
Arga nampak bingung mencari Kania kemana dia hanya meninggalkan nya sebentar untuk ke toilet tapi pas kembali Kania sudah tidak ada.
"Kemana dia?"
Arga pun menghubungi ponsel Kania namun tidak diangkat, sehingga dia mulai panik kemana istrinya pergi bukannya tadi akan menunggu nya di sana.
Arga mulai cemas mencari nya kesana kemari namun tidak ada Arga pun maju ke tempat penjual makanan siapa tahu Kania ada di sana.
"Astaga kemana sih? jangan bikin khawatir dong," batinnya.
Dia takut kejadian beberapa minggu lalu terjadi di saat dia meninggalkan nya sendiri.
Sedangkan Kania sedang duduk di bangku taman dia baru saja kembali setelah membeli telur gulung yang di jual tak jauh dari sana, dia lupa kalo tadi tidak pamit kepada suami nya.
"Apa Kak Arga sudah pulang ya?"
Kania lupa membawa ponsel nya karna tadi terburu-buru sehingga meninggalkan ponsel nya di kamar.
Kania memutuskan untuk menunggu saja di sana sambil memakan cemilan nya.
Hingga satu jam berlalu Kania menunggu di sana dia pun mulai bosan, apa dia pulang duluan saja ya pikirnya.
"Arsen," ucapnya saat melihat sahabatnya berjalan tak jauh dari sana.
Dia pun berteriak memanggil Arsen, untung saja Arsen mendengar nya dia langsung menghampiri nya.
"Ka lu ngapain di sini, ayo pindah panas tahu."
Arsen pun menarik tangan Kania agar mengikutinya karna di tempat Kania duduk sudah mulai terik.
"Lu ngapain di sini?"
"Gue lagi nunggu laki gue, tapi gak balik-balik bisa pinjam ponsel lu gak?"
"Emang kemana sih laki lu sampe ninggalin lu di sini aneh banget," ucap nya.
"Tadi gue yang pergi tiba-tiba saat dia ketoilet udah cepetan mana ponsel lu," ucapnya.
Arsen pun merogoh saku celana nya dan memberikan nya kepada Kania, untung saja pin nya masih sama sehingga Kania tidak perlu susah bertanya.
Untung saja Kania masih ingat nomer ponsel suami nya sehingga dia dengan mudah menghubungi nya.
"Gimana?"
__ADS_1
"Udah otw katanya, makasih banyak ya."
"Oke, gue emang selalu jadi pahlawan buat iya kan?"
"Iya- iya thank pokok nya lu emang sahabat terhebat yang gue punya, btw lu ngapain di sini bukannya lu gak suka keramaian?"
"Gue emmm- ehh itu laki lu, gua langung cabut ya buru-buru soal nya," ujar nya melambaikan tangan.
Saat berpapasan dengan Arga, Arsen pun tersenyum sambil mengangguk dia harus segera pergi menyelesaikan urusan nya.
"Kemana dia kok buru-buru?"
Kania hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu dari mana sih aku nyariin takut kalo sampe hilang," ucap nya.
"Maaf tadi aku beli ini," tunjuk nya pada beberapa keresek yang di bawa nya.
"Asataga sayang kenapa jajan nya banyak sekali, aku kan udah bilang pilih salah satu saja aku gak mau kamu kenapa-napa," ujar nya.
Arga memang tidak suka makanan pinggir jalan yang katanya tidak higienis, tetapi lain dengan Kania dia sedari dulu pecinta makanan pinggir jalan meski awal nya dia juga tidak suka tapi setelah dia di tinggal orang tua nya dia mulai terbiasa.
Kini mereka duduk di gazebo, sambil melihat anak-anak yang berlarian sudah menjadi rutinitas bagi mereka membawa anak-anak untuk bermain di hari libur.
"Iya gak sabar deh nunggu kamu melahirkan, kamu tadi ko bisa sama Arsen?"
Kania pun menjelaskan semua nya agar Arga tidak salah faham kepada sahabat nya itu.
"Oh jadi kamu gak sengaja ketemu dia?" Dan Kania pun menganggukan kepalanya.
"Oke kalo gitu kita cari makan dulu yuk sebelum pulang," ajak Arga.
"Ya udah yuk aku ikut aja deh," jawab nya.
Semenjak hamil dia memang banyak makan jadi tak dimana tak dimana pasti yang di carinya makanan.
Kania juga baru ingat kalo Arga tidak sempat sarapan tadi lantas dia pun mengikuti langkah suami nya.
Mereka naik taxi namun sebelum itu Kania melihat Sita masuk ke dalam mobil dengan seseorang yang dia kenal.
"Kenapa mereka bisa pergi bersama?" batinnya.
Atau mungkin ayah nya Sita adalah rekan bisnis nya pria itu sehingga Sita bisa barengan masuk mobil itu pikir nya.
__ADS_1
Kania pun tidak ambil pusing dia duduk di samping suami nya, hanya beberapa menit saja mereka sampai di restoran.
Mereka pun masuk ke dalam restoran dan segera memesan namun Kania yang merasa sudah kenyang dia hanya memesan minum saja.
"Kamu gak pesen makanan?" Kania mengenggelengkan kepalanya.
"Aku masih kenyang."
"Kenyang cuma makan itu doang, mending makan nasi sayang takut nya anak kita kelaparan di dalam," ucap nya membuat Kania tertawa.
"Apaan sih Kak gak jelas deh lagian anak kita baru sebesar kacang masa makan nya harus banyak," ucap nya.
"Ya seenggak nya yang bergizi lah sayang kalo cuma beli jajanan gitu mah gak sehat," ujar nya.
Kania pun mengerti ketakutan suami nya dia pun memesan satu makanan demi menghargai suami nya.
Setelah selesai makan kini mereka langsung pulang dan sudah sampai di depan rumah.
"Kaya nya ada tamu," ucap Kania melihat ada sebuah mobil yang tidak dia kenal ada di sana.
"Aku juga gak tahu, mungkin tamu nya Mama kali biasanya sih teman arisannya," jelas nya membuat Kania tersenyum.
Saat masuk ternyata benar di ruang tamu ada sepasang suami istri dan juga seorang gadis mungkin itu anak nya pikirnya.
Gadis itu nampak mencuri-curi pandang kepada Arga namun Arga tidak memperdulikan nya dia menarik tangan Kania agar mengikutinya.
"Kenapa sih Kak?"
Kania benar-benar bingung setelah menyapa mereka tidak banyak basa basi Arga langsung pamit mengajak Kania kekamar.
"Gak papa aku gak suka aja sama mereka," jawab nya asal.
"Emang mereka siapa sih?"
"Mereka teman arisan Mama," ucap nya dan Kania pun hanya ber oh ria.
Arga pun masuk ke dalam kamar mandi sedari tadi dia memang sudah tidak nyaman ingin segera mandi.
Arga mengajak Kania berdiam diri saja di kamar dia tidak mau Kania hergabung dengan mereka karna dia sangat tahu sifat teman-teman ibunya yang kalo bicara seenak nya saja.
"Tuh kan kalo lama-lama di kamar aku bisa masuk angin ka mandi terus," ucap nya sedangkan Arga hanya terkekeh.
Memang setelah mereka mandi Arga lansung tergoda dengan istrinya dan mereka pun melakukan itu berkali-kali sehingga membuat Kania lelah.
__ADS_1