
Mereka pun sampai di kamar Vani yang ada di lantai 2.
"Loe nginep di sini dong, dah lama kan kita gak ngobrol-ngobrol," ujar Vani duduk di sofa.
Sedangkan Kania merebahakan tubuhnya di kasur dia benar-benar lelah sekali hari ini.
"Gue numpang tidur bentar ya gue cape banget," ujarnya memejamkan matanya.
Vani pun berdecak kesal memang sudah tidak aneh setiap kali kesana pasti Kania numpang tidur saja padahal Vani ingin cerita banyak kepadanya.
"Kebiasaan emang loe kenapa loe gak kerja di perusahaan bokap gue aja mungpung ada lowongan, dari pada kerja tapi gaji nya gak seberapa," ucap nya menyarankan.
Dari dulu dia selalu mengajak nya pindah namun Kania selalu saja menolak nya, padahal gaji di kantor papa nya cukup besar dan juga Kania cukup pintar dia bisa mendapatkan jabatan yang bagus di sana.
"Males ahh tahu sendiri gue males mikir," canda nya sambil tertawa.
Emang itu alasan nya dari dulu males mikir padahal kerja yang sekarang juga pasti dia cape dab banyak pikiran.
"Emang loe ya di ajak sukses gak mau,pengen nya susah terus hidup loe," ejek nya membuat Kania terbahak.
Emang sahabat nya itu kalo ngomong seenak jidat nya aja, gak pernah di saring dulu.
"Gue udah nyaman sama pekerjaan gue Van, loe tahu sendiri kan selain mengajar anak-anak gue juga bisa mencurahkan kasih sayang gue ke mereka," jawab nya sambil tersenyum.
Kania memang mencintai pekerjaan nya dia sudah nyaman seperti itu.
"Kenapa loe gak cari aja duda kaya yang punya anak kecil, loe bisa asuh anak tiri loe dan loe gak perlu kerja," usul nya sambil menerawang Kania menikah dengan seorang duda dan punya anak lalu dia terbahak.
"Sialan loe emang," ujar Kania menimpuk sahabat nya itu dengan bantal.
Vani semakin terbahak sambil menahan wajah nya agar tidak terkena bantal yang di lempar Kania.
Lalu Vani ingat dengan Kakak nya yang sedari dulu mencintao sahabat nya itu, namun Kania seperti nya tak mengharapkan nya.
"Abang gue juga masih berharap tahu gak sama loe, lagian kenapa sih kalian meski putus segala?" tanya Vani heran mengingat beberapa tahun lalu.
Kania dulu pernah dekat dengan Fadlan kakak kandung nya Vani yang sekarang menjadi CEO di perusahaan nya sendiri.
__ADS_1
Namun mereka harus putus gat tahu kenapa Kania memutuskan hubungan nya secara sepihak.
"Udah ahh gak usah bahas itu, lagian itu udah lama banget gue aja lupa," jawab nya malas sekali bahas nya pikir nya.
Dulu waktu Kania SMA mereka pernah dekat, namun saat itu Fadli harus menyelesaikan S2 nya di luar negri jadi mereka sepakat untuk putus.
Sampai sekarang Kania tidak pernah lagi mempunyai kekasih atau pun teman yang menurut nya spesial karna Kania takut sakit hati bila nanti keluarga pria yang mencintainya tak bisa menerimanya.
Setelah bercanda Kania pun terlelap di kasur Vani, sungguh dia sangat lelah sekali.
"Kania loe denger gue sih," ujarnya namun Kania tak diam saja.
Vani pun menepuk-nepuk kaki Kania yang tak bergerak, dia pun sadar kalo Kania sudah tertidur.
"Kebiasaan emang lo datang ke sini buat tidur, pantas saja dari tadi gue ngoceh loe diem aja ternyata tidur," ujar nya seraya menyelimuti kaki nya.
Vani pun keluar dari kamar meninggal kan Kania yang sedang damai dalam tidur nya dia tak berniat mengganggu sahabat nya itu karna dia sangat tahu kalo Kania lelah.
Lantas Vani pun turuk kebawah dia berniat mengambil minum ke dapur karna sedikit haus.
Biasanya Fadli akan pulang jam 8 malam lalu ini apa baru juga jam 7 dia sudah di rumah, kebetulan yang sangat langka.
"Emang nya kenapa?" Fadli pun malah balik bertanya,tidak seperti biasanya adik nya banyak bertanya biasanya dia akan senang kalo Fadli pulang lebih cepat.
"Gak papa, aku ke kamar dulu kalo gitu," ujar nya tak jadi mengambil minum.
Vani berlari naik tangga dia tidak mau membuat Kania marah kalo sampai bertemu dengan Fadli.
"Kenapa sih Dia aneh-aneh saja," gumannya melihat Vani naik lagi ke tangga bahkan tak menoleh sama sekali.
Sedangkan Vani duduk di kasur sambil ngos-ngosan dia kebingungan harus bicara apa kalo nanti Kania bangun dan bertemu dengan Kakak nya.
Vani tadi mengatakan kalo Fadli akan pulang dari kantor jam 8 malam, terus sekarang Fadli sudah ada di rumah apa yang harus dia katakan padanya.
"Loh kamu kenapa?" tanya Kania yang baru saja bangun dari tidur nya.
Dia terbangun dan duduk bersandar di ranjang dia mengucek mata nya yang sedikit masih mengantuk.
__ADS_1
"Loe udah bangun, mandi sana kita makan malam," ujar Vani sedikit gugup.
Dia harus mencari cara agar Fadli bisa keluar dari rumah nya,selama mereka makan malam.
"Gak usah lah gue langsung pulang aja ya, udah mau jam 8 malam nih takut nya Kak Fadli udah pulang gue gak mau sampe ketemu dia," ujar Kania segera bangun dan membenarkan pakaian nya.
"Ya udah loe tunggu bentar ya gue ke bawah dulu," ujar nya sedikit gugup.
Vani pun berlari menuruni tangga menghampiri Fadli baru saja akan masuk ke dalam kamar nya.
"Kenapa sih loe kaya di kejar setan aja," ujar Fadli melihat Vani.
"Beliin gue obat sakit perut dong kak perut gue sakit nih biasa mau datang bulan," bohong nya agar Fadli tak bertemu dengan Kania.
Dia terpaksa berbohong agar bisa membuat Fadli keluar dari rumah.
"Ya udah gue beliin sekarang," ujar nya tak tega melihat adik nya kesakitan Fadli pun langsung pergi.
Fadli pun keluar rumah untuk membeli obat yang di minta Vani.
Setelah Fadli pergi Vani pun menghampiri Kania yang sudah mandi dan rapi, Kania selalu membawa baju ganti kemana pun dia pergi.
"Loe mau pulang sekarang?" tanya Vani sekali lagi dia berharap Fadli jangan dulu kembali sebelum Kania keluar rumah.
"Iya, kenapa sih loe? apa ada yang penting?" ujar nya dan Vani pun mengelengkan kepala nya dia tidak mau Kania sampai cemas.
"Gue antar ya," usul nya namun Kania menolak nya karna dia tidak mau merepotkan sahabatnya itu.
Hari ini dia memang membawa motor namun dia meninggalkan nya di tempat latihan karna ban nya kempes mungkin besok dia akan mengambil nya.
"Gak usah gue udah pesen taxi kok," ujar nya tersenyum.
Vani pun mengangguk dan mengantarkan nya ke depan rumah.
Taxi yang di pesan Kania pun sudah berada di depan gerbang, Kania pun langsung naik ke dalam taxi meninggalkan Vani sendiri.
Vani bernafas lega akhirnya Kania pulang dan tak sempat bertemu dengan Fadli.
__ADS_1