
1 bulan sudah berlalu sejak kejadian buruk itu, Richa dan Naila mulai bisa mengatasi trauma mereka. Richa mulai membuat Nelan merasakan sulitnya mengadapi ibu hamil. Richa memiliki permintaan aneh beberapa hari ini, bahkan hari ini Nelan di buat pusing olehnya.
" Lo kenapa bos?" Tanya Dion yang baru masuk keruangannya.
" Pusing gue."
" Istrimu minta apa lagi sekarang?"
" Dia minta di belikan makanan khas New York. Dia minta aku buat kesana cuma untuk beli makanan itu aja."
" Apa? Wuah anak lo hebet juga ya bos. Perjalanannya LA, Ahahahahaha."
Dion tertawa terbahak bahak, dia tidak tahan melihat wajah sepet Nelan.
" Masih belum lahir aja udah minta barang luar, apa lagi kalo udah besar. Aku yakin dia bakal minta di belikan pesawat ma lo, bos." Lanjut Dion menggoda Nelan.
" Entahlah, kok gini amat ya jadi bapak." Keluh Nelan sambil merebahkan tububnya di sandaran sofa seraya memijat pelipisnya.
" Jadi, lo bakal pergi?"
" Apa aku bisa menolaknya. Bunda, Ayah dan Naila bakal jadiin aku lalapan ayam sambel terasi kalo aku gak menuruti keinginan menantu mereka."
" Seriusan lo bakal pergi ke New York Nel?"
" Ya terpaksa, demi istri dan anak gue."
Dion mentertawakan Nelan sampai terjengkal jengkal di sofa. Ia merasa Nelan seperti bukan dirinya yang biasanya, yang super cuek dan dingin.
Ternyata cinta itu narkoba yang paling bahaya ya? Bisa buat si batu es meleleh sampai ke akar akarnya.
Tiba tiba Nelan mendapat panggilan dari Richa.
" Hallo, Sayang!?"
" Mas, kamu bisa pulang gak?"
__ADS_1
" Pulang? Kenapa? Apa perutmu sakit lagi?" Nelan spontan berdiri dengan wajah panik, dan membuat Dion mengikuti gerakannya berdiri dan panik. Akhir akhir ini Richa memang sering mengeluh sakit di bagian perutnya.
" Bukan mas, perutku gak sakit. Tapi aku mau mas pulang. Belikan aku rujak yang super pedas dan asem, sekarang ya mas."
" Apa? Super pedas dan asem? Tapi Sayang. Kamu kan gak boleh makan yang pedas pedas Cha. Itu bahaya biat kamu dan bayi kita."
" Tapi aku pingin mas, lagian itu bukan mau aku kok, tapi maunya anak kamu. Ayo dong mas!!"
Rengek Richa super manja. Batin Nelan berkata, apa anak ku punya kekuatan ekor sembilan ya? Kok doyanannya yang ginian sih?
" Cepat ya mas, aku tunggu sekarang juga." Paksa Richa langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Dion menatap Nelan dengan menahan tawa.
" Ketawa aja gak usah di tahan. Entar malah keluar nya lewat anus." Kesal Nelan sambil memukul pelan lengan Dion, lalu ia pun berlalu pergi meninggalkan Dion. Dari luar ruangan terdengar suara tawa Dion menggelegar.
" Tertawa aja terus, aku tunggu lo nikah dan binik lo bunting juga. Dan saat itu aku akan metertawakanmu melebihi ini." Ucap Nelan sambil melangkah keluar.
Sesampainya di rumah dengan menenteng platik kresek yang berisi satu bungkus rujak di dalam nya, Nelan masuk kedalam rumah dan langsung menuju dapur, ia melihat bi Nanik sedang beberes di dapur.
" Iya den, baru aja masuk. Sebelum den Nel datang. Loh, itu apa den? Sini bibi bantu taruh di piring."
" Gak usah bi, biar Nel aja." Nelan pun menumpahkan rujak tersebut ke dalam piring, lalu ia menaruh segelas air putih juga ke dalam nampan. Lalu ia langsung bergegas menemui Richa di dalam kamar.
Begitu Nelan membuka pintu terlihat Richa sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, ia menunjukkan wajah kesal, sepertinya mood yang sudah berubah lagi. Ia pasti sedang kesal saat ini, apa mungkin karena Nelan telat datangnya. Tapi ini belum samapi 20 menit dari waktu ia menghubungi Nelan tadi. Nelan mendekati Richa dan meletakkan nampan di atas nakas, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur.
" Mau di makan sekarang rujaknya, Sayang?" Tanya Nelan dengan nada yang sangat lembut, ia sangat berhati hati dengan ucapannya. Karena kerap siring kali ia membuat kesalahan dalam berucap yang membuat emosi Richa tiba tiba meledak.
" Sayang..."
" Mas beli rujaknya, di kota garut ya? Kok lama banget sih?" Kesal Richa.
" Ya ampun Sayang. Perjalanan dari kantor ke sini aja butuh waktu 20 menit, Richa ku. Ini aku nyampenya gak lebih dari 20 menit loh."
" Tapi kamu kan bisa lebih ngebut lagi bawa mobilnya. Keburu betek aku nunghuin kamu, mas." Richa memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Mau ngebut gimana lagi istriku, itu tadi aku bawa mobilnya udah dengan kecepatan penuh loh, calon ibu dari anakku.
" Tapi kalau aku ngebut terus kenapa napa, emang kamu rela? Ya udah aku minta maaf ya Sayang, karena udah buat kamu nuggu lama. Jadi mau makan rujak nya sekarang atau tunggu ngambeknya baik dulu?"
" Aku mau makan sekarang?" Rengeknya dengan manja persis Lilian yang sedang ngambek dan merengek.
" Ya udah, mas suapin ya?"
Nelan mengangkat piring yang berisi rujak tersebut lalu mengambil sesendok penuh dan menyodorkannya ke mulut Richa.
" Aaahhhh..." Richa memuntahkan rujak nya lagi ke piring, " Mas.... Ini pedes banget. Aaahh..." Richa langsung menyeruput habis segelas air putuh yang sebelumnya Nelan bawa.
" Apa? Tapi tadi aku bilangnya ma yang jual rujak pedesnya sedang aja kok Yang."
Nelan mencicipi sedikit rujaknya, dan rasanya gak pedas pedas amat. Richa memang tidak suka makanan pedas, karena itu Nelan minta pada penjualnya agar tidak terlalu banyak menaruh cabainya. Tapi hasilnya Richa malah tidak bisa memakannya.
" Tapi itu pedes baget mas, aku gak bisa makan itu." Richa menyentuh ujung lidahnya yang masih terasa pedas.
Tadi yang minta super pedas siapa? Udah tau gak bisa makan pedas, eh sok sok an mau yang super hott. Batin Nelan terkekeh di dalam hati.
🌀🌀🌀🌀
Keesokan harinya Nelan sudah siap siap berangkat ke bandara, untuk memenuhi keinginan istri dan calon anaknya, ia pun terpaksa pergi ke New York.
" Mas mau kemana? Kok udah rapi?" Tanya Richa yang baru keluar dari kamar mandi.
" Kan kamu yang minta, mas belikan makanan khas New York yang seperti sebelumnya pernah mas beliin dulu. Ni mas mau ke bandara mau ke New York." Jelas Nelan seraya menyingaing kerah tangannya.
" Ahahahaha.. Mas mau ke New York?" Richa tertawa terbahak bahak.
" Iya, kamu yang mau kan?"
" Buat apa ke New York Sayang. Disini juga ada kok, aku kan gak nyuruh kamj pergi beli yang di sana, Mas!!"
Nelan mengernyitkan keningnya, ia merasa seperti sedang di permainkan oleh Richa, walau sangat kesal ia tetap menahannya, lalu membalas Richa dengan cara lain. Di angkatnya tubub istrinya itu dan meletakkannya di atas ranjang, lalu ia pun mulai menggelitiki Richa sampai ia meminta ampun.
__ADS_1