
Selamat membaca, Jangan lupa like dan komennya. Terimakasih, salam kasih dari Frisca. Sehat selalu.
❄❄❄❄❄❄
Setibanya Nelan dan pasukannya di lokasi yang terakhir kali Naila beritahukan sebelum akhirnya mereka kehilangan kontak dengannya juga. Nelan merasa sangat cemas karena khawatir Naila juga tertangkap oleh Bram, dan hidupnya ikut dalam bahaya.
" Rehan, lo ada disini?"
Rehan sudah tiba di lokasi tersebut 10 menit sebelum Nelan, namun ia tidak bisa menemukan Naila di mana pun, ia juga berpikir sangat gila jika ia menerobos masuk seorang diri, sedangkan ia tidak tau ada berapa banyak orang di dalam sana.
" Aku rasa Richa dan Naila ada dalam sana. Gedung itu yang di jaga sangat ketat oleh beberapa orang." Jelas Rehan
" Bagus, kau melakukan hal yang benar dengan tidak bertindak gegabah." Ucap Nelan sambil menyentuh pundak Rehan.
" Naila, aku rasa dia juga ikut tertangkap oleh mereka, aku sangat khawatir padanya." Ucap Rehan tanpa sadar. Nelan tak menyadari perhatian Rehan pada Naila karena ia sedang memikirkan keselamatan Richa dan juga Naila.
Setelah semua persiapan penyergapan selesai, Nelan, Arga dan Dion mulai bergerak.
" Pakai ini, jika keadaan mendesak kau bisa memakainya sebagai alat untuk melindungi dirimu." Nelan menyerahkan sebuah belati yang sering di gunakan seorang tentara saat melawan musuh. Rehan mengambil belati itu seraya menagnggukkan kepalanya.
" Bagai mana situasi di dalam sana?" Tanya Dion pada salah satu pengintai yang sedang mengingai kondisi di dalam ruangan tersebut.
" Aku melihat dua pria yang sedang berbincang yang salah satunya adalah Bram, dan yang satunya lagi pasti bos dari sendikat tersebut." Jelas si pengintai tersebut.
" Apa kau melihat sandranya?" Tanya Dion.
" Iya, saya melihatnya bos, ada dua sandra, yang komdisinya sangat buruk."
Dion melihat raut wajah Nelan yang berubah memerah ia mengepalakan tangannya.
" Baiklah, kita akan segera bergerak, kau bisa melepaskan tembakan jika keadaan sudah tak terkendali."
Setelah itu Nelan menabrak paksa pintu yang menghalangi jalannya untuk melihat wajah istri tercintanya.
BRAKK!?
Suara tembakan pistol dan sayatan pisau berpadu di ruangan sangat luas dan besi sebagai dindingnya.
" Habisi mereka hingga tak tersisa, aku ingin melihat kematian merenggut nyawa mereka semua hari ini." Suara dingin yang menusuk keheningan membuat jantung siapa saja berdetak di atas normal. Saat mata Nelan menangkap sosok sang istri yang sangat kacau di tangan Bram, tatapan tajam penuh amar pun begitu membara, satu hal yang ada di dalam pikirannya saat ini, yaitu membuat laki laki itu menarik napas terakhirnya di depan matanya.
" Mas..." Suara tak berdaya Richa mebuat hari Nelan sangat sesak.
" Brammmmmmm......" Nelan berlari menyayatkan pisau di lengan Bram yang sedang memegang erat leher Richa.
" Ahhhh..." Bram mengerang kesakitan karena sayatan itu melukai lengannya cukup dalam. Richa terjatuh ke dekapannya. Ia memeluk erat tubuh lemah istrinya itu, saat melihat Bram kembali bergrak ia meletakkan Richa kembali lalu ia mulai menghajar Bram dengan brutal dengan niat ingin membunuhnya.
" Mas..."
__ADS_1
Rehan mendekati Richa, Ia membantu Richa melepaskan ikatannya.
" Kau tidak pa pa? Cha!" Rehan menarik Richa kedalam pelukannya." Maaf aku telat menyelamatkanmu." Ucap Rehan sambil membelai lembut rambut Richa.
" M--Mba, mba Naila." Richa berusaha sekuat tenaga untuk memberitahu Rehan tentang kondisi Naila. Rehan merenggangkan pelukannya lalu menatap ke arah tangan Richa menunjuk.
Rehan melepaskan Richa dan beralih mendekati Naila yang sudah tidak sadarkan diri.
" Naila, Hei... Buka matamu." Rehan merogoh kantongnya untuk mengeluarkan posel dari dalam sana. Dan segera menghubungi ambulance yang sudah berada di luar. Ia mendekap tubuh tidak berdaya Naila, hatinya merasakan sakit melihat keadaan wanita itu. Sama persis yang ia rasakan saat melihat konsisi Richa sebelumnya.
Tak lama kemudian pihak medispun tiba dengan membawa peralatannya, Rehan meminta mereka segera membawa Naila dari temapat itu.
" Mas... Cukup, kau bisa membunuhnya mas. Aku mohon berhenti Sayang." Teriakan Richa tak terdengar di telinga Nelan ia terus memukuli Bram sampai tak mampu bergerak lagi.
" Cukup, Nelan." Rehan menghentikannya.
" Aku akan membunuhnya, dia pantas mati, setelah menyentuh wanitaku dan melukainya dia tidak punya hak lagi untuk bernapas di dunia ini."
" Cukup, bos. Kua tidak bisa membunuhnya, kita penegak hukum, bukan seorang pembunuh." Timpal Dion.
" Pikirkan kondisi istrimu saat ini, Bos. Dia membutuhkanmu, kami yang akan membereskan semuanya disini." Tangkas Arga.
Tanpa di sadari pikah kepolisian sudah berhasil membekap seluruh anak buah sandikat narkoba tersebut beserta dengan bosnya.
Nelan melihat kearah Richa yang sedang menangis tak berdaya yang sedari tadi terus menatapnya.
Nelan bergegas mendekati Richa dan memeluknya dengan erat. Air mata mengalir di wajahnya, melihat sang begitu kacau lemas tak berdaya. Nelan menyentuh wajah Richa ia menatap lekat wajah wanita yang ia cintai itu. Di sekanya dengan lembut air mata Richa.
" Mba Naila!?" Nelan tersadar dengan keadaan Naila.
" Aku sudah mengirimnya ke rumah sakit. Kita harus segera menyusulnya." Ucap Rehan.
" Kenapa kau biarkan dia seorang diri? Kau seharusnya menemaninya." Bentak Nelan.
" Aku juga tidak bisa meninggalkan kakaku. Maaf kan aku karena tidak pergi bersamanya." Seru Rehan.
" Ahh, Maaf sudah memventakmu. Terima kasih."
" M--Mas..." Tiba tib Richa pingsan, Nelan dan Rehan mulai panik.
" Cha..!? Richa, Sayang?" Nelan mengangkat Richa lalu bergegas membawanya pergi dari tempat itu di ikuti oleh Rehan di belakangnya.
Saat Richa sadar Nelan sedang duduk di sampingnya dengan menggenggam tangan Richa dan meggunakannya untuk menumpu wajahnya.
" Mas..."
__ADS_1
Nelan terkejut mendengar suara Richa yang parau.
" Sayang. Kau sudah sadar?" Nelan menciumi tangan Richa lalu beralih ke kening dan pipinya lalu berakhir di bibirnya. " Maaf, Cha. Kau harus mengalami ini karena aku tidak menjagamu dengan baik." Nelan meneteskan air matanya di wajah Richa. Richa menggeleng pelan.
" Maksaih, mas. Sudah datang padaku, dan menyelamatkanku." ucap Richa.
" Apa dokter sudah menyampaikan kabar baiknya padamu?"
" Kabar baik apa?" Nelan terlihat bingung.
Benarkah belum ada yang memberitahunya kalau aku sedang hamil? Bahkan bunda juga.
" Cha? Kabar baik apa, Sayang?" Tanya Nelan kembali karena Richa hanya bengong menatapnya.
" Aku mengusir semua dokter, karena mereka tidak bisa membuatmu segera sadar." Richa tersenyum kecil.
" Kau mengusir mereka?"
" Hmm. Untuk apa mereka menjadi seorang dokter kalau tidak bisa mengobati pasienya dengan benar."
" Berapa lama aku tidak sadarkan diri, Sayang?"
" Satu jam."
" Itu wajar mas, bahkan terkadang pengaruh obat bius bisa membuat seseorang tidak sadarkan diri sampai berjam jam."
" Apa?"
" Ohya mas, ada yang mau aku sampai kan padamu."
" Bicaralah Sayang."
" Saat ini, aku.... Sedang mengandung anakmu, Mas."
" Apa?"
" Aku sedang hamil, Sayang."
Nelan menampakkan senyum lebar di wajahnya, di tariknya Richa kedalam dekapannya, lalu di hujaninya Richa dengan ciuman mautnya. Tanpa perduli kalau saat ini mereka sedang ada di rumah sakit dan bukan di rumah.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya. Terimakasih, salam kasih dari Frisca. Sehat selalu.