
Bara meletakan berkas-berkas itu di atas meja Arga, sedangkan Arga yang sedang tidak mood bicara.
"Kenapa lagi sih Bos ngelamun mulu? lagi ada masalah sama istrimu?" tanya Bara.
Sedangkan Arga sedang tidak mood bicara dia diam saja tidak menyahut dia masih kesal dengan Ayah nya yang semena-mena.
"Kamu saja yang pergi makan malam bersama Ayah, aku tidak bisa pergi."
"Yang benar saja memang nya siapa saya," jawab nya Bara orang nya sangat perhitungan sekali jadi dia tidak mau kalo harus ikut makan malam dengan bos besar.
"Ayolah Bara kali ini saja, aku tahu kamu jomlo siapa tahu saja kamu berjodoh dengan Sita," canda nya membuat Bara mendelik kesal.
"Anda jangan seperti itu ya, saya bukan jomlo tapi saya belum mau punya pacar," kilah nya membuat Arga tidak bisa menahan tawa nya.
Bara pun langsung keluar tidak baik meladeni Bos nya itu, sungguh keterlaluan tapi apa yang Arga katakan memang benar.
"Emang gak salah sih apa yang si bos bilang, semoga saja gue bisa cepat dapetin cewek ya seenggak nya kaya cewek yang ada di Vila nya Fadly," gumannya tapi dia menggelengkan kepala nya saat melihat wanita itu bersama Axsel.
"Ahh tidak, mana mungkin wanita secantik itu mau sama si breng*ek Axsel," lanjut nya hingga tidak sengaja dia menabrak Bela sekertaris bos besar yakni sekertaris nya Pak Joko.
"Bisa gak sih kalo jalan pake mata, udah mata 4 juga masih aja gak liat gue yang segede ini," gerutu nya kesal sedangkan Bela hanya menggelengkan kepala yang salah siapa yang di salahkan siapa.
"Kak Bara yang harus nya hati-hati," jawab nya sambil terus memungut kertas yang terjatuh di lantai sedangkan Bara malah pergi begitu saja.
"Dari dulu kaya gitu terus bikin gue kesel untung ganteng kalo enggak udah gue bikin perkedel dia," batinnya.
Bela hanya bisa mengumpat di dalam hati nya karna kalo depan orang nya dia tidak mungkin berani.
__ADS_1
.
Sedangkan Kania nampak kagum melihat gadis cantik yang satu tahun lebih muda dari nya itu dia adalah anak dari pemilik yayasan dia bernama Cantika.
"Cantik banget ya anak nya Pak Ve saya kira beliau belum punya anak gadis, kalo di lihat dari raut wajah nya yang awet muda," ucap seorang guru wanita.
"Iya saya juga berfikir begitu, pantas saja nama nya Cantika," jawab yang lain nya.
Setelah acara perkenalan mereka membubarkan diri begitu juga dengan Kania, sejujur nya di malas sekali bila harus berjalan karna dia merasakan sedikit tidak enak di **** ***** nya dan dia sedikit susah berjalan.
Sehingga itu membuat yang lain nya bertanya-tanya kenapa dengan Kania.
"Bu Kania kenapa kok kaya susah gitu jalan nya?" tanya bu Eka yang memang meja mereka dekat, ibu satu anak itu terus memeperhatikan cara jalan Kania umur nya pun hampir sama dengan ibu Aisyah.
"Kok persis kaya aku waktu habis malam pertama ya, apa mungkin bu Kania juga seperti itu eh tapi kan dia belum menikah," batinnya.
"Saya jatuh bu di toilet dan ************ saya lumayan sakit," jawab nya.
Bu Eka pun menganggukan kepala nya ternyata pikiran nya tidak benar, bu Eka tahu Kania adalah gadis yang baik mana mungkin dia seperti yang ada di pikiran nya.
"Oh begitu cepat di obati bu takut nya bengkak," ucap Bu Eka namun perkataan nya Bu Eka membuat pipi nya memerah pikiran nya kemana-mana.
Memang dia juga ingin membeli salep untuk obat, tapi bukan untuk ************ melainkan untuk **** ***** nya yang lumayan perih dan bengkak.
Mereka pun berpisah di depan kelas masing-masing Kania pun kembali mengajar seperti biasa, walau dia tidak merasa nyaman namun mau bagaimana lagi mungkin dia juga tidak akan mengajar karate hari ini kalo kondisi nya masih seperti ini.
Jam makan siang Kania hanya duduk saja di kursi dia hari ini tidak keluar mencari makan karna dia sudah memesan nya secara online.
__ADS_1
Di sana tinggal Kania saja dan Bu Eka karna yang lain nya sudah keluar mencari makan siang."Ibu Kania gak keluar, ayo makan siang bareng saya membawa makan siang yang banyak," ucap Bu Eka sedangkan Kania menggelengkan kepala nya.
"Terimakasih banyak bu tawaran nya saya sudah pesan ko," jawab nya.
Mereka makan siang dengan menu makanan masing-masing, Bu Eka memang bukan orang kaya beliau orang biasa namun rumah tangga nya patut di acungi jempol karna dia adalah istri yang benar-benar sabar mengurusi suami nya yang lumpuh.
"Gimana kabar bapak?" tanya Kania, dia teringat terakhir kali nya bertemu dengan suami bu Eka, yang masih memakai kursi roda.
Bu Eka tersenyum menatap Kania, kalo bukan karna dia mungkin suami nya masih belum bisa berjalan.
"Sudah bisa berjalan namun masih harus pakai tongkat, terimakasih banyak ya nak kamu sudah membantu suami saya," ucap nya bu Eka sangat berterimakasih karna bantuan Kania suami nya bisa di operasi.
"Tidak masalah bu, saya senang mendengar Bapak sudah sehat lalu bagaimana kabar Elisa?" tanya Kania, Elisa adalah anak semata wayang nya.
"Masih di pesantren mungkin nanti kalo udah lulus kuliah dia pulang kerumah, katanya masih betah mondok," jawab nya.
Anak semata wayang nya itu memang tinggal di pesantren sejak duduk di bangku SMA sampai sekarang meski pun suami nya sakit namun dia yang mengurus suami nya sendiri.
.
Ayana sudah terbiasa dengan kehidupan baru nya dia menyiapkan semua keperluan Bagas, ini mengingatkan nya pada masa dimana dia muda dulu.
"Aku tidak menyangka ternyata Tuhan telah mengembalikan jodoh ku," batinnya sambil menatap poto pernikahan nya saat muda dulu terpampang jelas di dinding kamar mereka.
Dia tidak menyangka kalo selama ini poto itu tidak pernah di lepas, jujur dia merasa bersalah kepada mantan istri suami nya yang menjadi gila seperti itu.
"Sudah lah Ay itu bukan salah kamu, lagian dia gila bukan karna mencintaiku tetapi karna dia tidak mau kehilangan hartaku," ucap Bagas tadi malam.
__ADS_1
Ya setelah menikah mereka menempati kamar yang sama dan Marvin pun sekarang ikut tinggal di sana dia sangat senang akhirnya bisa merasakan kasih sayang lagi dari Ayana,karna sedari dulu mereka memang sangat dekat Ayana yang sangat penyayang membuat nya nyaman dia seperti menemukan sosok ibu yang sebenar nya.