
Saat Richa terbangun karena suara tangisan Lilian, ia melihat Nelan juga sudah berada di samping mereka.
" Ada apa, Sayang. Kenapa Lili nangis?"
" Wuhaaaa. Hikk hikk."
" Kenapa nangis, Sayang, Hmm?" Nelan ikut bangun dan memangku Lilian. Richa dan Nelan saling tatap, ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tidak biasanya Lilian menangis saat bangun tidur.
" Kenapa ya, mas?" Tanya Richa panik.
" Ada apa, Cantik? Hmm? Keponakan paman bisanya sangat pintar dan tidak pernah nangis, apa Lili mimpu buruk?"
" Hmm..." Lilian mengangguk angguk dengan cepat.
" Emang Lili, mimpi apa, Sayang?" Tanya Richa seraya menyeka air mata Lilian.
" Lili, lihat mami di jahatin om om jahat. Hikk hikk, Mami nangis dan bilang dia sakit, Huwaaaaa..."
Lilian semakin memgencangkan suara tangisannya, Nelan memeluknya dengan erat dan menepuk punggungnya.
" Itu cuma mimpi, Lili. Lili tau kan, paman seorang polisi, yang bisa menangkap semua om om jahat yang ada di dunia ini, kalo om jahat itu datang dan mau nyakitin mami, pamam pasti bakal tangkap dia dan paman masukin kepenjara." Bujuk Nelan, lalu Lili pun mulai tenang walau ia masih terisak.
" Dengar itu kan, Sayang. Jadi Lili gak usah takut, mami gak bakal kenapa napa kok Lili." imbuh Richa.
" Paman janji, bakal jagain mami dari om jahat." Lili merenggangkan pelukannya dan menyodorkan jari kelingking yang mungilnya pada Nelan, memintanya untuk membuat janji kelingking dengannya.
" Paman janji." Akhirnya Lili pun berhenti menangis.
Tak lama kemudian, Naila datang untuk menjemput Lili. Biasanya Lili akan menolak jika Naila mengajaknya pulang, tapi kali ini ia langsung setuju walau Naila belum mengajaknya untuk pulang.
" Paman janji kan akan jagain mami Lili dari om jahat." Lilian kembali mengingatkan Nelan tentang janji yang mereka buat sebelumnya.
" Iya, Sayang, Paman janji."
" Janji apa? Dan om jahat apa?" Tanya Naila bingung.
" Mba tanya aja sama putri pintar mu itu nanti." Ujar Nelan.
__ADS_1
" Bibi, cantik sama om Jelek, Lili cantik pulang dulu ya."
Nelan, Richa dan Naila tertawa bersama melihat tingkah imut gadis kecil itu.
" Iya, Lili. Hati hati ya, Sayang." Ucap Richa sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian Lilian dan Naila. Saat mobil Naila sudah tak terlihat, Nelan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Richa dan meletakkan wajahnya di pundak Richa.
" Sekarang, bisa kan kau memanjakan suamimu lagi, Sayang." Rengek Nelan sama persis seperti Lilian.
" Dasar, paman sama keponakan sama aja. Ya udah sekarang suamiku minta apa dari istrinya." Tanya Richa. Nelan dengan gerakan cepat sudah mengangkat tubuh Richa, dan bermaksud membawanya ke kamar.
" Tapi mas, ini sudah malam dan aku belum masak. Aku juga udah laper mas...." Seru Richa.
" Kita pesan aja." Ujar Nelan, " Alasan lapar udah gak ampuh lagi, Sayang." Nelan sudah sampai kedalam kamar dan meletakkan Richa di atas kasur. Lalu desahan Richa pun mulai menggema di dalam kamar itu. Semoga cetakan kali ini membuahkan hasil, adonannya di aduk dengan sempurna. Jadi hasilnya pun bisa sempurnya.
" Mami, Lili mau eskrim, dan jajanan jeli..." Rengek Lilian.
" Ya udah, kita cari supermarket terdekat dulu ya, Sayang." Naila melihat sebuah supermarket terdekat untuk membeli jajanan yang putrinya inginkan.
BUG!?
" Awww..." Naila menabrak seseorang yang memiliki postur badan yang lebih besar dan tinggi darinya, hingga wajahnya mengenai dada kekar laki laki itu.
" Lo jalan bisa liat liat gak sih." Kesal Naila, ia mendongak dan melihat wajah tampan laki laki itu, yang hanya diam dan mengedipkan kedua matanya beberapa kali, menatap datar dirinya.
Cewek ini kan......?
" Lo bisa denger gue gak woy...." Panggil Naila. Rehan tersenyum bukanya menjawab pertanyaan Naila.
Wajah polosnya ternyata tidak sepolos cara bicaranya. Galak tapi cantik, tapi sayang udah punya suami, kalo gak pasti udah gua sikat ni cewek.
Nelan mundur satu langkah menjauh darinya. Nala menatapnya tajam.
" Sory, tapi sayang nya aku rasa kamu yang kurang memperhatikan jalanmu." Seru Rehan.
__ADS_1
" What? Jadi maksud lo gue yang salah, ya kali. Jelas jelas lo yang salah nabrak gue."
" Tapi menurutku lo yang salah, pernah gak dijalan raya kalo orang jalan di sisi kanan, gak kan? Dan sekarang ini lo jalan disisi itu."
Naila semakin kesal, ya kali di swalayan pake terapin aturan jalan, sedangakan makana yang di pajang ada di dua sisi. Ahahahaha, dasar si Rehan bisa aja buat alasannya.
" Ini bukan jalan raya, oke. Kalao gitu gimana orang mau ambil bahan makanan yang ada disisi ini." Naila malah terpancing dengan godaan Rehan yang gak jelas itu. Rehan menggerakkan bahunya, pura pura tak perdulu.
" Mami, papi..."
Naila terkejut memdengar Lilian memanggil papi. Papi, papi siap? Lilian bahkan gak tau siapa papinya, dan siapa yang baru saja ia sebut papi.
" Sayang... Kamu barusan bilang apa?"
" Mami, papi." Jawab Lilian polos.
" Papi? Siapa? "
" Dia papi, Lili kan?" Lilian menunjuk ke arah Rehan. Rehan yang merasa dirinya di ikut sertakan dalam pembicaraan antara anak dan ibu itu ikut terkejut, melihat tangan mungil gadis kecil itu tertuju padanya.
" Lilian...Kamu bicara apa? Dia ini bukan papi kamu." Bentak Naila.
Rehan yang melihat dan mendengar tidak habis pikir, bagai mana dia bisa membentak anak sekecil itu, cuma karena ia salah mengenali seseorang.
" Tapi, mi. Kata teman Lili, kalu orang dewasa bertengkar seperti bibi cantik dan paman. Berarti dia adalah papi Lili."
" Cukup, Lili."
" Aku rasa kamu sudah berlebihan memarahi putrimu." Rehan menengahi perdebatan anak dan ibu itu.
" Jangan ikut campur. Ini.."
" Aku tau ini bukan urusanku. Tapi karena kau memarahinya sebab ia salah mengira aku adalah papinya, karena itu merasa kasihan padanya. Jadi berhenti memarahinya, aku tidak tau seberapa mirip suamimu dengan diriku, sampai sampai ai salah mengira diriku papinya. Tapi aku rasa dia tidak mungkin sama tampannya denganku." Ujar Rehan sambil mengedipkan matanya.
" Hallo, gadis manis. Maaf ya, gara gara paman, kau jadi kena marah mami mu. Tapi paman ini bukan papimu, jadi lain kali agar mami tidak marah, jangan sampai salah mengenali orang lagi. Oke." Rehan menyentuk kilas ranbut Lilian. Rehan beranjak meningglkan Naila dan Lilian, ia berjalan memutar dan Naila juga berjalan memutar ke arah yang berlawanan. Namun di satu titik mereka kembali bertemu dan saling memperebutkan barang yang sama, dimana barang itu hanya tinggal satu satunya, dan keduanya kekeh ingin memiliki barang tersebut. Mereka pun akhirnya saling tarik.
__ADS_1