
Arga sedang tiduran di tempat tidur dia tidak sengaja melihat story dari whattapp nya Bara, Bara ternyata ikut hadir di acara itu walau bagaimana pun Bara adalah teman kuliah nya Axsel jadi pantas saja kalo dia di undang dalam acara tersebut.
"Apa-apaan ini kenapa Kania ada di sana?" Arga pun menggelengkan kepala nya dia baru ingat kalo Kania datang ke rumah Vani dan acara itu di adakan di rumah Vani.
Arga pun segera bangun dia akan menyusul Kania kesana, dia tidak mau Axsel menganggu istri nya lagi dan dia juga akan memberi hukuman kepada istri nya karna tidak jujur kepada nya.
Sedangkan Kania nampak salah tingkah dia memberi kode pada Vani untul membantu nya, melihat Kania tidak nyaman Vani pun ikut naik keatas panggung dan membuat kecanggungan itu kembali normal.
"Udah ya sekarang Kania boleh turun takut nya dia pingsan karna demam panggung," canda Vani membuat mereka tertawa.
Sedangkan Kania memejamkan matanya kesal kenapa Vani berbicara seperti itu malu-maluin pikir nya.
Sedangkan Axsel nampak kesal karna Vani mengganggu momen romantis nya mereka semua juga masih menunggu jawaban dari Kania.
Kania yang tahu itu pun menunjukan cincin di jari tangan nya."Maaf ya saya sudah bertunangan dan Axsel pun tahu itu, saya menghargai Axsel karna sudah menyayangi saya dan saya berharap semoga dia bisa mendapatkan gadis lain yang lebih segala nya dari saya."
Setelah itu Kania langsung turun dari panggung bersama Vani, sedangkan Axsel merasa kecewa karna Kania terus saja menolak nya, dia akan mencari kesempatan lagi untuk merebut Kania dari siapa pun.
Kania menatap tajam kepada Vani dia benar-benar kesal kenapa Vani tidak memberi tahu kalo Axsel akan melakukan hal itu, jujur dia sangat malu dengan tamu-tamu yang hadir.
Sedangkan Vani merasa bersalah karna sepupunya itu berbuat seenak nya pada Kania.
"Sorry Ka gue gak tahu kalo Axsel bakalan. ngelakuin itu sama lu," ucap nya sedangkan Kania masih diam saja dia ingin segera pulang.
"Ka plis maafin gua ya, jangan diemin gue kek gini dong."
Kania pun menghela nafas dia mengeluarkan satu kotak dan memberikan nya kepada Vani."Titip buat Axsel, gua mau langsung pulang."
Vani yang mengerti pun langsung menganggukan kepala nya dia mengantar kania sampai ke depan rumah, tak di sangka Arga juga ternyata baru sampai di sana.
Vani mengeryitkan dahi nya melihat Arga ada di sana, dia bingung kenapa Arga datang terlambat, Vani mengira Arga adalah tamu undangan karna dulu Arga dan Axsel dekat sebagai teman.
"Ga lu kok baru dateng? acaranya udah mau selesai tahu," ucap Vani karna dia tidak tahu apa-apa sedangkan Kania bingung harus menjelaskan nya kepada Vani.
__ADS_1
Arga pun berdecak saat melihat istrinya yang diam saja, sepertinya Kania sangat ketakutan seperti sedang ketahuan selingkuh.
"Mau aku yang jelaskan atau kamu?" ucap nya menatap Kania, sedangan Vani semakin bingung apa mungkin mereka sada hubungan karna yang dia tahu Arga orang nya sangat dingin dan juga cuex.
"Aku-
"Pulang."
"Kak," ucap nya Kania tidak mau Vani salah paham kepada nya.
"Pulang atau gue tinggal," ucap nya.
Kania pun tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa menuruti keinginan suami nya, biarlah besok dia menjelaskan kepada sahabat nya itu.
"Sorry Van, gue duluan ya bye."
Vani pun hanya bisa melihat kepergian sahabatnya itu, dia bingung kenapa Kania nurut sekali dengan Arga apa mungkin Arga adalah tunangan nya Arga, dia harus bertanya pada sahabatnya itu.
Sedangkan Kania terus saja membujuk suami nya agar mendengar penjelasan nya, Kania yakin kalo Arga melihat semua nya entah siapa yang mengirimkan pada suami nya itu yang jelas Kania tahu kalo Arga juga mengenal Axsel dan mungkin mengenal teman-teman Axsel.
"Kak aku bisa jelasin kalo mungkin yang Kakak liat itu gak seperti kenyataan nya aku minta maaf tapi aku juga gak tahu kalo Axsel akan melakukan itu," ucap nya.
Arga yang di selimuti amarah pun menghentikan mobil nya membuat Kania bingung.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Kania bingung.
"Turun!!"
"Apa?"
"Turun, apa lu gak dengar gua ngomong apa?"
"Tapi Kak," ucap nya dia tidak menyangka kalo Arga akan menyuruh nya turun apalagi sudah malam dan jarang kendaraan yang lewat di sana.
__ADS_1
"Turun."
Kania pun menuruti keinginan Arga, dia langsung turun dari mobil karna dia tahu dia salah sudah datang ke acara itu.
Setelah melihat Kania turun Arga pun melajukan mobil nya dengan kencang meninggalkan Kania dia sana.
Jujur Kania sangat takut sekali sendirian dia tempat sepi separti itu, dia hanya bisa menangis dan berdo'a semoga ada kendaraan yang lewat dia memang tidak bisa memesan taxi karna ponsel nya tertinggal di dalam tas nya di mobil.
Kania terus berjalan berharap bisa segera sampai di rumah namun keinginan nya harus buyar saat berpapasan dengan sekelompok pemuda yang sedang mabuk di pinggir jalan.
Mereka menghadang jalan Kania dan terus saja mengganggu nya, membuat Kania semakin kesal.
Kania sudah sangat lelah dia malas sekali menghadapi mereka namun apa boleh buat kalo dia tidak melawan mereka, akan sangat bahaya baginya.
"Sendirian aja neng, mau kita temenin?" tanya salah satu pemuda itu sambil mencolek dagu nya.
Kania langsung saja menarik tangan pemuda itu dan memerintilnya kebelakang karna sudah berani menyentuh nya.
"Apaan lu, jangan ganggu gua," ucap nya mendorong pemuda itu hingga terjatuh.
Pemuda yang lain nya tidak terima bos nya di perlakukan seperti itu langsung saja menyerang Kania, tiga lawan satu.
Mereka memang bukan tandingan Kania karna sedang mabuk sehingga Kania lebih mudah menaklukan nya namun salah seorang pemuda mendorong Kania ke jalan raya dan di saat itu lah sebuah mobil melaju dengan kencang dan menabrak tubuh Kania hingga terpental.
Kemacetan pun terjadi karna mobil tersebut menabrak pembatas jalan setelah menabrak Kania.
Sedangkan Kania langsung dia tolong oleh pengendara lain mereka sangat kasihan melihat Kania yang bersimbah darah.
Arsen yang kebetulan lewat sana pun penasaran ingin melihat kecelakaan yang ada di depan nya, dia berjalan melewati kerumuna orang terlihat seorang perempuan yang tidak jelas wajah nya di bawa kedalam ambulan namun dia melihat kalung yang sama dengan nya.
Arsen pun mendekati nya dan membenarkan rambut yang menghalangi wajah nya.
"Kania." pekik nya.
__ADS_1