
"Sayang Papa harus ke kantor dulu sebentar, kamu sama Vani dulu dan suami kamu yah nanti Papa kembali lagi ke sini kalo urusan nya udah selesai."
"Ya gak apa-apa kok," jawab nya.
"Ibu juga harus pulang karna Oma kamu gak ada yang nemenin karna suster Anisa sedang tidak masuk hari ini," ujar nya.
Kania pun hanya menganggukan kepala nya, karna dia juga sudah merasa baikan sekarang dia tidak mau merepotkan orang tuanya.
Orang tua Kania pun langsung pergi setelah pamit, kini tinggal mereka bertiga di sana.
Kania nampak ceria saat mendengarkan cerita lucu dari sahabat nya.
Sedangkan Arga merasa kesal karna hanya dia yang Kania tidak ingat, apa jangan-jangan Kania pura-pura lupa lagi sama dia pikirnya.
"Awas aja ya kalo kamu ngerjain aku," batinnya.
Arga berpura-pura memainkan ponsel padahal dia hanya ingin mendengarkan pembicaraan mereka, dan dia juga mencuri-curi pandang pada istrinya itu.
Vani masih terus saja mengajak Kania bicara dia sangat senang sahabat nya itu baik-baik saja, kalo dia tidak memaksa Bara mana mungkin dia bisa tahu kalo Kania ada di rumasakit.
"Gue seneng lu gak papa Nia, untung aja hari ini gak ada metting di kantor kalo ada gue pasti cemas dan gak konsentrasi gua inget terus sama lu takut nya kenapa-napa."
"Makasih udah khawatirin aku, btw kamu sama siapa kesini bukannya mobil kamu masih di bengkel?"
"Naik taxi," jawab nya.
Setelah lama berbincang Vani pun pamit pulang karna sudah lama berbincang, Vani sebenarnya ingin bercerita tentang Axsel namun dia tidak enak karna ada Arga di sana mungkin nanti dia akan bercerita lagi.
Kini tinggal Kania dan Arga yanga ada di sana kecanggungan pun terjadi, Arga berusaha memulai pembicaraan.
"Kamu masih belum ingat siapa aku?"
Kania hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Masa sih kamu lupa sama suamimu yang tampan ini, bukannya kamu sangat mencintaiku yah," godanya.
'Lebay' itu yang ingin keluar dari mulut nya dia ingin seberapa besar usaha Arga membuat nya ingat kepada nya.
Kania memang tidak lupa ingatan dia hanya ingin memberi pelajaran kepada suami nya itu karna dia benar-benar masih kesal dengan suami nya karna sudah meninggalkan nya sendiri, untung saja dia jago bela diri kalo tidak gak tahu deh nasib nya bakalan kaya gimana.
__ADS_1
"Ayolah jangan becanda sayang masa cuma aku doang yang kamu gak ingat, sama Vani dan yang lain nya kamu ingat."
"Maaf mungkin kamu orang asing sehingga aku tidak ingat," jawab nya asal.
"Oke kalo kamu anggap aku orang asing, maka kita mulai dari awal.Gimana?" Arga menarik turunkan alis nya.
"Hah maksudnya?"
"Anggap saja aku pacar mu mungkin setelah kita dekat, kamu bisa mengingatku.Aku tahu kita tidak punya kenangan manis yang harus kamu ingat karna selama ini aku tidak pernah ada waktu untukmu maaf aku suami yang buruk," ucap nya sendu.
Kania nampak kasihan melihat nya dia tidak tega membohongi suami nya itu, hingga tiba-tiba dia merasakan keram dalam perut nya.
"Awww," Kania meringis memegangi perut nya membuat Arga khawatir.
"Kamu kenapa?"
"Perutku sakit," jawab nya.
Arga pun segera memanggil dokter, dia takut istri nya itu kenapa-napa.
Setelah di periksa Kania sudah sedikit mendingan, dia membaringkan tubuhnya menatap suami nya yang sedang berbicara dengan dokter.
"Gimana keadaan istri saya?"
"Istri saya hamil?"
"Benar maka dari itu anda harus membantu menjaga nya karna kandungan nya masih rentan."
Arga pun menggangguk dan Dokter pun keluar dari ruangan itu, setelah itu dia menatap istrinya dengan penuh tanya.
"Aku butuh penjelasan," ucap nya meraih tangan Kania agar wanita itu menatap nya lagi.
Namun Kania tidak berani menatap suaminya dia bingung harus bicara apa.
"Sejak kapan kamu tahu kalo kamu hamil?"
"Tadi setelah aku sadar," jawab nya.
"Terus kenapa gak kasih tahu kabar gembira ini sama aku, apa kamu sengaja nyembunyiin semua ini dari aku?"
__ADS_1
"Apaan sih gak jales kamu Kak, aku lupa belum kasih tahu," jawab nya.
Arga tersenyum sepertinya dia memang sedang di kerjai oleh istri nya itu.
"Kamu kok jadi nyebelin sih sayang, aku tahu kamu cuma pura-pura lupa iya kan?"
Kania memutar bola mata nya malas."Bukan aku yang nyebelin tapi kamu."
"Kok aku sih?"
"Iya kamu kan yang mulai," ucapnya membuat Arga tersenyum dia menangkup kedua pipi Kania agar menatap nya lalu dia mengapit hidung nya.
"Aww sakit, kamu tuh bikin aku kesal terus tahu gak," ucap nya merajuk sedangkan Arga hanya menyunggingkan senyum nya.
"Itu balasan karna udah bohongi suami kamu," ujar nya.
"Aku masih kesal sama Kakak udah ninggalin aku sendiri di sana, untung saja aku gak diapa-apain sama mereka."
"Maksudnya?"
Kania pun menceritakan semua nya sehingga dia bisa sampai seperti ini, dia juga sangat kesal kepada suami nya itu sehingga dia ingin lupa ingatan saja agar bisa melupakan betapa menyabalkan nya suami nya itu.
"Astaga sayang sampe segitu nya, aku mengaku salah aku janji gak akan mengulangi nya. Aku terlalu cemburu melihat kamu bersama Axsel sehingga otak ku tidak bisa berfikir.Aku menyuruh kamu keluar karna aku takut menyakiti mu kamu belum tahu kan sifat asli ku yang sebenarnya kalo sedang marah."
"Tapi aku salah meninggalkan mu, dan aku menyesal dan mencari mu kemana-mana untung saja aku bisa menemukan mu kalo enggak aku gak tahu kedepan nya kalo sampai terlambat memberikan darah ku untukmu," ujarnya.
Kania begitu kaget mendengar nya, dia tidak menyangka kalo Arga akan melakukan hal itu, bisa saja kan dia menghubungi papa nya tadi malam bukan malah dia sendiri yang melakukan nya.
"Makasih banyak, aku gak tahu kalo golongan darah kita sama," ujarnya.
"Apa jangan-jangan kita bersaudara lagi?"
"Jangan ngaco deh, emang kalo darah nya sama berarti punya ikatan ya?"
"Ya buktinya kita emang punya ikatan kan?
"Ya kan beda kita mh suami istri beneran," jawab nya.
"Jadi sekarang ngaku nih udah punya suami?" ucap Arga tersenyum nakal.
__ADS_1
Sedangkan Kania menghela nafas kasar, namun hatinya senang karna Arga sangat mencemaskan nya.
Semoga kedepan nya mereka bisa menyelesaikan masalah dengan kepala yang dingin agar tidak tambah membesar.