
" Aaaaah.... ", Richa meringkuk di bawah meja, ia menutup kedua telinganya dengan tangannya " Ma--Mami.... Papi... Tolong, Richa takut... Mamiiii...", Karena menutup telinga dan matanya Richa tak sadar kalau Nelan sudah masuk kedalam rumah, teriakannya membuat Nelan tau keberadaan wanita itu.
" Mami... Richa takut, Mi.. Hikk hikk", teriaknya sudah terisak.
" Ada apa ?", Tanya Nelan saat sudah di depan Richa menggunakan senter ponsel sebagai penerang, Nelan melihat Richa sudah meringkuk di sela-sela kaki kursi dan meja.
" Gue takut gelap ", Seru Richa sambil menagis tanpa sadar ia memeluk Nelan. Rasa takutnya membuatnya lupa kalau laki-laki itu bukanlah papinya mau pun Riyan dan Rehan, yang selalu ia peluk dalam keadaan takut.
" Tenanglah, ada aku, jagan takut dan berhentilah menangis ", ucap Nelan, yang langsung membalas pelukan Richa.
" Apa kau mau tidur ?", tanya Nelan, Ricah hanya mengangguk pelan. Nelan mengangakat tubuh Richa bermaksud membawanya kedalam kamar.
" Ahh.. ", Erang Richa pelan.
" Kenapa ?", Tanya Nelan panik.
" Kayaknya kakiku kena pecahan gelasnya ", Ada pecahan gelas yang terselip di sendal yang Richa pakai, dan saat ia berdiri pecahan itu malah tertancap di kakainya.
" Duduklah ", Nelan meminta Richa duduk di kursi agar dia bisa melihat kaki Richa, Nelan berjongkok dan mengangkat kaki Richa, ia melihat serpihan itu masih tertancap di telapak kakinya. Walau hanya serpihan kecil namun itu sangat mengganggu dan sakit jika tidak di keluarkan. Nelan langsung menariknya keluar dari daging kenyal Richa.
" Ahh.. ",
" Apa sangat sakit ?", tanya Nelan.
" Hm.. tidak terlalu, hanya nyeri sedikit ", seru Richa. Nelan mengantar Richa kedalam kamar dan memintanya duduk di adas temoat tidur.
" Berapa banyak lagi kau akan melukai dirimu sendiri di setiap waktu ", Omel Nelan, yang merasa sungguh heran dengan kecerobohan iatrinya itu.
" Maaf, gue juga gak tau kalo listriknya bakal mati, oh ya kok bisa padam sih, ini kan perumahan ternama masak pasilitas nya gini ", lanjut Richa ikut mengomel pada pengelola perumahan.
" Mungkin sedang ada perbaikan atau kerusakan, tunggu saja bentar lagi juga pasti nyala ", Ujar Nelan yang masih sibuk mengobati luka kecil Richa.
Oh tuhan ada apa denganku, ini pertama kalinya gue ma dia ngobrol sebanyak ini, dan ada satu hal lagi yang gue lupa, kalo dia di rumah artinya gue harus tidur si luar lagi, mana gue takut gelap lagi.
__ADS_1
" Tidurlah ", Saat Nelan ingin beranjak pergi, Richa menarik lengan Nelan.
" Jangan pergi ! gue takut, aku mohon ", ucap Richa memohon dengan espresi memelas penuh harap kalo laki-laki itu akan berbaik hati padanya.
" Terus ?", tanya Nelan sambil mengernyitkan dahinya.
" Tetaplah disini temenin gue, setidaknya sampai listriknya nyala lagi, aku mohon ", ucap Richa memobon hampir menangis lagi. Akhirnya Nelan menuruti permohonan istrinya itu, Richa merebahkan tubuhnya, namun tangannya masih menggenggam erat lengan Nelan.
Kalau listriknya tak akan menyala sampai pagi, apa lo mau gue temenin sampe pagi juga.
Nelan ikut berbaring di samping Richa, keduanya menyisakan jarak, namun hanya bebrapa senti meter saja, mengingat tempat tidurnya tidk seluas itu, Richa yang dengan erat menggenggam lengan Nelan seakan enggan mereganggan pegangannya. Hingga akhirnya ia benar-benar tertidur.
Nelan melihat bayangan wajah Richa samar-samar dari cahaya ponsel yang masih tetap ia nyalakan. Saat tertidur di lihat sedekat ini, dia sangat cantik. Gumamnya seraya tersenyum, pandangannya menyusuri sendi-sendi wajah wanita itu, sampai akhirnya berhenti di bagian bibir Richa, bibir berwaran merah jambu itu menimbulkan perasaan aneh. Ada sesuatu yang tidak beres karena tiba-tiba junornya bereaksi, Nelan berusaha menekan perasaan aneh itu seraya memejamkan matanya hingga ia benar-benar ikut terlelap di samping Richa.
Untuk pertama kalinya setelah menikah keduanya tidur di atas ranjang yang sama, kalimat yang sebelumnya terlontar dari mulut keduanya menjadi terbuang sia-sia. Prinsip yang seakan tak pernah di langgar akhirnya dikalahkan oleh rasa takut dan iba.
---------
Keesokan harinya. Terlihat Richa masih menggenggam erat tangan Nelan, sepanjang malam keduanya pasti tak bergerak sama sekali, bah pohon kayu itu lah gambaran yang dapat disimpulkan saat melihat posisi tidur mereka yang masih sama.
" Aaaaa... K--Kenapa lo tidur disini ? ", tanya Richa seraya berteriak dan bangkit duduk, Richa menjauhkan tubuhnya setalah menepis tangan Nelan dengan kasar.
" Apaan sih lu, pagi-pagi udah berisik, bisa gak hidup lo tenang dikit ", Gerutu Nelan sambil mengerjabkan matanya agar terbuka dengan sempurna.
" L--Lo kok bisa tidur di sini ? B--Bukannya lo sendiri yang bilang gak mau tidur seranjang sama gue ", ucap Richa seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
" What ? halo bocah, gue rasa lo belum pikun kan, inget baik-baik apa yang udah lo lakuin sama gue semalem ", ujar Nelan yang membuat bila mata Richa membulat dengan sempurna.
" A--Apa ? gue ngelakuin apa ?", Richa semakin menjauh dari laki-laki itu sampai kesudut tempat tidur hingga tubuhnya hampir jatuh.
Nelan bangun dari tempat tidur dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Richa yang masih dengan pikirannya yang sedang mengingat kejadian semalam sebelum akhirnya ia berakhir sadar di samping laki-laki itu.
" What, OMG, Gila lo Richa, gimana bisa lo minta di temani olehnya, sumpah ini memalukan banget, lo lebih pantas menghilang aja dari bumi ini Richa ", gerutu nya pada diri sendiri yang sudah melakukan tindakan super ceroboh.
__ADS_1
Richa bergegas keluar dari dalam kamar itu karena tidak ingin melihat Nelan keluar dari kamar mandi setelah laki-laki itu selesai mandi.
" Pagi non Richa.. ", Sapa bi Nanik yang sedang membersihkan pecahan gelas yang ia jatuhkan semalam.
" Ahh, pecahan gelasnya ", Richa mendekati bi Nanik, " Maaf ya bi, Semalam listriknya tiba-tiba padam dan Richa gak sengaja pecahin gelasnya dan Richa juga gak sempet bersihin kerena gelap banget ", Richa minta maaf pada bi Nanik karena pagi-pagi sudah membuatnya repot.
" Gapapa non, ini gak susah kok non. ohya, tapi non Richa gapapa kan, gak ada yang luka kan ?" tanya bi Nanik panik, takut majikannya itu bisa saja terkena pecahan kacanya.
" Gak kok bi, semalam untung Nelan cepet datang, jadi gak sampe terjadi sesuatu, cuma kena beling kecilnya aja dikit ", seru Richa.
" Oh syukurlah non, Ohya, non mau bibi buatin minum apa ?",
" Susu aja deh bi ", jawab Richa, seraya menunggu bi Nanik menyiapkan sarapan Richa bermain ponselnya.
PING!!
Juana Imuot
Richaaaaaa....
Richa R&R
Apaan pagi-pagi udah bawel aja lu.
Juana Imuot
Hari ini soping yuk...
Richa R&R
Okay 👌
Juana Imuot
__ADS_1
Jangan telat ke kampunya, love yuo 😘😘😘
Richa benar-benar merasa sangat bersyukur bisa mengenal sosok wanita itu dan menjadi sahabatnya. Tiba-tiba Zion menelponnya dan mengatakan dia akan menjemputnya. Richa pun sangat senang dan bersemangat, Zion adalah salah satu sosok yang sangat ia rindukan, setelah ia menikah berkali-kali ia berpikir ingin menemuinya, setidaknya hanya Zion yang ia miliki di kota tempat ia tinggal saat ini.