
Dalam perjalanan Nelan mendapat laporan dari Dion, kalau kemungkinan besar dalang dari penculikan istrinya itu adalah Bram. Dari hasil penyusuran pihak nya mereka menemukan sebuah rekaman CCTV dimana Bram ikut masuk ke dalam mobil jib tersebut.
" Sial." Nelan membating keras kemudi mobilnya. " Aku akan menghabisimu, Bram. Jika kau sampai berani menyentuh istriku." Bara api amarah sudah menyelimiti hatinya.
" Kanapa, kau menggangguku." Tanya Bram kesal, bukan hanya dengan kata kata ia bahkan memverikan tamparan di wajah bawahannya tersebut. " Apa kau ingin mati, beraninya kau mengganggu kesenanganku."
" Maaf bos, tapi ada panggilan penting untukmu." ucap si pria bertubuh kekar namun pengecut jika di hadapan Bram yang postur tubuhnya berbanding dua denganya.
Bram menyambar ponsel dari tangan pria tersebut.
" Hallo."
" Hallo tuan Bram. Apa yang membuatmu begitu lama menerima panggilan dariku?" ucap si pria dari balik telepon. Suaranya terdengar seperti bukan orang lokal, karena pelapalannya sangat buruk dalam berbahasa indonesia.
" Tuan, Stepen. Oh, sory aku tidak bermaksud mengabaikan panggilanmu. Tadi aku sedang sibuk."
" Kau ingat dengan janjimu kan tuan Bram?"
" Tentu saja tuan Stepen."
" Aku berharap barangnya benar benar bagus dan mulus. Karena transaksi ini adalah yang paling besar dari biasanya, maka bayarannya juga harus sesua."
" Baiklah tuan Stepen. Kau tidak perlu khawatir, kau tau aku tidak pernah mengecewakanmu sebelumnya. Maka kali ini pun akan sama, kau pasti puas dengan hadiah yang akan ku berikan."
Setelah mengahiri panggilan tersebut, Bram sangat kesal, ia bahkan hampir membanting ponsel yang ada di tangannya.
__ADS_1
" Sial. Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menikmati tubuh wanita itu." Bram menggertakkan giginya kesal.
Bram kembali ke kadalam kamar, ia dengan terpaksa membawa Richa pergi secepatnya dari tempat itu dengan menelan selipannya. Ia menyeret Richa keluar dari dalam gedung tersebut dengan mata dan mulut tertutup.
Entah kemana laki laki itu akan membawa Richa kali ini, entah apa lagi rencana nya kali ini. Richa terus meronta namun tidak berhasil melepaskan ikatan tangannya yang sangat kuat. Dalam hati ia terus berteriak memanggil nama Nelan, ia sudah berpikir kalau hidupnya sudah berakhir dan ia juga mungkin tidak akan bisa melihat wajah suaminya lagi.
Tak lama kemudian mobil yang mereka naiki berhenti, Richa di paksa turun dari dalam mobil, dengan seluruh tubub bergetar ia merasa sangat tidak bertenaga untuk menggunakan kakinya melangkah. Lalu Richa di dudukkan di sebuah kursi dan di ikatkan di kursi tersebut.
Saat tutup mata Richa di buka, suara tawa pun menggelegar, bahkan sebagian dari mereka ada yang bertepuk tangan. Samar samar Richa melihat seorang pria berkulit putih sedang mendekatinya dengan tatapan yang sangat menakutkan, ia menatap Richa penuh hasrat. Richa menelan selipannya karena sangat takut air matanya tak henti henti mengalir, ia menggeleng gelengkan kepalanya karena pria itu mendekatkan wajahnya sangat dekat denga wajah Richa sampai tidak menyisakan ruang bernapas.
Ya Tuhan tolong selamatkan aku dan bayiku. Mas, aku mohon. Mami..... Aku tidak ingin mati, aku ingin hidup dan melihat wajah bayiku lahir kedunia ini.
" Brapo, kau memang tidak pernah sekali pun mengecewakan diriku tuan Bram." Ucap pria tersebut seraya menepuk pundak Bram.
" Tentu saja tuan Stepen. Demi kerja sama kita tetap berjalan dengan baik, kita harus selalu saling menguntungkan." Ucap Bram. Sesungguhnya ia masih merasa sedikit kecewa karena telah gagal mendapatkan Richa sebelum ia akhirnya menyerakan Richa pada Stepen sebagai bayaran dari transaksi bisnisnya.
Bisnis yang ia jalani bersama Stepen adalah bisnis gelap yaitu transaksi penjualan narkoba berskala internasional, penjualan organ tubuh secara ilegal, dan transaksi gelap lainnya.
Saat sedang asik dengan perbincangan yang tidak bermoralnya tiba tiba seorang bawahan nya masuk dengan menyeret Naila.
Mba Naila!
Richa sangat terkejut melihat Naila juga ada di tempat itu. Apa ia juga di culik oleh Bram seperti dirinya, tapi kenapa? Naila adalah ibu dari anaknya, apa dia setega itu menjadikan Naila sebagai bahan transaksi dari bisnis nya juga. Batin Richa.
Tega dan brengsek, tentu saja Bram punya julukan itu, ia bisa melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. Tapi Naila tidak termasuk dalam rencananya, sepertinya Naila tertangkap saat berusaha mengikuti Richa.
" Aaahh.." Erang Naila saat pria tersebut mencengkram tangannya ke belakang. " Ba^ingan kamu Bram. Apa yang mau kau lakukan pada Richa. Lepaskan dia."
__ADS_1
" Wuah, apa wanita ini juga salah satu hadiah yang ingin kau berikan tuan Bram?" tanya Stepen sambil mengankat wajah Naila dengan tangan nya hingga mendekat ke wajahnya.
Apa? kenapa wanita ini bisa ada disini? Ini gawat, jika tuan Stepen tau Naila tidak datang bersamaku melainkan ia mengintaiku, transaksi ini bisa gagal dan berantakan. Ini harus segera di selesaikan, entah apa yang sudah di lakukan wanita ini, aku yakin Nelan sudah tau tentang penculikan ini dan juga lokasi ini.
" Tentu saja."
" Lalu kenapa kau tidak menunjukkannya padaku dengan segera."
" Ahahaha, tadinya aku ingin memberikan hadiah penutup untukmu, setelah transaksi kita berjalan dengan benar."
" Bram... Dasar manusia tidak bermoral, lepaskan Richa. kau.. Aaahh." Bram menjambak rambut Naila.
" Aku tidak bermaksud melibatkanmu, tapi kau sendiri yang datang. Maka terima saja nasibmu, dan diamlah." Bisik Bram.
" Hentikan tuan Bram, jangan sekasar itu pada wanita cantik, kau akan melukainya." Stepen mendekati Naila ia hampir memaksa untuk mencium bibir Naila, namun ia malah membenturka kepalanya ke hidung Stepen dengan keras sampai hidung mancung pria itu mengeluarkan darah.
PLAK!?
Sebuah tamparan keras membuat Naila sampai tersungkur ketanah. Richa yang melihat itu tidak tega ia meronta ronta sampai kursi yang menopangnya terjatuh ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk mendekati Naila. Dalam keadaan terikat, lalu akibat kesekan pengikat mulutnya pun terbuka.
" Mba, Naila... Aku mohon jangan sakiti dia. Mba hikl hikk."
" Ahhh..." Lagi lagi Naila di jambak, kali ini Stepen lah yang melakukannya, Naila menatap pria itu penuh kebencian.
" Aku sangat menyukai wanita yang tangguh, karena iti membuatku semakin menginginkan nya." Ucap Stepen tertawa sini.
" Dasar pria hina. Aku tidak sudi di sentuh oleh tangan kotor mu itu, menjauhlah daruku dasar pria pria laknat." Naila meludahi wajah Stepen, membuat emosi laki laki itu menjadi kalap, ia menendang perut Naila yang sudah tergeletak di tanah. Ia menendangnya berkali kali, sampai Naila tak sanggup menarik napasnya dengan benar. Bram menghentikan Stepen.
__ADS_1
" Ini sudah cukup, kau bisa membunuhnya."
" Aku bisa melakukan itu, karena dia sudah menjadi milikku bukan." Tegas Stepen.