
"Kamu kok gak cerita sih kalo Nabila tinggal di apartemant nya Marvin?" tanya Papa Bagas.
Memang papa nya itu selalu saja tahu apa yang Marvin lakukan, walau bagaimana pun dia sangat peduli dengan pemuda itu walau pun Ia bukan anak kandung nya.
"Aku juga baru tahu tadi siang Pah, kasian tahu Pah Nabila lagi minggat katanya gak mau di jodohkan," jelas Kania sedangkan Papa Bagas hanya menggelengkan kepalanya.
Kania memang sedang berkunjung kerumah Oma bersama suami nya, memang Ia akan berkunjung ke sana satu minggu sekali mengunjungi Oma yang masih dalam penyembuhan.
"Cckk anak itu coba kalo dia tahu siapa yang akan di jodohkan dengan nya," ucap Papa Bagas membuat Kania mengerutkan kening nya, apa mungkin Papa Bagas tahu siapa yang akan di jodohkan dengan gadis itu.
"Emang Papa tahu siapa yang mau di jodohkan dengan Nabila?" tanya Kania penasaran.
"Tahu lah tapi rahasia," ucap nya terkekeh membuat Kania kesal.
"Kasih tahu dong pah aku penasaran ih," ucap nya sambil menggoyang goyang kan tangan Papa Bagas.
Sedangkan Arya nampak menggelengkan kepalanya, mulai lagi manja nya memang setelah hamil Kania sedikit menunjukan sifat manja nya.
"Udah lah gak usah tahu, oya Arya gimana kabar perusahaan Papa kamu?"
Bagas memang tahu kalo perusahaan pak Joko masih belum stabil, dan saat saudara angkat nya tertangkap dan masuk penjara ternyata pria itu juga di peralat oleh orang lain dan itu yang sekarang Arya selidiki siapa dalang dari semua ini.
"Masih sama Pah belum ada titik terang, Om Wijaya masih tidak mengatakan siapa orang yang membantu nya," ucap Arga.
Sedangkan Papa Bagas nampak diam dia hanya menebak saja apa mungkin pria itu orang yang sama yang ingin menghancurkan perusahaan nya dan membuat kakak dan kakak ipar nya kecelakaan.
"Apa Papa mencurigai seseorang?" tanya Arga penasaran namun Papa Bagas hanya mennggelengkan kepalanya.
"Entahlah kita tidak bisa menuduh tanpa bukti," ucap nya.
Malam ini Kania dan Arga menginap di sana kebetulan besok adalah hari libur, sedangkan Marvin baru saja pulang jam 11 malam dia langsung masuk ke dalam kamar nya karna orang rumah sudah pada masuk kamar masing masing.
"Astaga untung saja gua masih bisa nahan diri buat gak nyium dia," gumannya merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur setelah mengganti pakaian nya.
__ADS_1
"Kenapa perasaan gua kaya gini yah, padahal saat bersama Caca gua gak kek gini dan jantung gua rasanya gak aman berdekatan dengan Bila, padahal kan kita udah lama temenan," gumannya.
Marvin pun terus membulak balikan tubuh ya namun dia tidak bisa tidur pikiran terus memikirkan Nabila, gadis yang baru baru hari ini dia temui lagi setelah beberapa tahun mereka berpisah.
"Arrggg sial kenapa gue mikirin Nabila terus, padahal harus nya gua mikirin Caca yang udah tega ninggalin gua," lanjut nya.
Entah mengapa saat mendengar Caca mau pergi ke luar kota dia tidak merasakan sedih atau pun apa tapi saat mengingat Nabila kabur karna ingin di jodohkan iru membuat nya gelisah.
"Ada apa dengan diri gua," batinnya.
Setelah lama gelisah Marvin pun mengambil ponsel nya dia terus memperhatikan poto Nabila yang sedang terlelap itu membuat nya sedikit tenang dan akhirnya bisa memejamkan matanya.
***
Pagi pagi Kania sudah jalan jalan sekitaran komplek dia berjalan santai ala ibu ibu hamil, saat belum hamil Kania sangat aktip berolah raga namun setelah hamil dia merasa tubuhnya sedikit membesar,bagaimana tidak membesar kalo dia banyak makan sekarang dan juga jarang berolah raga.
"Kania lu disini juga?" tanya seorang pemuda yang berlari di belakang nya.
Sontak saja Arga langung menggenggam tangan Kania saat ada pria yang menyapa istri nya.
Sedangkan Arsen hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gua dari rumah nya temen kebetulan rumah nya ada di sana," ucap Arsen menunjuk rumah besar yang tidak jauh dari mereka berdiri.
"Bukannya itu rumah nya Kak Gilang, sejak kapan lu kenal dia?" selidik nya.
"Ya elah biasa aja kali nanya nya, emang gua udah lama kenal sama beliau," jawab nya.
"Udah ya gua pamit mau pulang dulu,nyokap gua nyariin, Mas Arga duluan ya," ucap nya langsung meninggalkan mereka.
Sedangkan Kania masih bingung sejak kapan Arsen kenal dengan Gilang yang notaben nya sebagai Sapol pp.
"Kira kira ada urusan apa ya dia dengan Kak Gilang kepo deh," ucap nya.
__ADS_1
"Udah lah sayang jangan suka ikut campur urusan orang, sebaiknya kita segera pulang kasian anak kita pasti sudah lapar," ajak nya namun Kania menggelengkan kepalanya tidak mau pulang.
"Aku gak mau pulang, aku mau sarapan bubur yang ada di depan komplek," ucap nya membuat Arga harus extra sabar menghadapi wanita hamil.
Bagaimana tidak minggu lalu mereka jalan jalan ke taman kota, namun Kania selalu membuat nya kesal karna istrinya terus saja mengerjai nya.
Beli ini beli itu namun saat sudah di beli Kania malah menyuruh Arga memakan nya karna dia beralasan kenyang.
Sesampai nya di depan pedagang bubur Arga langsung memesan nya dan di makan di sana, dan ternyata rasanya lumayan enak.
"Gimana by enak gak?" bisik Kania dan Arga pun mengangguk.
Kania pun tersenyum mendengar nya ternyata memang selera mereka sama mungkin karna lapar Kania pun dengan cepat menghabiskan bubur nya.
"Lagi?" tanya Arga.
"Udah kennyang," jawab nya.
Setelah membayar mereka pun mampir kemini market membeli jajanan untuk Kania, karna semenjak hamil dia menjadi sering ngemil dan harus nyetok makanan di rumah.
"Sayang ada lagi yang kamu mau?" tanya Arga namun Kania menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah aku bayar dulu ya," ucao nya.
Namun saat mau membayar mereka malah bertemu dengan Sita si wanita ular gak tau diri.
Sita langsung memeluk Arga membuat Kania melotot namun dia berusaha sabar agar tidak membuat keributan di tempat itu.
"Arga kebetulan kita bertemu di sini, aku sangat merindukanmu," ucap nya manja membuat Kania ingin muntah mendengar nya.
Sedangkan Arga yang takut istri nya mara pun langsung melepaskan pelukan Sita.
"Apa apaan sih kamu, dasar gak tahu malu," ucap Arga menarik pinggang Kania agar lebih mendekat padanya, seolah dia ingin menunjukan kalo dirinya sudah ada pawang nya.
__ADS_1
Sedangkan Sita nampak cemberut menahan kesal melihat perut Kania yang sudah sedikit membuncit.
"Lihat saja Arga, aku tidak akan membuat kalian bahagia," batinnya.