
"Sayang hey ini aku suami kamu, masa lupa?"
Kania nampak menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan Arga namun dia tidak ingat dengan pria yang ada di hadapan nya itu.
"Maaf kamu siapa?"
"Astaga jangan becanda dong honey,iya maaf aku salah aku minta maaf tapi jangan becanda gini ya."
Namun Kania sepertinya masih saja belum mengingat nya.
Arga nampak meminjat pangkal hidung nya dia tidak menyangka kalo istrinya itu tidak ingat kepadanya, kenapa jadi begini sih?
Namun Arga bersyukur karna istrinya sudah sadar meski pun tidak mengingatnya.
Dia membiarkan Kania berfikir sedangkan Dokter mengajak Arga keluar untuk membicarakan kondisi Kania.
Sebelum itu dia menghubungi Ibu mertua nya yang sedang ada di kantin, dia memberitahu kalo Kania sudah sadar.
"Kamu mau kemana?" tanya Papa Baga saat mereka bertemu di depan pintu ruang rawat.
"Aku ke ruangan dokter bentar ya, Kania sudah siuman."
Bu Ayana pun mengucap syukur."Alhamdulilah gimana kondisi nya?"
"Ibu lihat saja, titip bentar ya aku akan segera kembali."
Mereka pun masuk ke dalam melihat Kania sedang melamun.
"Sayang kamu sudah sadar nak?"
"Iya," jawab nya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?"
Kania hanya memengang kepala nya dan Ibu Ayana pun mengerti mungkin Kania masih pusing.
"Apa kamu mau sesuatu biar Papa ambilkan?" tanya Papa Bagas namun Kania hanya menggelengkan kepala dia tidak ingin apa-apa.
"Makan sesuatu ya kasian bayi kamu pasti kelapaan dari semalam kan kamu baru sadar," bujuk Ibu nya, begitu juga dengan Papa nya dia nampak khawatir dengan Kania meski dia sudah sadar namun wajah sangat pucat,lemas tidak ada tenaga.
"Papa belikan kamu bubur ya?"
Namun Kania masih menggeleng dia masih mencerna apa yang ibu nya katakan tadi, bayi siapa pikirnya tiba-tiba otak nya blenk.
__ADS_1
"Sayang kepala kamu gak papa kan? takut nya kamu amnesia?" tanya Papa Bagas cemas, karna Kania seperti bingung begitu.
Kania malah tersenyum."Apaan sih papa emang ini sinetron pake amensia segala, aku cuma lagi bingung bayi apa yang ibu maksud?"
Papa Bagas pun ikut tersenyum dan mengelus rambut nya, Kania memang sudah bisa duduk jadi Papa Bagas bisa mengelus rambut panjang nya yang tergerai di punggung nya.
"Sungguh kamu membuat kejutan untuk kami sayang, kamu hamil dan akan menjadi ibu," jelas Bu Ayana membuat Kania melebarkan matanya tak lupa dia menutup bibir nya.
Rasanya sangat bahagia sekali namun apa itu nyata atau hanya mimpi saja pikirnya?
Kania pun mencubit tangan nya dan mengaduh."Aww."
Mereka nampak bingung dengan apa yang di. lakukan oleh Kania, kenapa dia menyakiti diri sendiri.
"Kamu apa-apaan sih nak ko malah nyubit tangan kamu sendiri?"
"Aku cuma mau mastiin aja kalo apa yang aku dengar bukan mimpi," ucap nya tersenyum.
"Ya Tuhan kamu tuh aneh -aneh saja sih nak, kami kira kamu kenapa?"
Mereka pun lantas berbincang, bu Ayana mengupaskan jeruk untuk anak nya itu karna Kania sangat menyukai buah tersebut.
Mereka tadi memang sempat membeli makanan dan membawa nya ke kamar rawat Kania.
Di tempat lain Arga nampak bingung saat Dokter mengatakan Kania baik-baik saja menunggu luka nya kering saja.
Tidak ada luka serius hanya tulang tangan nya saja sedikit retak dan itu tidak berpengaruh apa-apa.
Luka di belakang kepala nya juga tidak terlalu parah, dan luka di punggung nya pun sudah di jahit.
Untung saja benturan di kepala nya itu tidak terlalu keras, sehingga Kania tidak sampai geger otak.
"Lalu kenapa Kania tidak mengenali saya Dok?"
"Saya juga masih mencaro tahu apa sebab nya dan anda jangan khawatir kalo pun istri lupa ingatan nanti juga dia akan ingat dengan sendiri nya."
"Lalu sampai kapan dia tidak mengingat saya dok?"
"Bisa lama, tapi bisa sembuh lebih cepat kalo dia bisa mengingat nya. Karna biasa jya memori ingatan akan ingat dengan sendiri nya apalagi kalo kenangan itu begitu berkesan di ingatan nya."
Penjelasan Dokter membuat Arga menghela nafas, memori apa yang akan membuat istrinya ingat pada nya karna selama ini kesan nya di mata Kania pasti sangat buruk.
Tidak ada kenangan indah yang dia berikan pada Kania, selain mereka kenal belum lama Arga tidak tahu apa-apa tentang istrinya itu.
__ADS_1
"Suami macam apa aku ini, bahkan aku tidak tahu apa yang Kania suka," batinnya.
"Ya sudah kalo gitu saya permisi Dok," ucap nya langsung pamit.
Dan Dokter pun menganguk dan mempersilahkan Arga keluar dari ruangan nya.
Arga berjalan menunju ruang rawat Kania, namun dia berpapasan dengan Vani, dia nampak kesal melihat Arga.
"Gimana Kania sekarang?"
Bukannya menjawab Arga malah balik tanya."Tau dari mana kalo Kania masuk rumasakit?"
"Dari Bara, lu sih pake marah segala sama Kania jadi kaya gini deh. Gimana Kania apa dia baik-baik saja? kalo dia kenapa-napa gue yang bakal buat perhitungan sama lu," ucap nya kesal.
"Apaan sih lu, dia bini gue ngapain sih lu pake marah-marah sama gua?"
"Jangan becanda lu, pake ngaku-ngaku dia bini lu, setahu gua dia kan baru tunangan belum manikah."
Vani tidak terima kalo apa yang di katakan Arga benar, dia tidak rela kalo sahabat nya itu dapet si kulkas empat pintu.
Vani sangat mengenal Arga sejak dulu, dia orang nya cuek bahkan tidak peka dengan orang-orang di sekeliling nya namun yang membuat nya bingung kenapa Kania bisa dekat dengan Arga, bukannya Arga masih mempunyai hubungan dengan Sita itu yang dia tahu akhir-akhir ini.
"Terserah kalo gak percaya," ucap nya melangkah meninggalkan Vani.
Sedangkan Vani hanya mengerucutkan bibir nya, dia mengikuti Arga dari belakanga hingga tak lama kemudian mereka sampai di depan ruang rawat Kania.
Arga membuka pintu, dia tersenyum melihat Kania sedang makan buah di suapi ibu Ayana.
"Sayang ada teman kamu nih," ucap nya dia melupakan kalo Kania tidak mengenali nya.
"Siapa?"
Vani pun mengambulkan kepala nya dia langsung berlari memeluk sahabat nya itu.
"Lu gak papa kan bezb gue sampe jantungan dengar lu kecelakaan," ucap nya membuat Kania menepuk-nepuk punggung sahabat nya itu.
"Gue gak bisa nafas," aku nya.
Vani pun tersenyum sambil melepas pelukan nya."Sorry gua lupa kalo lu sakit," jawab nya.
Sedangkan Kania hanya menggelengkan kepala nya, Ibu Ayana pun beranjak membiarkan kedua sahabat itu berbincang, dia menghampiri suami nya yang duduk di sofa bersama Arga.
Sedangkan Arga nampak bingung apa Kania hanya lupa kepada nya karna semua orang nampak baik-baik saja, bahkan Kania juga mengenali Vani.
__ADS_1