Kontrak Nikah

Kontrak Nikah
Part 72


__ADS_3

Farhan mengejar Vani namun dia tidak bisa menemukan nya, dia kehilangan jejak sehingga dia pun memutuskan untuk pulang.


"Semoga Vani tidak bercerita pada ibunya, dan sejak kapan dia ada di sini bukannya di akan menetap di luar kita untuk beberapa bulan, sial sekali nasib ku semoga semua nya baik-baik saja," gumannya.


Farhan melanjutkan perjalanan menuju rumah, namun saat sampai di rumah dia tidak menemukan Vani di sana.


"Papa kok sudah pulang?" tanya Lily istrinya karna tidak biasanya Farhan pulang siang.


"Papa sedikit pusing jadi Papa pulang duluan," bohong nya sambil memijat pelipis nya.


"Ya sudah kalo begitu Papa istirahat nanti Mama buatkan teh hangat," usulnya dan Farhan pun mengangguk.


Farhan pun berjalan gontai menuju kamar nya namun sebelum itu dia melangkah menuju tangga dia ingin melihat apa Vani ada di kamar nya atau tidak.


Saat membuka kamar anak gadis nya ternyata tidak ada di sana dan dia memutuskan untuk kembali kedalam kamar nya.


"Syukurlah ternyata anak itu belum pulang," gumannya sambil mengusap dadanya.


"Papa ini teh nya," ucap Lily membuat Farhan tersadar dari lamunan nya.


Farhan pun tersenyum dan menerima teh hangat yang dibuat oleh istrinya itu.


"Makasih Ma," ungkap nya.


Farhan akan mencari tahu dimana anak gadis nya berada, dia tidak mau Vani bercerita kepada istrinya apa yang terjadi tadi siang.


"Aku harus mencari cara agar Vani tidak membuka suara, bisa gawat kalo Lily tahu dia selingkuh karna semua harta yang dia punya adalah milik istrinya, karna semua peninggalan orang tua Farhan sudqh habis karna di pakai poya-poya oleh adik nya, bukan itu juga semua sisa nya dia pakai untuk membiayai adik nya di rumasakit jiwa.


***


Arga pun sudah pulang tidak seperti biasanya Arga pulang lebih cepat membuat Kania sedikit heran.


"By tumben pulang cepat," ucap nya sambil mengambil alis tas nya tak lupa mencium tangan suami nya.


"Gak boleh ya?"


"Ya boleh dong, aku malah senang karna di rumah jadi ada teman, ayo masuk aku siapkan air untuk mandi ya," ucap nya sambil tersenyum.


"Gak usah nanti pake shower saja," jawab nya.

__ADS_1


Mereka melangkan menuju kamar yang ada di lantai 2, Kania dengan telaten menemani suami nya mandi, entah mengapa semakin hari Arga semakin manja padanya.


"Gak mandi sekalian? kenapa cuma menyimpan handuk saja?" tanya Arga sambil menaik turun kan alis nya menggoda.


"Aku udah mandi By, gak udah godain deh," ucap nya meletakan handuk di tangan suami nya.


Kini mereka sudah selesai mandi, Kania duduk di sofa sambil membantu mengeringkan rambut suami nya.


"Tadi jadi bertemu Vani?"


"Jadi tapi cuma bentar ada yang aneh-


"Maksudnya?"


"Entahlah, oya apa Bara masih bekerja di kantor?" tanya Kania membuat Arga mengerutkan dahinya kenapa Kania menanyakan Bara.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, tentu saja dia masih bekerja membantu Papa apalagi sekarang perusahaan Papa sedang kolef membuat Bara harus terus lembur," jawab nya mengatakan apa adanya karna tidak mungkin dia merahasiakan keadaan perusahaan.


"Bukannya perusahaan papa baik-baik saja? terus kenapa sekarang malah ada masalah?" Kania melupakan tujuan nya dia malah tertarik dengan masalah yang terjadi di perusahaan.


"Cerita nya panjang, nanti aku cerita tapi sebelum itu kita makan malam dulu oke," ajak nya.


Mereka pun makan malam bersama dengan menu yang di buat oleh Kania, Arga sangat menyukai masakan istrinya itu karna rasanya memang enak.


"By katanya mau cerita," ucap nya kini mereka sedang duduk di depan televisi.


Arga pun menceritakan semua nya agar Kania tahu semua nya.


"Apa karna perjodohan itu sehingga Om Wijaya marah dan melampiaskan kepada perusahaan?"


"Entah lah yang jelas On Wijaya sudah keterlaluan," jawab nya.


Kania pun ikut sedih mendengar nya,walau bagaimana pun dia sangat menyanyangi mertua nya itu, mereka orang yang baik.


"Apa Mama tahu?" Kania tidak ingin ibu mertua nya sedih bila tahu.


Arga menggelengkan kepala nya mereka sengaja merahasiakan semua nya agar Mama Maya tidak tahu yang sebenarnya terjadi.


***

__ADS_1


Di sisi lain Vani masih saja diam dia masih tidak mau bicara, sejak tadi dia tidak berhenti menangis sehingga Bara pun tidak tega untuk meninggalkan nya.


"Makan dulu ya kasian bayi kita pasti laper," bujuk nya namun Vani hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayolah sayang aku tahu kamu sedih tapi jangan menyiksa diri seperti ini, ingat ada aku yang sayang sama kamu."


Vani pun lantas mengeratkan pelukan nya entah apa yang akan terjadi bila tidak ada Bara di samping nya.


Bara cukup sabar menghadapi sikap nya yang berubah-ubah dan manja, karna Bara tahu Vani memang sangat membutuhkan perhatian dari nya.


Dan dia pun tidak pernah mempermasalahkan itu, walau pun sikap nya yang dulu sangat tengil dan pecicilan namun setelah menikah dengan Vani sifat nya berubah menjadi lebih dewasa.


"Makasih ya udah mau nerima aku yang cengeng ini," ucap nya.


"Gak perlu berterimakasih sayang karna aku benar-benar mencintaimu apa ada nya bukan ada apanya, udah ya sedih nya ayo makan dulu aku udah bikinin nasi goreng spesial kesukaan kamu," ucap nya.


Vani tersenyum ternyata suami nya masih ingat kalo dia sangat menyukai nasi goreng buatan suami nya itu.


Bara dengan telaten menyuapi nya hingga satu piring nasi goreng pun habis.


"Jangan lupa minum susu nya ya," ucap nya mengelus rambut Vani pelan.


"Terimakasih Tuhan sudah mengirimkan malaikat tak bersayap kepadaku semoga kebahagian ini abadi," batinnya.


Vani pun menurut saja dia menghabiskan satu gelas susu hamil nya, membuat Bara tersenyum senang.


"Istirahat ya aku ada sedikit pekerjaan dan harus segera menyelesaikan nya kamu tidur gak boleh banyak pikiran," ucap nya saat mereka sudah sampai di kamar.


"Aku gak mau di tinggal sendiri," jawab nya sambil mengeratkan pelukan nya.


Bara pun tersenyum sambil membantu Vani merebahkan tubuh nya di tempat tidur dia akan menemaninya sampai tidur, mungkin kalo Vani sudah tidur dia bisa mulai bekerja.


"Aku temani sampai kamu tidur ya," ucap nya dan Vani pun mengangguk setuju.


Bara terus mengelus kepala istrinya agar cepat tertidur, dan benar saja terdengar nafas istrinya sudah mulai teratur.


Jujur saja dia pun lelah dengan pekerjaan nya yang menumpuk namun dia jug tidak bisa membiarkan istrinya sendiri.


Setelah melihat Vani terlelap dia memulai pekerjaan nya hingga tidak terasa waktu berjalan cepat jam 1 malam dia baru saja selesai mengerjakan nya.

__ADS_1


__ADS_2