
Beberapa jam Kania mengurung diri di kamar dia menumpahkan semua kesedihan nya dia benar-benar benci dengan semua ini kenapa harus Bagas yang menjadi ayah kandung nya.
"Kenapa ibu tega melakukan itu padaku, kenapa?"
Kania duduk bersandar di pintu kamar diw memeluk lutut nya dan menangis menumpahkan kekesalan nya hingga tak terasa dia tertidur dengan posisi yang sama.
Sedangkan Arga baru saja keluar dari kamar mandi dia sudah segar dia pun keluar kamar menunggu kania keluar dari kamar duduk di sofa depan kamar nya Arga benar-benar cemas melihat pintu kamar masih tertutup.
Hingga tak terasa dia pun terlelap di sofa namun baru saja terlelap dia terdengar bunyi kunci di buka dan pintu pun terbuka terlihat wajah Kania sudah seger seperti nya dia sudah mandi meski mata nya terlihat sebab tapi Kania tidak menunjukan kesedihan nya.
"Kakak ngapain tidur di sini?" tanya Kania bingung melihat Arga di depan kamar nya.
Arga nampak tersenyum melihat Kania kembali membaik lalu dia berdiri di hadapan nya."Kamu gak papa kan aku takut kamu berbuat yang aneh-aneh," ujar nya menggaruk belakang kepala nya dia merasa malu mengatakan hal itu padanya.
Kania pun tersenyum kecil ternyata Arga sedikit perhatian pada nya, dia merasa tersentuh meski Arga cuma bertanya seperti itu.
Hati nya benar-benar sangat buruk hari ini apalagi dia masih seperti mimpi bisa belum bisa menerima kenyataan yang ada.
Dan dia juga tidak terima dengan alasan mereka dia benar-benar kecewa.
"Aku kuat kak jadi jangan pernah menghawatirkan ku o-ya apa kakak sudah makan malam, aku laper mau makan," Kania pun mengelihkan pembicaraan nya dia malu jika Arga membahas keluarga nya.
Ya dari tadi dia menangis sehingga membuat perut nya berbunyi apalagi Kania hanya makan siang saja itu pun sedikit, jadi dia memutuskan untuk mencari makanan pengganjal perut.
"Aku juga belum makan apa kamu mau mengajak ku makan diluar?" Arga pun lantas mengikuti Kania menuruni tangga.
Kania pun tersenyum mendengar pertanyaan konyol dari suami nya itu, lalu dia menggelegkan kepala nya mau makan dimana jam segini udah jam 11 malam.
"Aku mau buat makanan mungkin di dalam kulkas ada makanan yang bisa di makan, toh mau keluar pun sudah tengah malam."
__ADS_1
Mereka pun sampai di dapur Kania lupa kalo dia tidak masak, dengan malas Kania mengambil mie instan di dalam lemari dan menawari Arga karna kalo masak pasti lama apalagi ini sudah malam.
"Aku mau bikin ini, apa kakak mau?" Kania menunjukan Mie di tangan nya, Arga melebarkan matanya saat melihat itu dia tidak menyangka kalo Kania menyukai makanan itu.
Dari dulu Mama Maya sangat menjaga makanan nya mana bisa dia makan yang begituan, Arga memang menaati hidup sehat sejak dulu dan gak pernah makan yang aneh-aneh
"Mie instant?"
Kania pun mengangguk sedangkan Arga nampak mengerutkan kening nya dia juga lapar namun dia belum pernah makan mie seperti itu dia takut perut nya tidak bisa menerimanya.
"Iya emang kenapa sih? jangan bilang belum pernah nyoba?" Dan Arga pun menggelengkan kepala nya.
Kania pun teringat saat dulu masih ada Mama Anita, dia pasti harus sembunyi-sembunyi kalo makan itu karna mereka pun tak mengizinkan nya makan mie.
"Kalo mau aku bikinin, tapi kalo enggak mau gak papa kakak bisa bikin apapun yang kakak mau," Kania mulai menyalakan kompor dan mulai merebus air.
Tangan nya juga gesit mengambil sawi, telur dan daun bawang dia mengiris sayuran itu tak lupa cabe rawit sebagai pelengkap karna Kania memang sangat suka pedas.
Kania sendiri tersenyum mendengar nya, dia tahu Arga lapar ya sudah biarkan saja kalo dia tidak mau yang penting perut nya kenyang, tapi kasihan juga di sana tidak ada apa-apa untuk dimakan karna Kania belum belanja bulanan.
Kania pun meletakan mie dalam mangkuk bersama telur dan yang lain nya wangi sedap pun menyeruak di sana.
Arga pun menatap mie yang masih berasap itu penasaran dengan rasanya, namun dia malu untuk meminta Kania membuatkan nya.
"Mau gak kalo enggak aku makan sendiri dan gak jadi bikinin."
Arga pun akhirnya setuju dan Kania pun kembali menyalakan kompor dan membuat kan mi untuk suaminya.
"Ya udah bikinin aku yang kaya gini, tapi cabe nya gak usah banyak-banyak aku gak suka terlalu pedas."
__ADS_1
Akhirnya Arga meminta Kania untuk di buatkan satu mangkuk yang sama setelah menyicipi milik Kania ternyata enak juga namun itu terlalu pedas baginya.
Kania pun tersenyum dan menyiapkan untuk suami nya itu jujur saja mood nya kembali membaik.
Mereka pun makan dengan lahap sambil sesekali mereka bercerita, itu adalah momen yang langka bagi Kania dimana Arga bisa juga bersikap manja kepadanya.
Namun senyum nya kembali hilang saat mengingat mereka akan berpisah, namun dia harus tegar semua memang tidak harus sesuai prediksi.
Kania teringat akan ucapan orang tua kandung nya, dia akan berusaha menerima mereka toh semua sudah terjadi jadi dia bisa apa.
Dia merasa tidak enak dengan suaminnya itu seharus nya Arga tidak perlu tahu tentang semua ini, apalagi status mereka yang sebentar lagi akan berubah.
"Maaf ya Kak untuk masalah yang tadi, kakak jadi harus tahu tentang hidup ku."
Arga yang mendengar itu pun langsung menatap istri nya itu dia menuduk namun kecantikan nya tidak berkurang, Arga jadi semakin yakin untuk memperbaiki semua nya dia tidak mau Kania pergi begitu saja.
"Tidak perlu minta maaf toh aku kan suami kamu dan memang seharus nya sepeti itu kan aku tahu semua tentang mu."
Kania mengangkat kepala nya dia menatap pria yang menyebunya suami itu, ada rasa hangat yang menjalar dalam dadanya.
Apa mungkin Arga sama seperti dirinya yang ingin meneruskan pernikahan ini seperti pasangan pada umum nya, atau itu cuma perasaan nya saja.
"Ya sudah kalo begitu aku mau tidur."
Kania pun beranjak dari duduk nya, namun tangan nya di cekal oleh Arga sehingga dia mengurungkan niat nya.
"Tungga Nia!"
"Ada apa?"
__ADS_1
Kania bingung apa lagi yang Arga mau bukannya mereka sudah selesai bicara?