
Setelah masuk kedalam kamar Richa pun bergegas mandi. Seperti biasa Rich keluar dari kamar mandi hanya menggunkan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Kerena akhir-akhir ini Nelan sangat jarang pulang, Richa jadi lupa kalau saat ini Nelan ada dirumah. Sangking asiknya mengeringkan rambut dengan handuk lain, Richa tak menaydari kalau Nelan sedang duduk di atas tempat tidur dan bersandar pada bantalannya.
" Butuh selama itu ya, mandinya." ucap Nelan tiba-tiba membuat Rich terkejut.
" Kenapa lo disini ? Keluar gue mau ganti baju." ucap Richa mengusir Nelan dari dalam kamar.
" Hei, ini kan kamarku. Aku akan disini melihat istriku memakai bajunya ". goda Nelan membuat Ricah jadi kesal.
" Keluar gak, atau gue yang bakal keluar untuk selamanya ", ancam Richa sambil menarik tangan Nelan turun dari tempat tidur. Tapi Nelan bahkan tak bergerak sedikit pun.
" Kenapa harus keluar, apa lo malu, bukan nya gue udah pernah liat ya.. sem..", Richa membungkam mulut Nelan dengan salah satu tangannya. Ia tau apa yang ingin di katakan laki-laki itu, Nelan memang sudah pernah tidak sengaja melihat Richa di kamar mandi tanpa memakai apa pun, begitu pun Richa pernah melihat Nelan tanpa memakai apa pun.
Nelan malah menarik Richa hingga terjatuh kedadanya. Richa melotot melihat wajah Nelan hanya berjarak 5 cm dari wajahnya. Nelan bisa merasakan betapa padat dan kenyal payudara Richa menyentuh dadanya, Nelan pun tersenyum nakal. Sehingga membuat Richa jadi ngeri dan mengernyitkan keningnya. Jantung Richa berdetak sangat kencang seirama dengan milik Nelan, keduanya bahkan bisa merasakn getran dari masing-masing jantung lawannya. Richa segera berdiri dan mengambil piyamanya dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
Setelah memakai baju, Richa keluar dari kamar mandi dan melihat Nelan masih berbaring di atas tempat tidur. Richa berjalan menuju meja rias dan mencoba memgeringkan rambutnya yang masih setengah basah, dan Nelan terus memperhatikan apa yang istrinya itu lakukan.
" Lo gak lapar ?", tanya Richa datar.
" Lapar". jawab Nelan dengan tersenyum manis.
" Ayo keluar kita makan malam", ajak Richa yang langsung melangkah keluar dan diikuti oleh Nelan.
Aku senang dia tidak terlihat marah lagi. Batin Nelan memandangi pundak Richa yang sedang berjalan menuju meja makan. Richa membuka tudung saji, ia meliahat bi Nanik menyiapkan cukup banyak menu akanan, dan semuanya adalah kesukaan Richa. Semur ayam dan tumis kangkung lalu pasta.
__ADS_1
" Apa ini makanan untuk kita berdua ?" tanya Nelan bingung.
" Hmm." jawab Richa yang tersenyum lebar menatap makanan di hadapannya.
" Lo yakin bisa menghabiskan semuanya ?" tanya Nelan menatap Richa antusias, " Apa perut kecilmu itu akan muat di masukkan makanan sebanyak ini ?"
" Kan ada kamu juga, jadi kita bakal habisin berdua ", tangkas Ricah.
Mereka pun menikamati makanan itu, seperti yang dikatakan makanan itu habis sampai tak tersisa. Setelah selesai makan Richa merapikan meja dan mencuci piring. Namun Nelan meminta Richa untuk menaruh piring kotornya di tempat pencucian piring.
" Biar besok pagi, bibi yang membersihkannya ", ujar Nelan namun Richa tak mendengarkan ucapannya.
" Ahh..", pegik Richa saat salah satu gelas terjatuh dari tangannya dan pecah ia pun melukai jarinya oleh pecahan gelas itu. Nelan bergegas bangun dari duduknya dan berlari mendekati Richa.
Nelan sadar sudah membentak Richa, ia pun mulai merasa bersalah, setelah membasuh lukanya Nelan menarik Richa dan menyuruhnya duduk di kursi, dan Richa pun memurut.
" Ada hal yang sebagian orang tidak bisa mereka lakukan, dan kelemahanmu adalah di dapur, setaip kamu berurisan dengan benda berbentuk kaca, lo pasti bakal luka kayak gini ", seru Nelan dengan suara rendah.
" Sory ", Ujar Richa, Nelan yang sedang berjongkok memakai salep dan membalut luka Richa ia mengangkat wajahnya dan menatap Richa yang sedari tadi sedang menatapnya. Perlahan ia berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Richa, dan dengan perlahan juga Richa bergerak mundur untuk menjauh. Namun Nelan semakin mendekatkan wajahnya di dauan telinga Richa sambil berbisik.
" Aku tidak suka melihatmu terluka, karena itu akan melukaiku juga ", Richa menoleh dan bibirnya hampir saja menyentuh bibir Nelan.
Deg... Deg...
__ADS_1
Jantung Richa mulai berdetak kencang lagi, ia menahan napasnya tanpa sadar karena gugup, wajahnya mulai merona karena menahan napas terlalu lama.
" Buatkan kopi untukku dan aku akan menunggunya di ruang tamu ", ujar Nelan menjauhkan wajahnya yang langsung berjalan menuju ruang tamu. Richa menarik napas lega, Richa mulai merasa deg-degan saat Nelan begitu dekat dengannya, ia terkadang bahkan sampai lupa bernapas karena gugup.
Dia sangat manis saat gugup. Batin Nelan sambil tersenyum. Nelan duduk di sofa walau dari kejauhan matanya masih menatap kearah Richa yang sedamg sibuk membuatkan kopi untuknya. Saat menunggu Richa membawakan kopi untuknya tiba-tiba ia mendaptkan telepon dari ayahnya, ia bingung kenapa ayahnya menghubunginya malam-malam begini, ia sempat khawatir kalau masalah gambar yang di teriama oleh Naila juga sudah di ketahui ayahnya.
" Kok gak di jawab ?" tanya Richa yang sudah berdiri di hadapan Nelan dengan secangkit kopi dan teh di tangannya, di letakkannya minuman itu di atas meja, ia melihat Nelan sangat ragu ingin menjawab panggilan itu. " Siapa yang menelpon ?" lanjut Richa bertanya karena Nelan tidak merespon pertanyaannya sebelumnya.
" Ayah ", jawab Nelan.
" Ayah ? terus kenapa gak di jawab !" tanya Richa bingung dengan sikap Nelan. Tidak biasanya dia ragu untuk bicara pada ayahnya. Nelan menarik napasnya lalu ia menjawab panggilan itu. Sedangkan Richa duduk di sampingnya.
" Apa ?", Ucap Nelan terdengar terkejut. Richa tidak tau apa yang baru saja ayah mertuanya itu katakan pada Nelan, sampai ia bisa seterkejut itu. Richa menatap Nelan bingung dan Nelan pun menatap Richa penuh arti.
" Iya ayah, Nel kesana sekarang ", ucap Nelan mengakhiri panggilan tersebut.
" Kenapa ? apa yang terjadi ?" tanya Richa.
" Aku harus kerumah ayah sekarang, saat aku kembali, akan ku beritahu segalanya". ujar Nelan, ia membelai rambut Richa, lalu ia menuju kamar mengambil jaket dan konci mobilnya, namun Ricah mengikutinya.
" Boleh aku ikut...?" Rengek Richa saat Nelan akan pergi.
" Ganti piyamamu, dan aku akan menuggumu di luar ", Nelan pun keluar dari kamar, setelah itu Richa menggnti pakaiannya dan bergegas keluar, ia melihat Nelan menunggunya di ruang tamu. Keduanya masuk kedalam mobil, Nelan membantu Richa memakaikan sabuk pengaman yang sebenarnya Richa sendiri bisa melakukannya. Nelan pun melajukan mobilnya menuju kediaman keluarganya, Richa bisa melihat Nelan sangat khawatir, ia ingin sekali bertanya apa yang terjadi, apa yang baru saja ayah mertuanya katakan pada Nelan. Namun ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Nelan saat menyetir.
__ADS_1