
Nelan yang berdiri di bawah guyuran air yang keluar dari sower, dinginnya air pagi itu tak mampu memberi sejuk diotak dan hatinya karena sudah selumuti amarah. Dia ingin sekali berteriak dan mengatakan kalau dirinya mencintai Richa dan tidak ingin bercerai dengan nya.
" Senyuman itu, setelah apa yang terjadi kenapa dia bisa setenang itu, apa begitu tidak ber'artinya diriku untuknya ", mengingat espresi Richa yang begitu tenang saat mengusulkan perceraian membuat hati Nelan begitu sesak.
" Aku gak bisa, aku harus bicara sekali lagi padanya, dan meluruskan segalanya ", gumamnya seraya menatap pantulan wajahnya di cermin.
Richa sedang menuju rumah Zion, ia jajian bertemu dengan Rehan, saat ini dia butuh seseorang untuk bersandar. Setelah tiba di rumah Zion seorang pelayan membukakan pintu untuknya.
" Silahkan masuk, non. Aden sudah menuggu di kamarnya ", ujar si pelayan.
" Makasih, bi." Richa langsung menuju kamar Rehan. Ia masuk tanpa mengetuk pintu. Terlihat Rehan sedang memakai celana.
" Wow...",
" Hei.... Lo", Rehan terkejut dan cepat-cepat memakai celananya, tapi Richa tak merasa canggung sama sekali, ia langsung duduk di tempat tidur laki-laki itu, " Bisa ketuk pintu dulu gak sebelum masuk kamar cowok ". Kesal Rehan, yang sudah selesai dengan pakaiannya.
" Emang lo cowok ",
" What? Jadi maksud lo gue cewek hah!" tangkas Rehan. Ia merasa ada yang aneh dengan Richa, matanya terlihat sembam seperti habis menangis.
" Cha... Are you oke ?" Tanya Rehan yang sudah duduk di samping Richa, ia memutar tubuh Richa agar menghadap padanya, Richa menundukkan wajahnya tak berani menatap mata Rehan.
" Hm, Aku baik-baik aja kok". Jawab Richa, memutar badannya lagi membelakangi Rehan.
" Siapa yang coba lo bohongi, Cha!!". seru Rehan. Tak lama kemudian Richa mulai terisak, ia memutar tubuhnya lalu ia memeluk Rehan, Richa membenamkan wajahnya di dada bidang saudaranya itu.
" Lo kenapa? apa yang terjadi?" tanya Rehan tapi Richa tak memberinya jawaban selain tangisan yang terdengar begitu pilu. Rehan menyadari ada yang terjadi pada saudarinya itu, tapi jika wanita itu tidak ingin bicara tidak ada yang bisa memaksanya bicara, Jadi ia akan menunggu.
Cukup lama Richa menangis di pelukan Rehan, dan dia hanya bisa terdiam membiarkan Richa mengeluarkan semua unek-uneknya. Richa tertidur di pelukan Rehan, setelah itu Rehan menidurkan Richa di atas tempat tidurnya.
Udah gue bilang, apa pun yang terjadi aku akan melindungimu, jadi gue gak bakal ngelepasin dia yang udah buat lo sampai nangis seperti ini. batin Rehan, seraya menyeka sisa air mata yang masih lengket di wajah mungil Richa.
__ADS_1
Nelan sedang menuju rumah sakit, karena Naila ingin bertemu dengannya. Setibanya di rumah sakit, Nelan langsung menuju ruang kerja Naila.
" Ayo duduk ", ucap Naila mempersilahkan Nelan duduk begitu ia masuk ke dalam ruangan. Keduanya pun duduk di sofa.
" Kenapa mba minta, Nel kesini ?", tanya Nelan.
" Jawab mba, Nel ? apa yang terjadi antara kamu dan Richa ?" tanya Naila.
" Maksud mba ?", tanya Nelan bingung.
" Siapa laki-laki yang membawa Richa kemarin ?" seru Naila. Nelan terlihat bingung ia juga tidak tau siapa laki-laki itu, sebelumnya ia tidak sempat menanyakannya pada Richa.
" Dan, siapa wanita ini, Nel ?", tanya Naila, seraya meletakkan ponselnya di hadapan Nelan. Di layar ponsel itu terlihat gambar Nelan dan Keysa yang baru keluar dari sebuah kamar hotel. " Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua ? hingga saat ini Richa belum juga hamil, kalian juga selalu menolak untuk berbulan madu. Dan sekarang ada sekandal seperti ini, apa yang sedang kalian sembunyikan dari kita semua, Nel ?" tanya Naia panjang lebar.
" Ini, dari mana mba..",
" Apa itu penting, dari mana aku mendapatkannya ?", tangkas Naila memotong ucapan Nelan. " Nel, masalah ini belum sampai ke ayah dan bunda, tapi kita tidak ada yang tau kapan hal ini akan di ketahui oleh mereka, setidaknya jujurlah pada mba Nel ?" ujar Naila.
" Mba, itu gak kayak yang mba pikirin ", seru Nelan.
" Gue bakal jelasin ke mba saat waktunya tiba, untuk saat ini, aku harus pergi kerja ". Hindar Nelan. Yang bergegas pergi dari ruangan itu, berkali-kali Naila mencoba menghentikan Nelan namun udahanya sia-sia karena laki-laki itu sama sekali tidak bergeming.
Nelan melajukan mobilnya menuju kantor polisi, pikirannya terus saja memikirkan tentang Richa, wanita itu tidak pamit saat keluar dari rumah ia tidak tau apa dia saat ini sedang di kampusnya atau sedang bertemu dengan laki-laki kemarin. Saat memikirkan istrinya menemui laki-laki lain, membuat darahnya mendidih, ada amarah yang tak dapat ia gambarkan menguasai hatinya saat ini.
Siang harinya.
Richa terbagung, ia mulai bingung bagai mana cara memjelaskan situasinya saat ini pada Rehan. Laki-laki itu pasti sudah bersiap dengan bermacam pertanyaan.
" Udah bangun ?", tanya Rehan yang sudah masuk kedalam kamar dengan membawa nampan di tangannya, " Cepat bangun dan makan siang." Rehan meletakkan nampan yang berisi sepiring makanan dan segas air putih. Richa bergegas bagun ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Setelah kembali Rehan sudah menunggunya di sofa, Richa pun duduk di sofa dan langsung menyantap makanannya, Rehan menunggu Richa menyelesaikan makan nya sebelum ia memulai pertanyaan nya.
" Kalo udah selesai, sekarang bicaralah ", ujar Rehan dengan tatapan yang sangat serius. Namun Richa hanya menundukkan wajahnya. " Richa... ", suara Rehan terdengar tegas.
__ADS_1
" Aku baik-baik aja, Han...", ucap Richa.
" Baik-baik aja ? apa orang baik-baik aja bakal nangis berjam-jam ?" tanya Rehan.
" Itu karena aku merindukanmu ", dalih Richa.
" Apa ? hahaha... Saat kau merindukan mami, Lo juga gak nangis segitunya, Cha. Kita tumbuh bersama sejak kecil, kau adalah bagian dari hidupku. Tidak ada yang bisa lo sembunyiin dari gue ". ujar Rehan.
" Tatap gue, Cha. Bilang ke gue, apa ini ada hubungan nya dengan suamimu ?" tebak Rehan. Tapi ya tebakannya memang tepat sasaran.
" Han, tolong untuk saat ini, gue cuma butuh pelukan lo, dan saat tiba waktunya gue bakal cerita segalanya." Richa memohon padanya agar tidak memaksanya untuk bicara saat ini, dan Rehan pun tidak bisa memaksanya. Karena karakter Richa adalah tipe yang tidak bisa di desak, saat ia mengatakan tidak ya tidak.
" Antar gue ke kampus dong, gue ada kelas siang hari ini ", pinta Richa.
" Oke ". Rehan pun dengan senang hati mengantarkan Richa ke kampusnya.
Setibanya di gerbang kampus Richa turun dari mobil di ikuti oleh Rehan.
" Lo mau kemana ?" tanya Richa bingung melihat Rehan hampir mengikutinya masuk gerbang.
" Ikut lo lah". jawab Rehan santai. Richa mengernyitkan keningnya. Rehan mengatakan ia ingin melihat kampus Richa karena itu dia ingin ikut masuk dan Richa pun setuju karena ia ingin memperkenalkan Rehan pada teman-temannya.
" Eitd.. tunggu dulu, saat lo ketemu temen-temen gue, jangan bahas tentang pernikahan gue oke ". ucap Richa.
" Kenapa ?". tanya Rehan bingung.
" Karena belum ada yang tau kalau gue udah meerid ". jawab Richa.
" What ? Serius lo ?" tanya Rehan antusias.
" Hm. Jadi awas aja lo, kalo sampe salah ngomong ". tegas Richa dan Rehan pun setuju. Tapi ia masih belum percaya dengan apa yang di katakan Richa, kenapa dia harus menyembunyikan kenyataan tersebut.
__ADS_1