Ku Hanya Ingin Dicintai ( Part II )

Ku Hanya Ingin Dicintai ( Part II )
Kehadiran Lilian.


__ADS_3

" Siapa yang datang, Cha?" Tanya Nelan menghampiri Richa, ia melihat Liliana dan Naila yang datang.


" Pagi, paman jelek." Sapa Liliana.


" Hoho, jadi anak paman yang jelek yang datang ternyata." Ujar Nelan sambil mencubit pipi Liliana pelan. " Pagi, Mba." Sapa Nelan pada Nalia.


" Pagi, Nel."


" Ih, paman jahat, Lilian itu cantik, gak jelek. Yang jelek iti paman. Iya kan tante cantik?" Rengek Liliana yang tidak terima di panggil jelek olek Nelan.


" Iya, Sayang. Liliana memeng paling cantik sedunia."


" Hehe, tente juga cantik kok, sama kayak Liliana."


Nelan dan Naila hanya geleng geleng kepala sambil senyum senyum.


" Tapi bagi paman, istri paman yang paling cantik sedunia." ujar Nelan tak mau kalah dengan gadis kecil itu.


" Hemmm.." Liliana memalingkan wajahnya dari Nelan karena kesal. Entah mengapa keduanya sering kali berdebat, namun Liliana sangat menyukai Richa, jika sudah bersama Richa ia bahkan lupa pada Naila. Sangat sering di hari libur Liliana memilih menginap di sana.


" Lilian, jangan terus menempeli istriku." ujar Nelan.


" Bibi cantik itu punya Lili, paman. Jadi suka suka Lili dong mau nempel atau lengket sama bibi cantik."


" Kau lihat itu, Mba. Aku rasa kau melahirkan bayi besar, dia sangat pintar membuat orang dewasa jengkel. Caranya menjawabku sama persis dengan Richa." Bisik Nelan pada Naila.


" Jadi mas, samain aku dengan anak kecil." Kesal Richa.


" Lili udah besar kok, bibi. Kata mami Lili sudah besarkan mi, bukan anak kecil lagi."


" Ahahahah. Iya Sayang."


15 menit kemudian Naila pamit harus pergi kesebuah acara seminar. Dan ia terpaksa menitipkan Liliana pada Richa dan Nelan.


" Ya udah, mami pergi dulu ya Sayang. Jangan nakal, dan jangan gangguin bibi Richa terus. Oke Beby." ujar Naila pada sang anak. Liliana hanya nengangguk angguk seraya menyenderkan kepalanya di pundak Richa.


" Aku titip, Lili ya Cha. Nanti sore aku jemput, soalnya seminarnya bakal selesai sampai sore. Tadinya mau ku titip sama ayah dan bunda, tapi anaknya kekeh minta di antar ketemu bibinya."


" Iya mba, gak pa pa." ujar Nelan.


Setelah Naila pergi, Nelan berdiri di antara istri dan keponakannya, memperhatikan mereka yang sedang asik bercakap.


" Bibi ayo bermain di kamar bibi." Seperti biasa Lili selalu merengek dengan manjanya pada Richa.


" Ya udah, Ayo kita kekamar." Richa menggendong tubuh Lili yang lumayan berbobot, ia bermaksud melangkah menuju kamar, namun Nelan menghentikan langkahnya.


" Tunggu, Sayang."

__ADS_1


" Kenapa, Mas?"


" Kau bermainlah bersama Lili, aku harus keluar sebentar."


" Mas mau kemana?"


" Kekantor, Sayang. Ada pesan dari Dion, minta aku untuk mampir kekantor."


" Beneran ke kantor kan, mas? Gak boong."


Nelan tertawa. " Kok malah ketawa sih?"


" Kenapa aku harus bohong, Icha. Bener kok, kekantor, cuma sebentar. Oke, Jelek paman pergi sebentar ya. Lili main sama bibi dulu." Pamit Nelan setelah mencium pipi Richa dan Lilian Nelan berlalu pergi dari sana meninggalkan Richa dan Lilian yang masih memandangi nya.


 


Setibanya di kantor Nelan langsung menemui Dion dan Arga. Kedua sahabatnya itu sudah menunggu diruangannya, Nelan langsung duduk di sofa menghadap keduanya.


" Apa yang mau kalian laporkan?" Tanya Nelan kesal." Kalian tau kan, ini hari lubur. Aku sangat jarang bisa menghabisakan waktuku bersama Richa. Jika masalahnya tidak serius aku bakal sunati kalian sekali lagi."


" Wiih, sabar bos. Ngegas amat, kita juga kalau gak penting amat, mending main sama cewek kita di rumah." Ujar Arga.


" Bener, Nel. Aku punya imformasi, sendikat dari kelompok pengedar obat obatan itu bisa di pastikan mendapat babtuan dari salah satu pengusaha insustri perikanan, dan lo tau kan siapa dia." Jelas Dion.


" Tentu saja aku tau. Tapi bukankah perusahaan mereka sedang terancam bangkrut saat ini?"


" Itu benar, tapi ia masih bisa membangun kembali perusahaan mereka jika transaksi ini terus berjalan jika kita tidak bisa menghebtikannya." Tangkas Arga.


" Aku sudah mendapatkan informasi, bahwa mereka akan melakukan transaksi lagi di perbatasan kota A, pada tanggal 2 Juni, dan itu terjadi 2 hari lagi." jelas Dion.


" Buat persiapan, kita harus bisa membekap mereka kali ini apa pun yang terjadi." Tegas Nelan.


" Siap bos." Ucap Nelan bersamaan.


" Mumpung udah keluar, gimana kalau kita ngafe dulu." Ajak Arga.


" Gak bisa."


" Kenapa?" Tanya Arga.


" Istriku, sedang menugguku di rumah untuk menemaninya bermain."


" Yaelah bos, matahari baru juga naik, emang semalem masih kurang mainnya?"


" Hmm..." jawab Nelan datar dan berlalu pergi.


" Gue juga gak bisa." Ujar Dion.

__ADS_1


" Huh?"


" Cewek gue, minta di temenin ngemol. Jadi lo ngafe sendiri aja oke, mahluk jomblo." Ejek Dion.


" Hei.. Kalian serius tega ma gue..." Kesal Arga.


" Tuhan kapan sih kamu kirimkan satu bidadari untukku. Apes bener gue."


 


Richa sedang duduk di atas tempat tidur menemani Lilian sedang bermain boneka dan alat dokter mainan. Richa dan Nelan membelikan mainan itu untuk Lilian karena ia sangat suka bermain di sana, jadi mereka menyediakan mainan untuk keponakannya itu.


Richa terus saja memandangi Lilian, ia ikut bermain dengan Lilian sebagai dokternya, bersama Lilian. Ia sangat menyayangi Lilian layaknya putrinya sendiri, terkadang ia sering hampir menangis saat melihat Lilian, dalam hati kecilnya ia juga menginginkan seorang anak, yang bisa ia sayangi seperti ia menyayangi Lilian. Namun apa yang bisa ia perbuat jika sang kuasa belum memberinya anugrah itu.


Cukup lama mereka bermain, Lilian mulai merasa bosan dan matanya mulai terlihat layu, bahkan beberapa kali ia menguap menandakan gadis kecil itu sudah mengantuk.


" Lili udah ngatuk, Sayang?" Richa mengangkat tubuh Lilian duduk di pangkuanya, Lilian menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


" Ya sudah, ayo tidur."


" Tapi bibi..."


" Ada apa? Sayang?" Tanya Richa sambil membelai rambut halus gadis itu.


" Kalau Lili tidur, entar mami bawa Lili pulang."


" Memang Lili gak mau pulang sama mami?" Lilian menggeleng. " Bibi sih seneng benget kalo Lili tinggal disini sama bibi. Tapi, Sayang. Entar mami kesepian kalau gak ada Lili, terus nenek juga bakal nangis kalo gak ada Lili, emang Lili tega liat nene dan kake nangis karena kangen Lili?" Bujuk Richa.


" Gak mau, Lili sayang Nene dan kake. Lili gak mau mereka nangis. Lili juga Sayang Mami."


" Oke, Keponakan bibi pinter. Ya udah sekarang Lili bobo siang dulu ya." Richa pun memberingkan Lili di sampingnya. Lalu ia menyusul dan merebahkan tububnya di samping gadis kecil tersebut. Tangannya melingkar di tubuh mungil Lilian, memberi kehangatan dan rasa aman.


" Ayo tidur, Sayang." ucap Richa semakin mengeratkan pelukannya. Sambil menidurkan Lilian Richa pun mulai merasa kelopak matanya sangat berat, segingga tak lama setelah Lilian terlelap Richa pun ikut terlelap mengikuti Lilian ke alam mimpi. Sampai sampai ia tak sadar dengan kehadiran Nelan, karena melihat Richa tertidur, Nelan tersenyum kecil. Ia merasa sedikit kecewa usahanya untuk pulang cepat dan ikut bermain dengan istri dan keponakannya ternyata sia sia, karena kedua nya sudah meninggalkan dirinya tidur. Nelan pun memilih untuk mandi lebih dulu, lalu setelah itu ia pun ikut tidur di sisi lainnya yang dekat dengan Lilian, ia ingin sekali tidur di samping Richa tapi tempat yang tersisa tidak muat untuknya, sehingga dia terpaksa tidur di sisi lain.


.


.


.


.


.


.


__ADS_1


Ini Visual Liliana ya. Semoga sesuai dengan bayangan para leaders semua, kalau kurang sesuai, kalian bisa bayangin sendiri kok sama gambaran yang kalian suka.


Terima kasih, selamat membaca. Sehat selalu.😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2