
Taksi yang ditumpangi Sari dan Caca berhenti tepat didepan rumah sederhana, namun terlihat sangat bersih dan tentunya sangat nyaman tinggal di rumah tersebut.
Namun, satu hal yang tidak diketahui ibu dan anak tersebut, tentang fungsi dari rumah yang ditebaknya itu tempat tinggal Nabila selama di Jakarta.
"Kok sepi ya, Ma?"tanya Caca dengan kening mengkerut.
"Lah iya juga, padahal ini baru juga selesai adzan di mesjid,"sahut Sari ikut terheran-heran.
"Mungkin orangnya ada didalamnya, bisa saja mereka tidak ingin membuat kegaduhan agar tidak diketahui warga komplek ini jika wanita itu kumpul k3bo dengan suami orang, Ma,"pendapat Caca.
"Ada apa lagi kalian datang kemari?"tanya seseorang dari belakang Caca dan Sari.
Tentu hal tersebut membuat anak dan ibu itu terperanjak kaget.
"Eh s3tan,"pekik Caca.
"Sembarang ngatain saya s3tan,"sahut seseorang itu ketus.
"Ada urusan apa lagi kalian berdiri didepan rumah orang menjelang magrib begini?"
"Eh Bapak,"sapa Caca cengengesan.
"Bapak bapak 3ndus mu, sejak kapan saya nikah sama ibu kamu sampai kamu panggil bapak,"sahut pak satpam.
"Sekarang jawab! Mau apa kalian kemari?"tanya satpam tegas.
"Oh ini, Pak. Saya dan anak saya disini mau cari kontrakan yang ada disekitar sini,"jawab Sari.
"Di komplek sini nggak ada rumah yang di kontrakkan. Kalian bisa cari komplek sebelah,"sahut pak Satpam tegas.
Caca dan Dari saling tatap, seolah berbicara melalui tatapan.
"Baiklah, Pak. Sebenarnya tujuan kami kesini selain mau cari kontrakan, kami juga ingin meminta maaf sama pemilik rumah ini karena pernah salah menuduh,"ucap Sari beralasan agar tidak diusir.
"Mbak Nabila maksud kalian?"
"Iya, Pak. Mbak Nabila,"jawab Caca.
"Kalian salah cari mbak Nabila disini, mbak Nabila dan keluarganya tidak tinggal disini,"jawab pak Satpam santai.
__ADS_1
Jawaban pak satpam berhasil membuat pasangan ibu dan anak melongo tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jangan bohong, Pak. Kalau nggak tinggal disini, itu waktu kami kesini dia ada kok disini,"ujar Caca tak percaya.
"Lah, situ susah jadi orang nggak percayaan. Mbak Nabila dan suaminya memang nggak tinggal disini, mereka kesini hanya untuk mengawasi pekerjanya."
"Pekerja apaan? Emang rumah ini dijadikan tempat wanita-wanita n4kal seperti Nabila?"tanya Sari mencemo0h, tidak sadar dengan pekerjaan anak perempuan.
"Ibu ini makin kesini mulutnya makin nggak terkontrol ya,"ujar pak satpam mulai kesal, "Rumah itu dijadikan rumah bisnis, orang-orang didalam buat baju desain dari mbak Nabila sendiri."
"A-apa? Ng-ngak mungkin! Bapak jangan bohong, bagaimana bisa wanita itu bangun bisnis sendiri, sedangkan dia wanita kampung dan janda,"elak Caca.
"Didunia ini tidak ada yang tidak mungkin selagi mau berusaha, Mbak. Lagian gampang aja bikin bisnis, orang mbak Nabila punya gaji tiap bulannya kok, malah gajinya besar lagi. Pasti bisa lah bikin bisnis seperti itu."
"Sebaiknya kalian pergi saja dari sini, karena percuma kalian menunggu. Mbak Nabila kesini tidak menentu jadwalnya,"usir pak satpam.
"Ok, kami akan pergi. Tapi kasi kami alamat rumah mbak Nabila,"ucap Caca bernegosiasi.
"Kalau bukan karena uang, gue nggak mau manggil wanita itu mbak dan sebutin namanya,"monolog Caca dalam hati dengan tetap mempertahankan senyum p4lsunya.
"Aduuh, maaf. Saya nggak tahu alamat rumah mbak Nabila."
Tentu jawaban dari pak satpam membuat senyum Caca yang dipaksakan itu luntur seketika.
"Lah, saya mana ada urusan, Mbak. Yang saya tahu rumah di komplek ini aman dari gangguan,"jawab satpam santai.
"Mana rumah rw nya? Saya mau tanya sama rw saja, pasti alamatnya ada tuh,"sahut Sari.
"Ngebet banget nih orang minta alamat rumah mbak Nabila, pasti mau buat kac4u lagi nih orang,"monolog batin pak satpam.
"Pak rw lagi keluar kota selama beberapa hari kedepan."
Caca dan Sari kompak menatap pak satpam penuh selidik, untungnya pak satpam berekspresi senatural mungkin.
"Beneran?"tanya Caca.
"Kalau nggak percaya yaudah, kalian bersiri disini sampai bul*kan juga nggak akan ketemu sama mbak Nabila ataupun pak rw."
"Sana, kalian pergi dari sini,"lanjut pak satpam mengusir kedua wanita beda usia dihadapannya dengan tegas.
__ADS_1
"Kita pergi, Ma. Kita cari kontrakan di kompleks depab. Kayaknya yang disana lebih elit dari ini,"ajak Caca pada mamanya.
"Ayo, Ca."
Kepergian kedua wanita tersebut membuat pak satpam bernafas lega, karena kedatangan Sari dan Caca dianggap menambah pekerjaannya.
"Sana pergi jauh jauh, jangan pernah datang lagi,"gumam pak satpam.
Sari dan Caca begitu kesal karena lagi lagi gagal menjalankan rencana yang sudah mereka susun dengan sangat mat4ng.
Sedangkan dilain tempat, namun di kota yang sama. Pesawat yang ditumpangi Nabila dan keluarganya mendarat dengan selamat di landasan bandara jakarta.
Supir kantor juga sudah menunggu kedatangan bosnya yang menghubungi sejak dua jam yang lalu.
Senyum Kaisar tidak pernah pudar sejak prosesi lamarannya berjalan dengan lancar dan disambut hangat dengan keluarga calon istrinya.
"Uncle mentang mentang lamarannya diterima, senyumnya udah nggak pernah surut,"ledek Galaksi terkekeh.
"Iri aja kamu, Gal. Makanya segera lamar pacar kamu,"sahut Kaisar.
Wajah Galaksi memberenggut. "Boro-boro mau lamaran, Uncle. Pacar aja nggak ada,"sahut Galaksi cemberut.
Kaisar terkekeh mendengar jawaban keponakannya. "Gaya aja sok cool, tapi jomblo." Kaisar balas meledek Galaksi.
Wajah Galaksi kesal, se cool cool nya seorang Galaksi di lingkungan kantor ataupun kampus, ia akan berubah menjadi seperti anak-anak jika didekat keluarganya.
"Atau nggak ada cewek yang naksir sama kamu?"tanya Kaisar.
Mereka saat ini sedang menunggu koper mereka yang dibagasi.
"Sembarang aja Uncle ini. Masa ganteng ganteng gini nggak ada yang naksir,"sahut Galaksi, "Aku bukannya nggak ada yang naksir, Uncle... Tapi belum ada aja yang srek di hati,"lanjut Galaksi.
"Nggak usah buru-buru, Nak. Kamu juga masih mudah, jadi nikmati masa lajang kamu,"timpal ibu Ros memberi nasihat.
"Sebagai laki-laki juga kita harus mempersiapkan segalanya sebelum mempersunting anak gadis orang. Menikah bukan hanya perkara ekonomi, tapi masih banyak hal lainnya,"sambung Wahyu.
Begitu banyak nasihat yang terima oleh Galaksi dan Kaisar di ruang tunggu. Nabila hanya terkekeh melihat berbagai ekpresi yang terlihat dari raut wajah adik dan anaknya.
"Ayo kita pulang, semua barang sudah diambil,"ajak Wahyu setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan.
__ADS_1
Raut wajah kelelahan tentu tersirat dari wajah Nabila dan keluargnya, tapi ada rasa bahagia dibalik itu. Sedangkan Raksa sudah terlelap sejak tadi diatas storel miliknya.
Mereka juga harus mengumpulkan tenaga untuk persiapan syukuran dihari berikutnya.