereka juga sekalin di poto di sana untuk surat nikah.
Sedangkan pernikahan nya sendiri akan di laksanakan 2 hari kedepan, jujur Nabila senang namun Ia juga kaget kalo waktu yanh Marvin pilih sangat lah mepet.
"Vin lu benaran gila ya kenapa semua serba mendadak sih? kita kan bisa bicarakan dulu nikah juga butuh persiapan kali gak harus mendadak kek gini," ucap Bila merasa kesal.
"Udah kamu tenang aja semua akan baik baik aja dan aku juga udah minta bantuan bu Ayana supaya membantu kita," jelas nya.
"Lalu gimana sama ortu gua mereka pasti gak akan setuju dengan ide gila kamu ini," ucap nya Nabila benar benar takut kalo orang tua nya tidak menyetujui nya menikah dengan Marvin karna mereka sudah menjodohkan nya sejak lama dengan Arsen.
"Kenapa kamu takut kan ada aku, besok Papa sama ibu akan melamar kamu buat aku dan aku yakin kalo orang tua kamu pasti setuju dengan pernikahan kita," ucap nya yakin.
"Kamu kok yakin banget sih kamu gak tahu aja gimana garang nya Papa kalo lagi marah," Nabila takut kalo Papa nya melakukan sesuatu pada Marvin.
"Udah kamu tenang aja ya sayang semua pasti akan berjalan lancar," ucap Marvin menggenggam tangan Nabila lalu mencium punggung tangan nya,sedangkan tangan kanan nya masih sibuk menyetir.
Nabila hanya tersenyum melihat nya Ia sangat takut sekali namun Marvin selalu bisa menenangkan nya.
"Kita mampir ke rumah kak Kania ya ada yang mau aku bicarakan sama dia," ucap Marvin dan Nabila pun mengangguk setuju.
Tak berselang lama mereka pun akhirnya sampai di depan rumah Arga mereka pun langsung keluar dari dalam mobil dan ternyata Kania sudah menunggu mereka di depan rumah sambil tersenyum.
"Akhirnya kalian datang juga, ayo masuk," ajak nya.
Mereka pun menganguk lalu duduk di sofa ruang tamu ternyata Arga juga ada di rumah, Kania menyambutnya dengan ramah bumil itu bahkan membuatkan minuman untuk mereka.
"Sudah lah kak gak usah repot repot kakak duduk aja," ucap Nabila merasa tidak enak.
"Ah gak papa kok aku malah di suruh banyak gerak sama dokter," ujar nya meletakan minuman itu di atas meja juga cemilannya.
"Udah gede aja ya berapa bulan?" tanya Nabila memang sudah hampir sebulan ini tidak bertemu dengan Kania.
__ADS_1
"Emm udah 7 bulan, udah kerasa banget nendang nya keliatan gede banget ya?" tanya Kania dan Nabila pun mengangguk.
"Iya kata nya sih kembar semoga saja tidak salah," ucap Kania tersenyum bahagia.
"Wahh hebat aku juga pengen punya anak kembar," ucap nya keceplosan lalu Ia menutup mulut nya.
"Hehehe nanti maksud nya kalo udah nikah," ralat nya sambil nyengir dan Kania pun menggelengkan kepalanya.
"Gimana udah selesai urusan nya Vin?" tanya Arga menatap adik ipar nya itu.
"Udah kak aku dan Nabila baru saja daftar ke KUA semoga saja semua berjalan lancar," jelasnya.
"Kami akan membantu semampu kami semoga saja kamu tidak menyesal karna sudah bertindak terburu buru seperti ini," ucap Arga Ia tidak mau Marvin menyesal karna terburu buru bertindak seperti itu.
"Justru aku akan menyesal jika tidak melakukan ini secepat nya karna Kak Arsen pasti akan bertindak. Melihat calon istri nya bersama kekasih nya pasti Ia akan melakukan sesuatu," ucapnya.
"Semalam Arsen memang ada menghubungi kakak Ia sangat marah kakak juga bingung kenapa jadi seperti ini bahkan Arsen sudah tahu sejak lama kalo kalian pacaran," ungkap Kania heran.
"Oh pantas kalo gitu. Oh iya Vin ini pesanan kamu," ucap Kania memberikan sebuah kotak kecil pada Marvin membuat Nabila memencingkan matanya penasaran.
"Nanti kamu juga tahu," ucap Marvin meremas jari tangan gadis itu dengan tangan kirinya.
"Gimana ibu sama Papa apa sudah tahu?" tanya Arga.
"Udah aku juga di kasih saran begini juga karna Papa takut nya malah keduluan sama kak Arsen nanti kalo kamu sudah menikah kan tidak ada yang bisa misahin kamu walau pun orang tua Nabila sekali pun," jelas nya membuat mereka mengangguk.
Setelah berbincang lama dengan Kania dan Arga mereka pun ikut makan siang bersama di sana setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka ke rumasakit.
"Sebenarnya kita ngapain ke rumasakit jiwa apa kamu mau jenguk orang di sana?" tanya Nabila penasaran.
"Iya dan orang itu adalah wanita yang sudah melahirkanku," ucapnya sendu.
__ADS_1
"Sayang maaf aku tidak bermaksud-
"Tidak masalah ayo masuk," ucap nya menggenggam tangan Nabila berjalan masuk ke rumasakit jiwa.
Mereka pun di sambut baik oleh dokter yang menangani Sonia, wanita paruh baya itu masih tetap saja sama kondisi nya.
Sonia masih sering berteriak teriak bahkan sering menangis membawa boneka yang tidak lepas dari pelukan nya.
"Kondisi nya masih sama jadi hati hati jika bicara jangan sampai membuat dia emosi," ucap dokter paruh baya itu yang bernama dokter Malik.
"Baik dok terimakasih banyak," ucap nya.
Mereka pun sampai di depan kamar Sonia dengan langkah pelan Marvin pun membuka pintu mencari keberadaan ibu nya yang ternyata sedang berdiri menatap jendela.
"Mah ini aku Marvin datang lagi," ucap nya sedangkan Nabila berada di belakang nya menggenggam erat tangan Marvin karna takut.
Wanita itu hanya menatap Marvin tanpa bicara, memang selama ini wanita paruh baya itu tidak pernah bicara sepatah kata pun jika Marvin berkunjung.
"Mah aku mau minta izin dua hari lagi aku akan menikah dengan Nabila, Mama ingat gak gadis cantik yang suka numpang makan di rumah kita kini dia sudah dewasa dan Mama tahu gak kalo aku sangat mencintai nya," jelas Marvin sambil tersenyum.
Sedangkan Nabila hanya menundukan kepalanya karna Sonia sempat menatap nya.
Sonia pun duduk di ranjang dan mengulurkan tangan nya Nabila pun menatap Marvin Ia takut kalo calon mertua nya itu menyakiti nya.
"Gak papa kok mungkin Mama memang ingin meluk calon mantu nya," jelas Marvin melepaskan tautan tangan nya.
Memang Marvin juga suka di peluk jika berkunjung dan mungkin kali ini Nabila yang ingin di peluk oleh wanita itu.
Nabila pun mendekat lalu berjongkok di depan Sonia Ia mengusap tangan wanita paruh baya itu.
"Tante masih ingat aku gak?"
__ADS_1
"Bibil...."