
Setelah Nelan bergegas pergi dari club tersebut. Sarah berusaha keras mendekati Dion dan memohon maaf padanya.
" Sayang. Aku mohon maafkan aku, aku tau aku salah. Tapi.."
" Tapi apa? Kau lebih memilih menolong teman gila mu itu. Dan mengabaikan kehidupan orang lain, kau juga mengabaikan perasaanku."
" Sayang.. Aku.."
" Cukup, aku rasa kita untuk sementara tidak perlu bertemu dulu. Biarkan aku memikirkan tentang hubungin kita lagi."
" Sayang, jangan tinggalkan aku. Aku gak mau pisah sama kamu. Aku cinta kamu mas."
Namun panggilan sudah tak di gubris oleh Dion. Ia pun meninggalkan sang kekasih dalam keadaan menangis dan bersimpuh di lantai.
" Lo, baik baik aja, bro?" Tanya Arga yang sedang menunggunya di parkiran.
" Entahlah. Ayo pergi!!" Dion dan Arga pun pergi dari tempat itu.
🎶🎶🎶
Setibanya di rumah, Nelan bergegas masuk ke dalam rumah dengan jantung yang berdebar debar. Dia sangat yakin kalau Richa pasti akan mengamuk. Kesalahan yang ia lakukan bukan hanya sekedar tidak pulang dan memberi kabar. Namun kenyataan ia mengabaikan panggilan Richa lebih dari kesalahan yang besar.
Kebutuhan istri yang paling sederhana adalah keinginan untuk mendapat perhatian dari suami. Tidak ada satu pun wanita yang tidak butuh di mengerti dan di dengarkan. Jadi dari pada menghindarinya akan lebih baik bertanya dan mendengarkan alasan kenapa ia sampai tidak ingin suaminya di dekatnya.
" Aden...!?"
" Oh ya tuhan, kau mengejutkanku bi." Nelan yang masuk ke dalam rumah dengan mengendap endap membuat panggilan Nanik mengejutkannya.
" Aden, dari mana saja? Kenapa membiarkan non Richa menunggu semalaman dan tidur di sofa."
" Apa? Richaku tidur di sini bi? Kau serius kan?"
" Benar den. Tubuhnya sangat dingin, aku bahkan khawatir dia akan terkena demam."
Bersalah, hal itu lah yang Nelan rasakan saat ini, bahkan jika Richa mengusirnya hari ini dia sudah pasrah dengan apa pun yang akan Richa lakukan padanya.
Nelan masuk ke dalam kamar dengan sangat berhati hati. Saat ia membuka pintu kamar nya Richa pun baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Richa menatap Nelan cukup lama, hingga akhirnya ia beranjak dari tempatnya menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Tanpa mengatakan apa apa ia mengabaikan Nelan yang sedang melangkah mendekatinya.
" Sayang..!?"
Nelan membeku, suasana canggung itu sungguh mencekam, seperti sedang berada di dalam kulkas, sangat dingin.
" Cha!? Aku tau kau sedang marah saat ini. Aku bisa jelasin Sayang.."
Richa bangun dari duduknya dan hampir beranjak keluar dari dalam kamar namun di depan pintu Richa menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Nelan.
Sesaat sebelum ia akhirnya beranjak meninggalkan Nelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wanita yang sangat menakutkan yaitu wanita yang saat marah dia hanya diam dan tak mengatakan unek unek nya, dan lebih memilih memendam nya. Namun taukah kalian jika hal itu terus di pendam semakin hari akan semakin parah, dan pada satu ketika saat sudah tak mampu di bendung maka ia akan meledak seperti bom atum.
Dulu kau menghujaniku dengan perhatian, tapi sekarang kau mengabaikanku. Batin Richa, yang baru saja duduk di meja makan.
Bi Nanik ikut merasa canggung melihat espresi Richa yang begitu dingin, Richa yang biasanya begitu ceria dan selalu menyapanya jika mereka bertemu, namun kini hanya diam seribu kata. Bi Nanik meletakkan segelas susu di hadapan Richa, dan tanpa menunggu lama Richa pun meminum susu itu sampai habis.
" Ya tuhan, dia benar benar sangat marah padaku. Sekarang apa yang harus ku lalukan? Sangat sulit menghadapinya, kalau dia terus diam." Nelan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa sambil mengusap kasar wajahnya.
" Akan lebih baik dia memakiku, atau memberiku sebuah pukulan, maka itu akan lebih membuatku tenang. Diam nya sungguh mencekik ku." Gumam Nelan.
Tak lama kemudian Richa masuk kedalam kamar, untuk mengambil tas miliknya, tanpa melihat Nelan sama sekali. Nelan mencoba mendekati Richa untuk mengajaknya bicara namun saat ia ingin meraih tangan Richa ia menepisnya dan berlalu pergi begitu saja.
" Richa!? Sayang.." Nelan mengikuti Richa keluar dan menarik tangannya. Hingga langkah Richa terhenti dan berbalik menatapnya dengan tatapan yang masih sama.
" Kau mau ke kampus kan? Biar aku mengantarmu."
" Non, itu den Rehan nya udah di depan."
Richa tadi memang menghubungi Rehan dan memintanya untuk menjemputnya.
" Suruh dia masuk bi." Ucap Richa.
Tak lama kemudian Rehan pun masuk dan menayapa mereka berdua.
" Hei, kau di rumah Nel? Lalu kenapa kau menghubungiku Cha? Aku kira suamimu tidak di rumah karena itu kau butuh supir." Ujar Rehan.
" Dia sibuk, ayo kita pergi."
__ADS_1
" Apa? Tapi.."
Richa sudah menarik tangan Rehan dengan cepat keluar dari rumah. Nelan tidak bisa berbuat apa apa untuk bisa menghentikan Richa. Dia belum punya kesempatan untuk meluruskan segalanya. Yang bisa ia lakuian saat ini adalah pergi bekerja dan memikirkan cara untuk bisa membujuk Richa dan memaafkannya. Jika terus di diamkan oleh Richa lebih dari satu hari Nelan mungkin bisa gila.
Di dalam mobil Rehan.
Richa hanya diam saja, dia tidak mengatakan apa pun pada Rehan. Berkali kali Rehan melihat ke arahnya dan ingin menanyakan padanya apa yang terjadi, namun dia sedikit ragu.
Apa aku sedang membawa kulkas? Kenapa rasanya sangat dingin disini? Padahal aku menghidupkan mesin penghangatnya.
" Ehem.."
" Jangan bicara apa pun." Ucap Richa dingin.
Aku bahkan belum bicara, ada apa dengan ibu hamil ini? Dia membuatku sangat tidak nyaman.
" Aku tidak akan bertanya, sampai kau bicara sendiri padaku." Ujar Rehan.
" Baguslah."
" Tapi, Cha!? Ini tidak adil untukku. Kau seakan sedang marah padaku. Walau di dalam mobilku tidak ada kulkas, tapi rasanya sangat dingin. Tidak bisakah kau sedikit.."
" Tidak bisa."
" Apa? Apanya yang tidak bisa? Aku cuma minta biar lo bisa seyum dikit? Aku paling benci melihat wajah datarmu itu, seperti jalan tol aja, menyebalkan."
" Apa aku semenyebalkan itu?"
" Apa?"
" Apa aku seburuk itu? Sampai kau tidak ingin melihatku?"
" Woy!? Lo ngomong apa.."
" Apa karena itu aku sempe di abaikan?"
" What? Apa, suamimu melakukan itu? Apa dia mengabaikanmu? Karena itu kau memintaku menjemputmu sekarang? Jawab aku Cha? Apa itu yang terjadi?"
" Aku gak mau bicara soal ini. Jadi jangan bertanya lagi."
__ADS_1
Richa memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela mobil. Rehan juga sudah tidak bisa mendesaknya untuk bicada jika dia sudah mengatakan tidak ingin bicara.