
Oma Maria langsung saja pulang di antar oleh Bagas ke rumah besar dan ternyata disana sudah ada Marvin menunggu mereka rupa nya pemuda tampan itu sudah tahu kalo Papa nya masih hidup.
"Dari mana sih lama banget?" tanya Marvin sedikit kesal dia memang tinggal di apartemant nya dan jarang sekali pulang kerumah namun saat pembantu nya menelpon mengatakan kalo Bagas masih hidup dia penasaran dan ingin bertemu dengan papa nya itu.
Meski Marvin sudah tahu kalo Bagas bukan ayah kandung nya namun dia sangat lah manyayangi ayah nya itu.
"Papa kenapa bohongi aku sih, aku hampir gila tahu saat tahu pesawat itu hilang kontak," ujar nya memeluk Bagas erat.
Sedangkan Bagas tersenyum lebar mengusap punggung anak nya itu, meski bukan darah daging nya namun Bagas sangat menyayangi nya.
"Maaf kan papa ya nak, Papa terpaksa melakukan itu karna sebuah misi."
Marvin pun hanya diam karna dia tidak tahu apa-apa namun dia juga tidak bertanya biarkan itu menjadi urusan orang tua.
"Bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Bagas penasaran karna Marvin akan lulus tahun ini.
"Sudah mulai sekripsi sebentar lagi sidang, do'akan saja semua nya lancar," ucap nya dan Bagas pun menganggukan kepala nya.
Sedangkan Oma Maria hanya menyimak saja ini adalah momen yang langka dimana dia bisa melihat anak dan cucu nya berbincang, sudah lama sekali dia tidak melihat itu.
"Menginaplah di sini Vin Oma sangat merindukan mu," usul Oma Maria.
"Iya Papa juga ada yang mau di omongin sama kamu," timpat Bagas.
Marvin pun menatap Papa nya itu dia penasaran apa yang ingin Papa nya bicarakan seperti nya itu sangat penting sekali.
Sedangkan Oma Maria memutuskan untuk masuk ke dalam kamar nya dia benar-benar lelah hari ini.
"Oma sama Papa habis dari mana sih?" tanya Marvin heran.
__ADS_1
Sedangkan Bagas sendiri bingung mau mulai dari mana.
"Kok malah diem, aku serius nanya Pah?"
Bagas pun mulai bercerita apa yang terjadi hari ini dan itu sukses membuat Marvin terkejut dia tidak menyangka kalo Kania adalah anak kandung dari Papa nya itu.
"Jadi maksud nya Kania anak nya Papa bukan anak tante Anita dan Om Bisma?"
Bagas pun menganggukan kepala nya semoga dengan jujur seperti ini Marvin bisa mengerti dan menerima Ayana sebagai ibu nya.
"Maafkan Mama ku ya Pa andai saja Mama tidak maksa Papa buat nikahin dia mungkin semua ini gak akan terjadi," ucap Marvin sendu.
"Apa maksud kamu nak, ini semua bukan salah Mama kamu, ini salah Papa gak bisa jagain mereka," jawab nya merasa bersalah dia menyesal baru tahu kenyataan nya.
"Jangan nyalahin diri Papa karna semua terjadi karna kehendak nya, aku senang bisa mendapatkan kakak sebaik Kania."
Sedangkan Bagas nampak menggelengkan kepala nya sejauh ini dia masih sangat menyesal karna dia dulu terlalu lemah dan dia tidak ingin Marvin tahu kelakuan ibu kandung nya itu.
Sedangkan Bagas nampak melebarkan mata nya mendengar perkataan Marvin dia tidak menyangka kalo Marvin sudah tahu semua dan sejak kapan dia tahu itu.
Tapi kenapa Marvin tidak marah kepadanya sedangkan dirinya sangat tahu kalo Sonia sejak dulu selalu menyalahkan nya kalo saja Bagas mau menyantuh nya tidak mungkin dia hamil anak orang lain.
"Dari mana kamu tahu semua itu nak, jangan bilang kamu memata-matai ibumu," ujar nya namun Marvin menggelengkan kepala nya.
Marvin mengingat beberapa tahun yang lalu dimana umur nya masih berumur 12 tahun disitu dia mendengar Oma dan ibu nya sedang adu mulut dan Oma mengatakan kalo dia bukan anak nya Bagas dan dengan tidak malu nya Sonia pun mengakuinya.
"Maafkan Papa nak bukannya Papa tidak menghargai Mama mu sebagai istri namun kamu tahu kan bagaimana Mama mu."
"Papa sudah berusaha menerima dia sebagai istri namun entah mengapa hati Papa tidak bisa melupakan istri pertama Papa apalagi kami menikah karna terpaksa dan Papa juga kala itu masih sah menjadi suami Ayana," jawab nya jujur.
__ADS_1
"Jadi itu yang membuat Papa gak mau nyentuh Mama?" tanya Marvin sendu.
Bagas pun menatap anak nya itu dan menggelengkan kepala nya mata nya pun berkaca-kaca pasti Marvin akan berpikir yang tidak-tidak terhadap nya.
"Bukan begitu Vin Papa sudah berusaha tapi gak tahu kenapa Papa gak bisa, Papa gak bisa hianati istri pertama Papa dia yang menemani Papa dari awal dan dia sangat tahu apa yang Papa alami setelah kepergian mendiang Opa kamu," jawab nya menunduk.
Ya saat pertama kali Bagas bertemu dengan Ayana kala itu Bagas telah terpuruk karna ayah nya meninggal karna serangan jantung di situ lah peran Ayana sangat membantu Bagas bangun dari keterpurukan nya.
Hingga Bagas sukses dan menikahi nya namun saat beberapa bulan menikah perusahaan kembali di terpa masalah dan jalan keluar nya adalah meminta bantuan ayah nya Sonia.
Dengan syarat harus menikahi Sonia, Bagas yang kala itu tidak ingin menyakiti hati Ayana dia menolak nya, namun berbeda dengan Mama nya yang langsung menerima nya dan memisahkan nya dengan Ayana.
Sedangkan Marvin hanya tersenyu mendengar penjelasan dari Papa nya itu meski hati nya sakit namun dia juga harus bersyukur karna Papa nya sangat menyayangi nya berbeda dengan Mama nya yang sering memarahi nya dan menyiksa nya.
Marvin menepuk paha Ayah nya pelan."Papa adalah Papa terbaik bagi aku, dan kalo pun aku jadi Papa aku gak akan sudi menyentuh wanita yang sering berganti-ganti laki-laki," ucap nya.
Bagas tidak menyangka kalo Marvin akan bicara seperti itu, ternyata anak nya itu sudah dewasa sekarang.
"Makasih Vin kamu memang terbaik nak dan Papa minta satu hal sama kamu nak," ucap nya.
"Apa yang Papa mau kalo aku bisa kabul kan pasti akan aku lakukan apapun itu," jawab nya.
"Restui lah Papa nak, Papa mau kembali lagi dengan istri pertama Papa," ucap nya dan Marvin pun tersenyum lebar ternyata itu yang Papa nya inginkan dengan senang hati Marvin menganggukan kepala nya.
"Aku setuju sekali Papa kembali lagi dengan istri Papa, aku juga ingin merasakan kasih sayang lagi dari bu Aisyah," jawab nya karna Marvin sangat tahu kalo Aisyah dari dulu sangat baik dan menyayangi nya.
"Kamu serius nak?" tanya Bagas berbinar.
"Tentu saja Pah."
__ADS_1
"Makasih banyak nak," ucap nya.
Setelah beberapa saat berbincang mereka pun masuk ke kamar masing -masing.