Ku Hanya Ingin Dicintai ( Part II )

Ku Hanya Ingin Dicintai ( Part II )
Cinta?


__ADS_3

Pagi ini Naila menitipkan Lilian pada Richa untuk membawanya pulang kerumahnya. Karena Naila dan Salsa memiliki tugas malam di rumah sakit dan Lilian tidak ada yang menjaganya. Richa pun menyanggupinya, karena seperti biasa perasaan Richa tidak pernah berubah pada anak itu. Richa menjemput Lilian di taman bermain rumah sakit, namun setibanya di sana ia di kejutkan dengan kehadiran Rehan yang sedang bermain bersama Lilian.


" Rehan!?"


" Bibi, cantik.." Lilian berlari mendekati Richa dan langsung minta di gendong olehnya.


" Icha!? Lo disini?" Richa mengerutkan keningnya sambil tersenyum mencurigakan.


" Ada apa? Kenapa lo ngeliat gue gitu?"


" Seharusnya aku yang nayak! Lo kok bisa ada disini, dan itu gue yakin lo datang bukan karena mau ketemu gue kan?" Ujar Richa.


" Apan sih Cha. Emang harus ya kalo gue mau kesini tujuannya cuma nemuin lo."


" Terus nemuin siapa?"


" Lili bibi, papi nemuin Lili. Karena papi udah janji sama Lili bakal datang nemuin Lili tiap hari disini." Jawab Lilian. Gadis kecil itu menjelaskan segalanya sedetail mungkin.


" Apa? Beneran gitu, Sayang?"


" Hmm." Jawan Lilian mengangguk antusias.


" Emmm, jadi itu alasannya." Richa menatap aneh ke arah Rehan.


" Udah gak usah senyum senyum gitu." Rehan mengusap wajah Richa.


" Awww... Jangan dong Han, reseh deh." Kesal Richa. " Tapi aku kok nyium aroma aroma love gitu ya? Apa ada yang lagi jatuh cinta ya di kekitar sini!?" Ledek Richa sambil tertawa kecil.


" Gak usah ngehalu.." Celetuk Rehan.


" Aduh, kayaknya ada yang ngerasa nih?"


" Ngehalu itu apa bibi cantik?" Tanya Lilian polos.


" Em, itu kata kata untuk orang dewasa Sayang." Jawab Richa.


" Kenapa? Apa anak kecil gak boleh ngomong gitu?"


" Iya, Sayang. Karena itu khusus cuma buat papi Rehan."


" Lah kok gue?"

__ADS_1


" Jadi! Janji apa aja yang kamu buat sama Lili biar bisa terus datang kesini?"


" Maksudnya?"


" Lo yakin? Mau aku jawab di depan Lili. Anak ini walau masih kecil, otaknya sangat cerdas dan.."


" Oke, aku tau." Tangkas Rehan, Richa malah tertawa." Udah puas ngeledek gue?" Kesal Rehan.


Setelah perdebatan itu, Richa mengajak Lilian untuk makan di kafe. Namun Lilian memaksa Rehan juga harus ikut. Dan akhirnya mereka pun pergi bersama, namun saat di dalam mobil Lilian malah tertidur. Akhirnya Rehan mengantarkan Richa dan Lilian pulang.


Setibanya di rumah, Rehan membantu Richa membawakan Lilian kedalam dan menidurkannya di kasur Richa. Di kecupnya kening gadis kecil itu sebelum akhirnya ia keluar dari dalam kamar itu.


Rehan berjalan menuju dapur, karena Richa mengatakan akan membuatkan minuman untuknya.


" Sore bi..!?" Sapa Rehan pada Nanik.


" Sore den, Rehan." Jawab Nanik sopan.


" Ayo duduk, dan minum kopi mu." Ujar Richa sambil meletakkan gelas kopi tersebut di atas meja. Richa juga membuatkan segelas teh untuknya. Awalnya ia juga menawari Nanik, namun ia menolak. Dan langsung pamit pulang.


" Kau serius ini kau yang membuatnya?" Tanya Rehan tak yakin. Richa mengernyitkan keningnya.


" Apa kau pikir aku ngaku ngaku kalau ini minuman yang aku buat, padahal bi Nanik yang buat?"


" Rehan.."


" Oke, oke. Sory.. Aku percaya kok. Cuma aku gak nyangka aja, kamu ternyata bisa jadi cewek juga." Ujar Rehan.


" Jadi maksud lo selama ini gue apa kalau bukan cewek?"


" Itu dia, gue masih belum nemu jawabannya."


" Apa?" Kesal Richa.


" Jadi? Sejak kapan?" Lanjut Richa.


" Apa nya?" Tanya Rehan datar.


" Sejak kapan? Naila dan Lili jadi prioritas utama lo?" Tanya Richa langsung to the poin. Rehan sejenak terdiam dan terus menyeruput minumannya.


" Hmm entahlah. gimana lo tau hal ini. Aku aja gak ngerti sama sekali apa yang terjadi sama gue saat ini!" Tanya Rehan menatap tajam sorot mata Richa yang menatapnya penuh tanda tanya.

__ADS_1


" Lo tau, Han? Terkadang orang lain lebih mudah memahami perasaan kita. Padahal kita tidak bicara atau pun menunjukkan pada mereka perasaan kita." Ujar Richa. " Karena butuh waktu lama juga bagiku, menyadari kalau aku ternyata sudah jatuh cinta pada suamiku dulunya." Lanjut Richa.


" Cinta?"


" Hmm." Richa memgangguk pelan.


" Apa ini bisa di sebut cinta?"


" Aku bisa melihat cinta di matamu saat menatap Lili, kau begitu menyukainya, kau menuruti kemauannya. Dan tatapan itu juga yang kulihat di rumah sakit waktu itu. Saat kau menatap mba Naila, kau menatap nya dengan cara yang sama, seperti cara mas Nelan menatapku."


💫💫💫💫


Dalam perjalanan pulang Rehan terus memikirkan apa yang baru saja Richa katakan padanya beberapa menit yang lalu. Ia mulai terpengaruh dengan ucapan Richa, sangat sulit baginya memahami hal itu, karena selama ini Rehan belum pernah sekali pun merasakan hal itu.


💫💫💫💫


Saat Nelan pulang, ia melihat Richa dan Lilian sedang tidur lelap sambil berpelukan. Nelan mencum pipi Richa sebelum dia akhirnya mandi. Saat Nelan keluar dari kamar mandi Richa sudah tidak berada di atas tempat tidur. Setelah memakai bajunya Nelan keluar dan melihat Richa sedang menyiapkan makanan di atas meja dan menata piring untuk mereka gunakan saat makan.


" Mas sudah lapar?" Tanya Richa yang sudah di peluk Nelan dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak Richa dengan manja.


" Hmm, kamj sangat wangi. Aku suka bau parpummu Cha." Ujar Nelan.


" Itu bukan wangi parpum mas, tapi sampo. Bukannya mas pake yang sama juga ya?"


" Hmm, tapi entah kenapa aku merasa di tubuhmu terasa lebih wangi." Seru Nelan. Nelan membalik tubuh Richa dan sesaat menatap lekat mata Richa sebelum ia akhirnya menempelkan bibirnya di belahan bibir Richa.


" Emmhh. Mas.." Richa mendorong pelan dada bidang suaminya itu agar memberinya ruang untuk bernapas. " Mas, katanya lapar. Ayo makan entar makanannya dingin loh." Ujar Richa, Nelan tertawa kecil lalu menarik kepala Richa agar ia mudah mengecup keningnya. Setelah itu mereka duduk dan mulai makan hingga selesai.


Selesai makan Nelan dan Richa kembali kekamar, lalu setelah itu Nelan dan Richa naik ke ata tempat tidur dengan sangat hati hati karena Lilian masih tidur.


" Apa Lili sudah makan sebelum tidur?" Tanya Nelan yang masih duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, begitu pun Richa ia menggunakan dada bidang Nelan untuk menyandarkan kepalanya senyaman mungkin.


" Sebelumnya kata Rehan, Lilian sudah makan bersamanya. Sebelum aku menjemputnya." Jawab Richa.


" Rehan!?" Nelan sedikit bingung saat mendengar Richa menyebutkan nama Rehan.


" Hmm." Jawab Richa seadanya.


" Jadi, tadi Rehan ada dirumah sakit? Kalian janjian bertemu?" Richa menggeleng." Lalu? Kenapa dia disana." Richa mengangkat kepalanya dan menatap Nelan.


" Mas..!?"

__ADS_1


" Hmm." Richa terlihat ragu ingin mengutarakan isi pikirannya.


" Ada apa? Sayang?"


__ADS_2