
Setelah makan Richa ikut bersama Nelan. Hari ini Rehan mengajak bertemu karena ia ingin berpamitan dengan Richa karena besok ia harus kembali ke New York sekaligus melepas rindu karena hanya bisa bersua dalam waktu singkat.
Di dalam mobil
" Balik ke rumah kita aja ya, Sayang!" rengek Nelan yang menggenggam erat tangan Richa.
" Gak bisa, Mas. Ayah masih sakit Sayang, setidaknya saat ayah udah lebih baik baru kita bujuk ayah ya."
" Tapi aku gak bisa jauh jauh dari kamu lagi, Cha. Aku gak bisa tidur kalo gak ada kamu di sampingku."
" Ohya, masak?" goda Richa.
" Jadi kau tidak percaya padaku, Sayang?" Nelan berada dekat sekali di wajah Richa. Dia sedang membantu Richa memasang seatbelt, padahal Richa sendiri bisa melakukannya. Dan saat ini wajahnya sedang berada di depan wajah Richa dengan jarak kira kira 2 centimeter. Richa bahkan bisa mencium aroma mint serta hangat napasnya menghempas sempurna keseluruh wajah Richa. Entah mengapa jangankan untuk menjawab pertanyaannya, Richa bahkan sulit untuk bernapas. Richa menggigit bibir bawahnya gugup, tidak berani menatap mata kecoklatan miliknya yang menawan. Ia benar-benar belum terbiasa dengan cara suaminya itu menatap dirinya, karena kali ini tatapannya dan perlakuannya sangatlah berbeda. Hingga beberapa detik kemudian bibir Nelan sudah menempel tepat di bibirnya.
Jantung Richa seakan berhenti berdetak, terlebih ketika Richa melepaskan gigi dari bibir bawahnya reflek, langsung digantikan oleh gigi Nelan yang menggigit dengan lembut. Lidah Nelan menerobos masuk menyentuh lidah Richa, seolah mengajaknya bergerak bersama sama. Hingga beberapa detik sebelum ia melepaskan tautan bibir mereka dan menghebuskan napas hangat dekat sekali di wajah Richa, membuatnya berkedip sekali.
" Kau lupa lagi, Sayang." Richa tersadar dan menghirup udara banyak banyak. Nelan terkekeh dan menarik tengkuk Richa dan menciumnya lagi.
" Sekarang kau mengerti kan, kenapa aku tidak bisa jauh darimu lagi. Dan sepertinya kau sedang menggodaku Cha, jika kau menggigit bibir bawahmu lagi di hadapanku maka ingat lah hal ini akan terjadi lagi." Nelan mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman manis. Napas mereka masih terengah setelah ciuaman panjang yang membuat seluruh tubuh keduanya seakan mati rasa. Richa hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh, Nelan mengusap bibir Richa yang sudah pasti basah dan juga sedikit terasa kebas.
" Bibirmu sangat manis, Sayang. Aku menyukainya." Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya yang membuat suasana di dalam mobil itu jadi berubah sangat panas.
Ini bukan pertama kalinya aku dicium olehnya, tapi kenapa setiap ini terjadi nyawaku seakan melayang, Rumah sakit aku butuh rumah sakit sekarang....
Richa menatap Nelan sampai tak bisa berkedip. Nelan melajukan mobilnya dengan sangat tenang seolah tak terjadi apa pun.
Hanya beberapa detik namun sudah mampu menguasai kepalanya, Nelan merasa prihatin melihat isi boxer nya yang sudah terlihat sesak karena adik kecilnya bangun dengan sempurna. Andai saat itu mereka tidak sedang berada di dalam mobil, adegan yang lebih panas pasti akan terjadi, namun apa daya, Nelan hanya bisa menahan nya untuk saat ini.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan pulang tiba tiba Rehan yang melintasi jalan menuju rumah sakit yang merupakan jalur yang sama menuju rumah nya. Di seberang Jalan Rehan melihat seorang ibu hamil sedang berjalan tertatih tatih seperti menahan rasa sakit. Rehan pun menepikan mobilnya dan berhenti di bantalan jalan, ia bergegas keluar dari dalam mobil lalu berlari menghampiri wanita hamil itu.
" Hai, apa kau baik baik saja?" tanya Rehan.
" Aaahh, T-tolong, Aww.." Erangnya seraya menahan rasa sakit sambil memegangi perut nya, dan tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan .
Rehan pun segera mengangkat wanita itu dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit yang tepat berada di hadapannya saat ini. Saat Rehan memasuki rumah sakit dan seorang suster berlari mendekati mereka.
" Aku mohon bertahanlah, kau harus menjaga ibumu, oke jagoan". ucap Rehan saat merasakan sesuatu bergerak di perut wanita itu.
" Dokter, Naila?" ucap suster tersebut.
" Suster kenal wanita ini?" tanya Rehan seraya meletakkan Naila di atas ranjang.
" Tentu saja, dia adalah dokter di rumah sakit ini, dan juga merupakan putri dari pemilik rumah sakit ini." jawab suster, " Lalu apa yang terjadi padanya?"
" Dokter Salsa.." panggil suster tersebut saat melihat Salsa nelintas di dekat sana.
" Ada apa ? apa yang terjadi ? Naila..!?" Salsa bergegas mendekati putrinya itu dan melakukan pemeriksaan padanya. Karena kejadian itu kelahiaran yang di jadwalkan akan terjadi sebulan lagi akhirnya harus di lakukan hari itu juga. Karena kondisi bayi dan ibunya sedang dalam bahaya sehingga Naila harus melakukan operasi sesar, dan sang bayi harus terlahir secara prematur.
Di depan ruang operasi Rehan masih menunggu, entah mengapa ia tidak juga pergi dari sana walau ia sudah mendapatkan ucapan terima kasih dari Salsa dan memintanya untuk pulang. Ia merasa sangat cemas, saat membawa Naila dengan kedua tangannya beberapa kali Rehan merasakan sebuah tendangan dari dalam perut Naila mengenai tangannya. Rehan seperti merasa tergetar akan hal tersebut. Ia mondar mandir dengan wajah cemas, seolah ia adalah ayah dari sang bayi dan juga suami dari sang ibu, ia merasa begitu cemas.
" Rehan..!?" Suara Richa menarik perhatian Rehan ia pun berbalik dan melihat Richa dan Nelan sedang berjalan kearahnya.
" Richa..!?"
" Lo lagi ngapain disini?" tanya Richa yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
" Dan kalian, ngapain kesini?" tanya Rehan balik.
" Jawab dulu, baru balik nanya." Ujar Richa.
" Ini adalah ruang operasi Naila kan?" seru Nelan.
" Kau kenal dia?" tanya Rehan.
" Tentu saja, Naila adalah kaka iparku, dan lo kenal Naila juga?" imbuh Richa.
" Gue gak kenal sih, tapi tadi waktu dia pingsan di depan aku yang membawanya kesini." jelas Rehan.
" Ohya. Ahh, syukurlah. Untung ada lo, Han." ujar Richa.
" Lalu apa yang terjadi padanya, dokter bilang apa? maksud aku bundaku bilang apa?" tanya Nelan panik. Rehan terlihat bingung dan mengernyitkan dahinya.
" Aku tidak tau, karena aku bukan dokternya. Bunda? siapa bunda lo?"
" Ah, lo gak mungkin tau kan?" ujar Richa. Tak lama kemudian Salsa pun keluar dari ruang operasi, walau ia tidak melakukan operasi tersebut namun Salsa ingin mendampingi Naila di ruang operasi.
" Bunda, bagai mana kondisi mba, Naila?" tanya Nelan. Richa dan Rehan juga sangat penasaran dengan hasil operasinya.
" Naila dan cucu bunda baik baik aja, Sayang." Nelan langsung memeluk Salsa.
" Syukurlah.." ucap ketiganya bersamaan. Setelah Nelan melepaskan pelukannya giliran Richa yang memeluk Salsa. Ia mengucapkan selamat pada mertuanya itu. Mata Salsa melihat sosok Rehan masih ada disana.
" Kamu, kamu masih ada disini?" tanya Salsa sambil mendekatinya. Salsa meraih tangan Rehan. " Terimakasih, saya benar benar bersyukur karena kamu sudah menyelamatkan putri dan juga cucuku." ucap Salsa.
" Jangan katakan itu tante, aku hanya melakukan apa yang seharusnya." ucap Rehan sopan.
__ADS_1
" Bunda.. Kenalin ini adalah Rehan sepupu Richa." Richa memperkenalkan Rehan pada Salsa. Salsa pun tidak menyangka ternyata sosok penyelamat itu adalah merupakan anak dari kerabat nya. Salsa sangat menyukai tipikal ke polosan dan wajah lembut dari Rehan.