Ku Hanya Ingin Dicintai ( Part II )

Ku Hanya Ingin Dicintai ( Part II )
Bodoh


__ADS_3

Bagai mana caraku mengatakan padanya, aku bahkan tidak tau nomor HP nya, tapi kalo aku bilang ini sama mba Naila dia pasti bakal curiga sama hubungin kita berdua.


" Richa.. kok diem ?", seru Naila yang masih belum mendapatkan respon Richa untuk pernyataan terakhirnya.


" Oh, iya mba, kalau Nelan sudah pulang aku akan segera memberitahunya ",


" Yasudah, sampai jumpa nanti malam, bye Richa... ",


" Iya mba ", Mereka pun mengahiri panggilan tersebut.


" Gimana dong nih, gue kan gak punya nomer HP nya, trus cara gue ngabarin si gajah bengkak gimana ?", Richa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia meletakkan ponselnya tersebut di atas nakas.


Namun, dirinya dibuat terkesiap saat melihat Nelan keluar dengan tiba-tiba dari dalam kamar mandi. Nelan terlihat bertelanjang dada, Nelan menatap Richa seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang mengalung di leher.


Dia udah balik ? Tapi sejak kapan ?


Richa dengan segera menundukkan pandangannya. Dia pasti pulang cuma mau mandi dan ganti aja, sekarang apa ? gue harus ngomongin masalah yang di kasih tau mba Naila tadi ya ?.


Richa coba mengangkat wajahnya bermaksud ingin bicara pada suaminya itu. Tapi Nelan sedang memakai pakaiannya sontak Richa berbalik membelakangi Nelan.


" Ehem... ", Richa mendehem, sebelum ia lanjut bicara.


" Ada apa katakan saja ", ucap Nelan tiba-tiba.


" Huh !", Richa berbalik, ia terkejut kenapa Nelan bisa menebak kalau saat ini ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi sebelum itu ada yang mengganggu pandangannya, saat ini Nelan hanya memakai setelan yang biasa ia gunakan dirumah.


Dia tidak pergi lagi ?


" Kenapa diam ? Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu ", serunya dengan wajah datar dan nada dingin nya.


" Tadi mba Naila nelpon gue, dia bilang kita di suruh ke rumah bunda malam ini ", jelas Richa.

__ADS_1


" Hm.. ", jawab Nelan singkat, sebelum akhirnya laki-laki itu betanjak keluar dari dalam kamar tersebut, " Apa ada makanan yang bisa di makan ?", Nelan menghentikan langkahnya di depan pintu, Richa memutar lehernya di ikuti tubuhnya sehingga wanita itu menghadap ke arah laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


" Em, entahlah, bi Nanik sudah pulang lebih awal, tapi aku rasa ada makanan di kulkas, tunggulah akan coba kupanaskan ",


" Hm ", Nelan memandangi Richa yang berjalan meninggalkan kamarnya tersebut dengan bergegas menuju dapur.


Apa dia bisa melakukannya ?


Nelan sedikit ragu akan kemampuan istrinya itu di dapur, bundanya pernah mengatakan padanya betapa Richa sangat di manja di rumahnya, dia begitu di lindungi oleh seluruh keluarganya, hal itu membuat Nelan ragu kalau ia bisa berurusan dengan urusan dapur.


Nelan mendaratkan tubuhnya untuk duduk di sofa, ia terlihat sedang membaca buku seraya menunggu Richa menyiapkan makanan untuknya.


--------


Richa membuka kulkas untuk menemukan apa yang ia butuhkan. Memang benar bi Nanik sudah menyiapkan makanan untukny, namun makanan harus di panaskan lagi baru bisa di makan. Richa mengeluarkan semua makannan dari lemari pendingin bermaksud untuk di panaskan, tapi apa daya Richa yang belum pernah berurusan dengan dapur seumur hidupnya mulai bingung caranya menyalakan kompor untuk memasak.


Saat ia menyalakan kompor, begitu api menyala ia terkejut hingga terjungkat dan menggenggam pisau dapur tanpa sadar hingga terluka dan berdarah.


Yang menjadi pertanyaannya, kenapa saat ingin memanaskan makanan yang sudah jadi masih membutuhkan sebuah pisau.


" Ahh, perih ",


" Ada apa ?", Tanya Nelan panik, yang berlari keluar dari arah kamar, " Apa yang terjadi ?", Nelan terlebih dulu mematikan kompor yang masih menyala, sebelum akhirnya ia berjongkok melihat luka di telapak tangan istrinya itu.


" Apa kau bodoh, bagai mana kau bisa melukai tanganmu sendiri ?", Omel Nelan tanpa menunjukkan espresi wajah yang jelas.


Tak banyak bicara Nelan menarik Richa menuju wastafel untuk membasuh lukanya.


" Nelan, lukanya tidak parah, gue baik-baik aja."


Dia menyebut namaku.

__ADS_1


Richa coba menarik tangannya dari genggaman Nelan. Namun laki-laki itu tak menggubris penolakan Richa, ia tetap membersihkan luka di telapak tangan istrinya itu.


Lukanya lumayan dalam sehingga darah mengucut deras dari asal luka itu. Nelan membalut luka Richa dengan kain serbet untuk menghentikan pendarahannya sebelum di olesi obat dan di balut perban.


" Aww.. ", Richa memekik kesakitan saat Nelan menekan lukanya sedikit kencang.


" Apa sakit ?", tanya Nelan.


" Tentu saja sakit, gila aja lo di tekan gitu gak kerasa sakit ",


" Kalo sakit, berarti lo gak baik-baik aja ! lo itu mahasiswa kedokteran tapi bodoh." Nelan menyuruh Richa duduk di kursi beja makan, Nelan beranjak ke ruang tamu dan mendekati sebuah nakas yang ada dk ruang tamu, di ambil-lah sebuah kotak obat dari dalam laci nakas yang baru saja ia buka. Sebelum akhirnya ia kembali menghapiri Richa, Nelan duduk menghadap pada wanita itu.


" Aku bisa mengobati lukaku sendiri." Tolak Richa coba menepia tangan Nelan.


" Diam ", bentak Nelan.


" Aku ini calon dokter, jadi aku bisa mengobati lukakj sendiri ", Richa masih berusaha menolak bantuan suaminya itu. Dia masih ingat dengan jelas ucapan laki-laki itu, kalo mereka tidak boleh saling menyulitkan satu sama lain, tidak boleh saling bergantung satu sama lain.


" Diam atau mulut lo ikut gue perban." Ancaman Nelan penuh penekanan. Richa seketika tersiam tak berani bicara lagi, ia membiarkan suaminya itu mengobati lukanya yang tak seberapa parah.


Richa tak henti memperhatikan Nelan yang masih sibuk mengobati lukanya. tatapannya berubah menjadi sendu hingga kedua mata itu nampak tergenangi oleh cairan bening. Bayangan sang papi dan Riyan juga Rehan tergambar di sosok Nelan, ketiga laki-laki itu selalu mepakukan hal yang sama padanya saat ia terluka, mereka akan menjadi heboh dan berlebihan padanya. Richa sangat merindukan omelan-omelan ketiga sosok luar biasanya itu.


" Sudah." Nelan mengangkat wajahnya setelah selesai mengobati luka itu, melihat ke arah Richa, namun wanita itu tiba-tiba memalingkan pandangannya kesembarang arah sepaya Nelan tak melihat bahawa dirinya hampir saja menangis karena perhatiannya yang tak berarti apa-apa itu.


Padahal Nelan sudah melihat air mata Richa yang hampir saja terjatuh, sehingga kerutan di keningnya mengerut dengan penuh tanda tanya.


" thank you ." ucap Richa masih mengalihkan pandanganya dan sama sekali tidak mau melihat ke arah Nelan. Richa berharap Nelan segera pergi dari hadapannya saat ini, namun laki-laki itu tak juga kunjung pergi dari sana.


" Ehem..", Richa mencoba memecahkan keheningan yang tak berujung itu, saat Richa hendak beranjak berdiri, Nelan lebih dulu berdiri dan menahan pundak Richa agar tetap duduk.


" Mau kemana kamu ?", tanya Nelan.

__ADS_1


" Oh, gue mau lanjutin masak nya ", jawab Richa, seketika Nelan mengerutkan keningnya .


__ADS_2