
Air mata Richa berlinang dia merasa sangat bahagia. Ia mendekati kaca dan menyentuhnya sebuah pemisah antara dia dan anaknya. Betapa ia sangat ingin menyentuh putra kecilnya itu, rasa rindu mulai tumbub di hatinya. Kini ia mengerti bagaimana dulu mami nya melahirian dirinya. Bagai mana kebahagian dan rasa rindu ingin bertemu dengan anaknya, ia menrti sekarang rasa itu.
" Icha.. Kenapa menangis Sayang!?" Dengan lembut Nelan menghapus air matanya.
" Aku bahagia mas. Rasanya ini perasaan yang sangat sulit aku gambarkan, sekarang aku tau perasaan mami saat merindukanki dan juga Iyan. Ternyata rasanya seperti ini."
" Jangan khawatir, sebentar lagi kau pasti bisa memeluk dan memcium putra kita."
" Terima kasih mas, aku mencintaimu." Richa memeluk erat suaminya itu, ia tidak menyangka akan sebahagia itu.
" Mas yang maksih Sayang. Mas sangat mencintaimu."
💫💫💫💫
Setelah di beri obat Richa pun tertidur. Saat ia terjaga Richa membuka matanya perlahan, Nelan mengapit erat tangannya memggenggam tangan Richa. Pria yang ia cintai itu tertidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
Terlalu banyak kejadian buruk yang menimpa hidupnya, namun Richa bersyukur semua nya masih baik baik saja. Richa menatap lirih tubuh suaminya itu, tubuh yang berkali kali menyelamatkannya yang rela melakukan apa pun demi dirinya. Tubuh itu kini terlihat sangat lelah.
Richa menyentuh wajah suaminya itu dengan lembuat, Nelan memberi gerakan kecil karena ia tersentak dari tidurnya.
" Mas sudah bangun?"
Nelan sangat bahagia saat ia membuka matanya ia bisa mendengar suara lembut istrinya. Mendengar suara itu Nelan langsung meneggkkan tubuhnya, Richa tersenyum lebar padanya.
" Kau sudah bangun?" Richa tersenyum.
" Hmm."
" Apa masih terasa sakit?"
Richa menggelengkan kepalanya, " Tidak mas, aku baik baik aja."
" Syukurlah, Sayang."
Richa menatap lekat wajah lelah suaminya itu.
" Ada apa Sayang?" Richa menggeleng.
" Jangan khawatir, semuanya baik baik saja sekarang."
" Mas terlihat lelah, aku tau mas pasti tidak istrihat dengan benar selama aku berada di rumah sakit."
__ADS_1
" Aku tidak apa apa Sayang. Melihatmu sudah sadar dan memanggil namaku sepeti ini sudah membuatku sangat bahagia. Sekrang aku bisa tidur dengan nyenyak sambil memeluk istri dan anakku." Terimakasih karena sudah berjuang dan kembali padaku dengan segera."
Tak lama kemudian seseorang terdengar suara ketikan pintu, Richa dan Nelan menoleh bersamaan. Terlihat sosok yanh sangat ia rindukan sedang berdiri di balik pintu tersebut.
" Richa..!?"
" Mami..!?"
Richa langsung menangis begitu mengucap kata itu, sebuah kata yang sangat berarti baginya. Sosok wanita yang sangat dirindukannya, sosok yang rela melakukan apa pun demi dirinya bahkan rela menyerahkan hidup dan matinya.
Cyka langsung memeluk pitrutrinya itu. Sebuah dekapan yang selalu ia nanti nantikan kini ia rasakan lagi. Rasanya ia tak ingin melepaskan dekapan hangat itu.
" Kamu baik baik saja, putriku?" Cyka membelai lembut rambut putri kesayangannya itu. Richa mengangguk pelan.
" Mami sangat merindukanmu, Sayang. Mami sangat khawatir padamu."
" Icha juga mi, Icha sangat merindukan mami. Hikk hikk."
" Sayang." Setelah Cyka melepas pelukannya kini Risky yang beralih memeluknya dan melepaskan rasa rindunya pada sang putri. Ia mengecup lembut kening anaknya itu.
" Iyan..!?" Sosok pria satu itu sangat lah ia rindukan. Adik satu satunya yang selalu membuat hidupnya lebih berwana, sebuah penyelamat dan juga penyambung napasnya.
" Kakak baik baik saja?" Riyan memeluk Richa dan mendaratkan kecupan lembit di kedua pipi Richa.
" Upppss, sory.." Ucap Riyan. Lalu seisi ruangab itu pun tertawa.
Nelan sangat bahagian bisa melihat senyuman manis di wajah istrinya itu. Sudah lama sejak terakhir kali mereka mengunjungi keluarga mertuanya itu di New York. Setiap kali ingin pergi meraka selalu terhalang pekerjaan dan waktu.
" Cucu mami ada dimana Sayang?" tanya Cyka.
" Benar, dimana jagoan kecilku kak?" Tangkas Riyan.
" Dia ada.." Belum sempet Richa menyelesaikan ucapannya, suster masuk dengan membawa Arya.
Suster menyerahkan Arya pada Richa. Ini pertama kalinya Richa melihat wajah putra tercintanya. Richa tak kuasa menahan air matanya melihat bayi yang mungil, lucu dan sangat tampan. Yang menurut nya sangat mirip dengan suaminya.
Tak hanya Richa yang menagis haru. Mami, papinya juga ikut menangis haru melihat kehadiran cucu pertamanya itu. Richa begitu takjub dengan kuasa tuhan, yang menghadirkan sosok mungil kecil itu padanya. Richa menggenggam jari mungil putranya itu.
" Cucu Mimi, sangat tampan persis dadynya. Imut persis maminya." Ucal Cyka membelai lembut pipi embem cucu pertamanya itu.
__ADS_1
" Hallo mimi, aku Arya."
" Arya? Jadi nama jagoan ku ini adalah Arya?" Ujar Riyan menerobos.
" Arya..!? Nama yang bagus. Selamat datang Sayang." Ucap Cyka.
Cyka tersenyum bahagia mendapat cucu dari putrinya itu. Ia tidak pernah menyangka akan merasakan kebahagiaan yang berlimpah seperti itu.
Semua orang bersuka cita dengan kehadiran orang tua Richa. Suara langkah kecil memalingkan pandangan semua orang tak terkecuali Richa yang sangat kenal dengan langkah kecil itu. Senyuman menghiasi bibirnya saat melihat putri kecil dari kakak iparnya itu. Gadis kecil itu sudah seperti putrinya sendiri. Lilian langsung berhamburan ke pelukanya, ia menciumi pipi tembem gadis kecil itu.
" Mba Naila..!?" Seru Richa.
" Icha.. Bagai mana keadanmu?"
" Aku sudah lebih baik mba. Bagai mana keadaan Rehan? Aku tau sejak kemarin mba Naila terus disisinya dan menjaganya." Ucap Richa.
Mendengar pemaparannya, Salsa dan Cyka saling tatap. Begitu pun dengan Raihan dan Risky. Kedua pasangan orang tua itu, seperti menangkap sebuah cerita baru saat ini. Naila yang merasa sedang di perhatikan oleh semua orang, ia jadi salah tingkah dan gugup.
" Ah, dia sudah baik baik saja. Dan dia sangat berharap bisa datang menemuimu dan putra kecil kita." Ucap Naila seraya menyentu pipi Arya yang ada di pangkuan Nelan.
Setelah itu Cyka, Risky dan juga Riyan pamit untuk menjenguk Rehan di ruang perawatannya.
Salsa kembali bekerja begitu pun dengan suaminya. Setelah menyapa besannya dan menjenguk cucu dan menantunya mereka terpaksa kembali pada tugas masing masing.
" Ehem, apa kita mendapat kabar baik disini..?" Tanya Richa basa basi.
Naila pura pura tidak mendengar ucapan adik iparnya itu.
" Kata orang, diam itu tandanya ia, Sayang." Seru Nelan.
Naila mengernyitkan keningnya, ia merasa tidak nyaman dengan godaan Nelan dan Richa.
" Apa yang ingin kalian dengar?" Tanya Naila.
" Emm, kayaknya sih kita udah tau kok apa yang terjadi mba." Ujar Richa.
" Kalau sudah tau, kenapa masih menggodaku." Kesal Naila.
" Ahahahaha.. Mba terlihat lucu saat sedang gugup." Richa dan Nelan malah mentertawakannya.
" Sudah puas." Celetuk Naila kesal.
__ADS_1
" Maaf mba, kita cuma merasa bahagia aja. Akhirnya kita bisa melihat mu tersenyum sebahagia itu lagi." Ucap Nelan.
Naila merasa bersyukur karena Nelan dan Richa sepertinya mendukung hubungannya dengan Rehan. Awalnya ia cemas dengan reaksi kedua orang itu, namun kini Naila bisa merasa lebih tenang, karena sepertinya orang tuanya juga tidak menentang hubungan perrcintaan nya dengan Rehan.