
Kania akhirnya sampai di depan ruang rawat Dita, dia bisa melihat wajah cantik itu berbaring di atas tempat tidur pasien dengan wajah yang pucat.
"Nak Andres akhirnya datang juga sama siapa?" tanya Mama nya Dita sedikit tidak suka melihat Andres datang bersama wanita.
"Ini temen saya tante nama nya Kania, bagaimana keadaan Dita?" tanya Andres sedikit khawatir melihat calon istrinya itu.
"Sudah membaik, silahkan duduk dulu Dita baru saja tidur habis minum obat dia," ucap nya dan Andres pun mengangguk.
Ibu nya Dita sedari tadi terus saja memperhatikan Kania dari atas hingga bawah membuat sang empu nya risih.
Tiba-tiba ponsel Andres berdering terlihat nama kepala sekolah yang menghubungi nya Andres pun meminta izin keluar dari ruangan itu.
"Maaf Tante, saya angkat telepon dulu sebentar," ujar nya dan Mama nya Dita pun mengangguk.
"Aku ke luar dulu ya kamu tunggu di sini sebentar," ucap Andres dan Kania pun mengangguk.
Setelah Andres keluar suasana di dalam ruang rawat itu hening dan tiba-tiba ibu itu berkata yang tidak-tidak tentang Kania.
"Saya harap kamu bisa meninggalkan Andres dan jangan dekati dia lagi, karna dia akan menikah dengan anak saya minggu depan.Saya tidak mau anak saya seperti ini lagi," ucap nya membuat Kania heran apa maksud nya.
Apa mungkin Ibu itu salah paham pada nya tentang hubunganan nya dengan Andres, bukan kah Andres sudah menyetujui pernikahan nya kenapa jadi dia yang di salahkan.
"Maksud Tante apa yah?" tanya Kania ingin memastikan kalo Ibu nya Dita itu tidak salah mengira.
"Ckk kamu jangan pura-pura bodoh ya, Dita tadi ke sekolah mau mengantarkan makanan untuk Andres namun saat sampai di sana dia melihat Andres sedang berduaan dengan seorang wanita, pasti itu kamu kan orang nya?" tanya nya sedikit emosi dia benar-benar kesal dengan Kania yang terlihat lugu dan sok polos.
"Iya emang itu saya emang kenapa, kami hanya ngobol tidak melakukan hal yang aneh-aneh," jawab nya, bukannya tenang ibu itu malah semakin kesal dengan Kania.
'Dasar wanita ****** tidak tahu malu bisa-bisa nya dia tetap tenang setelah menbuat anak ku seperti ini, ' batinnya.
__ADS_1
"Yang kalian lakukan itu salah kamu liat Dita dia sakit karna melihat kalian berduaan," ujar nya.
Kania pun akhirnya mengerti lalu dia tersenyum membuat ibu itu heran, bisa-bisa nya Kania santai seperti ini bahkan bisa tersenyum juga atau Kania sengaja ingin menggagalkan pernikahan mereka dengan membuat Dita begini.
"Aku sama Kak Andres tidak ada hubungan apa-apa kami hanya rekan kerja Kak Andres hanya menganggap ku sebagai adik dan begitu juga aku, aku menganggap nya sebagai saudara karna aku pun sama tak mempunyai saudara," jawab nya tersenyum.
Ibu itu pun menggelengkan kepala nya tidak percaya dengan apa yang Kania katakan.
"Saya tidak percaya karana biasa nya dari hubungan itu bisa hadir butir-butir cinta apalagi kalian bekerja di satu tempat yang sama, tak menutup kemungkinan kalian nanti akan ada hubungan asamara," ucap nya membuat Kania terbahak.
Kania pun mengusap pelan tangan Ibu itu sambil tersenyum namun dia serius kali ini."Ibu itu terlalu berlebihan saya tidak pernah berniat seperti itu, ibu lihat ini saya sudah menikah dan saya sangat mencintai suami saya," ucap nya menunjukan cincin pernikahan di jari nya.
Ibu itu melebarkan mata nya dia tidak menyangka kalo Kania benar-benar sudah menikah, namun Kania juga tidak mungkin berbohong karna benar itu seperti cincin pernikahan.
"Apa kamu tidak bohong nak?" tanya ibu itu sedikit melunak dia berkaca-kaca merasa bersalah karna sudah menuduh Kania macam-macam dan sudah berprasangkan buruk kepada nya.
Andres sedari tadi menguping di depan pintu dia ingin masuk namun sungkan sehingga dia lebih baik berdiri dulu di luar, membiarkan calon mertua nya yang sedang berbicara dengan Kania.
Dia sangat senang Kania bisa menjelaskan semua nya, karna semua yang terjadi hanya lah salah paham semata.
Andres sudah melihat ketidak sukaan calon mertua nya itu saat datang kesana, terlihat sekali kalo ibu itu tak menyukai Kania.
Selain Andres ternyata Dita pun sudah terbangun dan mendengarkan pembicaraan mereka, Dita benar-benar sangat bersalah karna sudah menuduh Kania macam-macam dan berprasangka buruk pada nya tanpa bertanya lebih dulu.
Dita memang mempunyai penyakit kecemasan yang lumayan parah jadi kalo dia terlalu cemas pasti dia akan langsung kambuh dan lemas.
"Maafkan Tante Kania, tante sudah berpikir macam-macam sama kamu," ujar nya.
Kania pun tersenyum dan memeluk wanita paruh baya itu."Tidak usah minta maaf tante gak salah kok, emang kita harus waspada kan sebelum melakukan sesuatu.Aku tahu tante ingin yang terbaik untuk Kak Dita," ucap nya mengelus pundak nya.
__ADS_1
Terlihat wanita itu sedikit terisak, ternyata Kania wanita yang baik dan mengerti dengan keadaan ini.
"Terimakasih Kania kamu memang anak yang baik," ujar nya membalas pelukan Kania.
Setelah melepas pelukan nya Kania memberikan tisu yang ada di meja.
Di saat itu pintu ruangan rawat terbuka, terlihat Andres berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa kok tante nangis?" tanya Andres pura-pura tidak tahu.
Andres hanya tidak mau mereka canggung kalo tahu diri nya mendengar pembicaraan mereka.
"Tante cuma kelilipan," jawab nya tersenyum, lantas Andres pun menghampiri Dita yang mulai membuka mata nya.
"Kamu sudah sadar? gimana keadaanmu apa ada yang sakit?" tanya Andres menggenggam tangan Dita dan mengusap nya pelan.
"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah datang," ucap nya tersenyum.
Kania dan ibu itu masih duduk di sofa membiarkan Andres yang menemani Dita ngobrol.
"Kania," panggil nya membuat Andres mengerutkan kening nya kenapa Dita bisa kenal dengan Kania.
Kania pun berdiri menghampiri Dita yang berusaha duduk di bantu Andres.
"Kamu panggil saya?" tanya Kania menatap wanita itu, rasanya dia pernah bertemu dengan nya namun dimana yah pikir nya.
"Kania lo Kania Zahira Smitt kan anak nya tante Anita sama Om Bagas," ujar nya membuat Kania melebarkan matanya.
Siapa sebenarnya Dita ini kenapa tahu nama panjang nya dan nama orang tua nya, karna teman-teman nya hanya tahu kalo Bu Aisyah saja.
__ADS_1