
" Apa perlu ku panggilkan mba, Naila. Untuk memeriksa dan mengobatinya ?", tanya Nelan, Richa pun membelalakkan matanya. Nelan merasa tidak tega melihat Richa kesakitan sehingga ia mengajukan pertayaan konyol itu. Tapi ia juga merasa sangat senang bisa mendapatkan milik Richa masih dalam keadaan utuh. Nelan sampai tidak bisa menahan keingiannya semalam hingga napsunya terpuaskan.
" Apa? Apa kaj sudah gila ! aku gak mau, itu sangat memalukan", tolak Ricah, ia pun berusaha turun dari ranjang hendak ke kamar mandi, tapi ia merasa sangat perih di pangkal pahanya.
" Aaaaah..!", pekik Richa, dan ia pun kembali duduk, dengan cepat Nelan mengangkat Richa dan membawanya ke kamar mandi lalu ia menaruh Richa di dalam betup. Saat Richa sedang mandi Nelan kembali ke dalam kamar untuk mengganti seprai dengan yang baru, ia tidak mungkin membiarkan Richa yang melakukannya. Setelah itu Nelan kembali ke kamar mandi lalu mandi bersama Richa.
Setelah mandi, Nelan membaringkan Richa di atas tempat tidur yang masih terbalut handuk. Lalu ia memakai pakaiannya. Kali ini Nelan bingung harus memberikan Richa baju apa untuk dipakainya.
" Ambilkan baju yang ku pakai semalam aja.", Ucap Richa, ia merasa risih karena masih di balut handuk. Nelan pun memberikan baju tersebut pada Richa.
" Biar aku bantu memakainya ", ujar Nelan, dan Richa malah tertawa.
" Tanganku baik-baik aja, Sayang. Aku pakia sensiri aja." Seru Richa.
" Tolong ambilkan tas ku dong, Nel.", Pinta Richa sopan. Nelan malah menatap Richa dan mendekatkan wajahnya pada Richa, " L--Lo mau apa ?" tanya Richa seraya memunsurkan wajahnya sedikit, " A--Aku tidak ingin melakukannya lagi, ini masih terasa sakit." ucap Richa gelagapan. Nelan malah mengecup bibir Richa kilas.
" Memangnya apa yang mau kulakukan ", ujar Nelan setelah menjauhkan wajahnya dari Richa, Richa merasa kesal karena merasa telah di permainkan oleh Nelan.
" Lo...",
" Mau sampe kapan kau baru merubah panggilanmu padaku, Sayang." tangkas Nelan.
" Oh." Seru Richa terkejut. Lalu seketika ia pun tersenyum, " Jadi aku harus panggila apa ?" Sejenak Richa berpikir harus memanggil Nelan dengan sebutan apa ? " Em.. Kaka ! atau, Mas ?" ujad Richa dan Nelan pun tersenyum, ia mengecup kening Richa dengan lembuat.
" Mas, aja. Terdengar lebih baik." seru Nelan dan Richa pun mengangguk pelan. " Lalu apa bisa kita lanjutkan beberapa ronde lagi setelah sarapan, Sayang." Goda Nelan dengan senyuman misterius.
" Nelan..", Richa mencubit perur Nelan hingga ia meringis kesakitan.
__ADS_1
" Aaaahhh! Oke, oke. Aku cuma bercanda, Richa. Panggil mas mulai sekarang, oke." seru Nelan sambil berjalan menuju meja rias untuk mengambil tas milik Richa, dan memberikannya padanya. Richa pun mulai mengolesi krim untuk menutupi bekas kemerahan yang di tinggalkan oleh sedotan Nelan semalam.
Setalah itu Richa turun ke bawah, sedangkan Nelan sudah turun lebih dulu. Richa menuju dapur terlihat Nelan dan Ayahnya sedang duduk di meja makan, keduanya sibuk dengan ponsel di tangannya. Sedangkan Salsa sedang membantu pelayan menyiapkan sarapan. Naila dan juga Nevan tidak terlihat disana, mungkin mereka masih berada di kamarnya batin Richa.
" Apa ada yang bisa, Richa bantu bunda..?", tanya Richa yang sudah berdiri di belakan Salsa.
" Tidak usah, Sayang. Kamu duduk saja bersama ayah dan Nelan, lagi pula sudah hampir siap kok, nak." ujar Salsa.
" Kalau gitu, Richa bantu buat teh dan kopi aja ya bun." usul Richa.
" Memang kamu bisa membuatnya, Sayang ?" Mereka sekeluarga tau kalau Richa tidak bisa melakukan apa pun yang berurusan dengan dapur.
" Bisa kok bun, Richa udah belajar dari temen Richa. Dan mas Nelan bilang, rasa kopi buatan Richa lumayan enak kok." jelasnya antusias.
" Ya, sudah. kalau gitu." Richa pun membuatakan kopi untuk Nelan dan Raihan, lalu membuat teh untuknya dan Salsa. Setelah itu Richa membawanya ke meja makan, ia meletakakn salah satu gelas yang berisi kopi itu di depan Ayah Raihan dan di depan Nelan. Lalu ia duduk di kursi samping Nelan.
Bahkan sampai mereka selesai sarapan Naila dan Nevan tidak juga terlihat. Hingga akhirnya Salsa memberi tahu kalau Naila sudah berangkat kerumah sakit bersama Nevan untuk melakukan pemeriksaan dan Nevan juga harus membereskan masalah yang akan timbul akibat batalnya pernikahan dirinya hari ini. Lalu Nelan dan Richa pun pamit pulang, karena Nelan harus bekerja dan Richa harus kuliah.
Setibanya di apartemen, Richa bergegas bersiap-siap. Begitu pun dengan Nelan.
" Apa kamu yakin bisa ke kampus hari ini, Cha ?" tanya Nelan, ia tau Richa masih sakit dan lelah karena ulahnya semalam.
" Hmm, aku ada tugas yang harus ku serahkan pada dosenku pagi ini. Jadi aku gak mungkin gak ke kampus. Lagian mas sih, kenapa harus ngelakuinnya semalam sih ". Celetuk Richa kesal. Nelan malah tertawa ringan mendengar ucapan istrinya itu.
" Lalu, apa kita lanjutkan malam ini saja, Sayang. " bisik Nelan seraya memeluk Richa dari belakang dan mencium lehernya.
" Mas.. Jangan main-main dong, ayo jalan sekarang, aku udah telat nih ". Kesal Ricah seraya menjewer telinga Nelan pelan lalun menarik tangannya keluar dari kamar. Nelan melajukan mobilnya menuju kampus Richa. Setibanya di depan kampus Richa keluar dari dalam mobil dengan terburu-buru, sampai lupa membawa ponselnya.
__ADS_1
" Sayang...", panggil Nelan dan Richa pun berbalik.
" Apa ?" Ia terkejut melihat ponselnya ada di tangan Nelan, ia berlari bermaksdu mengambil ponselnya, namum Nelan malah menarik lengan Richa lalu mencium bibinya.
" Mas... Kamu apa-apan sih ", kesal Richa seraya memukul pelan lengan Nelan.
" Kenapa ? aku memcium istriku kan ? anggap itu ucapan selamat pagi ". ujar Nelan seraya mengedipkan sebelah matanya. Laki-laki itu terlihat sangat sexy saat seperti itu. Richa pun tersenyum lebar lalu kembali bergegas masuk kedalam kampusnya.
" Aahh. Bisa-bisanya dia berlari dengan sepatu itu, bukannya masih terasa sakit ya !" Nelan tidak menyangka Richa bisa bergerak seaktif itu setelah apa yang terjadi semalam, padahal pagi ini dia masih meringis kesakitan. Nelan merasa salut pada istri kecilnya itu. Setelah itu Nelan pun melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Setibanya di kantor Nelan menghubungi Richa, ia lupa menanyakan sesuatu padanya.
" Hallo, Mas !?" sahut Richa.
" Jam berapa selesai kulaihnya ?" tanya Nelan.
" Em, aku rasa siang, kenapa ?" tanya Richa bingung.
" Aku akan menjemputmu, jadi kabari aku kalo udah selesai ". seru Nelan.
" Ya udah, nanti aku kasih tau kalo udah keluar". ujar Richa dan panggialn itu pun berakhir.
Tumben, mau jemput. Batin Richa.
Richa sedang mencari keberadaan ketiga sahabatnya yang sejak ia tiba di kampus tadi belum melihat satu pun dari mereka, padahal sebelumnya mereka seperti jelangkung.
__ADS_1