Kontrak Nikah

Kontrak Nikah
Part 99


__ADS_3

Satu bulan sudah Nabila bekerja di perusahaan milik mama nya Arsen, Ia sudah mulai terbiasa bekerja di sana dan Ia pun mulai melupakan sahabatnya karna sejak hari itu Marvin tidak pernah menghubunginya.


Nabila tahu kalo Marvin marah padanya karna pergi tanpa pamit, Nabila pun melupakan tujuannya pergi kesana sehingga Ia tidak tahu kalo orang tua nya sudah membuat rencana untuk anak pembangkang itu.


Selama satu bulan itu Arsen gencar mendekati nya bahkan Ia sudah tahu alamat kosan nya Nabila dan dengan santai nya Ia bertamu ke sana membuat Nabila kesal.


Karna Nabila tidak menyukai bos nya itu, Nabila sering sekali menolak ajakan Arsen dengan alasan Marvin tidak mengizinkan padahal Ia dan Marvin tidak ada komunikasi sama sekali.


Seperti hal nya hari ini Arsen dengan percaya diri nya datang membawa mobil nya, sungguh membuat Nabila muak untuk apa Ia memamerkan kekayaan nya karna Nabila tidak berminat menjadi pacar Arsen walau pun Ia tahu Arsen anak orang kaya.


"Ayolah Bil untuk kali ini saja, saya mohon mau ya jalan sama saya," bujuk nya namun Nabila tetap saja menolak nya karna Ia sedang tidak ingin kemana mana.


"Maaf Pak saya sibuk," alasan nya jujur saja meski Ia dan Marvin tidak ada hubungan namun hatinya hanya untuk Marvin seorang.


"Bil ayolah cuma makan doang, saya janji gak akan maksa kamu lagi," bujuk nya memelas.


Nabila masih saja teguh dengan pendirian nya, namun Arsen tidak putus asa, Ia sama sekali tidak berminta pergi dengan Arsen.


Namun seperti nya Arsen benar benar keras kepala Ia tidak mau pulang sama sekali. Ia duduk di depan kosan Nabila membuat gadis itu kesal.


"Bapak ngapain masih di sini?" tanya Bila kesal karna Arsen tidak juga pergi dari sana.


"Ya saya kan nungguin kamu, sampai kamu mau jalan sama saya," ucap Arsen tersenyum.


'Astaga ni orang maksa banget sih bikin gue darah tinggi,' batinnya.


Nabila pun menghela nafas kasar Ia sungguh sangat kesal namun Arsen masih saja memaksa nya.


"Baiklah untuk kali ini dan ingat ini yang terakhir ya," ucap nya ketus.


Arsen pun tersenyum bahagia melihat nya sungguh Ia sangat senang sekali karna Nabila mau jalan bersama nya, sebenarnya Arsen hanya ingin memastikan kalo hubungan Nabila dan Marvin masih atau tidak karna kemarin Ia sempat melihat Marvin bersama seorang wanita.

__ADS_1


Nabila pun mengambil jaket levis nya, gadis itu sangat cantik sekali dengan mengikat rambut nya ke atas.


Arsen semakin terpesona saja dengan gadis manis itu, namun berbeda dengan gadis itu yang berwajah masam tanpa ada senyum sedikit pun.


Arsen pun mengajak Nabila ke pusat perbelanjaan Ia dengan senang hati membelikan apapun yang Nabila mau namun gadis itu selalu saja menolak nya.


"Udah lah Pak saya kan udah mau di ajak jalan jadi gak usah maksa saya lagi ya, karna saya bukan cewek matre yang sering Bapak pacari ya," ucap nya menahan emosi namun bukan nya mendengar Arsen malah tersenyum lalu menarik tangan Nabila agar mengikutinya.


Namun saat melewati toko perhiasan Nabila tidak sengaja melihat Marvin dengan seorang wanita nampak nya mereka sedang asyik memilih cincin dan tidak melihat nya.


'Apa itu calon nya Marvin ya?' batinnya.


Entah mengapa melihat Marvin yang asyik bersama wanita itu hati Nabila terasa sangat sakit Ia merasakan sesak di dada nya hingga mata nya pun tiba tiba perih dan ingin menangis.


"Saya izin ke toilet bentar ya," ucap Nabila dan Arsen pun mengangguk membiarkan Nabila pergi.


Sesampai nya di toilet Nabila mengusap air mata nya entah mengapa Ia merasakan sakit yang luar biasa yaitu sakit yang tak berdarah.


'Hahh kenapa dengan hati gua kok malah kaya gini?' batinnya.


Keesokan harinya..


Nabila sudah masuk kerja seperti biasa namun Ia kaget karna di suruh ke ruangan bu Soraya.


"Bil nanti ikut bu Soraya ke ruangan nya ada berkas yang harus kita perbaiki," ucap Seni menjelaskan.


"Baik Kak," ucap Salsa menganggukan kepalanya meski dengan tatapan yang bingung.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Salsa pun mengikuti Bu Soraya yang memang datang ke sana untuk memanggil Nabila.


"Nabila mari ikut saya," ucap bu Soraya.

__ADS_1


Nabila pun mengangguk Ia mengikuti wanita paruh baya itu namun bukan ke ruangan nya melainkan ke ruangan lain.


'Kenapa harus naik lift segala emang kita mau kemana?' batinnya heran.


Ingin bertanya namun Nabila sedikit takut melihat wajah bu Soraya yang terlihat tegas.


Hingga sampailah mereka di depan ruang presdir, Nabila pun kaget kenapa malah dk bawa kesana apa mungkin Ia memiliki kesalahan sehingga sang pemilik perusahaan menyuruh bu Soraya membawa nya kesana.


"Tenang lah Bila kenapa kamu gugup seperti itu?" ucap bu Soraya.


Jujur saja perasaan Nabila sangat tidak enak entah apa yang membuatnya seperti itu.


Bu Soraya pun mengetuk pintu ruangan tersebut dan pintu pun terbuka dari dalam, terlihat Mala asiten nya bu Mira yang membuka pintu itu.


"Kalian sudah datang, Bila kamu masuk dulu ya saya ada urusan sebentar dengan bu Soraya," Mala malah menyuruh Nabila masuk sebenarnya ada apa ini pikirnya.


"Kenapa malah bengong ayo masuk, bu Mira sudah menunggu beliau mau bertemu dengan mu," jelas Mala dan Nabila pun hanya bisa mengangguk pasrah.


Nabila pun dengan berat hati membuka pintu ruangan itu sambil menunduk.


Namun Ia melebarkan mata terkejut saat melihat orang tua nya ada di sana, Ia pun mundur satu langkah berniat kabur.


"Mamy, Papy, ngapain di sini?" ujarnya segera berbalik ingin keluar dari situ namun sayang pintu terkunci otomatis sedangkan orang tua Nabila nampak tersenyum melihat Nabila panik.


"Mau kemana Bila sayang, kamu gak rindy sama kami?" ucap Mamy nya sambil menahan tawa.


"Mih ngapain sih kesini?" tanya Bila sedikit kesal kenapa orang tuanya ada di sana, sedangkan Ia sama sekali sudah berusaha sembunyi beberapa bulan ini.


"Ya kami kan kangen sama kamu sayang kamu sih pergi gak bilang bilang kan kami jadi panik, tapi untung saja Arsen ketemu sama kamu jadi kami bisa menemui kamu di sini," ucap Maminya memeluk erat Nabila sedangkan Nabila nampak tidak senang dengan kedatangan mereka.


"Udah ayo duduk, gak usah menyun gitu," ajak ibu Alin menarik tangan Nabila agar ikut duduk di sofa bersama Papi nya juga Arsen dan Bu Mira.

__ADS_1


Nabila tidak menyangka kalo mami nya menganal bu Mira pemilik perusahaan dimana Ia bekerja sedangkan Arsen nampak tersenyum.


Arsen mengingat percakapan nya dengan ibu nya kemarin, sungguh Ia tidak tahu kalo ibunya sangat mengenal gadis itu.


__ADS_2