
Setelah menuggu 1 jam akhirnya Zion sampai di depan apartemen Richa bersama Nelan.
" Papa... ", Richa sudah berhamburan ke dalam pelukan Zion bahkan tak sempat menunggu laki-laki itu masuk kedalam rumah, " I miss you my dad", lanjut Richa mencium pipi Zion bergantian. Zion pun membalas cuimam Richa di kedua pipi dan keningnya.
" Ayo masuk, pa ", Richa akhirnya mengajak Zion masuk kedalam rumah.
" Suamimu dimana ? Sayang ?", tanya Zion.
" Oh, Nelan sudah berangkat kerja, pa. Tadinya sih sempet nungguin papa dulu, tapi tiba-tiba ada panggilan dari kantornya. Dia titip salam ke papa ", Ujar Richa yang sudah duduk berdampingan dengan Zion di sofa.
" Maaf non, papanya mau dibuatkan minum apa ?", tanya bi Nanik yang baru datang dari arah dapur.
" Papa mau minum dulu gak ?", tanya Richa.
" Gak usah, Sayang. Bukannya kamu harus ke kampus sekarang ?", Richa melirik jam di melingkar di lenganya.
" Ah, benar. Ya udah Icha ambil tas Icha dulu ya pa", Richa bergegas bangkit dari duduknya, " Gak usah di buatin minuman bi, kita udah mau langsung pergi ", Ucap Richa seraya beranjak menuju kamarnya untuk mengambil tas miliknya.
Setelah Richa keluar dari kamarnya Richa pamit pada bi Nanik akan pergi. Richa merasa sangat bersemangat dengan kedatangan Zion hari ini, kendatinya Richa memang sangat merindukannya dan sudah lama ingin menemuinya.
Di dalam mobil
" Apa hari-harimu menyenangkan, Sayang ?", tanya Zion.
" Hmm, sangat menyenangkan. Apa papa tau, Richa sudah punya banyak teman sekarang, mereka semua sangat baik sama Icha ", Richa dengan antusias menceritakan kesehariannya sebagai mahasiswa.
Melihat senyum lebar di wajah Richa membuat Zion merasa sangat tenang, awalnya Zion khawatir akan keadaan keponakannya itu, Richa belum pernah jauh dari keluarganya, Nelan dan keluarganya juga merupakan orang asing yang baru di kenalnya beberapa kali sebelum pernikahan terjadi.
" Your husband, apa dia baik padamu ?", pertanyaan itu sejenak menghilangkan senyum di wajah Richa, namun tak ingin membuat Zion curiga, Richa kembali menarik sudut bibirnya agar berbentuk senyuman.
" Tentu, Pa. Dia sangat baik padaku ", Bohong Richa. Setelah perjapanan panjang mobil milik Zion akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kampus Richa.
Richa pamit pada Zion, dengan pelukan hangat dan kecupan singkat keduanya saling menugatarakan rasa rindu mereka. Lambaian tangan mengahiri pertemuan singkat keduanya. Richa memandangi sisi belakang mobil milik papa nya itu hingga tak terlihat lagi, bituran cairan bening seketika bergulir melewati kulit mulus Richa, ada rasa yang tak mampu ia gambarkan saat ini, kehadiran sosok Zion seakan mewakili kehadiaran Cyka dan Risky.
----------
__ADS_1
Richa yang baru tiba di kampus sudah di hebohkan dengan suara Juana yang menyerukan namanya seperti biasa-biasanya. Kali ini bukan hanya Juana yang menyapa kehadirannya di kampus ada Jordan dan juga Dava ikut serta.
" Ca.. entar jadi kan ?", tanya Juana seraya merangkuk lengan Richa. Richa hanya mengangguk pelan.
" Jadi apa ?", tanya Jordan dan Dava kompak.
" Iih apaan sih lo berdua, kepo aja urusan cewek", seru Juana, " Eh, kalo kalian pada kepo, gimana kalo ikut kita aja ",
" Kemana ? ", Tanya dua laki-laki itu lagi kompak.
" Idih, kompak banget sih ni 2 cap lonceng ", ucap Juana seedak bacotnya. Mengatai kedua sahabatnya itu, Richa selalu di buat tertawa oleh ulah kocah sahabatnya itu.
" Udah entar juga kalian tau ", ujar Juana.
Seraya tawanya Richa melihat tatapan mata Dava tertuju padanya, Richa yang merasa gerogi di tatap olehnya seketika menghentikan tawanya. Mereka pun berjalan menuju ruang kelas bersamaan.
" Laki-laki yang kemarin itu siapa? Ca ?", tanya Dava tiba-tiba, seketika Juana dan Jordan menghentikan langakahnya beralih menatap Richa penuh sidik.
" Laki-laki ? Siap ?", tanya Juana, antusias.
" Ahahaha, kenapa kalian menatapku begitu ?", Richa merasa sangat tak nyaman dengan tatapan ketiga mahluk itu, " Oh itu, dia adalah suami sepupu gue ", bohong Richa.
" Em, entah lah, gue cama ngerasa gak nyaman aja, udah lah gak usah di bahas, gak penting juga. Buruan kelas yuk", Richa tak ingin banyak bicara lagi perihal masalah kemarin itu.
--------
Setelah kelas usai Juana dan Jordan sudah hilang entah kemana, Richa yang masih ada di ruang kelas melihat Dava sedang sibuk melakukan sesuatu di mejanya, Richa pun memutuskan untuk mendekatinya.
" Hey !!",
" Kamu cari apa ?", tanya Richa.
" Jadwal ", jawab Dava.
" Hm, gue bantuin ?", Richa menawarkan diri.
__ADS_1
" Boleh ", seru Dava, dari pada bantuin Richa lebih mirip ngerusuhin, kertas yang ada di atas meja Dava malah jadi berserakan.
Ini mau bantu nyari atau mau rusuh.
" Eh ya, Cha... Kita kan sekelas ",
" Terus kenapa ?", tanya Richa.
" Jadwalnya sama, aku pinjem jadwalmu aja ", seru Dava.
" Oh iya ya ",
" Sini bagi No HP lo ",
" Buat apa ?", tanya Richa salah tingkah.
" Buat ngajak ngedet ", Jawab Dava asal, eh Richa malah salah tingkab beneran, " Ya gak, buat nanya jadwal la, Cha.. ",
" Ahahaha... Oh iya ", Richa menyebutkan angka-angka yang menjadi no ponselnya pada Dava.
Aduh jantungku. Ini akibat kurang abdate, di gombalin dikit aja hampir serangan jantung gue. gumamnya.
" Ya udah, balik yuk ?", ajak Dava.
" Huh?",
" Kok lo kaget gitu Cha..! Baliknya gak bareng tapi kita bisa jalan ke depan kerbang bareng kan ?", Richa tertawa ringan untuk menitupi rasa malunya karena udah berpikir Dava mengajaknya pulang bersama, " Kenapa ? apa lo mau gue anteri pulang ?", Lanjut Dava yang tau kalau Richa sedang salah tingkah.
" Ah.. Em, lo lagi godain gue ya ",
" Siapa yang lagi godain, GR banget sih Cah.. Ahahaha, becanda kok Cha ", Dava mengacak-acak rambut Richa.
" Davaaaa.... lo nyebelin, udah ah, yuk balik ", Richa bergegas pergi meninggalkan laki-laki itu, dengan senyum lebar Dava mengikuti Richa keluar.
" Richa.. ", panggil Juana dan Jordan yang baru aja nongol dari arah depan, " Yuk jalan ", ajak Juana, " Oh ya, kalian jadi ikut kan ?", tanya Juana pada Jordan dan Dava.
__ADS_1
Dava awalnya menolak, tapi Juana dan Jordan bukan tipe orang yang bisa di tolak kemauannya, yang terpaksa mau gak mau Dava pun mengikuti ketia orang itu yang tak tau arah tujuannya akan kemana.
Yang ternyata kedua cewek itu mengajak Dava dan Jordan ke mall, awalnya kedua cowok itu merasa kesal dan ingin pulang, tapi tatapan dari Juana merjnguhkan kekuatan kedua laki-laki itu. Mereka dibuat layaknya seorang pelayan yang menemani majikannya belanja, semua barang belanjaan keduanya di bawa oleh Dava dan Jordan, setelah puas belanja mereka pun memutuskan untuk makan sebelum pulang, karena sudah sangag lelah dan perut mulai keroncongan.