
Saat Richa sudah berada di depan kelasnya, ia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, Nelan memang sudah berpesan padanya agar tidak pernah melepaskan cincin itu lagi, tapi teman-temannya belum tau kalau dirinya sudah menikah, jika tiba-tiba mereka melihatnya dan Richa hanya takut mereka kecewa karena selama ini sudah berbohong pada mereka. Richa akhirnya melepasnya dan menaruhnya di dalam tas yang ia bawa. Dan akan memakainya lagi nanti saat bersama Nelan.
Sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam, ponselnya beebunyi, panggilan suara dari Rehan.
" Hallo Han..."
"................"
" Oke, besok kita bertemu di restoran yang sama."
"............"
" Nelan ? Em, oke entar coba aku tanya dia."
"............."
" Oke, see you then." Richa mengahiri panggilan telepon nya.
Tiba-tiba Dava mengejutkan nya dari belakang.
" Hei, kok malah bengong di sini sih, gak masuk."
" Eh, Dav. Ini mau masuk kok, kok lo baru dateng, Juan dan Jord mana ?" Richa taka melihat Juana dan Jordan datang bersama Dava.
" Mereka gak bisa masuk, katanya sih lagi ada situasi darurat"
" Huh? dua-duanya gitu ? kompak amat. Atau emang janjian ya!"
" Entah lah, males gue bahas tu dua J. Buat kepala pusing." Keduanya pun duduk di meja yang sama. Mereka mengikuti pelajaran sampai 1 jam penuh, seharusnya akan ada satu kelas lagi setelah ini, tapi tiba-tiba dosennya memberi kabar tidak bisa hadir. Richa berencana menghubungi Nelan karena suaminya itu sudah berpesan agar menghubunginya jika kelasnya sudah selesai.
" Cha, em makan dulu yuk sebelum pulang." ajak Dava. Menurut Richa gak ada salahnya juga sih makan dulu sebentar toh Nelan taunya dia akan pulang setelah siang.
" Oke, mau makan dimana ?" tanya Richa.
" Di tempat biasa aja." jawab Dava.
-----------
__ADS_1
" Jadi, ada apa kamu ingin ketemuain disini, Nel ?" tanya Dion setelah duduk di kursi dekat Nelan. Seorang pelayan meletakkan segelas besar jus jeruk di hadapan Dion, yang sebelumnya sudah Nelan pesan dengan minuman miliknya.
" Apa gue harus buat janji kalau mau ketemu sama lo ?"
" Ya gak juga kali bos. Tapi gak biasa aja kita ketemu tanpa menyertakan si mulut ember." yang Dion maksud adalah Arga.
" Jika dia ikut serta kepala ku bisa sakit."
" Jadi, saat ini yang ada di depanku seorang teman atau atasan ?" tanya Dion.
" Teman, aku butuh teman saat ini. Lo mungkin udah denger dari Sarah, tentang aku dan Keysa."
" Tidak juga, sudah beberapa hari ini, Sarah dan Keysa tidak bertemu, dan yang aku dengar dari cewek gue, Keysa beraikap aneh sudah beberapa hari terakhir. Emang apa yang terjadi ?" tanya Dion, sambil meneguk jus jeruknya.
" Aku sudah putus dengannya. Aku baru tau ternyata selama ini dia udah memperlakukan Richa dengan sangat buruk."
" Maksud, Lo?" tanya Dion bingung.
" Selama ini, Richa tidak pernah mengatakan padaku, kalau Keysa sering menemuinya dan memperlakuiannya dengan kasar. Aku baru tahu itu kemarin, saat Keysa sekali lagi datang ke apartemen gue untuk menemui Richa." jelas Nelan. Dion pun mendengarkan apa yang di ucapkan Nelan hingga selesai, ia memang seorang pendengar yang baik dan sahabat yang setia.
" Lalu apa yang terjadi dengan Nevan dan perusahan keluarga lo saat ini, aku yakin akan ada sedikit masalah kan di dunia bisnis keluarga lo, Nel."
" Entahlah..," Jawab Nelan menghela napas, lalu ia meminum jus jeruk di depannya. Tak sengaja matanya melihat pintu masuk dan seseorang yang masuk membuat detak jantungnya tak setabil. Ia ikuti kemana arah wanita itu melangkah, wajah Nelan menampakkan rasa tidak suka saat melihat Richa duduk di depan seorang pria.
Ia memperhatikan interaksi Richa dengan pria itu, sesekali Richa tersenyum dan tertawa, Richa selalu bisa tertawa lepas di hadapan pria lain sangat berbeda saat di depannya. Walau sudah mengetahui tentang perasaannya, entah mengapa Richa masih terlihat canggung di depannya.
---------
" Richa..? Kenapa kau bersamanya ?"
Richa yang baru meneguk minuman nya terlonjak saat melihat Nelan sudah ada di sampingnya, ia berdiri dan menatap Nelan.
" Nel ? Ngapain kamu disini ?"
" Jawab peetanyaan ku? Jangan malah balik nanya?" ucap Nelan menatap tajam Richa.
Dava ikut berdiri, ia merasa bingung dengan sikap Nelan, seakan sedang mengintrogasi Richa.
__ADS_1
" Kita cuma mau makan." Richa sedikit takut karena wajah Nelan memperlihatkan kekesalan.
Apa dia marah karena aku tidak memberitahu dia kalo aku sudah selesai di kampus ?
Nelan tidak sengaja melirik tangan Richa, dan tak melihat cincin peenikahan dijarinya.
" Mana cincinnya ? kenapa gak di pakai ?" Nelan mengangkat tangan Richa dan memegang jarinya.
" Ada, aku simpan," jawab Richa.
Cincin ? Cincin seperti apa yang dia maksud ? batin Dava.
" Kenapa tidak di pakai?"
" Iya aku pakai, aku juga gak ada maksud untuk melepasnya, masalahnya tadi aku ada dikampus, karena itu aku lepas."
Dava semakin bingung, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi di hadapan nya saat ini, hingga dia pun memberanikan diri untuk bicara.
" Maaf, kalau kesannya aku ikut campur masalah keluarga kalian, tapi saat ini kita sedang ada di depan umum, apa bisa di lanjutkan saat di rumah saja." ujar Dava. Namun Nelan malah menatap tajam kearahnya.
" Apa kau sudah selesai dengannya ?" tanya Nelan, kembali menatap Richa.
" Huh? Oh iya." Richa merasa akan lebih baik ia pergi secepatnya dari tempat itu, karena sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan dari orang-orang yang ada disana.
" Kalo gitu, ikut aku pulang." Nelan menarik tangan Richa.
" Oke, Sory Dav. Aku balik duluan, sampai besok." Ucapnya sambil mengambil tas miliknya lalu mengikuti gerak kaki suaminya keluar dari reatoran tersebut.
Dion yang melihat hal bodoh yang di lakukan sahabatnya itu cuma bisa geleng-geleng kepala.
" Orang cemburu buta itu sangat merepotkan." ujar Dion. Ia menatap kearah Dava dan melihat laki-laki itu masih mematung kebingungan, Ia pun tersenyum simpul.
" Aku rasa dia juga menyukai istrimu, Nel."
Sedangkan di dalam mobil Richa duduk tanpa berkata apa-apa. Ia merasa sangat kesal karena Nelan mulai bersikap kasar lagi padanya. Ia menarik tangan Richa dengan kasar sampai berbekas kemerahan, Richa memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela mobil.
Kenapa malah dia yang marah ? Seharusnya aku yang marah, beraninya dia jalan dengan cecunguk itu, dan belum lagi beraninya dia melepas cincin nikahnya.
__ADS_1