
"Ngapain lu ada di sini, gak mungkin kan mu belanja ini kan masih jam kerja?" tanya Kania heran melihat sahabat nya itu.
Setelah berhenti mengajar karate Arsen kini sibuk membantu ibu nya mengurus perusahaan karna semenjak kakak nya menikah Arsen lah yang menjadi pemimpin nya.
"Gua habis ketemu klien, udah lama nih gak ketemu kangen banget rasanya gua sama lu," ucap nya sambil mengacak ngacak rambut Kania membuat wanita itu menggeram kesal.
"Astaga kebiasaan, kalo Mas Arga liat bisa patah tangan lu," ucap nya membuat Arsen terkekeh.
"Sorry gua lupa kalo lu udah nikah Ka habis tiap kali kita ketemu pasti lu gak lagi sama laki lu, nih pipi tambah caby gemas banget gua liat nya," ucap Arsen terkekeh sedangkan Kania hanya memutar bola mata nya malas.
"Eh siapa nih cantik banget?" tanya Arsen menaik turunkan alis nya, melihat gadis cantik di samping sahabatnya itu.
Mata Arsen tak bisa lepas dari gadis itu, entah mengapa Ia sangat tertarik ingin mengenal lebih jauh ya siapa tahu jodoh itu pikiran nya.
Sedangkan Nabila nampak risih di pandang seperti ini gadis itu tidak tertarik kenal dengan pemuda itu, Arsen memang seumuran dengan Kania jadi kalo di banding dengan Marvin jelas saja berbeda jauh.
"Dia calon adik ipar gua," jawab Kania asal dan itu membuat Arsen menggelengkan kepalanya.
Arsen kaget mendengar hal itu namun Ia berusaha menetralkan perasaan nya, berarti dia harus bersaing dengan bocah itu yaitu Marvin.
Sedangkan Nabila tidak menyangkal nya biarkan saja orang berfikir kalo mereka pacaran yang jelas Ia sedang tidak ingin di ganggu apalagi dengan orang seperti Arsen.
Yang jelas jelas bukan tife nya sama sekali, Arsen terlihat dewasa dengan jas hitam yang di pakai nya, seperti nya pria itu baru saja bertemu dengan klien nya di sana karna penampilan nya sangat rapi.
Arsen terus memperhatikan gadis cantik itu dari atas sampai bawah Ia sangat tertarik sekali, tapi mana mungkin gadis itu pacar nya Marvin si cowok kaku itu.
'Gue harus bisa rebut dia dari Marvin. masa gua kalah sama bocah tengik itu," batinnya.
Entah mengapa Arsen tidak ingin melepaskan gadis manis yang berwajah jutek itu dan bukannya kesal Arsen malah gemas melihat nya.
"Wooy malah melamun," ucap Kania membuat Arsen tersadar dari lamunan nya.
__ADS_1
"Ah enggak kok gua cuma lagi mikir pasti lu bercanda kan Ka?"ucap Arsen tidak percaya namun kali ini sepertinya Kania serius dengan ucapan nya.
"Gua serius, Bil kenalin ini Arsen sahabat Kaka dia sama seperti Kakak mengajar tekaudo dan juga karate, tapi Ia juga anak seorang pengusaha," ucap Kania mengenal kan Arsen pada Nabila siapa tahu saja Nabila tertarik karna Nabila bilang Ia dan Marvin hanya bersahabat.
Siapa tahu saja besok besok Ia tertarik dengan Arsen, kasian sahabatnya itu sudah lama menjomlo. Mungkin itu hukuman bai pria itu karna selalu membuat wanita patahati.
"Dan Arsen kenalkan ini Nabila calon nya Marvin jadi jangan coba coba lu deketin dia," ucap Kania memperingati karna Ia tahu bagaimana sahabat nya itu. jika Ia penasaran dengan seorang wanita pasti Ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan nya.
"Oke, tapi bisa kan kita berteman?" tanya Arsen.
Nabila melirik Kania seolah bertanya namun Kania hanya menaikan bahu nya tidak tahu.
"Boleh," jawab Nabila ketus dan senyuman manis pun terukir di bibir Arsen.
"Ya sudah kalo begitu bagaimana kalo kita makan sebagai pertemanan kita, gua yang teraktir deh," pinta nya namun Nabila yang benar benar tidak nyaman pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kania menyadari kalo Nabila tidak nyaman di sana dan Ia pun terpaksa harus segera mengusir Arsen dari sana.
"Oh ya sudah kalo begitu gua pamit dulu, sampai bertemu lagi manis," ucap Arsen mengedipkan sebelah mata nya membuat Nabila geli.
Arsen pun lantas meninggalkan mereka, sedangkan Kania hanya tersenyum melihat kelakuan sahabat nya itu, jujur saja Arsen memang orang nya sok akrab jadi tak sulit baginya mendapatkan teman kencan.
Nabila hanya diam bingung dengan apa yang Kania katakan, mana mungkin Marvin ada di sana pasti kan Marvin masih bekarja jam segini pikir nya.
Lantas Nabila pun bertanya setelah beberapa saat dia, Ia ingin memastikan kalo perkataan Kania itu tidak benar.
"Memang nya Marvin ada di sini ya kak?" tanya Nabila.
Kania menatap Nabila sambil tersenyum lalu Ia menggelengkan kepalanya.
"Kakak bohong, maaf ya kalo gak gitu Arsen pasti akan terus godain kamu," ucap Kania dan Nabila pun mengangguk lesu.
__ADS_1
Entah mengapa Ia sedikit kecewa, jujur Ia berharap Marvin datang dan menemani mereka jalan jalan, karna sudah beberapa hari ini Ia tidak bertemu dengan pemuda itu karna memang Marvin sedang ada di luar kota.
Bagas memang menugas kan Marvin mengurus proyek nya di sana sehingga Marvin harus meninggalkan Nabila sendiri di apartemant nya.
Selama di luar kota Marvin jarang sekali menghubungi Nabila karna sinyal di tempat itu sangat buruk sehingga mereka tidak bisa saling menghubungi.
"Ayo pulang," ajak Kania
Nabila hanya mengangukan kepalanya sambil tersenyum Ia berjalan di belakang mengikuti Kania, gadis itu sedikit melamun entah apa yang ada di pikiran nya.
"Bil, Kakak kalian ternyata di sini," teriak seseorang membuat Nabila tersadar dari lamunan nya dan menoleh ke arah suara itu karna Ia sangat merindukan suara itu.
"Marvin," ucap nya lirih.
Nabila mengucek mata nya Ia merasa kalo itu hanya halusinasi saja,karna gak mungkin kan Marvin ada di sana.
"Kok kamu tahu kami di sini?" tanya Kania, sedangkan Marvin hanya diam menatap Nabila yang diam seperti patung.
"Bil lu kenapa?" tanya Marvin mengguncangkan bahu Nabila, membuat Nabila sadar lalu replek memeluk Marvin. sungguh Ia sangat merindukan pemuda itu.
"Vin, ini beneran lu kan?" tanya Nabila melepaskan pelukan nya.
"Ya iya lah emang siapa lagi? lu kenapa kok malah melamun kesambet baru tahu rasa lu," ucap Marvin gemas lalu mencubit kedua pipi Nabila pelan.
"Aww.. sakit tahu, lu tuh ya kebiasaan banget," ucap Nabila mengerucutkan bibir nya.
Sedangkan Marvin hanya terkekeh begitu juga dengan Kania, Kania merasa mereka saling suka namun gengsi untuk mengungkap kan nya.
"So sweet banget sih kalian," ucap Kania membuat pipi Nabila memerah.
"Apaan sih kak," ucap nya sedangkan Marvin hanya tersenyum.
__ADS_1