
"Sayang maafin aku ya, setiap kali aku cemburu pasti kamu berujung di rumasakit," ucap Arga mengusap air matanya yang jatuh begitu saja.
Ia menatap wajah sang istri yang nampak pucat dengan selang infus menacap di tangan nya dan juga perban di dahi nya, ini bukan kali pertama nya Kania terluka karna dia beberapa bulan yang lalu pun sama saat Ia cemburu Ia meninggalkan Kania hingga Kania tertabrak mobil dan masuk rumasakit dan sekarang karna dalam keadaan emosi Ia meminta Kania pergi hingga membuat Kania kecelakaan.
-flasback-
Satu jam yang lalu polisi menelponnya kalo mobil dengan palt nomen itu mengalami kecelakaan polisi juga mengatakan kalo mobil itu atas nama Kania.
Sontak saja Arga berlari keluar rumah memastikan kalo itu benar mobil sang istri, Arga pun mulai di hinggapi rasa bersalah.
"Tidak.. tidak mungkin Kania," gumannya.
Lantas Arga pun segera ke tempat yang pak polisi katakan tadi, benar saja saat sampai di sana mobil sudah di derek sedikit mundur.
Mobil itu benar milik Kania dan sudah rusak bagian depan nya sedangkan pintu depan sudah terbuka lantas dimana Kania pikir nya.
"Maaf pak Kania nya mana apa sudah di bawa ke rumasakit?" tanya Arga benar benar khawatir.
"Maaf pak kami ke sini mobil sudah kosong," ucap Pak polisi membuat Arga frustasi kemana Ia harus mencari sang istri.
"Lalu siapa yang menghubungi kalian?" tanya Arga penasaran jangan jangan Kania di culik dan mereka lah yang menelpon polisi untuk membawa mobil Kania.
"Seorang wanita ini nomer nya," ucap polisi itu menunjukan nomer ponsel pada Arga."Siapa tahu itu nomer korban," lanjut nya.
Dan Arga pun mengangguk Ia yakin kalo Kania lah yang menghubungi polisi lantas dimana Kania sekarang pikir nya.
Arga pun menghubungi ponsel Kania namun suara ponsel terdengar di dalam mobil.
"Ahh sial kenapa Kania tidak membawa ponsel nya, apa jangan jangan dia sengaja meninggalkan ini," gumannya.
"Sebaik nya bapak cari korban ke rumasakit terdekat mungkin saja ada yang menolong korban sebelum kami datang," ucap polisi itu dan Arga pun mengangguk.
"Terimakasih banyak Pak," ucap nya dan Pak polisi itu mengangguk lantas pamit undur diri.
Mobil Kania sendiri di derek ke bengkel terdekat untuk di perbaiki.
Arga pun mengemudikan mobil nya menuju rumasakit terdekat namun tidak ada Kania di sana, lantas Ia pun mencari lagi rumasakit dan sampai lah Ia di runasakit pusat kota Ia berharap Kania ada di sana.
Arga pun masuk namun tetap tidak ada nama Kania di sana.
__ADS_1
"Sial sebenarnya kamu dimana sayang," guman Arga sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
"Om Arga," ucap bocah laki laki itu.
Arga pun menoleh mengingat siapa bocah itu."Nizam?" ucap Arga sedikit mengingat nya karna Kania pernah beberapa kali mengajak nya nonton pertandingan Nizam.
"Om masih kenal aku?" tanya Nizam berbinar.
"Kamu Nizam anak didiknya Kania kan," ucap Arga dan Nizam pun mengangguk.
"Iya Om," jawab nya.
"Sedang apa di sini?" tanya Arga heran melihat bocah itu ada di sana.
"Itu saya...
"Nizam ayo pulang nak," ajak Ibu nya.
"Bentar bu, ini suami nya bu Kania," ucap Nizam membuat ibu itu sedikit tenang karna suami nya Kania sudah datang.
"Oh syukurlah anda sudah datang, bu Kania ada di ruang Mawar no 10," ucap ibu itu.
"Apa kalian yang membawa Kania kesini?" tanya Arga.
"Iya, tadi bu Kania pingsan di taman kota," jawab ibu itu.
Arga pun sangat berterimakasih pada mereka meskipun dalam hatinya terus bertanya kenapa Kania bisa sampai di sana, tempat itu kan lumayan jauh dari tempat kecelakaan, entah lah hanya Kania ung tahu.
-Flasback off-
Arga pun akhirnya tertidur di kursi Ia manyandarkan kepalanya pada ranjang, jujur saja Ia sangat lelah sekali seharian bekerja di tambah karna kecemburuan nya sehingga Ia hilang akal.
Kania mengerjapkan matanya saat merasakan pegal di tangan nya, Ia pun lantas melebarkan matanya melihat suami nya yang tertidur lelap.
"Sejak kapan Kak Arga ada di sini," batinnya.
Kania pun menarik pelan tangan nya yang terasa kebas Ia pun bangkit dan membuka infusan nya pelan.
"Awww," ringisnya pelan sambil mengusap darah yang muncrat sedikit dengan tisu.
__ADS_1
Ia lantas bangun dari ranjang, namun pergerakan ranjang membuat Arga terbangun Ia langsung berdiri membantu Kania yang kesukitan berjalan.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Arga ingin membantu Kania dengan memapah nya namun Kania berusaha melepaskan nya.
"Lepas aku bisa sendiri," ucap nya menepis tangan Arga agar tidak menyentuh nya.
Arga pun tak sengaja melihat darah berceceran di lantai membuat nya bingung, lantas Ia pun melebarkan matanya melihat infus yang sudah terlepas.
"Sayang kenapa kamu copot infusan nya?" tanya Arga Ia langsung memencet tombol darurat agar suster membantu nya.
"Jangan urusi urusan ku pergi sana jangan ganggu aku," ucap Kania ketus.
"Sayang aku minta maaf aku salah aku khilaf, jangan marah lagi ya kasian bayi kita nanti sedih liat papa mama nya berantem," ucap Arga berusaha menenangkn istrinya yang sedang merajuk.
Suster pun datang membantu Kania memasang infus nya, namun Kania nampak diam saja tidak berkata apa membuat Arga semakin bersalah.
"Jangan lupa sarapan dan minum obat nya ya bu," ucap suster meletakan makanan di atas nakas dan juga obat nya.
Semalam Arga memindahkan Kania ke ruang VIP agar Kania bisa sedikit nyaman, karna saat Ia datang Kania masih di tempatkan di ruangan umum yang harus berdesakan dengan pasien lain.
"Kapan saya bisa pulang sus?" tanya Kania.
"Nanti ya bu setelah di periksa oleh dokter," ucap suster itu dan Kania pun mengangguk.
Kania hanya menatap kosong ke arah jendela rasanya tidak betah di sana, tiba tiba saja Ia merindukan kasur empuk nya.
"Sayang makan ya biar cepat sembuh," bujuk Arga namun sepertinya Kania tidak nafsu makan.
"Aku tidak mau," jawab nya.
Arga pun terus membujuk nya namun wanita itu sangat keras kepala, akhirnya Arga pun memberitahukan mertua dan orang tua nya kalo Kania ada di sana.
Tak sama kemudian orang tua Kania pun datang mereka nampak cemas saat melihat kondisi Kania.
"Sayang kenapa bisa seperti ini, apa yang terjadi nak?" tanya Bu Ayana mengusap tangan Kania pelan.
"Gak papa kok bu, cuma kecelakaan ringan ada kucing lewat jadi malah gak sengaja nabrak tugu," bohong nya.
"Tapi gak ada luka serius kan?" tanya Papa Bagas dan Kania pun hanya menggeleng lemah.
__ADS_1