
Arsen pun mengikuti ambulans tak lupa dia menelpon mama Mira, karna dia tidak tahu nomer ponsel suami nya Kania dia juga tidak tahu alamat rumah Ibu nya Kania yang baru, terpaksa dia menelpon Ibu nya.
[Hallo nak ada apa malam-malam telpon mama?] tanya Mama nya yang sepertinya terbangun dari tidur nya.
[Ma aku di rumasakit Mama cepetan kesini yah] ujar nya.
[Rumasakit mana?"]
[Pelita]
tut
tut
[Hallo Mah-
Sambungan pun langsung di matikan sebelah pihak oleh Mama nya dan Arsen pun hanya menghela nafas kasar.
Mungkin Mama nya telalu panik sehingga tidak bertanya apa-apa lagi.
Sedangkan Kania pun langsung di bawa ke ruang ICU dan kondisi nya kritis Arsen pun bingung harus menghubungi siapa keluarga karna dia tidak mengenal mereka.
"Pasien kekurangan banyak darah apa anda keluarga nya?" tanya Dokter yang menangani nya.
Arsen pun gelagapan dia benar-benar tidak tahu harus apa, hingga tidak lama kemudian datang lah Mama Mira sambil tergesa-gesa.
"Ada apa sebenarnya nak? apa kamu mengalami kecelakaan atau kamu menabrak seseorang?" tanya Mama Mira bingung karna Arsen baik-baik saja.
"Itu Ma, emm Kania yang kecelakaan."
"Apa?"
"Dia ketabrak mobil untung aja aku ada di sana saat kejadian."
Tubuh Mama Mira lemas, untung saja Arsen dengan sigap menangkap nya.
"Mama duduk dulu yah, o-yah apa Mama tahu nomer telpon nya keluarga Kania kita harus menghubungi mereka karna kondisi Kania kriris dan membutuhkan donor darah yang banyak," ucap nya.
Mama Mira pun teringat dengan Tante Maria, karna beberapa hari yang lalu mereka bertemu dan bertukar nomer ponsel
Mira pun langsung menghubungi nya, namun sudah tiga kali namun tidak diangkat .
"Gimana Ma?"
__ADS_1
"Gak diangkat."
"Sebaiknya kalian cari pendoror secepat nya karna kondisi nya semakin memburuk," ucap Dokter itu.
Arsen bingung karna dia tidak tahu siapa keluarga Kania karna selama ini dia orang nya sangat tertutup, sedangkan orang tuanya mereka tahu nya sudah meninggal.
"Kami akan menghubungi nya Dok," ucap Arsen seadanya, dia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa.
.
Sedangkan Arga yang baru saja tiba di depan rumah nya segera putar balik karna perasaan nya tiba-tiba menjadi tidak enak dia teringat Kania kenapa dia belum juga sampai pikir nya.
Apa dia keterlauan ya sudah meninggalkan Kania di tempat itu, tapi kan tempat itu tidak jauh dari komplek rumah mereka mungkin kalo dengan jalan kaki 30 menit pun sampai.
Arga melajukan mobil ya dengan kencang dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Kania saat Arga tiba di tempat itu dia melihat banyak orang dan ada juga mobil sedan yang penyok sedang di derek.
Arga pun bertanya kepada salah seorang pria paruh baya yang juga sedang ada di sana dia penasaran apa yang terjadi.
"Ada apa ya Pak, apa terjadi kecelakaan?"
"Iya Mas, tadi mobil itu menabrak seorang wanita terus oleng dan menabrak tiang untung saja pengemudi nya selamat tapi tahu kalo yang di tabrak nya selamat atau tidak karna yang saya dengar luka nya sangat parah."
Deg
"Itu tidak mungkin kamu kan sayang," batinnya.
Arga pun menggelengkan kepala nya hingga membuat pria paruh baya itu bingung dan bertanya lagi.
"Anda baik-baik saja?"
Arga pun tersadar."Iya Pak, lalu di bawa kemana korban wanita itu?" Arga penasaran takut nya itu benar-benar Kania rasa bersalah mulai menghantui nya
"Ke rumasakit Pelita," jawab nya.
Arga pun mengangguk dan segera tancap gas menuju rumasakit Pelita karna rumasakit itulah yang paling dekat dari sana, dia harus memastikan kalo itu bukan Kania.
"Semoga itu bukan kamu Nia," gumannya.
Dalam hati dia terus berdo'a semoga Kania sudah sampai di rumah, dan pirasat nya itu tidak benar.
Arga pun akhirnya sampai di rumasakit dia langsung bertanya pada suster yang bertugas di sana.
"Sus apa tadi ada korban kecelakaan yang di bawa kesini, dibawa kamana dia sekarang?"
__ADS_1
"Oh iya tadi ada seorang wanita di bawa kesini, sekarang ada di ruang ICU kalo gak salah atas nama Ibu Kania," ucap nya.
Degg
Arga nampak terdiam apa mungkin dia salah dengar karna terlalu khawatir sehingga yang dia dengar adalah nama Kania.
"Maaf sus apa nama wanita itu Kania?"
"Iye betul Pak," jawab nya.
Arga pun berlari ke ruang ICU, dia melihat Arsen dan ibu nya di sana membuatnya bertanya-tanya.
Sedangkan Arsen menatap Arga seolah bertanya dari mana saja pria itu, kenapa baru datang.
"Arsen, bagaimana Kania?"
"Seharusnya gue yang tanya sama lu, kenapa Kania bisa ada di luar malam-malam begini apa lu berbuat kasar sama dia sehingga dia pergi dari rumah," ujar nya menarik kerah baju Arga.
Sedangkan Arga susah payah menelan ludah nya, ini memang kesalahan nya kalo saja dia tidak menurunkan Kania dia sana ini tidak mungkin terjadi.
"Arsen lepas nak, kamu apa-apa sih," Mama Mira mencoba meredam emosi anak nya itu agar bisa melepaskan cengkaraman tangan nya.
"Arsen." ulang ibu nya.
Arsen pun melepaskan tangan nya dan mundur satu langkah.
"Maafkan Arsen ya, di terlalu khawatir sehingga berbuat seperti itu," ucap nya merasa tidak enak.
Mama Mira sangat tahu kalo Arsen sangat terpukul, dia sangat tahu kalo dari dulu anak nya itu sangat mencintai Kania namun semua sudah terlambat karna Kania sudah menikah dengan Arga.
"Kondisi Kania kritis dia butuh donor darah yang banyak, kami sudah menghubungi ibu Maria namun tidak diangkat.Apa kamu bisa menghubungi kerabat Kania yang sama golongan darah nya?"
Arga pun ingat kalo darah nya dan Kania sama."Golongan darah saya sama dengan Kania."
Mira pun tersenyum dan mengantarkan nya ke ruang dokter namun sebelum itu dia mengirimkan chat kepada Bu Ayana kalo Kania masuk rumasakit.
Arga langsung saja di periksa dan untung saja dia sehat sehingga bisa mendonorkan darah nya sebanyak mungkin.
Arga pun kembali ke ruang tunggu setelah mendonorkan darah nya, bu Mira pun memberikan roti dan juga air putih untuk nya dia tahu kalo Arga pasti lemas setelah diambil darah nya.
Sedangkan Arsen nampak tidak bisa diam, dia sangat cemas takut terjadi sesuatu pada Kania.
Arga masih lemas namun dia berusaha terjaga karna ingin tahu perkembangan dari Kania.
__ADS_1
Kania sendiri kondisi nya sudah stabil,namun dia belum sadarkan diri entah apa yang terjadi padanya.