
Kania merasa heran melihat Vani yang nampak lahap menghabiskan mangga muda itu seperti orang ngidam saja pikirnya.
"Van lu gak ngerasa asem apa makan gituan?"
"Enggak kok ini enak," jawab nya.
Dia terus mengunyak mangga itu hingga habis membuat Kania semakin curiga.
"Sayang ini mangga nya aku udah dapet," teriak seseorang dari ruang tamu.
Kania yang penasaran pun segera berjalan ke arah suara itu sedangkan Vani sudah berkeringan dingin.
"Astaga kenapa Kak Bara pulang cepat bisa gawat kalo Kania tahu," batinnya.
Kania pun mematung saat melihat Bara berdiri disana, begitu juga dengan Bara dia tidak menyangka kalo Kania ada di sana.
"Apa aku gak salah dengar? sayang? apa jangan-jangan kalian ada hubungan iya?"
"Ka gua bisa jelasin," ucap Vani, dia benar-benar bingung harus mulai dari mana.
"Ayo jelasin," ucapnya duduk di sofa sedangkan Bara dan Vani saling melirik sebelum ikut duduk bersama Kania.
"Maaf Ka kita gak maksud nyembunyiin ini semua dari lu, tapi gua nunggu waktu yang pas aja gua takut lu nanti malah bilang sama Abang gue," alasan nya.
"Astaga Vani lu tuh kenapa sih kenapa harus takut segala, lagian gua udah gak pernah ketemu lagi sama abang lu setelah acara itu," jawab nya.
Vani pun menghela nafas dia sudah terlanjur ketahuan jadi Vani pun menceritakan semua nya kepada sahabat nya itu.
"Kalian gak bohong kan?" tanya Kania dia benar-benar tidak menyangka kalo mereka sudah menikah.
"Gue serius waktu itu gue kesel sama wanita itu, karna udah deketin Kak Bara jadi gua yang maksa Kak Bara nikahin gue."
"Asataga apa lu gak berpikir gimana perasaan orang tua lu, saat mereka tahu lu nikah diam-diam?"
"Gua gak peduli sama mereka, toh selama ini mereka tidak sayang sama gue semua mereka lakuin hanya untuk Kak Fadly dan lu juga harus tahu Ka kalo ada calon ponakan lu di sini, usia nya udah mau dua bulan," ucap nya menunjuk perut nya.
Sedangkan Kania nampak tercengan gendengar nya, pantas saja Vani menginginkan buat yang masam ternyata dia sedang ngidam.
__ADS_1
"Apa lu gak ada niat ngasih tahu nyokap sama bokap lu saat ini?"
"Mungkin nanti setelah gue lahiran, gua akan cerita pada mereka, sekarang yang mereka tahu gua lagi di luar kota menyelesaikan pembangunan proyek," jawab nya.
Vani memang memantau proyek itu namun tidak secara langsung, dia memiliki orang yang di percaya sehingga dia bisa tahu apa saja yang terjadi di sana dan melaporkan kepada Ayah nya jika ada kendala.
"Terus wanita mana yang membuat lu cemburu dan nekat mengajak Kak Bara nikah, harus berterimakasih nih gue sama dia karna dia lu sama Kak Bara bisa bersatu."
"Siapa lagi kalo bukan ja**ng sialan itu mantan pacar suami lu," jawab nya.
"Maksud lu Sita?"
"Ya siapa lagi," jawab nya mendadak kesal mengingat hal itu.
"Udah lah sayang ngapain sih bahas itu aku kan udah jelasin kalo aku cuma makan saja gak ada maksud apa-apa, dia cuma mau menanyakan Arga sama aku."
"Iya aku percaya tapi aku gak suka ya kamu masih berteman sama dia," ungkap nya.
"Iya maaf aku gak akan pernah ketemu dia lagi," ucap nya.
Sedangkan Kania mengingat wanita itu tadi ada di apartemant yang sama bersama Ayah nya Vani.
Kania pun mengurungkan niat nya bercerita kepada Vani,mungkin nanti dia akan cerita bila waktu nya sudah tepat, tapi lebih baik Vani tahu sendiri sih di banding harus dia yang cerita.
"Ya sudah kalo begitu selamat atas pernikahan kalian,kaya nya gue harus cepat pulang karna ada urusan lagi," ucap nya.
"Ka lu kan baru sebentar di sini masa udah mau pulang lagi sih?"
"Besok gua kesini lagi deh temenin lu, sekarang kan ada Kak Bara gua takut ganggu pengantin baru," canda nya.
"Apaan sih Kak gak lucu tahu," jawab nya bersemu sedangkan Bara hanya tersenyum.
Kania pun pamit dan Vani pun mengantar nya sampai ke depan pintu unit nya.
Setelah melihat Kania masuk kedalam lift Vani berbalik badan, namun matanya tidak sengaja melihat pemandangan yang tidak mengenakan.
Dia melihat Ayah nya bersama wanita lain sedang bercumbu bahkan mereka terlihat sangat mesra sekali.
__ADS_1
Vani yang sudah di kuasai amarah langsung menghampiri mereka, dia menarik tangan Sita agar terlepas dari pelukan ayah nya dan tanpa apa -aba dia menampar wanita itu.
"Dasar j**ang sial*n," teriak nya menarik rambut Sita hingga membuat wanita itu meringis.
"Lepas. Mas tolong aku Mas dia nyakitin aku," ucap nya.
Namun Pak Farhan tak bergeming dia benar-benar kaget melihat anak nya ada di sana, sejak kapan Vani pulang itu yang ada di pikiran nya.
"Mas tolong aku, ini sakit sekali."
Sita terus meminta tolong sambil meringis namun Pak Farhan hanya diam saja.
Bara yang mendengar keributan pun langsung keluar dan merelai istrinya agar tidak lagi menyiksa Sita.
"Sayang lepas kamu apa-apaan sih?" tanya Bara lembut sambil memeluk nya dari belakang dia belum sadar kalo pria yang ada di hadapan nya itu adalah Papa nya Vani.
"Lepas Kak aku gak akan biarin dia hidup dia udah bikin Papa gila," teriak nya.
"Aku benci sama Papa benci."
Vani pun langsung pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan dari Papa nya.
Sedangkan Bara segera menyusul Vani yang sudah masuk ke dalam lift.
"Mas kamu kok diem aja sih aku di siksa sama wanita itu, dia udah nyakitin aku Mas," ungkap nya sambil meneteskan air mata nya ingin di kasihani .
"Lepas Sita sebaik nya kita sudahi saja semua ini saya tidak mau kalo sampai Vani bercerita kepada istri saya," ucap nya melepas kasar tangan Sita dan berlalu begitu saja.
Sita pun berteriak -teriak seperti orang gila meminta Pak Farhan kembali namun pria paruh baya itu tidak menghiraukan nya, karna dia harus mengejar Vani sebelum. semua nya terlambat.
Sedangkan Vani nampak sudah ada di lantas atas gedung dia berpegangan kepada tembok pembatas membuat Bara langsung memeluk nya dari belakang dia tidak mau Vani melakukan hal-hal yang aneh.
"Sayang kamu tenang ya kasihan anak kita, pasti dia sedih liat Mama nya kaya gini."
"Aku kesal Kak, aku kecewa sama Papa," jawab nya.
"Sabar ya do'akan yang terbaik jangan berpikiran yang tidak-tidak," ucap nya sambil membalikan tubuh wanita itu agar menghadap nya.
__ADS_1
Bara membawa Vani dalam pelukan nya, Bara tahu Vani pasti terluka seksli