
Richa sedang asik menemani Lilian bermain di taman sambil menunggu kedatangan Rehan.
" Bibi cantik!"
" Iya, Sayang. Lili mau sesuatu?" Lilan menggeleng, " Trus kenapa, cantik?"
" Lili bisikin sini." Richa mendekatkan daun telinganya di bibir imut Lilian.
" Kemarin, Lilian ketemu papi."
" Apa?" Mata Richa membulat menatap Lilian bingung. Papi yang Richa pikirkan adalah Bram, ayah kandung Lilian.
" Papi....!?"
" What? " ucap Richa dan Juana bersamaan. Richa berbalik dan melihat ada Rehan dan Juana berjalan kearahnya. Lilian sudah berlari ke arah Rehan dan merangkul salah satu kakinya. Sedangkan Rich dan Juana hanya bengong karena bingung dengan apa yang sedang mereka saksikan saat ini.
" Tapi, By The Way! sejak kapan kalian sedeket itu." Richa menunjuk ke arah lengan Rehan yang sedang Juana rangkul.
" Hehehe, apan sih, cin. Ngiri aja lo." Rehan melepaskan rangkulan Juana dari lengannya lalu ia langsung memeluk Richa.
" Apa kabar, cantik." ujar Rehan.
" Baik, lo apa kabar."
" Kayak yang lo liat." Rehan menunjukkan senyum lebar.
" Papi gak meluk Lili?!" Tanya Lilian dengan menunjukkan wajah imutnya. Rehan pun berjongkok lalu memeluk Lilian tanpa ragu.
" Hi, gadis manis. Kita bertemu lagi." Ujar Rehan seraya menyentuh pipi cabi Lilian.
" Rehan. Lo kenal Lilian?" tanya Richa bingnung.
" Lo, udah punya anak Rehan?" Timpal Juana.
" Ahahaha... Ya gak lah. Ngaco aja lo, Juana." Seru Richa nyengir.
" Lo tau kan Lili itu, anak nya mba Naila. Gimana bisa jadi anak nya si Rehan. Cowok lapuk yang gak laku laku ini gimana mau punya anak." ujar Richa meledek Rehan.
" Hei, gak perlu ngatain gue lapuk juga kan." Kesal Rehan.
" Bener kok, bibi cantik." ucap Lilian khas suara imutnya.
" Bener apanya, Sayang?" Tanya Richa sambil menggendongnya.
" Dia papi Lili."
" Oh ya? Tapi sejak kapan paman ini jadi papi kamu cantik?" Tanya Juana.
" Tante jelek, Lili gak mau kasih tau."
" Ahahahaha. Kamu suka jujur banget sih Lili." Seru Juana, memcubit pelan pipi embem Lilian.
__ADS_1
" Gak boleh gitu, Lili. Gak sopan bilang orang yang dewasa gak cantik. Walau Lili bener."
" Tega amat lu, Cha. Lo mah menabur garan di atas luka."
" Bibi, Lili mau di gendong papi." Lilian meronta minta di turunkan dan minta di gendong oleh Rehan. Udaha nya berhasil dan Rehan pun tidak menolak kemuan gadis kecil itu.
Rich dan Rehan duduk kursi taman, dan mebiarkan Lilian bermain bersama teman temanya. Sedangkan Juana terpaksa kembali ke dalam karena baru mendapatkan panggilan darurat.
" By The Way, Lo bisa kenal Lili, giman cerita nya Han?"
" Em, secara kebetulan aja. Kemarin aku ketemu dia di supermarket, sempet geger juga soalnya dia salah mengira kalo gue itu papinya."
" Huh!? Kok bisa?"
" Mungkin gue mirip papinya kali."
" Gak mungkin lah Han." Rehan menatap Richa bingung. " Apa lo inget? 3 tahun yang lalu, pernah nolongin kakak ipar gue!"
" Hm. Gue inget, dan anehnya lagi kejadian hari itu gue gak bisa lupa sama sekali." ujar Rehan.
" Anak itu, adalah Lili." Rehan menatap Richa tak percaya.
" Serius? Jadi bener itu dia. Jadi kemarin aku gak salah mengenali seseoarang." gumam Rehan.
" Maksud lo?" Tanya Richa bingung, walau Rehan cuma bicara pelan tapi Richa bisa mendengarnya.
" Lili...!?" Suara Naila terdengar dari belakang Richa dan Rehan memanggil Lilian. Rich dan Rehan menoleh ke belakang melihat kehadiran Naila.
" Lili, kangen mami?"
" Hmm..." Lilian mengguk angguk dengan cepat.
" Lo... Kenapa di mana mana harus ada lo sih!" Celetuk Naila menunjuk ke arah Rehan.
" Dunia ini sempit ya ternyata. Atau mungkin jodoh."
Richa terkekeh melihat perdebatan kedua orang itu, tapi Naila malah mengernyitkan keningnya dan menatap tajam Rehan.
" Jangan melihatku terlalu lama. Kalo kamu sampai jatuh hati padaku, bisa rueh." ujar Rehan datar.
PLTAK!?
" Awww..." Richa memukul lengan Rehan.
" Lo, kePDan banget sih." Celetuk Richa.
" Kamu kenal, si otak udang ini, Cha?" tanya Naila.
" What, otak udang?" seru Rehan kesal.
" Ahahaha.... Iya mba. Si otak udang ini sepupu aku, Rehan." Jawab Richa. " Oh ya. Mba Naila pernah bilangkan dulu, pengen ketemu cowok yang pernah bantuin mba waktu Lilian hampir lahir. Nih orangnya." Richa menunjuk Rehan.
__ADS_1
Naila dan Rehan saling tatap bingung.
" Lo inget kan Han?"
" Hmm, gue inget."
" Jadi, dia orangnya? Kamu yakin Cha?"
" Hmm. Dia orangnya." Jawab Richa memperjelas.
Serius, si otak udang ini yang nolongin aku ma Lilian. Jujur males banget sih, tapi aku juga harus bilang makasih ma dia.
" Ohya, kalo gitu aku ucapin maksih udah nolongin aku ma Lilian hari itu." Ucap Naila.
" Tulus gak tuh?"
Naila mengernyitkan dahinya.
" Han..." Seru Richa.
" Iya iya. Oke, aku terima ucapan terimakasihnya."
Setelah perbincangan itu selesai, Lilian merengek pada Rehan minta di temani bermain. Rehan menurutinya, Lilian terlihat sangat senang bisa bermain dengan Rehan. Tawa nya sampai terdengar menggelegar di telinga Richa dan Naila dari tempat mereka memperhatikan. Saat Richa bangun dari duduknya tiba tiba ia merasa pusing, ia kembali terduduk.
" Kenapa, Cha? Kamu gak pa pa kan?" Tanya Naila panik.
" Iya, Mba. Tapi kepala ku pusing dan aku juga sedikit mual. Apa karena tadi pagi telat sarapan jadinya masuk angin." jawab Richa.
" Cha...!?" Naila menatap tajam Richa dan Richa pun membalas tatapan Naila dengan tatapan yanga sama, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama. Richa menitipkan Lilian pada Rehan dan ia pun ikut dengan Naila menuju ruangan salah satu dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu. Naila menani Richa melakuian pemeriksaan, mereka memilih dokter lain da bukannya Salsa karena Richa takut hal yang di harapkan tidak terjadi dan Salsa bisa kecewa lagi.
Richa dan Naila menatap penasaran ke wajah dokter Nara. Wajah dokter Nara terlihat serius membuat Naila dan Richa sangat deg degan. Lalu dokter Nara pun mengangguk pelan dengan senyum lebar tersirat di wajahnya. Richa dan Naila saling berpelukan, air mata Richa mengalir seketika.
" Akhirnya, Cha. Selamat ya, Cha." ujar Naila.
" Makasih, mba."
" Selamat ya, Richa. Akhirnya yang di tunggu tunggu hadir juga. Tolong di jaga dengan baik." ujar dokter Nara.
" Terima kasih dokter."
Karena sangat senang Richa sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar itu pada Nelan. Ia pamit pada Naila kalo ia akan pergi menemui Nelan, dan menyampaikan kabar gembira itu secara langsung.
" Ada apa dokter Nara?" tanya Naila yang tiba tiba di hubungi dokter Nara.
" Richa meninggalkan ponselnya di ruanganku. Minta dia mengambilnya." jawab dokter Nara.
" Ya tuhan anak itu, karena bersemangat ia sampai melupakan barang nya. Ya sudah biar aku saja yang ambil dok."
Setelah itu Naila mencari Richa ingin memberikan ponsel tersebut padanya. Namun Richa sudah berjalan keluar dari gedung rumah sakit dan Naila pun mengikutinya. Di depan gerbang Richa sedang menunggu taxi online yang di pesannya.
" Richa....!?"
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di dekat Richa dan dua pria membekap mulutnya dan menariknya masuk kedalam mobil berwarna hitam tersebut.