
Setelah 1 minggu berada di New York, Richa pagi ini memutuskan keluar dari rumah seorang diri. Walau Riyan mencoba ingin ikut dengannya Richa menolak dengan tegas.
Setelah 1 jam dalam perjalanan, taksi yang Richa tumpangi akhirnya menghentikan lajunya di tepi jalan dekat pantai.
Richa menatap jauh ke tengah lautan, dengan senyum lirih.
Dimana kau mas? Kenapa kau pergi di saat aku membutuhkan mu. Tidak kah kau rasa hatiku menjerit perih, terus merintih merindukanmu. Sampai hatimu kau tinggal aku sendiri, tanpa berkata kau berlalu pergi.
Air mata Richa menetes membasahi pipinya. Ia terduduk di tepi pantai dengan memelas, segala ingatan tentang kenangan yang pernah mereka lalui saat bulan madu, membuat dada Richa kembali sesak.
"Maaf mas, karena aku sempat membencimu. Aku tau kau tidak ingin melihatku terus menangis. Tapi, hanya hari ini, biarkan aku menangis untukmu, Karena setelah ini aku harus kembali hidup dengan menyimpan kenangan indahku bersamamu. Aku harus hidup demi putra kita, dia membutuhkanku Sayang."
Richa ada di pantai hingga mata hari sudah tak menampakkan sinarnya. Richa kemabali setelah merasa puas mengajak Nelan berbicara.
" Aku mencintaimu mas. Aku akan datang lagi kesini, bersama Arya kita saat usianya sudah lebih besar. Sampai jumpa lagi Sayang." Richa pun berlalu dari sana.
Saat Richa sedang melewati jalan raya, Richa kembali mengingat kenangannya bersama suaminya disana. Richa pun tersenyum saat ia melihat sepasang suami istri sedang melalukan hal yang serupa dengan mereka sebelumnya.
Lalu tampa sadar Richa menunjukkan senyuman terindah di wajahnya untuk pertama kalinya setelah kepergian suaminya.
💫💫💫💫
3 years later.
Richa sedang membantu dokter lainnya menangani pasien di ruang ICU, sebuah rumah sakit tempat ia dinas selama 2 tahun terakhir.
Sudah saat nya ia menjemput Arya di sekolah kanak kanak. Karena maminya Richa hari ini tidak bisa menjemput Arya, biasanya memang Cyka lah yang selalu menjemput putranya itu.
Richa minta ijin pada rekan kerjanya untuk menggantikan tugasnya selama 1 jam saja. Ia berjalan menuju area parkir khusus dokter dan memasuki mobilnya. Tak lama ia sudah menyusuri jalan raya menuju tempat putranya berada.
15 menit kemudian Richa sudah sampai di depan gerbang sekolah Arya. Ia terkejut karena seseorang sedang mengajak Arya bicara, ia kemudian turun sadi mobil dan melangkah menuju Arya menunggunya.
" Hallo Sayang? Eh, Iyan?" Ucap Richa terkejut melihat adik satu satunya itu ada disana.
" Hallo sister. How are you? " Ucap Riyan seraya meregangkan tangannya.
"Mami..!?" Seru Arya yang langsung di gendong oleh Richa.
" Hallo Sayang. Iyan ? Kau disini? Kapan kau kembali?" Tanya Richa dengan senyum lebar.
__ADS_1
" Aku kembali pagi ini, karena aku sangat metindukan jagoanku karena itu aku datang menjemputnya."
" Tapi kenapa mami tidak mengatakan apa pun? Dan malah memintaku menjemput Arya." Ucap Richa.
" Aku yang meminta mami melakukan itu, karena aku ingin memberi kejutan kepada kalian."
" Kau ini." Richa memukul pelan lengan Riyan.
" Aww.. Kau liat itu Arya, mamimu ini selalu saja begitu pada paman." Rengek Riyan pada keponakan kecilnya itu.
" Mami, jangan pukul paman." Ucap Arya.
" Tidak nak, paman mu itu sedang mempermainkan mu."
" Ayo kita makan siang. Bukankah jagoan paman bilang sangat ingin memakan pizza yanv super besar."
" Hmm..Hmm.." Seru Arya kegirangan.
" Apa? Kau meminta pizza pada paman? Tidak boleh, mami sudah bilang tidak boleh memakan makanan itu kan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu.."
" Mami, tapi Arya mau pizza." Rengek putra kecilnya itu.
" Ayo lah kak. Lagi pula hanya sekali ini saja. Kau kan seorang dokter, kau bisa memberinya obat jika dia sakit. Awww.. Kenapa aku di pukul?"
" Oke, oke. Kita makan yang lain saja ya Sayang?" Riyan memgedipkan matanya pada Arya. Karena mereka sebelumnya sudah membuat perjanjian kalau di depan maminya Arya akan menututi apa pun yang di katakan maminya. Setelah itu Riyan akan membelikan apa pun yang Arya inginkan.
" Baiklah mami."
" Bagus, itu baru nama nya anak mami."
Lalu mereka bertiga pun mendatangi sebuah rumah makan, Richa memesan makanan yang menurutnya sehat bagi Arya. Selama ini Richa memang selalu menjaga pola makan Arya dengan sangat baik, karena ia tidak ingin putranya itu sampai sakit atau terjadi sesuatu padanya. Karena hanya Aryalah yang ia miliki di dunia ini sekarang.
" Ohya, apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Juana?" Tanya Richa.
" Sudah." Jawab Riyan tenang.
" Benarkah? Lalu apa katanya? Apa dia menerimamu?"
" Apa yang bisa ku katakan kak. Dia terus saja menarik ulur diriku. Kali ini pun ia mengatakan akan menjawabku saat ia sudah benar benar siap. Siap? Kapan dia akan siap? Entahlah, aku rasa dia memang tidak menyukaiku sama sekali."
Richa tertawa kecil. " Ya Tuhan, kalian ini sungguh membuat ku pusing saja." Ucap Richa.
" Kalian sama saja?"
__ADS_1
" Apa? Apa nya yang sama saja?" Tanya Arya bingung.
" Juana itu, lebih tua darimu. Dia hanya meresa tidak yakin dengan perasaanmu padanya. Karena dia sudah pernah gagal dalam cinta beberapa kali, jadi itu alasannya ia merasa ragu tentang perasaannya." Jelas Richa.
" Dedy..!?"
DHEG!?
Richa dan Riyan terkejut mendengar Arya menyebut kan kara papi untuk pertama kalinya. Richa pun menatap bingung kearah putranya.
" A-Apa.. Yang baru saja kau ucapkan Sayang?" Tanya Richa.
" Tadi ada dedy di sana." Arya menunjuk ke arah luar. Richa dan Riyan melihat kearah tangan Arya menunjuk. Namun mereka tidak melihat siapa pun disana.
" Sayang, tidak ada siapa pun disana nak. Ayo habiskan makananmu, dan setelah itu kembalilah ke rumah bersama paman Iyan ya Sayang." Ucap Richa. Lalu Richa pun mulai menundukkan wajahnya. Riyan bisa melihat perubahan wajah kakak nya itu.
Sampai kapan pun Richa akan terus mengingat Nelan di dalam hatinya Dan setiap kali ia mengingatnya hatinya pasti merasa sangat sedih.
💫💫💫💫
Hari ini Arya meminta bermain ke pantai, selama ini Richa belum pernah sekali pun mengajak Arya ke pantai. Karena menurutnya usia Arya masih belum cukup untuk bermain di tempat seperti itu.
Arya tertawa tertawa senang saat kakinya menyentuh air. Tubuhnya sudah memakai pelampung, dan ia sedang di temani oleh Riyan berenang.
Richa melihat kepahagian di wajah putranya itu, lalu ia pun mengenadahkan wajahnya ke atas menikmati hembusan angin pantai yang sejuk sambil tersenyum.
Mas, apa kau bisa melihat kami. Aku membawa Arya kita kali ini Sayang. Dia sudah tumbuh dengan sangat baik. Dia memiliki kecerdasan yang sama dengamu. Dan dia juga memiliki cita cita yang sama juga denganmu mas. Walau aku melarangnya tapi putramu itu sangat keras kepala sepertimu. Em, atau mungkin sepetiku. Hehehe. Mas, aku merindukanmu, sangat merindukanmu.
"Richa..!?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya.😘😘😘