
1 minggu kemudian
Richa terlihat baru saja pulang dari kampus, hari ini adalah hari pertamanya menjadi mahasiswa di universitas xx, Richa merasa lebih santai berada di rumah setelah menyetujui kesepakatan dengan Nelan setelah dirinya kembali dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
**
Nelan dan Richa sedang berada di ruang tamu. " Aku ingin bicara denganmu ", pinta Nelan dengan tatapan yang tak berubah, datar dan dingin, Richa memberanikan diri untuk menatap wajah laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
" Mau ngomong apa ?", tanya Richa, tanpa mengalihkan pandangannya dari Nelan.
" Kesepakatan selama kita menikah ", perkataan Nelan membuat Richa mengernyitkan keningnya.
" Kesepakatan apa ?", tanyanya penasaran, sebelum akhirnya Rucha menundukkan kepalanya.
" Kita tau pasti pernikahan ini bukanlah yang sesuai dengan yang kita inginkan, aku sama sekali tidak menginginkanmu, aku tidak mengenalmu atau menyukaimu, kita lakukan ini demi keluarga kita ",
" Lalu ?", tanya Richa.
" Aku mau selama setahun kedepan, selain di depan keluarga kau dan aku tidak perlu saling bicara atau saling berharap apa pun sama sekali ",
Richa hanya diam tanpa merespion perkataan apa yang dikatakan Nelan. Richa merasa lebih lega karena Nelan tidak terlihat menekan atau pun terlihat kesal seperti sebelumnya.
" Kau laluasa untuk melakukan apa pun yang kau inginkan, begitu juga denganku, aku akan melakukan apa pun yang ku inginkan, namun jika di depan keluarga atau orang lain yang tau tentang pernikahan ini, perlihatkan kalau hubungan kita baik-baik saja".
Nelan menatap tajam Richa yang masih diam dan menundukkan. " Angkat wajahmu ", perintahnya, Seketika Richa pun mengangkat wajahnya, " Tidak boleh ada yang tau tentang kesepakatan ini selain kau dan aku, apa kau mengerti ?", tuturnya penuh penekanan atau lebih tepatnya terdengar seperti ancaman.
Richa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah selesai mengatakan itu Nelan langsung bergegas pergi dari tempat itu meninggalkan Richa yang masih mematung di tempatnya.
**
Richa merasa sedikit lelah, ia meletakkan tas yang ia bawa di aras tempat tidur sebelum akhirnya ia juga merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak. Tanpa sadar ia malah tertidur lelap dalam waktu singkat.
Dalam waktu seminggu Nelan hanya pernah pulang kerumah beberapa kali, itu pun hanya untuk mandi dan berganti pakaian, sekalinya berpapasan dengan Richa sekedar melihatpun tidak apa lagi bicara.
Panggilan seorang wanita dari luar kamar membangunkan Richa dari tidur singkatnya.
" Iya bi Nanik ada apa ?", tanya Richa setelah membukakan pintu dan bi Nanik sedang berdiri jejajar dengannya saat ini.
" Makanan nya sudah siap non, sekalian bibi mau pamit pulang dulu ", seru bi Nanik pada Richa. Bi Nanik adalah pelayan yang di pekerjakan Nelan sejak 4 hari yang lalu.
" Iya bi, makasih untuk hari ini, hati-hati di jalan bi", ujar Richa mempersilahkan bi Nanik untuk pulang. Bi Nanik hanya bekerja dari pagi hingga pukul 6 sore, karena bi Nanik sudah memiliki keluarga.
Setelah keoergian bi Nanik Richa kembali masuk kedalam kamar, dia memilih langsung mandi, setelah itu ia makan malam, sunyi, sepi, itulah yang Richa rasakan sejak ia tinggal di rumah barunya itu. Richa coba membiasakan dirinya dengan keadaan nya itu, setidaknya dia harus bertahan sampai setahun kedepan, sesuai perjanjian yang mereka berdua buat.
----------
Keesokan harinya.
PING!
PING!
Suara HP nya berkali-kali mendapatkan pesan , namun Richa masih juga tertidur.
PLTAK!
Suara benda jatuh membuat Richa terjaga, ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia melirik jam kecil yang terletak di atas nakas, seketika matanya terbelalak saat jarum jam memunjuk pada angka 06.30.
__ADS_1
.
.
.
" AAAHH! hari ini dosennya galak! aku tidak boleh telat!!! ", Richa bergegas mandi dan bersiap-siap. Saat ia berlari keluar dari dalam kamar suara dentingan dari hak sepatunya sangat nyaring terdengar di telinga bi Nanik.
" Non, sarapannya ?", pangil bi Nanik dari dapur.
" Richa udah telat bi, jadi sarapannya entar aja di kantin kampus ", serunya seraya berlari keluar rumah, Richa terkejut melihat mobil Nelan berparkir di depan rumah.
Apa si gajah bengakak ada dirumah, tapi dimana ? kenapa aku tidak melihatnya.
Richa berbalik melihat ke arah dalam rumah, tapi tidak juga melihat Nelan.
Ah sudah lah, aki tidak perduli, dia ada dirumah atau tidak apa urusannya denganku, melihat wajahnya akan membuat hariku sial saja.
Richa melirik jam yang melingkar di lengannya, " Ahh, ****** gue, ini udah telat ", Richa langsung bergegas meninggalkan rumah.
-------
" Apa dia selalu seperti itu ?", tanya Nelan pada bi Nanik, saat Richa mandi sebenarnya Nelan sudah sampai di rumah, karena mengetahui Richa ada di kamar mandi Nelan memilih untuk sarapan lebih dulu sambil menunggu Richa keluar dari dalam kamar.
" Maksud den Nelan ?", tanya bi Nanik tak paham.
" Apa dia selalu melewatkan sarapannya ?", Nelan memperjelas pertanyaan nya.
" Tidak den, ini pertama kalknya non Richa tidak sempat sarapan. Mungkin karena ada kelas pagi di kampusnya ", jawab bi Nanik.
---------
Di dalam taxi
Richa membuka pesan yang dikirimkan Juana padanya lewat aplikasi Line yang belum sempat ia baca.
Juana
Richa! Hari ini jangan telat ya!!!!!
Richa
Oke 👌
Richa menghela napas saat taxi yang di tumpanginya berjalan sangat lambat.
" Ayo dong pak, saya sudah telat nih ", pinta nya pada supir taksi. Tapi Richa hanya di minta bersabar karena jalanan sangat macet dengan mobil yang berjejer di depannya.
PING!
Juana kembali mengirimkan pesan pada Richa.
Juana
Richa lo dumana, kok gak nyampe-nyampe kampus!
Richa
__ADS_1
Masih di tengah jalan, macet banget sumpah.
Juana
Buruan! dosennya udah mau masuk.
Richa
Iya iya, bawel.
Juana
Kelasnya ada di lantai 6.
Akhirnya Richa sampai di kampus. Richa di lewati oleh mahasiswa yang berpenampilan sedikit mencolok, rambut pirang berwarna peraknya sangat menarik perhatian Richa.
Laki-laki itu sedang asik membolak-balik beberapa kertas yang ada di tangannya.
" Gado-gadonya mas, buat sarapan, barangkali lapar ", Seorang penjual gado-gado di depan kampus menawarkan dagangannya pada si pria berambut perak itu.
" Boleh ", jawab si pria berambut perak.
Entah apa yang membuat Richa begitu tertarik dengan percakapan antara si pria perak dan ibu penjual gado-gado.
" Ini gado-gadonya mas ", Si penjual meletakkan oecelnya di depan pria perak, " Baru mau kuliah ", lanjut si ibu penjual gado-gado.
" Iya ", jawab pria perak.
" Jomblo ya ", tanya si ibu gado-gado.
" Hah ? Iya ",
Apa maksud ni ibu nanyak ginian.
" Gyahahahaha, kalo saya udah nikah mas ", ucap si ibu gado-gado.
" Sapa ?", pria perak.
" Ya saya mas ",
" Sapa nanya ?", seru pria perak dengan wajah datar.
" Ahahahahaha, Ah si mas bisa aja, jika saya single mah, mau deh sama mas, cakep, lucu lagi, ih gemes deh ", Si ibu gado-gado mencubit pipi pria perak.
Emang gue mau gitu.
" Bu suaminya tu bu.. ",
" Hah ? mana ? ", Si ibu pecel panik, mulai celingak celinguk kesana sini.
Ahahahaha.
Richa merasa geli melihat tingkah si pria perak dan si ibu gado-gado. Pagi-pagi udah dapat hiburan aja. Pikir Richa.
" I... itu orang.. tukang gado-gado digodain, ngenes banget ", ujar Richa seraya geleng-geleng kepala, Richa sampai lupa waktu.
Oh tuhan Juana.... Dosennya.
__ADS_1