
Semuanya mulai kembali normal, huhungan Nelan dengan sang ayah juga sudah membaik, Naila dan Lilian pun akan keluar dari rumah sakit hari ini. Richa dan Nelan belum di beri ijin untuk kembali kerumah mereka oleh sang ayah sampai Naila kembali kerumah.
Sekarang Nelan selalu mengantar jemput Richa setiap hari ke kampus, pagi ini pun sama Nelan mengatarkan istrinya itu sampai di depan gerbang kampus.
" Sayang.." pangil Nelan saat Richa baru keluar dari mobil.
" Hmm.." jawab Richa lalu mendekat pada Nelan yang masih berada di dalam mobil. Richa sedikit menunduk karena Nelan bicara dari jendela mobilnya.
" Jangan dekat dekat dengan kedua cecenguk itu, oke." Richa mulai bosan mendengar kalimat yang sama setiap pagi ia mengantarkan Richa kekampus. Larangan itu di tujukan pada Dava dan Jordan. Richa tersenyum lalu mencium bibir Nelan kilas.
" Aku gak bisa, Sayang. Mereka itu teman teman ku, mana mungkin aku menjauhi mereka. Tapi tenang saja karena di hatiku cuma ada dirimu, tidak bisakah kau percaya padaku! hmm?" Nelan tersenyum melihat Richa bertingkah imut di depannya. Nelan turun dari mobilnya karena geram ingin ******* habis wanitanya itu.
" Cium dulu, baru aku akan yakin dan percaya."
" Tapi mas.." Richa melihat kesekeliling. Namun Nelan tetap kekeh dengan permintaannya itu, ia sudah mendekatkan wajahnya pada Richa.
Dan saat Richa sudah hampir mencium pipinya, Nelan malah menoleh dan yang terjadi adalah sebuah tabtakan bibir. Mata Richa membulat dengan sempurna namun Nelan malah tertawa senang.
" Mas.." Richa sedikit takut ada yang melihat mereka. Karena di kampus tidak ada yang tau kalau dirinya sudah menikah, dan lagi Richa khawatir kalau kalau salah satu sahabatnya yang melihat, mereka pasti akan merasa sangat kecewa karena sudah di bohongi oleh nya selama ini. Dan lagi Juana dengan terang terangan menunjukkan ketertarikannya pada Nelan.
" Aku pergi sekarang." ucap nya seraya mencium kening Richa. Saat mobil Nelan sudah benar benar menghilang dari pandangan mata nya Richa pun melangkah melewati gerbang kampus.
" Wah wah... Ada penyandang playgirl baru nih di kampus kita.... Ahahaha." tawa Sisil. Sisil adalah salah satu antek dari Rosalinda. Yang merasa popularitasnya sebagai bunga kamous tersaingi oleh Richa.
Walau Risalinda tak ikut mencemooh Richa namun wanita itu terlihat tersenyum sinis. Wanita itu lumayan cantik dan kaya, karena itu banyak orang yang mendekatinya, tapi tetap tak secantik Richa. Karena itu dia merasa sangat iri padanya.
" Heh, cewek penggoda. Tebal juga ternyata muka lo, semua orang udah pada tau kok, kalo lo itu suka gonta ganti cowok. Siapa yang tau ya kan, identitas asli lo di luar sana." Lanjut Sisil dengan cemoohan tak berdasarnya.
" Bodo amat." ucap Richa datar dan cuek.
__ADS_1
Richa pergi meninggalkan Risalinda dan teman temannya. Juana dan Dava sedang berjalan kearah Richa dari sisi lain, Richa pun menunjukan senyuman manisnya.
" Si cumi cumi itu ngomong apa? Kenapa dia berani benget ngomong gitu ke lo, Cha?" tanya Juana kesal.
" Udah biarin aja, males gue ngurusin tu trio boboy." ujar Richa. Lalu Jordan pun ikut nimbrung disana.
" Kok baru nongol lo Jo? bukan nya lo udah nyampe dari tadi ya?" tanya Dava.
" Hmm.. Gue tadi ada urusan." Jawab Jordan dengan wajah kusam.
Ni anak kenapa lagi sih? Mood nya sensi benget, kayak siang dan malam. Bentar bentar resek bentar bentar murung. PMS kali ya! Gumam Juana.
Setelah pelajaran selesai Richa dan ketiga sahabat nya pun pergi ke kantin untuk makan siang. Dan sepertinya akibat ulah si trio boboy yang asal bicara tadi pagi membuat seluruh kampus membicarakan dirinya yang di anggap sebagai seorang playgirl.
" Richa... Boleh dong main juga sama kita kita, gue juga lumayan kaya loh.. Tadinya kita pikir lo cewek baik baik eh ternyata lo cuma jual mahal aja sama kita, takut taripnya kecil ya. kalau main sama mahasiswa?" gurau salah satu mahasisawa. Dava berdiri lalu mendekati mahasiswa itu dan mencengram kerahnya.
" Jaga bacot lo, Tono." Dava asal sebut nama. Karena dia sama sekali tidak tau siapa laki laki menyebalkan itu.
" Gue gak perduli siapa lo, tapi bagus kalo lo udah nyebut nama lo dengan sendirinya. Karena gue bakal buat lo gak bakal bisa nyebut nama itu lagi diri mulut kotor lo ini mulai besok." Seru Dava dengan tegas. Laki laki itu pun sangat ketakutan. Richa mendatangi laki laki itu dengan santai tanpa emosi. Di tariknya tangan Dava dari kerahnya.
" Sory, tapi gue rasa lo udah keterlaluan, tapi gak masalah buat gue, karna apa! karena yang lo tuduhkan ke gue itu gak bener. Aku bukan playgirl, oke." ucap Richa santai. Ia menarik lengan Dava kembali kemeja mereka.
" Cha, ini ada apan sih? Kenapa mereka semua jadi asal bicara tentang lo." tanya Juana bingung.
" Udah lah, biarin aja. Gue juga gak tau kenapa mereka jadiin gue target buli sekarang." ujar Richa.
" Woy, Jo...? Kok lo diem aja sih, temen lo abis di katain yang gak gak tuh, bukannya belain kayak Dava malah diem aja. Betek gue ma lo." Celetuk Juana.
" Mereka bicara gitu pasti ada dasarnya kan?" ucap Jordan dengan wajah datar, untuk pertama kalinya laki laki itu bicara dengan wajah serius. Membuat Dava dan Juana tertegun.
" Apa? Jadi maksud lo, kalo lo setuju dengan tuduhan mereka? Lo Jordan yang gue kenal kan? Kalo lo beneran Jo, gak mungkin lo bisa ngomong gini tentang Richa." Kesal Juana.
__ADS_1
" Kalo rumor itu gak bener, Richa bisa tinggal bilang aja kan kalau itu gak bener dan meluruskan nya, tapi dia lebih memilih untuk gak peduli." ujar Jordan.
" Tapi Richa bilang itu gak bener Jo." Seru Dava.
" Jadi itu gak bener, Cha?" tanya Jordan datar. Richa sejenak berpikir, kenapa Jordan terlihat sangat berbeda hari ini, tatapannya seakan penuh rasa penasaran.
" Hmm, itu gak bener." jawab Richa.
" Lalu apa yang ku lihat tadi pagi juga gak bener?" tanya Jordan masih dengan tatapan yang sama.
" Tadi pagi? Apa yang terjadi tadi pagi?" tangkas Juana. Richa mulai mengerti, kalau Jordan pasti melihat apa yang di lakukannya bersama Nelan pagi ini.
" Yang kamu lihat itu benar kok." jawab Richa datar. Jordan tertawa sinis, " Tapi, tuduhan orang orang itu tidak benar, karena laki laki itu bukan orang lain melainkan suamiku." jelas Richa. Sontak mata Juana dan Jordan terbelalak menatap ke arahnya.
" Apa?" ucap keduanya bersamaan. Namun Dava hanya diam saja tak bereaksi, seakan ia sama sekali tidak terkejut akan hal itu.
" L-Lo, bilang apa, Cha?" tanya Juana ragu.
" Tapi bukannya lo bilang dia itu sepupu lo, ya?" tangkas Jordan menimpali ucapan Juana.
" Sepupu? Sepupu yang mana?" tanya Juana bingung. Karena Richa sebelumnya pernah mengenalkan dua orang sepupu pada mereka.
Richa akhirnya menjelaskan segalanya pada mereka, Juana sampai tertegun dengan cerita sahabatnya itu, Jordan sangat kecewa mengetahui wanita yang sudah sejak lama ia taksir itu ternyata sudah menikah. Begitu pun dengan Juana, ia sangat menyukai Nelan. Namun dari pada kecewa ia lebih merasa malu, karena ia sangat kekeh ingin mendekati Nelan yang ternyata adalah suami sahabatnya.
" Kok lo diem aja, dan gak terkejut sama sekali?" tanya Jordan pada Dava. Ia pun mengatakan kalau dirinya sudah menduga itu sejak kejadian di kafe sebelumnya. Dava tidak berpikir kalau Nelan adalah suaminya melainkan hanya kekasih Richa. Richa merasa lega akhirnya bisa bicara jujur pada teman teman nya, dan bersyukur mereka tidak marah atau pun salah paham padanya.
Visual, dari wajah Juana cek....
__ADS_1