
" Eh, mba Nai menelpon. Sebentar bro."
" Mba, Naila!?" Dion dan Arga menatap bingung Nelan.
" Hallo, mba. Ada apa?"
" Nelannn.. Tolong, Sepertinya ada yang sedang berusaha menciliknya."
" Apa? Mba yakin? Trus kenapa suara mba kayak bisik bisik?"
" Mba, lagi sembunyi deket mereka. Nel cepat kesini. Mba takut Lili kenapa napa."
" Oke, Nel kesana sekarang. Mba jangan bertindak gegabah. Cukup awasi saja dari tempat yang tidak terlihat. Tunggu Nel datang."
Setelah panggilan terputus Nelan bergegas bangun dari tempat duduknya.
" Ada apa? Apa yang terjadi pada mba Naila?" Tanya Dion panik karena melihat Nelan yang panik.
" Mba, Nai bilang ada yang ingin menculik Lili." Jawab Nelan sambil bergegas keluar di ikuti keduanya.
" Lili? Maksud lo, keponakan lo itu?" Nelan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Arga. Ketiganya masuk ke dalam mobil Nelan dan bergegas melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
💫💫💫💫
Naila, yang bersembunyi di balik pohon, tidak melihat jelas wajah pria tersebut karena terhalang oleh batang pohon besar.
" Cepet Nel. Mba mohon.." Naila benar benar camas." Aku tidak bisa menunggu lagi, keburu putriku di bawa penculiknya." Naila melihat ke sekeliling untuk mencari sesuatu, ia melihat sebuah balok di sudut jalan, lalu ia mengambil balok itu untuk di jadikan senjata.
" Lili adalah putriku, hanya aku yang bisa melindunginya." Ucap Naila sambil menarik napas panjang, lalu ia memengang erat balok tersebut dengan kedua tangannya. Ia mengangkat balok itu siap untuk di gunakan menimpuk kepala si penculik. Ia berjalan perlahan, saat sudah mendekat, Naila menutup matanya lalu sedikit berlari dan berteriak.
" Daras, pedopil sialan. Mau lo bawa kemana anak aku.."
BHUG!? BHUG!?
" Naila!?"
" Mami!?"
" Eh, lo....!?"
" Iya ini gue. Awww, pukulanmu bertenaga juga ya? Lengan aku sampe berdarah loh." Ujar Rehan.
" Nah kamu ngapain, berdiri di sebelah pohon?" Kesal Naila.
" Tanya pohon nya dong kenapa tumbuhnya di situ." Goda Rehan. Naila mengerutkan keningnya karena kesal.
" Mami, kok papi di timpuk. Darah, papi ada darah." Lilian menunjuk ke arah lengan Rehan yang memang bekas pukulan balok Naila memercikan darah. Walau lukanya tidak dalam dan hanya tergores bagian luarnya, namun goresan itu mengeluarkan lumayan banyak darah.
" Sory, gue pikir lo tadi orang jahat. Dan mau.."
__ADS_1
" Mau nyilik punti kamu?" Tangkas Rehan.
" Hmm." Rehan tersenyum kecil. " Ikut aku." Naila menarik lengan Rehan dan Lilian di gandeng oleh Rehan. Kedua orang itu hanya menurut mengikuti Naila.
Setibanya di parkiran, Naila mengeluarkan kotak P3K dari dalam mobilnya. Lalu meminta Rehan masuk ke dalam mobil, lalu ia pun mengobati luka Rehan dan membalutnya.
Saat proses mengobati lukanya Rehan terus memperhatikan Naila membalut lukanya dengan sangat lembut. Saat sudah selesai, Naila mengangkat wajahnya lalu tatapannya pun bertabrakan dengan tatapan Rehan.
Ada getaran di hati Rehan yang tak mampu ia gambarkan. Naila dengan cepat memalingkan tatapannya.
" Mami, mukanya panas." Ujar Lilian tiba tiba menyentuh wajah Naila dari bangku belakang.
" A--Apa?" Naila jadi salah tingkah. Rehan tertawa kecil melihat wanita itu gelagapan.
" Lili, mau makan apa? Tadi katanya Lili laper kan?" Tanya Rehan, untuk mencairkan suasana canggung di sana.
" Hmm, hmm. Lili mau pizza super jumbo." Jawab Lilian antusia. Lalu mereka pun akhirnya pergi bersama untuk makan siang bersama karena tidak bisa menolok keinginan Lilian yang ingin Rehan ikut bersama mereka.
💫💫💫💫
" Lokasinya bener disini kan bos?" Tanya Dion setibanya mereka di lokasi dekat rumah sakit, di depan sekolah kanak kanak Lilian.
" Benar, ini tempatnya."
" Lalu dimana mereka? Apa jangan jangan penculiknya sudah berhasil membawa Lili dan mba Naila." Ujar Arga.
Lalu Nelan menghubungi Naila, dan bertanya padanya apa yang terjadi, kenapa dia tidak ada di lokasi.
" Tapi siapa mba?" Tangkas Nelan.
" Dia Rehan." Jawab Naila.
" Apa? Ya ampun mba.. Ya udah, berarti semuanya udah baik baik aja kan?"
" Iya, maaf ya. Udah buat kamu khawatir."
Nelan merasa lega, dan juga sedikit kesal juga. Arga dan Dion ikut merasa lega karena tidak terjadi hal buruk.
" Bos mau kemana?" Tanya Arga saat melihat Nelan beranjak ke arah gerbang rumah sakit.
" Mumpung disini, gue mau minum obat pitamin dulu." Jawab Nelan sambil mengedikan sebelah matanya.
" Sialan lo. Inget binik lo lagi bunting sekarang. Mau nambah lagi, yang itu aja belum kelar di lahirin." Celetuk Arga.
" Bilang aja lo ngiri." Ledek Dion.
" Ya, gue ngiri, puas lo berdua." Kesal Arga.
Lalu Nelan pun meninggalkan kedua sahabatnya itu, untuk menemui istrinya yang saat ini sedang bekerja.
__ADS_1
💫💫💫💫
Richa dan Juana sedang mengobrol di kantin rumah sakit, sambil menunggu waktu makan siang selesai.
" Lah, itu bukannya mas lo, ya Cha?" Richa menoleh ke belakang dan melihat Nelan sedang berjalan ke arahnya dengan senyum lebar di wajahnya.
" Mas..!?" Richa banung dan langsung berlari menghampiri Nelan sambil berhamburan ke dalam pelukannya.
" Jangan lari Sayang.."
" Aku kangen mas. Kok mas ada disini?" Richa memeluk Nelan dengan manjanya, lalu Nelan mendaratkan sebuah kecupan kilas di bibir Richa.
" Mas kesini karena kangen kamu, sama anak aku."
" Oh ya tuhan. Kuatkan lah hati dan mataku agar tidak terbakar api cemburu." Ucap Juana sambil berjalan mendekati kedua suami istri itu.
" Emang pisah 5 jam aja berasa setahun ya bagi yang udah bucin." Sindir Juana sambil mengericutkan bibirnya.
" Ahahahaha. Makanya cari pasangan sana. Biar ada yang kangenin dan juga ada yang manjain kayak masku ini." Ujar Richa menyombongkan Nelan padanya.
" Tau deh, gue tinggal aja deh. Gue gak mau jadi obat nyamuk disini, liat lo berdua yang ada hatiku sesek. Bye mas ganteng."
" Hei, jangan godain suami gue." Kesal Richa.
" Hmm, segitu takutnya suaminya di gangguin."
" Siapa yang takut."
" Bener gak takut?"
" Hmm.. Tapi serius, mas kesini karena kengen ma Icha?"
" Hmm, mas setiap saat juga kengen sama kamu. Tapi hari ini kebetulan sih."
" Hmm? Maksudnya?" Tanya Richa bingung.
" Tadi, ada sedikit kegaduhan yang terjadi sama mba Naila, Rehan dan Lili." Ujar Nelan.
" Hmm?" Richa semakin bingung.
Nelan menceritakan kegaduhan apa yang terjadi pada kaka ipar dan juga saudara laki lakinya dan juga Lilian.
" Apa? Ahahahahaha. Jadi mba Naila pikir, Rehan itu penculik?"
" Hmm, dengan panik aku sama Dion dan Arga bergegas kesini, eh ternyata penculiknya adalah calon papinya Lili." Ujar Nelan kesal.
" Calon, mas bilang calon?"
" Iya, aku rasa Lili bisa jadiin Rehan jadi papi nya. Aku bisa lihat kalau dia sangat menyukainya."
__ADS_1
" Aku tau itu mas. Aku juga berharap hal itu bisa terwujut suatu hari nanti."