
Bu Ayana baru saja terbangun dari tidur nya dia melihat sydah jam 4 pagi tidak seperti biasa nya dia akan bangun jam 2 malam untuk sembahayang tahajud tidak tahu kenapa semalam tidur nya sangat pulas sekali.
Saat terbangun tidak tahu kenapa dada nya terasa sakit pikiran nya terus saja memikirkan Kania dia terus beristigfar dan berdo'a semoga Kania baik-baik saja tak lupa dia minum segelas air putih.
Saat meletakan gelas dia tidak sengaja melihat ponselnya tergeletak di sana, dia berinisiatip akan menelpon anak nya itu mungkin jam segini dia sudah bangun pikirnya.
Kalo sudah mendengar suara nya mungkin dia akan tenang begitu pikir nya namun saat melihat layar banyak sekali panggilan tak terjawab dari Arga.
Ada apa pikirnya?
Pikiran nya semakin tidak tenang lalu dia membaca chat yang Arga Kirimkan jam 1 malam tadi, kalo Kania kecelakaan.
"Astagafiruloh Kania," ucap nya sambil terus memegang dada dan mulai terisak.
Bagas yang mendengar tangisan istrinya kaget dan membuka mata, dia langsung terbangun mendekati Ayana menenang kan nya.
"Sayang kamu kenapa?"
"Mas, Kania Mas."
"Kania kenapa, tarik nafas jangan panik."
Ayana pun melakukan itu berulang kali menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya.
"Kania kecelakaan Mas, kita harus segera kerumasakit."
Bagas juga sama kaget nya mendengar hal itu mereka langsung masuk ke kamar mandi dan segera berangkat ke rumasakit namun sebelum itu mereka memberikan pesan kepada Art nya agar memberi tahu Oma Maria.
Bagas pun melajukan mobil nya menuju rumasakit dan setelah sampai mereka berlari menuju ruang rawat Kania yang Arga kirimkan.
"Arga gimana Kania sekarang?" tanya bu Ayana panik dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak nya itu.
Arga yang sedang melamun pun sadar mendengar suara ibu mertuanya memanggilnya.
"Ibu, Papa."
Arga langsung berdiri menyalami mereka, sedangkan Bu Mira hanya tersenyum samar melihat Bagas dia tahu kalo Bagas adalah Om nya Kania.
__ADS_1
"Maaf kami baru baca pesan dari kamu, sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana keadaan Kania sakarang?" tanya Bagas dia sangat cemas sekali.
Arga nampak diam ingin menjelaskan semua namun dia tidak berani, dia bingung harus bagaimana.
"Mas Bagas dan Mbak tenang dulu ya, Kania keadaan nya sudah stabil namun belum juga sadar," ucap Bu Mira.
Dia tahu Arga pasti terpukul sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,jadi bu Mira yang menjawab pertanyaan mereka.
Bu Mira tidak mengenali Ayana karna dia memakai cadar seperti biasa,namun berbeda dengan Ayana dia sangat merindukan sahabat nya itu.
Selama ini Bu Mira hanya tahu itu adalah Aisayah pengasuh nya Kania sejak bayi dan dia tidak tahu siapa Aisyah sebenar nya.
"Mbak Mira kenapa ada di sini juga?" tanya Ayana bingung, dia baru sadar kalo Arsen juga ada di sana.
"Cerita nya panjang mari duduk dulu."
Ayana pun duduk di sebelah Mira dia mendengar kan cerita dari Mira, sungguh Ayana sangat sedih sekali apalagi keadaan Kania belum juga sadar membuat nya khawatir.
"Kalo begitu kami pamit dulu yah," ucap Bu Mira.
"Terimakasih banyak Mbak, Arsen, sudah merepotkan kalian," ucap nya tulus.
Ayana pun mengangguk dia sangat bersyukur karna Mira mau menunggu Kania di sana.
Setelah kepergian Mira dan Arsen, Papa Bagas membujuk Arga agar dia pulang dari penampilan nya sudah sangat kacau sekali dan wajahnya pun terlihat lelah apalagi semalam Arga yang mendonorkan darah nya untuk Kania,maka dari itu Bagas menyuruh nya mandi dan ganti baju.
"Arga Papa tahu kamu pasti cemas tapi sebaik nya kamu pulang dulu yah, biar kami yang menjaga Kania."
Arga yang awal nya menolak pun luluh, dia akan pulang dan memberi tahu orang tuanya juga Bara karna hari ini ada metting di kantor.
"Ya sudah kalo gitu aku pulang dulu yah, nanti kalo ada apa-apa langsung hubungi aku."
"Pasti, kamu hati-hati di jalan ya."
Arga pun berjalan lesu meninggalkan rumasakit pikiran nya kacau dia merasa bersalah atas semua yang menimpa Kania.
'Andai dia tidak termakan rasa cemburu mungkin semua nya tidak akan seperti ini'
__ADS_1
Arga memutuskan pulang ke rumah orang tuanya,Mama Maya yang baru saja keluar dari kamar nampak kaget melihat anak kesayangan nya sudah ada di sana.
"Astaga Arga kamu ngapain pagi-pagi buta udah ada di sini?"
Namun Arga tidak menjawab dia malah langsung memeluk ibu nya dengan isakan tangis nya, dari semalam dia sudah menahan nya namun saat melihat Ibunya dia benar-benar tidak bisa menahan nya lagi.
"Arga kamu kenapa nak, apa kamu bertengkar dengan Kania?"
Mama Maya bingung kenapa Arga tiba-tiba memeluk nya sambil menangis.
"Aku udah celakai Kania Ma," ucap nya.
"Maksud nya apa, Mama gak ngerti maksud kamu apa? sebaiknya kita duduk dulu yah."
Mereka pun duduk di sofa dia menceritakan awal pertengkaran nya dengan Kania hingga meninggalkan nya dia pinggir jalan dan sekarang berakhir di rumasakit.
"Apa? apa kamu sudah gila?" bukan suara ibu nya namun bariton Papa nya yang mendengar semua nya.
"Pah aku ninggalin dia gak jauh dari komplek rumah, aku gak nyangka semua nya akan seperti ini," ucap nya.
Sedangkan Mama Maya sudah menangis segukan dia tidak menyangka kalo anak nya akan sejahat itu pada Kania.
"Seharusnya Mama pisahin kalian dari dulu, Mama tahu kamu sengaja melakukan itu agar Kania membencimu dan kamu bisa kembali kepada wanita itu iya kan?" tebak nya karna Mama Maya belum tahu kalo Arga sudah mulai bucin kepada Kania.
"Gak begitu cerita nya Ma, aku melakukan itu karna cemburu dan aku juga sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Sita," ucap nya namun Mama Maya tidak percaya kepada nya.
"Bohong, itu cuma alasan kamu saja kan?"
Arga menggelengkan kepala nya, percuma dia bercerita pada ibu nya namun ibunya malah menuduh nya yang tidak-tidak.
"Dirumasakit mana Kania sekarang?"
"Dia rumasakit Pelita, dia masih di ruang ICU."
"Ayo Pah kita kesana sekarang," ajak nya meninggalkan Arga sendiri, namun sebelum menyusul istrinya Pak Joko memperingat kan anak nya itu.
"Kalo terjadi sesuatu dengan Kania, Papa gak akan pernah maafin kamu," ucap nya lalu beranjak menyusul istrinya.
__ADS_1
Arga semakin frustasi dia benar-benar sangat merasa bersalah dan dia terus menyalahkan dirinya sendiri